Pandemi Covid 19 membawa banyak perubahan, termasuk perubahan paradigma dalam berbagai hal. Segala sesuatu yang bersifat online atau virtual menjadi semakin populer. Meski demikian yang offline atau temu muka tetaplah masih penting. Sebab yang online atau virtual mungkin efektif untuk menyampaikan pesan tentang ‘apa’ dan ‘mengapa’. Sedangkan ‘bagaimana’ dan yang membutuhkan aksi atau tindakan tetap memerlukan pertemuan offline atau tatap muka.

Memadukan antara yang online dan offline kemudian akan menjadi tren serta paradigma baru yang akan diterapkan sebagai strategi pemulihan di segala bidang termasuk dalam bidang pariwisata dan penyelenggaraan kegiatan.

Membandingkan antara sebelum dan sesudah pandemi, dalam hal atraksi sebelum pandemi selalu berarti keramaian atau group. Sementara sesudah pandemi, atraksi tetap harus menjaga jarak dan membatasi kapasitas.

Sebelum pandemi, lapangan terbang dan penerbangan berarti ketersediaan wifi, lounge untuk transit, harga penerbangan yang murah. Sementara sesudah pandemi yang terpenting adalah sanitasi, waktu tunggu yang pendek dan penerbangan langsung.

Sedangkan produk, sebelum pandemi yang menarik adalah yang ramai atau viral dan terpusat di perkotaa. Sementara setelah pandemi yang menarik adalah yang sehat dan bersifat privat.

Untuk akomodasi sebelum pandemi, nilai yang terutama adalah harga dan ramai, setelah pandemi yang terpenting adalah sanitasi dan tipe-tipe hunian seperti villa atau resort.

“Kini yang terpenting adalah higenis,” papar Edy Wardoyo, LO Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Lebih lanjut terkait dengan banyaknya perubahan perilaku dan preferensi konsumen, Edy menyimpulkan dua hal yang utama yaitu, Pertama,  konsumen kini mengurangi aktifitas langsung, lebih menyukai perjalanan jarak pendek dan menyukai aktivitas di luar ruangan. Kedua, kebersihan dan kondisi higenis menjadi fokus utama.

Adaptasi penyelenggara kegiatan

Perubahan paradigma dan tren terbaru di kalangan konsumen tentu saja menuntut para penyelenggara kegiatan untuk beradaptasi dengan merancang atau melaksanakan kegiatan yang membuat mereka mampu meraih kepercayaan kembali baik dari diri mereka sendiri, klien maupun masyarakat.

Untuk itu para penyelenggara kegiatan mesti menerapkan protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan atau CHSE.

“Kami sudah menyusun protokol CHSE dalam bidang pariwisata. Terkait dengan penyelenggaraan kegiatan, panduan ini meliputi panduan individu, alat pelindung diri dan manajemen atau tata kelola kegiatan,” ujar Edy.

Adapun penerapan protokol ini meliputi sebelum kegiatan (pre event), saat kegiatan (on event) dan sesudah kegiatan (post event).

Terkait dengan panduan penerapan protokol CHSE, pada tahapan persiapan atau sebelum pelaksanaan kegiatan, penyelenggara kegiatan harus melakukan koordinasi dengan pihak terkait terutama Satgas Covid 19. Dan bagaimana melakukan komunikasi publik, registrasi atau ticketing yang sesuai prosedur. Mempersiapkan tempat acara dengan ruang yang cukup untuk menjaga jarak antar hadirin, menyediakan fasilitas kesehatan dan melakukan gladi resik sesuai protokol CHSE.

Sedangkan saat pelaksaan kesehatan protokol CHSE mesti diterapkan meliputi prosedur masuk penonton atau peserta, prosedur pertunjukan di atas panggung, prosedur pertunjukan karnaval/parade, prosedur area belakang panggung, pengelolaan pengunjung, prosedur area tenant/booth dan prosedur darurat.

“Protokol CHSE juga harus diterapkan sesudah kegiatan selesai yang meliputi proses keluar pengunjung, proses pembongkaran arena acara, sterilisasi tempat acara dan pemantauan kesehatan seluruh anggota yang terlibat,” terang Edy panjang lebar.

Untuk keterangan dan informasi yang lebih jelas terkait protokol CHSE, Edy Wardoyo menyampaikan bahwa semuanya tersedia di website https://chse.kemenparekraf.go.id

“Panduan yang telah kami susun bisa didownload melalui website ini dan sertifikasi untuk kelayakan CHSE juga bisa dilakukan melalui situs ini,” lanjut Edy.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga terus melakukan sosialisasi protokol CHSE ini dan melakukan simulasi di berbagai wilayah baik dengan pengusaha di bidang pariwisata maupun penyelenggara kegiatan.

“Semoga kita bisa segera bertemu di Kalimantan Timur untuk melakukan simulasi protokol CHSE ini. Mari bersama jaga Indonesia,” ujar Edy mengakhiri paparannya kepada peserta Pelatihan Perancangan Virtual Event di Samarinda  yang disampaikan secara daring.

note : artikel ini merupakan kerjasama pemberitaan antara Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya, Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dengan Borneo Corner/kesah.id

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − 4 =