KESAH.ID – Meski berjanji untuk menulis setiap hari ternyata tidak membuat ‘gagal menulis’ bisa dihindari. Ada berbagai sebab yang kemudian membuat saya tak berhasil membuat tulisan setiap hari. Pada umumnya saya berhasil mengatasi writer block dengan segera, namun terlibat aktif dalam pemilu sebagai tim pemenangan ternyata membuat saya memecahkan rekor ‘malas menulis’ hingga tembus berminggu-minggu. Politik memang kerap bikin error.
Beberapa tahun lalu dengan fasilitasi dari beberapa sahabat, saya memulai janji untuk menulis dari hari Senin sampai hari Jum’at setiap minggunya. Janji itu sudah berjalan hampir empat tahun.
Tidak sepenuhnya janji menulis 5 hari dalam seminggu itu terpenuhi, ada kalanya bolong disana-sini. Hanya saja biasa tak sampai berlarut-larut hingga berhari-hari apalagi sampai menembus minggu.
Namun memasuki tahun 2024 ini, ternyata saya mencetak rekor tidak menulis hampir dua minggu. Postingan terakhir saya tercatat pada tanggal 6 Februari 2024 yang lalu.
Semua tahu tanggal itu adalah hari menyongsong pemilu. Dan karena terlibat dalam salah satu tim pemenangan calon presiden, saya disibukkan dengan upaya terakhir untuk meraup suara pemilih. Fokus pada hal itu membuat saya gagal menulis.
Dan setelah pontang-panting hingga menjelang hari pencoblosan, beberapa jam setelah perhitungan suara ada kabar yang terpampang di berbagai platform media pengkabaran nan tidak mengembirakan.
Yang saya ingin ikut menangkan ternyata kalah, kalah jauh. Bahkan kalau suaranya digabungkan dengan calon lain yang juga kalah tetap saja sama, masih kalah.
Saya dan warga negeri lainnya bisa segera mendengar kabar soal kalah dan menang dari Hitung Cepat atau Quick Count.
Meski masuk dalam bagian kelompok yang kalah, saya menerima Quick Count sebagai benar. Dalam sejarah Quick Count di Indonesia, hasilnya tidak pernah meleset jauh. Tingkat presisi Quick Count sangat tinggi karena dihitung berdasarkan sampling suara yang telah dihitung di TPS. Quick Count bukan survey persepsi, datanya bukan berdasarkan opini.
Buat saya dengan diumumkan hasil Hitung Cepat, pemilu terutama pemilu presiden sudah selesai. Pemenang sudah bisa dipastikan, hanya saja berapa angka persisnya yang memilih, yang tidak memilih dan lain-lain tinggal menunggu konfirmasi dari perhitungan Real Count KPU.
Memang ada banyak yang meragukan angka Quick Count. Dan berharap hasil perhitungan Real Count dari KPU akan berbeda. Inginnya yang menang tak terlalu besar angkanya, hingga pemilu presiden tidak berlangsung dalam satu putaran.
Ya berharap demikian memang tak dilarang.
Apalagi ada kenyataan soal salah-salah hitung, ada juga tenggara kecurangan disana-sini.
Tapi sekali lagi Quick Count menghitung perolehan suara dari TPS, tanpa andai-andai serta embel-embel apakah ada kecurangan sebelum pemilih mencoblos di TPS, apakah ada salah hitung di TPS dan lain-lain.
Sejauh saya tahu, Quick Count justru dimaksudkan untuk ketetapan dan kecepatan. Dengan diumumkan segera setelah perhitungan suara di TPS, hasil Quick Count justru dimaksudkan untuk mencegah kekisruhan perhitungan suara di KPU agar tidak diotak-atik.
Dalam sejarah pemilu di Indonesia, Quick Count pertama dilakukan oleh LP3ES pada pemilu 2004.
Muasalnya dari salah satu program yang merupakan bagian dari LP3ES yakni CESDA atau Center for Study of Democracy yang dipimpin oleh Entjeng Sobirin.
Selain aktif menyelenggarakan diskusi-diskusi dan seminar, CESDA menginiasi polling dengan keyakinan bahwa hal itu merupakan urat nadi demokrasi.
Diilhami oleh pemikiran George Gallup, pendiri Gallup Poll yang menyatakan bahwa opini publik merupakan kearifan rakyat biasa, LP3ES {CESDA} berhasil mempopulerkan polling politik dan juga Quick Count.
Hasil Quick Count yang diumumkan lewat Metro TV pada tahun 2004 itu memang bikin heboh. Jam 3 sore, dilayar Metro TV sudah diumumkan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono mengalahkan Megawati.
BACA JUGA : Bocah Kosong Dan Infoflation
Soal kekalahan sebenarnya saya sudah menduga dari jauh-jauh hari pun juga dengan kemungkinan pemilu berlangsung dalam satu putaran.
Hanya saja besaran atau komposisi perolehan suaranya yang tidak saya duga. Jadi saya cukup shock menyaksikannya, hampir-hampir tak percaya.
Meski begitu saya tetap harus menerima karena sejauh yang saya lihat di beberapa TPS, pilihan rakyat memang demikian.
Angka perolehan suara dalam pemilu selalu berasal dari pilihan rakyat. Bahwa ada apa-apa di balik suara rakyat itu merupakan persoalan lain.
Pilihan atau suara rakyat tidak selalu merupakan hasil dari kerja elektoral, ada faktor kerja-kerja non elektoral lain yang bisa juga membuat masyarakat memutuskan pilihan untuk mendukung atau tidak mendukung calon tertentu.
Seharusnya tema atau analisis pada ruang ini bisa menjadi bahan tulisan saya setelah hari pencoblosan. Namun lagi-lagi saya malas untuk mengulas, tulisan pun tidak saya hasilkan.
Ternyata cukup lama saya tidak mampu melawan writer block, gagal menulis meski ada banyak hal berkecamuk di kepala, ada banyak bahan dimana-mana.
Yang terparah bahkan setelah hari pencoblosan, saya jarang membuka laptop. Laptop murah yang layarnya biasa nyala hidup berjam-jam, tertutup rapat diatas meja.
Alih-alih mengutak-atik kata, saya lebih suka menghabiskan waktu menatap layar TV Android buatan China untuk menyaksikan streaming film di Netflix.
Karena lama tak berlangganan Netflix, ada banyak film dan serial baru yang memanggil-manggil untuk ditonton. Keinginan menulispun kemudian teredam oleh semangat untuk menonton, melahap seri-seri seru sampai habis.
Sebenarnya tidak ada yang dirugikan jika saya tak menulis. Yang rindu tulisan saya juga tak banyak, jadi menulis atau tidak rasanya tak bakal membuat banyak orang gelisah, resah.
Tapi ini semata hanya soal janji, terlebih janji pada diri sendiri dan beberapa sahabat.
Janji ini adalah janji kecil, jadi mestinya lebih mudah untuk ditepati dari pada janji-janji politik yang diobral untuk masyarakat banyak.
Tidak ada pemakluman untuk janji, karena kalau terbiasa mengingkari janji maka kita akan menjadi mahkluk seribu alasan, pintar membuat pembenaran untuk sebuah ingkar.
Maka saya mesti menulis lagi, walau apa yang saya tuliskan berputar-putar entah kemana dengan fokus tanpa rimba.
Kembali kepada rumus, menulis saja dan tulis apa yang ingin kamu tulis, sayapun kembali menulis setelah jeda cukup panjang.
BACA JUGA : Petani Nyaleg
Memang ada soal lain juga yang membuat saya resah dalam soal tulis menulis. Blog tempat saya memposting tulisan beberapa waktu terakhir ini di-injeksi malware sehingga kerap redirect ke situs judi online.
Selain itu dashboards nya juga dimasuki oleh ‘orang lain’ hingga kerap muncul postingan yang tertulis dipublikasi oleh admin. Postingan artikel berbahasa asing yang mungkin saja isinya juga tak jauh-jauh dari judi.
Entah sembunyi dibagian mana malware-nya, coba dicari-cari tapi belum ketemu.
Meski jengkel, namun terbersit juga semacam ‘bangga’ kecil sebab situs atau blog yang biasa diserang adalah yang traffic-nya tinggi. Artinya beberapa waktu terakhir ini, blog postingan tulisan saya cukup punya pengakses.
Masalahnya karena tidak menghasilkan uang, tidak didukung oleh sponsor atau dana-dana lain maka soal keamanan menjadi tantangan. Fitur-fitur gratisan dalam dashboard menjadi celah yang terbuka untuk dimasuki oleh tangan-tangan jahil yang ada di seluruh dunia.
Nampaknya kesah.id dalam beberapa waktu kedepan memang harus dirombak. Diganti tampilan dan template baru agar bersih dari malware yang tersembunyi.
Semoga nanti saat memasuki tahun kelimanya, kesah.id akan tampil dengan wajah baru yang lebih segar dengan tulisan-tulisan yang lebih bugar.








