Nasa menerbitkan foto pemandangan Indonesia di malam hari. Nampak yang bersinar terang adalah Jawa, sebagian Sumatera dan wilayah negara tetangga.

Kalimantan, Sulawesi terangnya tersebar tidak merata, hanya bintik-bintik. Sementara Papua gelap gulita.

Apa yang bisa kita baca dari foto itu?. Mungkin segera akan ada yang mengatakan soal ketimpangan dan ketidakmerataan. 

Jika gambar terang ibarat pendar emas, kenapa Papua yang mempunyai banyak emas justru tidak bersinar?.

Jika nyala sinar malam itu karena listrik, kenapa Kalimantan yang punya banyak batubara justru tidak terang benderang?.

Barangkali juga ada yang berpikir bahwa terang yang merata menunjukkan lahan atau ruang dimiliki oleh banyak orang. Sementara gelap gulita menjadi pertanda lahan atau tanahnya hanya dikuasai oleh segelintir orang yang mungkin bahkan tak tinggal disana.

Mana yang benar?. Semua bisa saja benar namun bisa juga berarti tidak semuanya tak salah.

Membaca gelap terang tidak selalu hitam putih. Terang tak selalu punya arti kemajuan dan kemakmuran. Sementara gelap tak juga musti berarti keterbelakangan dan kemiskinan.

Terang bisa saja berarti keseragaman. Daerah terang justru daerah yang tak punya apa apa lagi. Sehingga terangnya tak terhalang apapun maka bisa terlihat dari luar angkasa sana.

Sementara gelap bisa saja bermakna kaya dengan keberagaman, sehingga terangnya tersembunyi. Terhalang untuk dilihat dari angkasa karena terang berada di bawah kanopi pepohonan.

Bayangkan saja andai Papua seterang Jawa maka kita tak akan lagi melihat ada Kasuari, Cendrawasih, Wallabi dan hutan sagu disana.

Pun demikian juga dengan Kalimantan, andai terlihat benderang di malam hari barangkali sedang terjadi kebakaran lahan hutan yang hebat disana. Terang berarti kehilangan hutan.

Tapi tentu tak salah jika kemudian ada yang berkilah. Bahwa gelap dan terang adalah lambang ketimpangan dan ketidakadilan.

Papua dan Kalimantan adalah dua pulau besar yang gelap. Padahal kedua pulau itu adalah pusat dari ekploitasi sumberdaya alam terbesar di Indonesia. Mulai dari kayu di hutan, gas, mineral, batubara dan bahan tambang lainnya.

Seberapa besar yang diambil atau dipanen habis itu mendatangkan kebaikan dan kemakmuran untuk tanah setempat?. Gambar gelap terang Indonesia di malam hari adalah jawab yang tak terucap.

Tidak banyak kemajuan yang berarti mesti hutan dibabati, gunung digali dan lubang besar tersaji. 

Bahwa benar ada bandara, jalan tol, mall,perumahan, hotel dan kendaraan mewah, tapi itu semua tak sama artinya dengan maju. Maju adalah tentang sumberdaya manusia, yang mumpuni kreatif dan inovatif serta mampu produktif tak hanya bertumpu dari ektraksi.

Adalah citra Indonesia di malam hari menggambarkan apa yang disebut sebagai kutukan sumber daya alam. Sebuah kenyataan yang ditunjukkan oleh beberapa negara yang kesejahteraannya tidak adil merata meski kekayaannya dieksploitasi habis-habisan dan menyajikan angka besar dalam neraca pendapatan negara?.

Konsentrasi pendapatan besar dari ekploitasi kekayaan sumberdaya alam hanya mengental dalam genggaman kelompok kecil tertentu, hanya menghasilkan segelintir orang-orang superkaya yang kemudian menguasai segalanya untuk mempertahankan dan mengamankan kekayaannya agar abadi dari regim ke regim.

Dan itulah yang disebut dengan oligarki. Persekutuan antara yang kaya dan berkuasa untuk mengendalikan segala-galanya.

Dalam kondisi seperti ini, meski berpayung demokrasi, akses dan kontrol rakyat atas sumberdaya alam bahkan di tanah sendiri hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruk dari pagi, siang hingga malam hari.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here