KESAH.ID – Dalam berbagai kesempatan di dalam dan di luar negeri, Prabowo selalu menegaskan bahwa pemerintahannya tak akan militeristik. Kekhawatiran terhadap hal ini memang sering disampaikan oleh banyak pihak. Tapi Prabowo selalu menegaskan dia akan tampil genuine, tampil sebagai pribadi yang sipil. Dan dalam kampanye menjelang pilpres 2024, janjinya memang diwujudkan, Prabowo tampil di publik dengan saya sipil, bahkan sampai dijuluki gemoy. Tapi bagaimanapun juga Prabowo tetap militer dan itu terlihat setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke 8.
“Bagi saya Prabowo adalah seorang pemuda {atau kanak-kanak} yang kehilangan horizon romantiknya. Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naif. Mungkin kalau ia mau berdiam 2 -3 tahun dan hidup dalam dunia yang nyata,ia akan berubah,”.
Catatan ini ditulis oleh Soe Hok Gie pada Minggu, 25 Mei 1969.
Bowo, Wibowo atau Prabowo yang namanya berkali-kali disebut oleh Soe Hok Gie dalam catatan hariannya adalah Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia saat ini.
Gie sendiri merupakan aktivis peranakan Tionghoa yang dikenal kritis dan menentang kediktaktoran pada era Sukarno dan Suharto.
Soe Hok Gie terhubung dengan Sumitro Djoyohadikusumo saat para aktivis Partai Sosialis Indonesia di luar negeri membentuk GPI, Gerakan Pembaharuan Indonesia. Gerakan ini dipimpin oleh Sumitro, secara mobile karena markas besarnya berpindah-pindah. Makanya markas besarnya disebut MHQ, Mobile Headquarter.
Dalam struktur GPI, selain ada MHQ dilengkapi juga dengan BO, Biro Operasi yang cakupan wilayahnya meliputi Eropa, Amerika, Australia dan Asia. Selain itu ada CO, Case Officer. CO adalah sebuah unit yang pola dan sistem kerjanya berada dalam sistem sel. CO menyusup pada dan mengorganisir tentara, buruh, mahasiswa, dan kaum cendekiawan.
Gie bergabung dalam CO ini, sejak tahun 1961 dan kemudian berkiprah dengan melakukan penetrasi dan infiltrasi ke kelompok kesukaannya yakni kaum cendekiawan.
Dekat dengan Sumitro, Soe Hok Gie kemudian bertemu Prabowo yang menempuh pendidikan SMA di Eropa, pulang untuk liburan. Walau umurnya berbeda 9 tahun, Gie kemudian berteman dan sering rantang-runtung bepergian dengan Prabowo.
Saat liburan itu Prabowo kemudian membentuk semacam LSM, yang berkeinginan untuk membantu masyarakat perdesaan, kelompok tani dan nelayan. Mulanya Soe Hok Gie terlibat, namun lama kelamaan merasa rencana yang akan diwujudkan oleh Prabowo kurang membumi. Gie berpendapat rencana besar itu sulit untuk diwujudkan.
Di GPI sendiri Soe Hok Gie juga mulai merasa kurang nyaman. Gie mulai mengkritik keras Sumitro dan rekan-rekan dekatnya yang mulai bergabung dengan Suharto dengan orde barunya yang tidak sesuai dengan harapannya.
Gie muak dengan lingkaran politiknya dan mulai menyebut mereka sebagai ‘kaum sosialis salon’.
Seiring dengan itu Gie juga mulai tidak aktif dalam proyek Prabowo. Gie menangkap ada aroma lain dibalik rencana prabowo yang ternyata mulai merekrut aktivis-aktivis GPI. Sepertinya Prabowo ingin membentuk gerakan lain dibalik apa yang dia suarakan sebagai kepedulian untuk memberdayakan masyarakat perdesaan.
Dalam sebuah catatan, Gie menunjukkan perasaan ‘kurang simpatik’ atas manuver Prabowo. Atas informasi dari seorang sahabatnya yakni Jopie Lasut, aktivis Permesta, Gie diberitahu tentang kelakuan Prabowo yang melakukan teror pada acara GMNI.
“Saya katakan bahwa saya tak setuju untuk bertindak demikian. Saya setuju teror, tapi kalau berani, laksanakan pada koruptor,” tulis Gie sebagaimana termuat pada Catatan Seorang Demonstran dengan penanggalan 14 April 1969.
Walau berbeda pandangan, namun Soe Hok Gie masih akrab dan dekat dengan keluarga Sumitro. Sebelum naik ke Gunung Semeru, Gie meminjam sepatu gunung kepada Prabowo. Sepatu itu dipakainya hingga Soe Hok Gie meninggal di Puncak Mahameru.
BACA JUGA : Selamat Idulfitri
Prabowo kemudian juga menceritakan pertemanan dan kedekatannya dengan Soe Hok Gie lewat buku berjudul Prabowo Subianto Sang Pemersatu Bangsa. Dalam buku yang ditulis oleh Sugiat Santoso ini dituliskan awal mula kedekatan Soe Hok Gie dan Prabowo.
Dalam catatan lain dikabarkan saat Soe Hok Gie berada di Puncak Mahameru dan menghadapi sakratul maut, Prabowo dalam tidurnya bermimpi kalau namanya dipanggil-panggil oleh Soe Hok Gie. Paginya Prabowo langsung mengayuh sepeda dan pergi ke rumah Soe Hok Gie untuk bertanya kabar. Beberapa hari kemudian baru ketahuan, Soe Hok Gie meninggal dalam pendakiannya.
Dalam rentang waktu hidup dan kiprah intelektualnya yang tidak lama, Gie dikenang sebagai sosok muda yang menjadi panutan para aktivis, bahkan hingga hari ini.
Kisah hidupnya difilmkan pada tahun 2005 lalu. Film yang dibintangi oleh Nikolas Saputra dan disutradarai oleh Riri Riza ini mendapat banyak penghargaan dalam Festival Film Indonesia 2005.
Film ini masih menjadi film yang diputar dan didiskusikan oleh kelompok-kelompok anak muda.
Dan bukan hanya Gie yang dibicarakan, tetapi juga teman kecilnya yang dipanggil Bowo.
Bowo, yang setelah tamat SMA kemudian masuk ke Universitas Indonesia ternyata kemudian meninggalkan bangku kuliah untuk masuk ke Akademi Militer Angkatan Darat.
Andai saja Gie masih hidup waktu itu, dia mungkin akan menuliskan catatan yang menemukan jawab langkah apa yang hendak diambil oleh Prabowo untuk mewujudkan ide-ide atau gagasan, yang pernah coba diwujudkan lewat LSM-nya.
Gie mungkin akan menulis kalau Prabowo sudah menemukan dan menentukan jalannya, lewat karir militernya.
Sebagai tentara, Prabowo memang masih menunjukkan kepedulian pada persoalan perdesaan, Prabowo getol memerintahkan anak buahnya untuk bertani.
Bertani lewat jalur komando.
Dan meneruskan apa yang dirintis ketika pulang liburan sekolah, Prabowo pun gemar membentuk ini dan itu di dalam aktivitas ketentaraannya. Prabowo membentuk organ dalam tentara atau kesatuannya untuk menyokong cita-cita dan gagasannya.
Reformasi membuat Prabowo terjungkal. Menantu Suharto ini dianggap sebagai salah satu yang turut melakukan represi, penghilangan dan penculikan aktivis 98, lewat sebuah tim yang dikenal dengan nama Tim Mawar.
Sidang kehormatan militer memutuskan Prabowo diberhentikan dari dinas kemiliteran. Tapi tidak ada langkah hukum atasnya. Yang diadili hanya Tim Mawar.
Prabowo kemudian mengasingkan diri ke Yordania. Dan kabarnya membangun bisnis disana.
Prabowo kemudian pulang sekitar tahun 2000. Ada banyak pihak yang mengklaim berjasa atau dianggap berjasa atas kepulanganya.
Ketika pulang memang ada yang mengutak-atik statusnya dimasa lalu. Tapi semua hanya menjadi bisik-bisik dan omon-omon umum. Prabowo bahkan dengan cepat masuk ke politik. Mulai menunjukkan niatnya untuk menjadi presiden dengan mengikuti Konvensi Partai Golkar.
Dan setelah itu mendirikan partai sendiri, Partai Gerakan Indonesia Raya, Gerindra.
Tujuan Prabowo jelas menjadi presiden. Berkali-kali bersaing sebagai cawapres dan capres, akhirnya Prabowo menang dalam pemilu 2024. Teman Soe Hok Gie yang diramalkan oleh Gie akan menjadi orang besar terwujud.
BACA JUGA : King of COTA
Dalam berbagai kesempatan, Prabowo selalu menegaskan jika dia menjadi presiden maka dia akan menjadi presiden sipil. Gaya kepemimpinan milteristik menurutnya sudah tidak cocok pada jaman sekarang.
Prabowo menegaskan akan tampil secara genuine, tampil sebagai seorang pribadi yang patriotik dan peduli pada orang kecil, bukan pribadi milter.
Dan kampanye menjelang pemilu 2024 menunjukkan hal itu. Prabowo tampil sebagai sosok sipil, suka bergurau, gemar berjoget hingga dijuluki gemoy.
Relasi sosial antara Prabowo dan masyarakat memang relasi sipil.
Tapi lihat dengan lebih dalam lagi, dalam urusan kepemimpinannya.
Prabowo tetap mengandalkan tentara. Sebagai Menteri Pertahanan misalnya Prabowo kemudian mengurusi ketahanan pangan. Siapa tulang punggungnya, tentu tentara.
Dan untuk meningkatkan citra tentara, Prabowo mengandeng Deddy Corbuzier, sipil yang ditentarakan dengan gelar Letkol Tituler.
Prabowo pun kembali menjadi tentara, dengan anugerah Bintang Penuh dari Presiden Jokowi sebelum mengakhiri masa jabatannya.
Begitu dilantik menjadi Presiden, Prabowo juga menunjuk orang-orang militer untuk kedudukan strategis dalam pemerintahan. Makan Bergizi Gratis diurus tentara di daerah, beras diurus tentara, sawit diurus tentara, Kementerian Pertahanan dan Keamanan dikecualikan dalam efisiensi anggaran.
Dan saat UU TNI akan disahkan, karena gelombang penolakan yang besar, tentarapun bersiap ikut mengamankan dengan panser-pansernya.
Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah akan ada operasi siber yang dilakukan oleh TNI untuk mengatasi pihak-pihak yang dianggap melemahkan pemerintah. Sikap kritis terhadap pemerintahan bisa ditarget sebagai upaya untuk melemahkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah.
Revolusi telah dimulai, maksudnya pemerintahan militeristik telah tiba.
Dan kita tahu cara kerja militer, ketika mereka ingin cuci tangan agar tak dianggap represif maka politik devide et impera yang dijalankan. Sipil dengan sipil akan diadu, dan kemudian datang tentara untuk mendamaikannya. Waspada, waspada dan waspadalah.
note : sumber gambar – JATIMNETWORK








