“Desa kami ini sering diplesetkan menjadi Loa Ujung” kata Hermi Kuaria, kepala desa Loa Ulung.

Desa yang letaknya tak jauh dari Stadion Aji Imbut memang terdengar asing bagi kebanyakan orang.

Kini menjadi agak ramai karena ada Taman Gubang disana.

Taman Gubang adalah nama sebuah destinasi wisata yang sedang dikembangkan oleh Achmadi, warga Loa Ulung yang kediamannya terbakar habis saat tinggal di permukiman tepi Sungai Mahakam.

Karena rumahnya hanya tersisa tiang yang tertancap di pinggir sungai dan juga karena trauma, Achmadi jera tinggal di tepian sungai.

Achmadi kemudian membangun pondok di dekat kebun yang berlokasi pada daratan agak jauh dari sungai. Pondok sederhana dibangun di tepian kubangan yang lazim dikenal sebagai danau biru.

Kubangan itu adalah eks lubang tambang dari PT. Fajar Bumi Sakti yang tidak diuruk dengan sempurna. 

Eks void yang sudah berumur 20 tahun ini di pinggirannya sudah ditumbuhi aneka rerumputan yang tahan terendam air. Di dalamnya hidup dan berkembang aneka ikan termasuk ikan Toman. Beberapa jenis keong juga terlihat hidup di dalamnya.

Tinggal di tepian danau eks lubang tambang yang sering didatangi oleh orang yang ingin memancing kemudian menumbuhkan  ide dalam kepala Achmadi. Dibuatnya beberapa perahu kano untuk disewakan kepada pemancing yang datang agar mereka bisa berkeliling di danau seluas kurang lebih 6 hektar itu.

Kunjungan dari Syafrudin Pernyata, founder dan owner Taman Shalma Shofa Samarinda membuat gagasan Achmadi semakin berkembang.

Syafrudin Pernyata adalah sepupu dari Achmadi. Dan dengan dukungan darinya kemudian lahirlah Taman Gubang. 

Rumah walet yang belum berhasil memancing walet bersarang kemudian dirombak menjadi beranda masuk ke pinggiran danau. Antara beranda dan danau kemudian dibuat halaman berlantai kayu… tempat orang bisa duduk-duduk menikmati pemandangan memancing dari tepian.

Sampai saat ini penampilan dan lingkungan Taman Gubang masih terus dipoles dengan berbagai tanaman agar sesuai dengan namanya.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati berkeliling danau bisa mengayuh kano sendiri atau menaiki perahu yang diberi nama Gubang Kembar. Perahu ini menggabungkan dua perahu tunggal dengan dek yang membuat penumpangnya bisa leluasa berdiri menikmati pemandangan.

Ada banyak lubang tambang yang telah dibiarkan selama puluhan tahun. Lingkungan sekitarnya sudah ditumbuhi aneka pepohonan. Meski bukan sesuatu yang asing namun dengan sedikit sentuhan ternyata mampu menjadi magnet yang menarik perhatian.

Dan Achmadi bukanlah orang yang kerap mengikuti seminar atau lokakarya tentang pemanfaatan, reklamasi atau rehabilitasi lubang tambang. Bimtek pengembangan,pemasaran atau apapun tentang wisata mungkin juga sesuatu yang asing buatnya.

Namun terbukti apa yang dilakukan dengan dukungan dari saudara sepupunya yang lebih dahulu terjun dalam usaha wisata mulai menampakkan hasil.

Hasilnya bukan semata bertambah ramai kunjungan orang ke Taman Gubang melainkan keberadaan destinasi wisata ini mampu mendorong pemerintah dan warga Desa Loa Ulung untuk menjadikan desa mereka sebagai salah satu destinasi wisata.

Tentu saja sebagai sebuah rintisan perjalanan Taman Gubang masih panjang pun juga dengan cita-cita pemerintah dan warga Desa Loa Ulung untuk menjadikan desa mereka sebagai destinasi wisata.

Namun mereka telah memulai dengan benar, memulai dari kesadaran sendiri, belajar kepada yang lebih dahulu memulai dan terus menjalin komunikasi agar apa yang direncanakan bisa berjalan.

Akhirnya sudah lama kita mendengar kisah tentang lubang tambang yang tidak ditutup agar bisa digunakan untuk ini dan itu. Dan dari semua kisah panjang di seminar, lokakarya dan apapun namamya, contoh dari apa yang selama ini hanya jadi bincang-bincang bisa kita temukan di Loa Ulung. Pada sebuah tempat bernama Taman Gubang.

 

.