KESAH.IDMulanya saya mengira rumah tua itu tinggalan kolonial Belanda. Dilihat dari lokasinya bisa jadi rumah itu merupakan rumah peristirahatan karena terletak diatas bukit dan punya pemandangan kearah Sungai Mahakam. Namun ternyata rumah tua yang kosong itu bekas stasiun RRI Samarinda yang pertama. Didirikan sekitar tahun 50-an dan kemudian ditinggalkan pada  tahun 1976. Studio RRI yang baru ada di Jalan M. Yamin sampai sekarang.

Jum’at sore sebagaimana biasanya saya menuju Kedai Kopi Kuburan, tempat yang kami jadikan titik kumpul untuk susur gang. Jalan sore menyusuri gang ini biasanya diikuti oleh 5 sampai 10 orang, terkadang juga lebih.

Jalanan menuju kuburan agak berantakan beberapa waktu terakhir ini. Pertama karena revitalisasi saluran air. Got diperbesar hingga makan sebagian jalan. Setelah itu tengah jalan digali untuk pemasangan pipa air bersih. Galian yang tidak segera dipasangi pipa ini membuat arus lalu lintas terganggu, jalanan hanya bisa digunakan separuhnya.

Yang mengerjakan proyek ini rupanya tak melakukan rekayasa lalu lintas. Mereka hanya mengatur jalan saat mengerjakan penggalian, pengurukan, dan pengecoran, diluar itu dibiarkan saja. Sehingga ketika ada mobil yang cukup besar ukurannya tak mau mengambil jalan memutar, arus lalu lintas tersendat tak karuan.

Di salah satu ruas jalan KS. Tubun biasanya setiap hari Jum’at ada Pasar Malam. Pasar tumpah seminggu sekali. Karena situasi jalanan sedang tak kondusif, yang berjualanpun hanya sisa sedikit. Sebagian ada yang menggelar dagangannya di halaman ruko-ruko yang beberapa tahun terakhir ini tumbuh di sepanjang kanan-kiri jalan KS. Tubun.

Sesampai di Kedai Kopi Kuburan sudah ada beberapa teman menunggu di sana. Sayang sambil menunggu tak bisa memesan minuman, karena Kedai Kopinya tak buka sore itu.

Persis jam 5 sore kami mulai jalan, yang terlambat datang akan ditinggal. Kalau tahu jalurnya bisa menyusul. Kalau tak tahu silahkan cari rute sendiri, atau duduk-duduk saja di bangku Kedai Kopi menunggu kami pulang kembali.

Siang hari sempat hujan, namun sore itu cuaca agak mendung. Mungkin hujan akan turun tapi nanti menjelang malam.

Kami memilih rute kota, menuju kawasan Citra Niaga.

Dari kuburan di belakang RS. Dirgahayu, kami menuju jalan Gunung Bukit Barisan. Lalu masuk gang, melewati tanjakan yang akan tembus ke Gang Arjuna 2. Lalu akan naik melewati depan halaman orang menuju gang yang bisa tembus ke Taman Samarendah.

Namun kami tak menuju Taman Samarendah, melainkan belok dan melewati tembok yang dijebol menuju sebuah rumah tua yang ada di belakang kompleks Perumdam Tirta Kencana.

Kadang ada perasaan sedikit was-was melewati rumah ini. Karena rumah yang dibiarkan kosong itu di sudut kanan halaman depannya sering berkumpul banyak anjing. Jika sedang ada yang beranak, beberapa anjing dewasanya terlihat sangat galak.

Rasanya lega jika melihat ada seseorang disana. Biasanya memang ada satu dua orang lelaki berumur yang sedang memilah-milah sampah. Sampah bekas sisa makanan itu akan diberikan kepada ayam yang dipelihara di pojokan halaman depan.

Karena rumahnya berada di puncak bukit, pemandangan dari samping rumah ke arah bawah cukup indah. Nampak sebagian wilayah Samarinda sekitar Gereja Katedral dan Bank Kaltimra.

Sedangkan di bawahnya nampak kolam pengendapan dari Perumdam Tirta Kencana.

Sudah lama saya dan beberapa teman yang sering melewati Rumah Tua ini bertanya-tanya, ini rumah siapa.

Mungkin sudah dua tahunan lalu untuk kali pertama kali melewatinya. Waktu itu bahkan terkesan angker karena ada pohon beringin besar disamping rumah. Tapi kini sudah ditebang. Bisa jadi warga yang bermukim di seberang temboknya khawatir kalau-kalau pohon itu roboh diterpa angin.

BACA JUGA : Doyan Tahayul

Dulu kami menduga kalau Rumah Tua itu dibangun oleh orang Belanda. Melihat posisinya, mungkin rumah itu adalah rumah peristirahatan.

Kawasan ini dulunya memang dalam penguasaan kolonial Hindia Belanda. Dulu orang mengenalnya sebagai Wadah Pemandian, kolam renang pertama di Kota Samarinda. Di tahun 1932, Pemerintah Hindia Belanda memang membangun intake untuk sistem air bersih disini dengan debit sekitar 10 liter per detik.

Dalam sebuah catatan yang ditulis oleh Albert Gelissen, digambarkan kolam renangnya tidak terlalu besar tapi indah. Kolamnya seluruhnya ditegel dengan warna biru dan putih.

Albert Gelissen tidak tinggal di Kota Samarinda, melainkan di Loa Kulu karena orang tuanya bekerja Oost Borneo Maatschappij {OBM}, perusahaan tambang batubara. Dari Loa Kulu Albert ke Samarinda menaiki kapal menyusuri Sungai Mahakam.

Kolam renang atau het zwembad dalam bahasa Belanda itu kini masih ada. Namun sudah dirubah fungsinya menjadi kolam pengendapan untuk air baku produksi Perumdam Tirta Kencana yang akan dialirkan ke rumah-rumah pelanggan.

Dan kompleks Wadah Pemandian ini kini menjadi Perumdam Tirta Kencana, selain dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air yang besar, juga dilengkapi dengan gedung perkantoran. Komplek yang dari kejauhan kelihatan menonjol karena gedung dan instalasi airnya dicat dengan warna biru.

Dilihat dari pagar yang membatasi antara Instalasi Air Perumdam Tirta Kencana yang dipagarnya dipasang papan peringatan ‘Obyek Vital’, nampak bahwa rumah tua itu bukan bagian dari instansi penyedia air bersih ini.

Ketika hendak lewat, teman yang paling depan melihat ada bapak-bapak tengah duduk di undakan depan rumah sambil memberi makan ayam. Diapun bertanya tentang rumah tua ini.

Bapak itu menjawab kalau rumah tua ini dulu adalah Stasiun Radio RRI, sebelum pindah ke jalan M. Yamin.

Terjawab sudah rasa penasaran selama ini. Duga-duga bahwa dulu rumah tua adalah rumah tuan kompeni tergugurkan. Tanda-tanda bahwa itu adalah bangunan rumah kaum penjajah memang hampir tak ada. Biasanya rumah orang Belanda akan diberi penanda tahun berdirinya.

Pun dari sisi arsitekturnya memang tak nampak sentuhan gaya-gaya arsitektur kolonial Belanda. Bangunan rumah tua sudah terlihat sebagai rumah modern awal Indonesia, rumah bergaya tropis dengan dinding setengah batu.

Tak nampak juga ornamen yang diadopsi dari rumah-rumah tradisional yang biasanya mempunya ragam hias tertentu. Rumah tua yang disebut sebagai RRI Lama atau pertama ini nampak polos tanpa ornamen hias.

Dilihat dari berbagai laman termasuk wikipedia, tercatat Stasiun RRI Samarinda didirikan pada 20 Mei 1954. Saat berdiri RRI Samarinda dikepalai oleh Sambas Wirahadikusumah dengan memiliki kekuatan pemancar sebesar 250 watt saja.

Gedung RRI Samarinda ini berada di Jalan Tirta Kencana, No. 1 Kelurahan Bugis, Kecamatan Samarinda Ulu. Status gedung ini ialah ijin pinjam pakai yang dikeluarkan oleh Bupati Kutai Kartanegara.

Hingga tahun 1960, Samarinda memang masih merupakan wilayah dari Daerah Istimewa Kutai Kartanegara yang kemudian dibagi menjadi Kabupaten Kutai, Kotamadya Balikpapan dan Kotamadya Samarinda.

BACA JUGA : Agus Agus

Ketika ditinggalkan untuk berpindah ke Stasiun Pemancar yang baru entah siapa yang kemudian bertanggungjawab atas gedung ini. Kalau dilihat jejaknya sampai beberapa waktu yang lalu nampaknya ada yang meninggali, sekurangnya menjaga.

Di rumah tua ini nampak ada meteran listrik pra bayar, dan ada papan kecil penunjuk nomor rumah dan alamatnya.

Jalan masuk dari depan atau Jalan Tirta Kencana sudah menjadi jalan privat untuk Perumdan Tirta Kencana, terkecuali sampai depan perkantorannya. Namun jalan menuju rumah tua itu tidak boleh sembarangan dimasuki orang karena di dalam ada papan peringatan Obyek Vital. Dan batas antara rumah tua dan wilayah Perumdam Tirta Kencana dibatasi oleh pagar tanpa pintu masuk.

Untuk keluar masuk ke area sekitar rumah tua itu harus melewati pagar tembok yang dijebol, disisi kanan depan dan tembok pekarangan belakang.

Meski termasuk sebagai bangunan rumah modern awal, namun eks Stasiun RRI Samarinda yang pertama ini sudah bisa dimasukkan dalam kategori cagar budaya karena umurnya telah lebih dari 50 tahun.

Walau tua bangunannya masih cukup baik dan kokoh. Jadi tak butuh banyak renovasi atau restorasi jika akan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Misalnya saja jadi kedai atau resto heritage. Lokasinya sangat ideal dan tersembunyi dengan jalan masuk melewati gang kecil.

Lokasi ini bisa menjadi hidden gem yang unik, lain daripada yang lain.

Tapi sepertinya masih harus meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak yang memanfaatkan kesekitaran rumah tua itu. Mungkin dia tahu kisah lebih tentang rumah tua itu setelah ditinggalkan oleh RRI Samarinda yang berpindah ke Stasiun Siaran yang baru dan kini makin megah itu.

Saya rasa bukan hanya eks RRI Lama saja yang kemudian terbengkalai. Pasti banyak gedung atau area bersejarah lainnya yang kemudian statusnya abu-abu pada saat ini. Rasanya, kita memang tak terampil menjaga aset-aset yang bersejarah, yang seharusnya menyejarah pula.

note : sumber gambar – SUSURGANG