KESAH.IDLaut memang penghasil oksigen terbesar, namun hutan adalah pabrik nutrisinya. Tak perlu kita terjebak dalam perdebatan apakah hutan paru-paru dunia atau bukan. Yang lebih penting adalah sebuah kesadaran bahwa menyelamatkan hutan berarti menyelamatkan napas samudera. Rimba untuk samudera adalah gambaran paru-paru dunia yang sesungguhnya.

Belakangan ini, potongan video Viktor Laiskodat ramai diperbincangkan. Intinya, ia menggugat sebutan hutan sebagai “paru-paru dunia”. Fakta sains memang mendukungnya: penghasil oksigen terbesar di planet ini sebenarnya adalah lautan. Melalui proses fotosintesis, organisme mikroskopis seperti fitoplankton, ganggang, dan bakteri laut menyuplai mayoritas kebutuhan oksigen bumi.

Namun, karena video tersebut hanya berupa cuplikan, pernyataan anggota DPR RI dari Partai Nasdem tersebut mudah ditarik ke ranah politis. Publik mengaitkannya dengan kecenderungan pemerintahan Prabowo yang memiliki pandangan “agak lain” tentang hutan—terutama mengenai wacana pohon sawit yang dianggap sebagai tanaman hutan karena memiliki batang dan daun. Isu deforestasi pun seolah diredam dengan narasi bahwa pohon yang hilang akan diganti oleh tegakan sawit.

Viralnya ucapan Viktor memicu serangan balik. Ia dianggap menyepelekan eksistensi hutan. Dengan menyebut hutan bukan paru-paru dunia, ucapannya ditafsirkan sebagai lampu hijau bagi konversi hutan atau olok-olok terhadap para pejuang lingkungan. Kita memang tidak tahu pasti konteks utuh pembicaraan Viktor, tetapi bisa jadi itu adalah sebuah gugatan terhadap ketimpangan perhatian: kita terlalu fokus melindungi daratan, namun abai pada proteksi lautan.

Sebenarnya, kita tidak perlu meradang. Secara saintifik, apa yang dikatakan Viktor Laiskodat ada benarnya. Lautan mencakup area yang jauh lebih luas dari daratan, sehingga wajar jika “hutan laut” menyumbang lebih banyak oksigen. Hutan daratan sendiri “hanya” menyumbang sekitar 20–30 persen oksigen dunia, yang ironisnya sebagian besar habis dikonsumsi oleh penghuni habitat hutan itu sendiri. Sebaliknya, lautan menghasilkan surplus oksigen yang kemudian memasok kebutuhan makhluk hidup di daratan.

Namun, masalahnya adalah sebutan “paru-paru dunia” bukanlah terminologi literel. Ia adalah diksi advokasi dan instrumen pendidikan untuk menyadarkan manusia akan fungsi vital hutan dalam ekosistem global. Adalah keliru jika kita mengira para aktivis lingkungan tidak tahu bahwa lautan adalah produsen oksigen utama. Justru karena mereka tahu, mereka memahami bahwa cara terbaik menjaga kesehatan lautan adalah dengan menjaga keutuhan hutan.

Seorang kawan menggambarkan hubungan ini dengan sangat puitis: Rimba untuk Samudra. Semua aktivitas menjaga dan memulihkan hutan sesungguhnya berujung pada kesehatan pesisir. Hutan yang sehat adalah “pabrik makanan” bagi lautan. Melalui sungai, hutan mentransportasi nutrisi organik hasil dekomposisi serasah serta mineral terlarut yang menjadi asupan utama bagi fitoplankton. Tanpa hutan, fitoplankton akan “kelaparan”, dan produksi oksigen di laut pun akan terancam.

BACA JUGA : Google Effect

Pengetahuan bahwa lautan adalah produsen oksigen utama tidak lantas membuat peran hutan menjadi minor. Krisis iklim saat ini bukan disebabkan oleh kekurangan oksigen, melainkan kelebihan emisi karbon, polusi, dan peningkatan suhu global. Di sinilah peran hutan menjadi krusial sebagai penyerap karbon dioksida ($CO_2$) yang paling efektif.

Secara ekologis, hutan adalah pengatur siklus air (hidrologis). Akar pohon membantu meresapkan air ke dalam tanah, mencegah kekeringan di musim kemarau, sementara tajuknya memecah hantaman hujan agar tidak terjadi erosi dan banjir permukaan. Hutan juga merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati, benteng terakhir pencegah kepunahan spesies.

Hutan adalah “spons” klimatologis dan geologis. Dedaunannya menyaring polutan, menjadikan udara lebih segar. Dalam perspektif ekonomi, hutan adalah “supermarket” bagi masyarakat tradisional—sumber kayu, madu, rotan, hingga tanaman obat. Lebih jauh lagi, hutan adalah perpustakaan dan laboratorium besar bagi ilmu pengetahuan, serta ruang rekreasi (healing) yang vital bagi kesehatan mental manusia modern.

Sayangnya, semua fungsi ini tengah terancam. Laju deforestasi tetap tinggi di tengah selebrasi kampanye lingkungan yang sering kali hanya bersifat kosmetik. Faktanya, hutan terus diciderai dan dialihfungsikan demi keuntungan segelintir investor, sering kali untuk kepentingan yang bertolak belakang dengan prinsip ekologi.

BACA JUGA : Larangan Membaca

Indonesia adalah pemilik hutan tropis terbesar di dunia bersama Brasil dan Kongo. Namun, keberlimpahan ini sering kali membuat kita terlena dan kurang waspada. Kita masih merasa memiliki hutan yang maha luas, padahal sebagian besar telah beralih fungsi. Di Kalimantan Timur, misalnya, perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda lewat jalur non-tol hanya menyisakan kepedihan melihat penampakan hutan yang compang-camping.

Transisi dari masyarakat tradisional ke modern membuat kita kehilangan kebijakan (wisdom) lokal. Masyarakat tradisional, seperti warga Kutai Barat dengan sistem Lembo atau masyarakat Paser dengan Simpung Buah, telah mempraktikkan tata kelola hutan berkelanjutan selama berabad-abad. Mereka membuka hutan dengan menjaga kemampuan alam untuk melakukan suksesi alami.

Namun, naluri ekonomi modern yang mengejar pertumbuhan tanpa batas telah memaksa ekstraksi hutan melampaui kemampuan alam untuk memulihkan diri. Laju deforestasi kita sempat menjadi yang tertinggi di dunia. Persaingan kita dengan Brasil dan Kongo bukan dalam hal menanam, melainkan “balapan” dalam membabat.

Ancaman terbesar saat ini berasal dari kebijakan yang mengonversi keberagaman hutan menjadi keseragaman, seperti perkebunan sawit satu jenis atau Hutan Tanaman Energi. Jika kebun monokultur ini dipaksakan disebut sebagai “hutan”, niscaya bencana ekologis akan terus menghantui.

Buruknya lagi, jika hutan tak lagi mampu menyuplai nutrisi ke laut, fitoplankton pun akan merana. “Asam di gunung” tak lagi bertemu dengan “garam di laut”. Bencana terbesar manusia bukanlah kehilangan status “paru-paru dunia”, melainkan saat kita harus berebut napas karena ekosistem yang saling mengunci ini telah runtuh. Dalam konteks inilah, penyebutan hutan sebagai paru-paru dunia menemukan relevansi sejatinya: Hutan yang sehat adalah napas bagi samudera, dan samudera adalah napas bagi kita semua.

note : sumber gambar – GEMINI