Di tingkat pendidikan dasar atau menengah pasti pernah diajarkan tentang fungsi dan manfaat sungai. Dalam kehidupan sehari-hari hal itu juga terlihat. Namun apa yang dipraktekkan oleh masyarakat tak selalu sama dengan yang diajarkan di sekolah.

Salah satunya adalah pemanfaatan sungai sebagai tempat membuang limbah dan sampah.

Maraknya pemanfaatan sungai sebagai tempat membuang hal ikhwal yang tak diperlukan, terutama di perkotaan membuat wajah sungai menjadi buruk.

Karena buruk orang kemudian kehilangan kemauan untuk mengenali sungai. Sungai kemudian lebih dikenal sebagai sumber masalah.

Terpaku pada permasalahan membuat pemangku kepentingan dan kebijakan atas sungai kemudian lupa mendokumentasikan sungai, mencatat dan merekam dengan detail setiap aspek sungai bukan hanya dari sisi sungai sebagai ekosistem melainkan sungai sebagai habitat tempat tumbuh kembangnya budaya, sosialitas dan ekonomi masyarakat.

Salah satu bukti lemahnya dokumentasi sungai adalah hilangnya anak-anak sungai di berbagai wilayah. Kehilangan yang tak pernah disesali sekaligus juga tidak pernah dianggap sebagai salah satu akar persoalan terganggunya siklus air yang kemudian menimbulkan bencana.

Dokumentasi Sungai

Dulu yang disebut seksi dokumentasi atau informasi selalu ada dalam setiap perangkat organisasi atau kepanitiaan sebuah kegiatan. Hanya saja yang disebut sebagai seksi yang kerap disingkat infodok kerjanya lebih mirip tukang rekam dan tukang ketik.

Maka hasil dari proses pengolahan informasi dan dokumentasi menjadi kurang menarik, karena seing kali hanya berisi foto-foto kegiatan dan narasi puja-puji.

Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, kini yang disebut informasi dan dokumentasi kemudian menjadi lebih partisipatif. Setiap orang bisa mengumpulkan informasi, mendokumentasikan berbagai kejadian dan fenomena serta kemudian membagikan lewat berbagai platorm publikasi.

Dengan konsep partisipastif maka hal ilhwal yang bisa dijangkau menjadi semakin luas. Seperti sungai misalnya, siapapun yang tinggal di sekitar sungai, melintas melewati sungai atau sengaja datang ke sungai bisa mendokumentasikan apa yang ditemui dan dilihat serta menggali informasi tentangnya.

Lalu apa saja yang bisa didokumentasikan dari sungai?.

Ada banyak aspek mulai dari sungai itu sendiri, seperti kondisi terkini, kondisi dalam saat tertentu, aktivitas yang ditemui disungai, relasi masyarakat dengan sungai dan banyak hal lainnya.

Dokumentasi bisa dilakukan dari sisi darat maupun sisi air. Jika dikhususkan maka dokumentasi bisa dilakukan lewat kegiatan yang disebut dengan susur sungai.

Bentuk dokumentasi bisa berupa foto atau video yang kemudian diperkaya dengan wawancara dengan masyarakat sekitar sungai, atau orang-orang yang ditemui selama proses dokumentasi berlangsung. Pendalaman dengan wawancara atau bercerita dengan masyarakat sekitar sungai menjadi penting agar bisa diperoleh informasi untuk membuat perbandingan terkait kondisi sungai dari waktu ke waktu, kecenderungan apa yang berkembang termasuk juga upaya-upaya apa yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan sungai.

Mengkomunikasikan  sungai lewat media sosial

Mungkin saja banyak orang mempunyai informasi, pengetahuan atau dokumentasi tentang sungai namun belum terdigitasi. Akibatnya untuk berbagi menjadi terkendala.

Untuk saat ini informasi atau dokumentasi yang dilakukan dengan gadget sebut saja telepon pintar kendala seperti itu sudah teratasi. Apa yang dilakukan dengan telepon pintar outputnya adalah produk digital yang dengan mudah bisa dibagi melalui berbagai platform.

Informasi atau dokumentasi menjadi bermakna jika kemudian dibagi bukan disimpan sendiri sebagai kenang-kenangan atau bahkan rahasia.

Pilihan termudah untuk mengkomunikasikan atau mempublikasikan adalah dengan memakai platform sosial media. Lewat platform ini informasi atau dokumentasi dalam bentuk teks, foto, video dan bahkan siaran langsung bisa dibagikan.

Paling mudah tentu menggunakan akun pribadi, entah itu twitter, facebook, IG atau Youtube. Namun untuk memperluas jangkauan kemudian bisa dibagi pada akun-akun tertentu, misalnya akun komunitas, akun official dari lembaga atau institusi tertentu dan akun-akun mereka yang kita anggap peduli dan punya pengaruh.

Namun yang terpenting melalui akun apapun, sebaiknya setiap publikasi selalu diberi tagar agar informasi atau dokumentasi kita diindeks oleh sistem pencarian.

Dari online ke offline {merubah informasi menjadi aksi}

Banyak orang tidak peduli atau abai terhadap sungai meski sumber air baku untuk air bersihnya berasal dari sungai.

Kampanye atau penyadaran secara online menjadi sebuah pilihan untuk melakukan pendidikan dan penyadaran secara luas, partisipatif dan tidak mahal.

Namun apa yang dibagikan atau disampaikan melalui platform online pada akhirnya harus diarahkan untuk mengerakkan pada aksi nyata atau offline.

Untuk itu penting juga disampaikan kepada masyarakat luas keberadaan dari komunitas atau kelompok-kelompok peduli sungai dan kegiatannya. Sehingga mereka yang terpapar informasi dan kemudian tergerak untuk melakukan aksi nyata tahu kemana untuk mencari mitra atau tempat untuk mewujudkan aksinya.

Meski demikian yang disebut aksi nyata terkait masalah sungai tidak selalu dalam wujud bersih-bersih sungai, menanam pohon di pinggir sungai dan lain sebagainya. Yang disebut aksi nyata juga bisa dalam wujud edukasi dan advokasi.

Informasi atau dokumentasi sungai bisa juga dipakai sebagai bahan untuk melakukan pendidikan penyadaran kepada pelajar atau mahasiswa, entah lewat penyuluhan atau diskusi-diskusi. Informasi dan dokumentasi juga bisa dipakai untuk mengkritisi kebijakan pemerintah dalam mengatasi persoalan sungai.

Maka jadilah warga kota yang cerdas karena mampu memanfaatkan telepon pintar untuk mendokumentasikan dan menginformasikan seluk beluk sungai, sehingga semakin hari warga kota akan semakin peduli dengan sungainya.

Kata orang bijak, wajah sungai adalah cerminan dari wajah kota {pemimpin dan penghuninya}.

sumber gambar : foto.bisnis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here