KESAH.IDBeberapa waktu lalu kita diributkan oleh pernyataan seorang influencer soal ‘child free’. Banyak yang bertanya untuk apa menikah kalau tak ingin punya anak. Di Indonesia fenomena tak ingin punya anak barangkali masih menjadi kontroversi namun di banyak negara lain telah menimbulkan resesi seks.

Baby boomers atau sering disingjat boomers adalah kategori demografi untuk orang-orang yang lahir di tahun 1946 hingga 1964.

Istilah ini muncul di Amerika Serikat untuk menandai ledakan kelahiran paska perang dunia kedua.

Istilah ini kemudian juga di kenal di luar Amerika Serikat namun dengan penanggalan yang berbeda.

Pada intinya masyarakat yang sebelumnya mengalami konflik atau perang berkepanjangan kemudian memasuki masa damai atau tenang. Ekonomi tumbuh dan kehidupan kembali normal.

Namun pada akhirnya ledakan demografi ini kemudian memunculkan kekhawatiran baru yakni ketersediaan pangan.

Hingga kemudian di banyak negara muncul kebijakan untuk mencegah ledakan jumlah penduduk. 

Kebijakan mulai dari pembatasan pernikahan di bawah umur sampai dengan penerapan pengaturan kelahiran atau dikenal dengan Keluarga Berencana (family planning).

Di jaman orde baru, Presiden Suharto membentuk unit kerja tersendiri untuk mensukseskan program Keluarga Berencana yakni BKKBN atau Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Ditengah masyarakat yang punya anggapan “Banyak anak banyak rejeki”, BKKBN sukses dengan slogan “Dua Anak Cukup, Laki-Laki atau Perempuan sama saja,”

Salah satu cara paling mudah menilai keberhasilan program keluarga berencana adalah tutupnya banyak SD Inpres yang getol didirikan oleh Suharto mulai pertengahan tahun 70-an.

Di banyak daerah, SD Inpres mulai ditutup sejak tahun 2000-an karena kekurangan murid.

Dan menjelang tahun 2020-an mulai muncul banyak kabar tentang SMP yang mulai kekurangan murid.

Dan tak lama lagi kita akan terbiasa mendengar SMA ditutup karena kekurangan murid.

Fakta ini menunjukkan bahwa tingkat kelahiran semakin hari semakin menurun. Fluktuasi pertambahan penduduk di sebuah daerah lebih sering ditentukan oleh migrasi ketimbang kelahiran.

Menurunnya tingkat kelahiran dan meningkatnya harapan hidup kemudian menjadi persoalan tersendiri 

Fenomena menurunnya jumlah kelahiran oleh Kate Julian dalam publikasi di laman The Atlantic disebut sebagai resesi seks.

Di Swedia telah berdiri Federasi Sex yang berupaya untuk mendaftarkan seks sebagai olahraga resmi.

Dikabarkan pada tanggal 8 Juni 2023 di Gothenberg akan diselenggarakan  European Sex Championship. 

Jika terlaksana maka Swedia menjadi negara pertama yang memasukkan seks sebagai cabang olahraga, bukan hanya olahraga rekreasi melainkan olahraga prestasi.

Namun upaya untuk mendaftarkan  seks sebagai olahraga resmi di Swedia belum diterima oleh otoritas resmi olahraga disana.

Lepas dari berbagai kontroversi yang menyertainya, hal ini menunjukkan adanya pergeseran persepsi, nilai dan perilaku seksual manusia. 

Seks telah mengalami resesi hingga kemudian ada yang berfikir untuk dijadikan sebagai olahraga. Bahkan olahraga prestasi.

BACA JUGA : Harari Takut AI Bikin Kiamat

Kembali ke Kate Julian, yang disebut resesi seks olehnya adalah fakta atau temuan pada survey perilaku seks remaja Amerika Serikat yang dilakukan oleh CDC atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat.

Masyarakat Amerika Serikat yang dikenal permisif pada hubungan seksual sebelum nikah, ternyata sekarang ini melakukan hubungan seksual yang lebih sedikit daripada generasi sebelumnya.

CDC menemukan jumlah anak sekolah yang melakukan hubungan seksual turun dari 54% menjadi 40 %.

Seks yang tadinya menjadi pengalaman biasa untuk anak sekolah, untuk pertama kalinya menjadi sesuatu yang belum pernah dialami oleh sebagian besar anak sekolah.

Penurunan aktivitas seksual di kalangan anak sekolah membuat tingkat kehamilan yang tidak dikehendaki di usia remaja anjlok sepertiga dari level sebelumnya.

Apakah ini menandakan masyarakat Amerika Serikat semakin bermoral, menghargai keperawanan dan mengindari seks sebelum nikah?.

Sayangnya tidak, resesi seks di Amerika Serikat tidak berhubungan dengan moral atau religi. 

Kecenderungan ini lebih berkaitan dengan perkembangan masyarakat, ekonomi, teknologi, persepsi terhadap masa depan dan lainnya.

Yang disebut dengan kebutuhan seksual bisa dipenuhi atau disalurkan dengan banyak cara. Aktifitas seksual juga semakin beragam sehingga seks dalam konteks reproduktif semakin kehilangan konteks.

Perkembangan streaming konten, alat bantu seksual, sex virtual, aplikasi kencan online dan lainnya turut menyumbang atau menjadi faktor pendukung munculnya kecenderungan baru dalam persepsi dan perilaku seksual.

Secara sepintas resesi seksual bisa menjadi kabar baik untuk kaum moralis dan kaum religius. Namun sesungguhnya menyimpan bom yang berbahaya karena bisa menimbulkan ketidakseimbangan demografis dan ancaman di masa depan terutama untuk ketahanan negara dari sisi politik dan ekonomi.

Salah satu negara yang telah menjadi korban resesi seks adalah Jepang.

Populasi di Jepang bertambah dengan amat pelan atau bahkan mulai terlihat menurun pertumbuhannya.

Masyarakat Jepang tumbuh menjadi masyarakat tua, dimana perimbangan penduduk antara generasi tua dan muda makin seimbang.

Jepang terancam menjadi masyarakat ‘pensiunan’ jika tidak bisa menumbuhkan kembali tingkat kelahiran baru.

Tahun 2021, jumlah kelahiran bayi di Jepang hanya sekitar 800.000 an, jumlah paling sedikit dalam sejarah populasi Jepang. Setelah Korea Selatan dan China, Jepang mulai dilanda depopulasi.

Jika dahulu Presiden Suharto mengeluarkan uang trilyunan untuk membatasi jumlah kelahiran, kini pemerintah Jepang dan banyak pemerintah negara lainnya meski mengeluarkan uang trilyunan untuk membujuk warganya mau menikah, berkeluarga dan melahirkan anak.

Pemerintah Jepang dalam jangka waktu 3 tahun ke depan telah mengalokasikan dana setara 30 trilyun rupiah agar generasi muda Jepang yang berumur antara 30 hingga 50 tahun tidak memilih hidup sebagai jomblo.

Depopulasi di Jepang telah mengakibatkan ribuan sekolah dasar dan menengah ditutup. Banyak desa tak lagi punya sekolah karena tak ada anak-anak lagi. Selain itu banyak jalur kereta di tutup untuk selamanya karena kehabisan penumpang.

Secara kebudayaan seks bukanlah hal yang tabu di Jepang. Sejak tahun 50-an di Jepang banyak tumbuh Hotel Cinta, hotel kamarnya disewakan untuk waktu singkat.

Kini hotel-hotel itu merana, karena makin sedikit pasangan romantis yang menyewanya. Sebagian bahkan telah menjadi hotel hantu karena sudah lama dibiarkan dan tak ada yang mau mengambil alih untuk mengoperasikannya.

Cinta romantis, cinta dalam perkawinan seolah menjadi momok yang menakutkan di Jepang. 

Biaya hidup yang tinggi, gila kerja dan hubungan sosial yang makin rendah membuat orang Jepang lebih memilih untuk tidak menikah. 

BACA JUGA : Dunia Makin Multipolar, Soft Power Amerika Mulai Melemah

Resesi seks atau penurunan aktifitas seksual untuk.tujuan prokreasi sebenarnya merupakan konsekwensi dari evolusi manusia.

Secara template hubungan seksual adalah cara mahkluk hidup seksual untuk meneruskan kehidupan.

Namun evolusi manusia dan beberapa jenis binatang tertentu keluar dari hukum alam itu.

Manusia dan beberapa jenis primata serta mamalia lainnya bisa menemukan aspek non prokreasi dalam hubungan seksual.

Hubungan seksual kemudian tidak lagi melulu untuk meneruskan keturunan melainkan juga untuk memperoleh kesenangan atau kenikmatan. Seks selain bernilai reproduktif juga bersifat rekreatif.

Evolusi biologi manusia juga menghasilkan spektrum kecenderungan seksual yang beragam. Yang terbesar tentu saja tertarik pada lawan jenis.

Namun ada juga yang ternyata tertarik ke sesama jenis, tertarik secara seksual baik pada lawan maupun sesama jenis bahkan ada yang tertarik kepada spesies lain atau bahkan benda-benda mati.

Perkembangan teknologi, ekonomi dengan segala konsekwensinya termasuk biaya hidup yang makin tinggi membuat kecenderungan seks non pro kreasi menjadi semakin besar. 

Tingkat penurunan kelahiran baru, keinginan untuk menikah tidak pararel dengan aktivitas seksual. 

Resesi seks bukan merupakan cerminan penurunan gairah atau aktivitas seksual masyarakat. Melainkan lebih ke hubungan seksual dalam komitmen ikatan perkawinan dan tidak menunda kelahiran.

Kecenderungan aktivitas seksual yang lebih dipahami atau dihindari sebagai aktivitas reproduksi adalah resesi seks yang sesungguhnya.

Masyarakat doyan ngeseks tapi tak mau punya anak.

Dalam sepuluh tahun terakhir Indonesia juga mengalami penurunan angka kelahiran, namun angkanya masih diatas 2. Artinya jumlah penduduk relatif stagnan. Tidak bertambah banyak dan tak berkurang.

Indonesia bahkan tengah menikmati bonus demografi dimana penduduk dengan usia produktif jumlahnya lebih banyak dibanding kategori usia lainnnya.

Resesi seks belum menjadi ancaman di Indonesia, yang justru mengkhawatirkan adalah masalah kekerasan seksual dari arti seluas-luasnya.

Seks di Indonesia lebih dipandang sebagai eksistensi religi, tradisi dan moral. 

Kecenderungan seks secara biologis ditutup-tutupi dan gak seksual kurang dipenuhi karena yang berlaku dalam pandangan umum seks adalah mulia dan suci, untuk meneruskan keturunan.

Aktifitas, preferensi atau identitas seksual diluar itu dianggap menyimpang.

Mereka yang mempunyai preferensi seksual non hetero dan identitas seksual yang tidak sesuai dengan fisik biologisnya selalu menjadi korban kekerasan. 

Beberapa kelompok bahkan mengusulkan agar tindakan seks non hetero dianggap sebagai kejahatan. Pelakunya bisa dikriminalisasi.

Inilah resesi seks di Indonesia yakni resesi pengetahuan.

note : sumber gambar – CATCHMEUP.ID