KESAH.ID – Menjelang pencoblosan banyak orang sumringrah karena kebanjiran amplop. Tapi yakinlah kini yang tadinya tersenyum lebar mulai kehilangan senyum manisnya karena harga-harga kebutuhan pokok mulai merangkak. Panas politik mungkin sempat membuat resah, namun panas mentari belakangan ini yang justru berpotensi membuat masyarakat gelisah. Bukan hanya beras yang harganya terus merangkak naik, sayur dan bumbu dapurpun kemungkinan besar akan ikut menyusul.
Isu perubahan nampaknya tidak terlalu laku dalam masyarakat yang ingin ‘keberlanjutan’. Pasangan Capres dan Cawapres yang diusung oleh Koalisi Perubahan ternyata keok satu putaran, digulung sekalian bersama dengan pasangan Capres dan Cawapres yang diusung oleh Koalisi ‘Antara”.
Pun ketika pencoblosan usai dan pemenang tinggal menunggu diumumkan secara resmi oleh KPU, sebuah forum gabungan antara Purnawirawan TNI dan Polri yang menamakan diri sebagai FKP3 gaung pernyataan kerasnya tidak bergema.
Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Polri untuk Perubahan dan Persatuan yang berisi kurang lebih dua ratusan Jenderal itu meminta Presiden Jokowi mundur, atau kalau tidak, harus dilengserkan.
Seruan keras itu ternyata tidak viral di medsos.
Yang justru viral dan menjadi perbincangan adalah perubahan harga beras. Beras naiknya kelewatan.
Masa berkah sembako sepertinya telah lewat bersamaan dengan usainya pemilu.
Bahkan bisa jadi karena politik ‘bagi beras’ menjelang pemilu maka beras kemudian menjadi langka di pasaran sehingga harganya naik ugal-ugalan.
Padahal kalau bicara data, seharusnya stok beras aman sehingga harga bisa dikendalikan. Tapi nyatanya apa yang ada dalam sistem data nasional soal ketersediaan beras tidak sesuai kenyataan di lapangan. Data menunjukkan stok cukup bahkan lebih tinggi 70 persen dari ketersediaan pada periode yang sama tahun lalu.
Bahwa awal tahun ini panen terganggu mungkin benar, cuaca cenderung panas sehingga panenan gagal atau kurang maksimal. Tapi itu tidak akan menganggu stok periode awal tahun karena ketersediaan beras telah dijaga oleh masa panen sebelumnya.
Yang menjadi masalah stok beras tidak semuanya berada di tangan badan pemerintah. Sebagian berada di penyedia luaran, hingga bisa jadi datanya kurang akurat.
Soal data yang tidak akurat adalah hal biasa di negeri ini, mirip-mirip dengan hal-hal yang berbau maksiat, selalu ada walau seruan tobat mengema dimana-mana.
Presiden, menteri dan lain-lain sudah bicara perihal penyebabnya. Tapi tetap saja tak memuaskan dan tidak membuat harga beras bisa dikendalikan dengan segera.
Sekali lagi kalau pun stoknya ada, adanya juga tidak merata. Maka akan ada masalah distribusi untuk membagi rata.
Dan faktor distribusi ini sering kali membuat harga menjadi berbeda-beda disatu tempat dengan tempat lainnya, walau HET sudah dipatok oleh pemerintah.
Yang memperdagangkan beras akan bergerak berdasarkan harga pasar. HET dijaga oleh pemerintah dengan stok yang ada di Bulog lewat operasi pasar. Dan operasi bisa saja gagal.
Dan ketika harga beras naik, salah satu komponen yang kemudian sering ‘berkorban’ adalah para pedagang makanan jadi. Mereka tidak dengan segera bisa menaikkan harga makanannya menyesuaikan dengan kenaikan salah satu komponen produksinya yakni beras.
Menaikkan harga mengikuti fluktuasi harga bahan pangan pada kelompok pedagang kecil dan mikro sangat sensitif, mereka bisa kehilangan pelanggan yang jumlahnya tidak besar.
Paling banter yang bisa mereka lakukan hanya menurunkan porsi nasi, atau mengganti dengan beras yang kualitasnya lebih rendah. Atau yang paling radikal merelakan hilangnya margin keuntungan dari nasi.
BACA JUGA : Menulis Lagi
Ada soal lain yang mungkin membuat masyarakat yang terpana oleh janji-janji ‘makan siang gratis’ yang begitu bergema beberapa bulan terakhir ini.
Bukan hanya beras yang merangkak, melainkan juga bahan pangan lainnya terutama sayur-sayuran dan bumbu-bumbu dapur.
Proyeksi ini terutama untuk Kota Samarinda berpangkal pada panas yang terus menyengat mulai beberapa hari sebelum pemilu.
Hujan sudah tak turun-turun di Samarinda kurang lebih dua mingguan.
Ketiadaan air dari langit ini membuat petani sayur dan bahan baku pangan lainnya menjadi sengsara. Ongkos produksinya akan naik, karena air harus diperoleh dengan cara ekstra.
Dan jenis sayur-sayuran yang digemari oleh masyarakat Kota Samarinda pada umumnya adalah jenis tumbuhan sayur yang butuh air. Salah satunya adalah Kangkung. Tanpa air yang cukup, Kangkung tidak akan tumbuh dengan baik.
Untuk memastikan kebutuhan airnya, Kangkung mesti disiram pagi dan sore.
Mungkin tak lama lagi akan ada pernyataan ekonomi yang mengatakan salah satu penyebab inflasi adalah Kangkung.
Bisa jadi ada pihak yang ‘bersyukur’ bahwa Kota Samarinda terus dihajar oleh ketiadaan hujan. Dengan hujan tak turun-turun sekurang klaim Kota Samarinda bisa mengatasi banjir akan terjaga. Berita banjir hilang dari media sosial dan media pemberitaan.
Dengan demikian proyek-proyek infrastruktur untuk mengendalikan atau mengatasi banjir bisa diklaim keberhasilannya, bisa menurunkan banjir jauh dibawah banjir pada periode yang sama tahun-tahun lalu.
Dalam laporan kuartal pertama tahun 2024, banjir akan hilang, dan itu akan disebut sebagai sebuah keberhasilan tanpa disebutkan kalau hal itu karena tak ada hujan.
Kembali ke sayuran, pergerakan harganya mungkin belum terlalu meresahkan. Tapi yang jelas para petani sudah mulai gelisah, karena kelangkaan air yang bakal membuat mereka mesti membeli atau membuat sumur jika ingin terus bertanam.
Oh, iya Kota Samarinda mempunyai banyak anak sungai yang bisa menjadi sumber air untuk pertanian. Masalahnya anak-anak sungai di Kota Samarinda sumber airnya adalah air permukaan, jadi kalau tak turun hujan airnya akan surut se surut-surutnya.
Dan jika pasokan air permukaan baru berkurang jauh, sumber air anak-anak sungai di Kota Samarinda yang paling dominan adalah air limbah, yang masuk lewat got atau saluran air. Dalam kondisi seperti ini tentu saja tidak memenuhi syarat untuk menyiram tanaman.
Andai sekarang ini ada relawan peneliti kualitas air anak-anak sungai di Kota Samarinda, niscaya hasilnya pasti akan menyimpulkan kualitas airnya buruk.
Entah kelas berapa kualitasnya, namun bisa dipastikan airnya bahkan tidak layak untuk memandikan binatang peliharaan.
BACA JUGA : Bocah Kosong Dan Infoflation
Hentikan euforia karena kemenangan calon tertentu yang didukung, dan juga stop kepiluan karena kekalahan calon pujaan. Yang merasa kalah dan menang akan punya masalah yang sama. Yakni kenyataan bahwa pemegang kebijakan dan kebijakan yang diambilnya tidak mampu menghadapi perubahan alam.
Yang merasa calonnya menang tidak usah terlalu berbesar kepala dan kemudian membully yang calonnya kalah. Pun demikian yang calonnya kalah tidak usah terlalu tertunduk-tunduk merunduk dan ingin menonjok yang calonnya menang.
Semua akan sama-sama gerah, karena panas menyengat. Semua akan menghidupkan AC atau kipas angin terus menerus dalam ruangan atau rumah. Itu semua ada konsekwensinya dalam urusan catu daya listrik. Tagihan listrik bulan depan mungkin akan meningkat.
Tak perlu lagi kita peduli pada panas politik, karena panas matahari yang senyatanya mesti dihadapi.
Panas ini akan membuat semua ongkos bakal meningkat, dimulai dari dapur hingga kasur.
Masyarakat baik yang pilihannya menang atau kalah, sama-sama tak bisa menghindar dari dampak panas matahari.
Panas yang ongkosnya bakal ditanggung oleh semua.
Dan ingat, kas-kas bantuan sosial baik dari pemerintah maupun lembaga atau pihak-pihak lainnya saat ini mungkin kosong melompong karena habis dihamburkan untuk meramaikan pesta demokrasi.







