KESAH.IDAda banyak masalah klasik yang bertahan di Indonesia, persoalan yang tidak selesai-selesai dari waktu ke waktu. Padahal pemerintah mulai dari pejabat, birokrasi dan aparaturnya rajin melakukan studi tiru lalu melahirkan berbagai kebijakan dan proyek. Yang namanya mengatasi macet dan banjir selalu menjadi program dan proyek prioritas dari pemerintahan yang telah berganti-ganti pemimpin. Berbagai proyek dibangga-banggakan ketika peresmian, namun macet dan banjir belum juga hilang. Padahal katanya kita telah meniru, mencontoh atau mereplikasi dari yang terbaik, kenapa belum berhasil?.

Luxemberg, sebuah negara kecil dengan populasi mobil tertinggi di Eropa. Luas negara itu hanya separuh pulau Madura dengan penduduk kurang lebih 650 ribu jiwa.

Mempunyai jumlah kendaraan komersial dan bus dalam peringkat 10 besar di Eropa, ternyata jumlah mobil pribadi pada tahun 2021 sebesar 698 per 1000 penduduk. Akibatnya jalanan Luxemberg selalu macet permanen.

Sebagian penduduk Luxemberg adalah pekerja lintas batas sehingga memerlukan kendaraan untuk mobilitasnya.

Dan untuk mengatasi kemacetan, Pemerintah Luxemberg mengambil kebijakan yang agak aneh bagi kebanyakan negara lainnya. Jika banyak pemimpin negara mengambil kebijakan untuk mengratiskan ongkos pendidikan dasar, memberi makan anak sekolah dan lainnya, Luxemberg justru membebaskan ongkos transportasi umum bagi warganya.

Kebijakan seperti ini tentu tak umum, tapi terbukti dengan mengratiskan ongkos transportasi umum kemacetan di jalan bisa ditekan.

Apakah pemerintah Luxemberg tidak rugi karena menyediakan transportasi umum tidak berbayar?. Ya tidak, karena memang tak ada pemerintah yang rugi. Yang ada hanyalah pemerintah yang gagal.

Kemacetan lalu lintas sudah menjadi fenomena umum. Hampir seluruh kota mengalami hal itu. Kepemilikan kendaraan pribadi dan lemahnya sistem atau layanan transportasi umum menjadi salah satu penyebabnya. Pertambahan jumlah kendaraan yang tidak diikuti dengan perluasan infrastruktur jalan juga menjadi persoalan pelik lainnya.

Jakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang sejak semula berkutat dengan persoalan kemacetan lalu lintas. Sebagai kota pertama di Indonesia yang memperkenalkan transportasi umum sejak jaman Hindia Belanda, Gubernur Jakarta selalu ditantang untuk mengatasi persoalan kemacetan selain banjir.

Kisah transportasi di Jakarta sebenarnya bukan sekedar kemacetan, tapi juga transportasi yang manusiawi dan tidak ugal-ugalan. Jalanan Jakarta pernah identik dengan Bus Kota Kopaja yang ugal-ugalan. Pun juga Becak yang dianggap tak manusiawi dan Bajaj yang mau belok kemana hanya diketahui oleh Tukang Bajaj dan Tuhan.

Transportasi umum Jakarta waktu itu selalu menakutkan terutama untuk orang luar yang datang kesana. Perlu nyali tersendiri untuk bisa berani naik kendaraan umum sendiri. Nyali orang Jakarta selalui bikin gugup terutama mereka yang berani naik di atap kereta, padahal aliran listrik KRL dipastikan bikin mati orang tanpa terkecuali jika menyentuhnya.

Pemerintah Jakarta mesti bertindak keras. Melarang ini dan itu. Becak akhirnya dilarang di Jakarta lewat operasi pembersihan yang banyak menimbulkan cerita yang menguras air mata.

Kereta Api kemudian direvolusi mentalnya. Cukup berhasil ketika KAI dipimpin oleh Ignasius Jonan.

Dan angkutan kota yang tadinya dikelola lewat operator swasta dan koperasi kemudian diinkorporasi. Jakarta mengembangkan angkutan penumpang yang direplikasi dari sistem Bus Transmilenio di Bogota, Kolumbia.

Jakarta kemudian melahirkan Busway, angkutan penumpang yang mempunyai jalur khusus sehingga bebas dari macet. Harapannya akan lebih banyak orang memakai kendaraan umum dan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi yang membuat jalanan penuh.

Seiring dengan itu juga dilakukan kebijakan Three In One, setiap kendaraan pribadi harus dinaiki oleh sekurangnya tiga orang di jalan tertentu. Kebijakan untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi juga diperkuat dengan pemberlakuan ganjil genap. Pada hari tertentu hanya kendaraan yang bernomor genap yang boleh berjalan bergantian dengan nomor ganjil di hari lainnya.

Tapi yang namanya akal-akalan tetap saja ada. Orang Jakarta terkenal banyak akal untuk mensiasati kebijakan atau peraturan. Ada joki untuk pengendara yang sendirian saat akan melewati jalur Three In One. Sementara urusan ganjil genap bisa diatasi dengan plat nomor yang bisa dicabut pasang.

Meski kualitas layanan angkutan umum makin membaik dan cerdas namun kemacetan masih menjadi tantangan untuk Jakarta. Jakarta lengang kalau sebagian warganya mudik karena liburan atau lebaran.

BACA JUGA : Bandara Mati 

Finlandia, sampai sekitar tahun 50-an sebagian besar warganya masih bekerja di sektor pertanian. Negara agraris ini kemudian dengan cepat berkembang menjadi negara industri. Ada banyak faktor yang mendukung keberhasilan transformasi itu, namun salah satu pondasi pentingnya adalah pendidikan.

Kebanyakan negara berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dengan memberlakukan sistem pendidikan yang padat dengan pembelajaran. Anak didik dipaksa belajar keras untuk meningkatkan pengetahuan.

Siswa diberi sederet beban pelajaran, termasuk pekerjaan rumah yang banyak. Di Indonesia kita bisa melihat fenomena itu. Sekitar tahun 80-an, anak-anak sekolah di Indonesia masih banyak yang membawa buku satu dua biji saja. Pergi ke sekolah tak perlu tas besar.

Kini anak-anak pergi sekolah dengan membawa tas punggung yang berat, bahkan ada yang membawa tas beroda biar tak capek mengendongnya.

Finlandia menempuh jalan yang lain, sistem pendidikannya tidak membebani siswa dengan tugas berlebihan dan jam pelajaran yang panjang. Mereka memfokuskan pada pembelajaran seimbang, yang memungkinkan pelajar mempunyai waktu bermain, bersosialisasi dan mengembangkan ketrampilan hidup lainnya.

Sekolah-sekolah di Finlandia menghindari ujian atau test yang sering kali membuat siswa stres atau tertekan.

Kualitas pendidikan ditekankan pada kemampuan guru. Guru-guru di Finlandia adalah mereka yang mempunyai gelar master dan diseleksi dengan sangat ketat. Guru menjadi profesi yang sangat dihargai dan dihormati di masyarakat.

Pendekatan pendidikan di Finlandia tidak seperti kebanyakan negara lainnya yang menekankan pada kecerdasan intelektual. Sistem pendidikan Finlandia bersifat holistik, selain kemampuan akademik peserta didik didorong dan diberi kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan sosial serta emosional.

Yang ditekankan dalam pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk belajar cara belajar bukan untuk mengikuti ujian. Maka di Finlandia ada badan khusus yang bertanggungjawab atas pendidikan sepanjang hayat dan pendidikan usia dini, serta internasionalisasi lewat pertukaran pelajar, guru dan peneliti.

Apa yang dilakukan oleh Finlandia dalam mendidik bangsanya kemudian dengan cepat merubah negeri itu. Keseriusan dalam dunia pendidikan menempatkan Finlandia menjadi  salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik.

Dengan modal pendidikan yang baik, masyarakat Finlandia kemudian berkembang menjadi komunitas yang bahagia. Pendidikan yang berbasis pada pengalaman dan inovasi yang menyesuaikan dengan jaman, membuat orang Finlandia merasa aman dan nyaman dalam menjalani kehidupan. Tak heran jika negara ini selalu menduduki peringkat tertinggi sebagai negara paling berbahagia di dunia.

BACA JUGA : Serba Palsu

Hal-hal yang baik dari negeri lain selalu bisa ditiru. Dan bangsa Indonesia adalah bangsa yang gemar meniru. Salah satu buktinya bisa dilihat lewat budaya kuliner.

Indonesia mempunyai ragam kuliner yang kaya yang ditiru dari kuliner masyarakat luar yang kemudian dipadukan dengan ragam dan citarasa lokal sehingga menjadi kuliner yang berbeda dengan yang berkembang di negeri asalnya.

Bakwan, soto, perkedel, bistik, bakso, semur, selat solo, kue bolu, dan lain-lain merupakan hasil akulturasi budaya. Makanan ini merupakan hasil paduan dari dua atau beberapa budaya kuliner dengan penyesuaian dan pengabungan. Hasilnya adalah makanan yang cocok dengan selera, lidah dan bahan yang tersedia di Indonesia.

Sistem politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan juga hasil tiruan. Sampai sekarang kita masih terus meniru-niru. Kegiatan meniru bahkan dilembagakan lewat istilah “Studi Tiru”.

Masalahnya yang disebut studi tiru kerap terpeleset menjadi coppy paste belaka. Meniru mentah-mentah karena gagal menyelami secara mendalam apa yang hendak ditiru. Kita lebih gampang meniru yang kelihatan oleh mata.

Tiru meniru dalam dunia pendidikan membuat kurikulum sering berubah-ubah. Guru bingung, murid-murid pusing.

Sesuatu yang baik dan berhasil di daerah lain atau negara lain memang tak bisa mentah-mentah direplikasi. Sistem itu bisa berhasil karena latar belakang tertentu. Jika situasi atau kondisi yang dituntut tidak tersedia maka sistem tidak akan bekerja.

Algoritma media sosial nampaknya mulai berpengaruh pada para pengambil kebijakan. Apa yang potensial menjadi trending atau disukai oleh masyarakat yang kemudian diputuskan. Basis keputusan menjadi sangat emosional karena para pengambil keputusan ingin tetap populer.

Yang disebut viralitas selalu pendek waktunya karena akan ditimpa oleh viralitas lainnya. Kita berada dalam siklus seperti itu, cara menyelesaikan masalah lewat peraturan atau perundangan kerap berakhir menjadi aturan atau undang-undang tidur.

Pun yang bersifat fisik. Proyek-proyek didesain demi menunjukkan kalau pemangku kebijakan menjawab kebutuhan rakyat. Rakyatpun senang ketika proyek dijalankan, sepertinya akan ada perubahan yang besar.

Namun banyak proyek ternyata tak mampu menyelesaikan masalah secara holistik. Proyek yang didesain untuk menyelesaikan masalah malah kerap melahirkan masalah baru.

Sampai-sampai ada yang berpendapat kalau masalah memang dipelihara agar proyek penanggulangan ini dan itu terus berjalan untuk mendulang anggaran.

Maka jangan heran dari kita lahir sampai mati telinga kita selalu akrab dengan janji untuk menanggulangi banjir. Itu baru salah satunya dan masih ada salah banyak lainnya.

note : sumber gambar – BBC