KESAH.ID – Sejak tahun 1975, Swedia sangat serius untuk mewujudkan zero waste. Dari tahun ke tahun jumlah sampah yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir semakin sedikit. Konsepsi waste to energy berhasil diterapkan di Swedia, saking berhasilnya mulai tahun 2014 Swedia kekurangan dampah domestik untuk bahan baku energi. Swedia kemudian harus mengimpor sampah dari negara-negara tetangga yang kewalahan mengelola sampahnya.
Tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Penetapan tanggal dan bulan tersebut berdasarkan peristiwa longsornya gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.
Tragedi itu dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan ledakan gas metana sehingga menimbulkan longsoran yang membuat dua permukiman yakni Cimus dan Pojok hilang dari peta. Permukiman yang tertimbun longsoran mengakibatkan kematian 157 orang.
Seingat saya menjelang peringatan Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2020 dan 2021, saya diundang untuk dialog di TVRI Kalimantan Timur. Dan narasumber lain yang dihadirkan adalah Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda.
Dalam dua kali kesempatan itu saya mendengar pernyataan yang sama dari Kepala Dinas, bahwanya Samarinda akan kekurangan sampah saat kerjasama dengan China {2020} dan kerjasama dengan Korea {2021} diwujudkan.
Kerjasama dengan investor dua negara itu berupa pengolahan sampah menjadi energi {waste to energy}, sampah akan dijadikan bahan untuk pembangkit energi.
Dua tahun sudah berlalu, rencana kerjasama itu hanya menjadi ‘surga telinga’. Samarinda tetap berlimpah dengan sampah plastik.
Ketika Sjahrie Jaang menjabat sebagai Walikota Samarinda, upaya mengurangi sampah plastik dilakukan lewat penerbitan Perwali No.1 tahun 2019 tentang pengurangan pengunaan kantong plastik.
Peraturan ini diberlakukan terhadap pasar swalayan, baik yang berkategori hypermart, supermart maupun minimart. Sampai sekarang implementasinya masih dipatuhi, pihak pengelola tidak memberikan kantong plastik secara gratis.
Rencananya penerapan larangan penggunaan kantong plastik akan dilanjutkan ke pasar tradisional. Lagi-lagi rencana tinggal rencana.
Harus diakui bahwa penerapan larangan memberi kantong plastik gratis di retail perbelanjaan modern mampu menyumbang pengurangan sampah plastik kantongan. Namun jumlahnya tak seberapa bahkan terasa sia-sia selama dan paska pandemi Covid 19.
Menjelang serangan pandemi Covid 19, sejatinya kita lebih dahulu diserang oleh gelombang ekonomi kreatif di sektor kuliner. Tumbuh gerai-gerai F&B kekinian, yang terus berlanjut hingga sekarang. Makan minum ditempat, dibawa pulang atau menunggu lewat pesanan online, semua itu semakin mengakrabkan kita dengan plastik, gelas plastik, sedotan plastik, tas jinjingan plastik, sendok plastik, stereofoam, wadah sambal dan saos dari plastik, bungkus kerupuk dari plastik dan lain-lain.
Grab and go atau take away dan pesan antar membuat para pebisnis kuliner terbiasa mengemas makanan secara terpisah-pisah, mulai dari nasi, sayur berkuah dan tak berkuah, sambal, kerupuk, buah.
Plastik sekali pakai yang berhubungan dengan bisnis kuliner menjadi berlimpah.
Konon 1 dari 7 jenis sampah plastik terbanyak di Indonesia, sachet saos atau sambel adalah salah satunya.
Memang ada beberapa pengusaha kuliner yang memakai gelas kertas untuk minuman panas. Namun sayang kertas yang digunakan mempunyai lapisan plastik yang justru akan menyulitkan untuk pemisahan ketika didaur ulang.
Sampah kantong plastik belanjaan di super atau minimarket memang berkurang tapi sampah plastik baru karena gaya hidup nongki-nongki, ngafe, take away dan jajan online semakin melimpah ruah.
BACA JUGA : Mixue Nggak Jualan Es Krim
Cita-cita Samarinda bakal kekurangan sampah sebagai bahan energi justru terwujud di Swedia.
Negeri leluhur bangsa Viking ini pada abad ke 19 dikenal sebagai salah satu negara termiskin di Eropa, masyarakatnya terkenal doyan minum alkohol.
Mungkin karena masyarakatnya doyan mabuk, ketika jaman jajah menjajah dahulu Swedia jadi tidak menarik untuk diduduki. Swedia tercatat sebagai negara yang tidak pernah dijajah.
Bangsa yang doyan ikan basi atau surstomming ini sangat menghargai kesetaraan gender dan kini menjadi salah satu negara termaju dan tersejahtera di Eropa. Skype, Spotify, Bluetooth, GPS dan lainnya lahir dari para penemu dari negeri ini.
Namun yang paling penting penduduk di salah satu negeri terdingin di dunia ini sangat mencintai kebersihan.
Soal bagaimana mengelola sampah dengan baik kebanyakan dari kita pasti sudah tahu. Pada prinsipnya tata kelola sampah akan berhasil jika sampah rumah diselesaikan di rumah. Metode paling dasar adalah 3 R {Reuse, Reduce, Recycle} dan masih bisa ditambah R lain yakni Repair dan Replace.
Dengan mempraktekkan hal itu maka sampah yang harus dibuang ke TPA, Tempat Pembuangan/Pengolahan Akhir menjadi berkurang.
Swedia menjadikan seminimal mungkin sampah dibuang di TPA menjadi ukuran keberhasilan pengelolaan {pengolahan sampah}.
Recycle dan WTE atau Waste To Energi menjadi kebijakan paling utama dalam manajemen sampah.
Swedia memang butuh energi besar terutama untuk melawan dinginnya udara. Memenuhi kebutuhan energi dengan sumber energi yang berbasis fosil jelas akan sangat mahal.
Sampah kemudian diolah menjadi sumber energi untuk menghasilkan gas yang bisa dipakai sebagai pemanas atau pengerak turbin untuk menghasilkan energi listrik.
Didukung oleh kemauan dan teknologi tinggi, Swedia kemudian kecanduan sampah untuk menghasilkan energi karena lebih murah dibandingkan dengan energi fosil yang pemanfaatannya akan dikenakan pajak yang amat tinggi.
Swedia kemudian kekurangan sampah hingga harus mengekpor dari negara-negara tetangga yang kerepotan mengolah sampahnya.
Selain gas sampah yang diolah dengan bioteknologi juga mampu menghasilkan biomassa yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dan pemanas.
Dengan memanfaatkan sampah untuk menjadi energi terbarukan, Swedia bisa meminimalisir penggunaan energi tak terbarukan sehingga sumber daya alam yang proses penambangannya bisa berdampak buruk pada lingkungan bisa dihindari semaksimal mungkin.
Waste to energy membuat masyarakat mencintai kebersihan dan lingkungan terjaga dari pencemaran sampah serta limbah sehingga alam beserta isinya jadi lestari.
BACA JUGA : Membaca Dengan Tujuan
Bantuan teknologi telah terbukti mewujudkan cita-cita Swedia membebaskan diri dari sampah. Dimluai sejak tahun 1975 secara gradual Swedia berhasil pengolahan sampah domestik. Pada tahun itu Swedia berhasil mengolah 38% sampah domestik untuk didaur ulang.
Dan kini separuh lebih sampah rumah tangga sudah dikonversi menjadi energi. Konsumsi energi yang dihasilkan oleh sampah dikenakan pajak yang lebih murah ketimbang energi berbahan fosil. Dampaknya Swedia mesti mengimpor sampah untuk bahan baku energi sejak tahun 2014. Swedia kekurangan sampah.
Tidak sulit untuk meniru keberhasilan Swedia dari sisi penerapan teknologi. Yang menjadi masalah justru bagaimana mendidik masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah.
Jangankan memilah, membiasakan masyarakat membuang sampah pada tempatnya dengan baik saja masih jadi tantangan.
Setahu saya pemerintah Kota Samarinda lewat Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan kegiatan edukasi terhadap masyarakat terkait dengan sampah. Namun jika dibandingkan dengan masalahnya, upaya edukasi terasa kurang massiv dan juga kurang strategis. Hanya memberikan penyuluhan terhadap masyarakat setahun sekali bisa diibaratkan sebagai seseorang yang berusaha mengecat langit, sampai mati tak akan selesai.
Negara-negara yang dikenal mempunyai tata kelola sampah yang baik dipastikan mengintegrasikan kesadaran untuk mengelola sampah sejak kanak-kanak. Kebiasaan untuk membuang sampah, mengurangi sampah dan memilah sampah dilatih sejak anak-anak memasuki pendidikan dasar dan menengah.
Anak-anak di Jepang, Korea dan negara-negara Eropa pada umumnya terbiasa mengantongi sampah, menyimpan dan membawa hingga bertemu tempat sampah.
Finlandia misalnya memberlakukan pemberian makan siang untuk anak-anak sekolah, makan bersama secara prasmanan. Dengan begitu tidak ada sisa kemasan makanan. Sedangkan di Indonesia, sekolah justru dipenuhi oleh kantin, mirip food court yang banyak menyajikan makanan dan minuman instan dalam kemasan.
Kantin sekolah justru dijadikan bisnis.
Pendekatan terhadap sampah semestinya berbasis pada komunikasi untuk perubahan perilaku. Yang pertama mesti dirubah adalah sikap atau perspektif masyarakat terhadap sampah. Setelah itu dilanjutkan dengan pendidikan dan pelatihan untuk membekali masyarakat dengan ketrampilan mengurangi sampah, mulai dari memilah dan mengolah dalam skala rumahan.
Baru setelah itu masuk ke penggunaan teknologi untuk pengolahan sampah.
Membangun instalasi pengolahan sampah untuk menjadi energi begitu saja akan berakhir sia-sia. Sebab bahannya akan berasal dari sampah masyarakat. Sampah yang tercampur baur akan memerlukan waktu untuk dipilah-pilah sehingga penerapan sampah untuk energi bakal butuh banyak sumber daya yang pada akhirnya akan terasa mahal penerapan.
Jadi teknologi bukanlah tantangan, begitu ada uang atau investor bisa saja segera terwujud. Namun perilaku masyarakat, perspektif dan perlakuan masyarakat pada sampah yang menjadi persoalan. Sayangnya para pemangku kebijakan soal sampah selalu tidak serius dalam melakukan pendidikan dan penyadaran terhadap masyarakat.
Kalau tak percaya silahkan minta tolong kepada mereka yang terbiasa melakukan analisis anggaran. Bisa dipastikan anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah baik nasional maupun daerah untuk pendidikan dan penyadaran tentang sampah sungguh sangat kecil.








