KESAH.ID – Beberapa tahun terakhir ini menguat isu dedolarisasi, mata uang Amerika Serikat yang menjadi mata uang dunia mulai dipertanyakan relevansinya. China yang tumbuh menjadi salah satu kekuatan baru ekonomi dunia mulai mengembangkan inisiatif perdagangan antar negara atau perdagangan regional dengan memakai mata uang masing-masing. Perlawanan China dan sekutu-sekutu barunya yang tak mampu diredam oleh Amerika Serikat menjadi tanda-tanda jaman bahwa Pax Americana mulai melemah.
Pax Romana atau Damai Romawi merupakan frasa yang kerap digunakan oleh para sejarawan modern untuk menggambarkan pengaruh kekuasaan Imperium Romawi secara global. Periode ini dicapai mulai tahun 27 SM hingga 180 M.
Adalah Oktavianus yang kemudian diberi gelar Augustus yang memulainya dengan membangun kekuatan militer yang hebat. Kejayaan ini berlangsung hingga masa kekuasaan Marcus Aurelius. Setelah Marcus Aurelius mangkat dan kemudian diganti oleh Commundus, kestabilan pemerintahan Romawi mulai diganggu oleh berbagai macam pertikaian dan perebutan kekuasaan. Pengaruh Romawi kemudian melemah dan tak bisa lagi mempertahankan kekuasaan globalnya.
Setelah pengaruh global Romawi, dalam selang waktu yang amat panjang kemudian dicapai oleh Inggris. Pax Britanica berlangsung selama kurang lebih 100 tahun mulai dari 1815 hingga 1915 atau masa akhir perang dunia I.
Pax Britanica terjadi ketika Imperium Britania mempunyai armada angkatan laut yang sangat kuat. Jalur perdagangan dunia dikuasai oleh Inggris. Royal Navy atau angkatan laut Kerajaan Inggris Raya ada di setiap laut dan samudera dunia.
Kejayaan Inggris kemudian tumbang ketika mulai muncul kekuatan-kekuatan baru di berbagai benua, mulai dari Jerman di Eropa, Jepang di Asia dan Amerika Serikat di Benua Amerika. Inggris berjaya di lautan namun tidak cukup kuat dan kerepotan menghadapi berbagai persoalan dan perang di daratan.
Dan bersamaan dengan berakhirnya perang dunia ke II yang dimenangkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya muncul istilah Pax Americana. Amerika dengan kekuatan senjatanya berhasil menghegemoni dunia. Amerika Serikat berhasil menjadi penguasa tunggal dunia {unipolar} yang seolah-olah punya wewenang mengatur ini dan itu negara lain agar tidak menjadi ancaman bagi pengaruh globalnya.
Jepang misalnya merupakan salah satu negara yang menandatangai kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk tidak mengembangkan senjata, termasuk teknologi pesawat tempur.
Masyarakat dunia kemudian menjuluki Amerika Serikat sebagai Polisi Dunia karena kelakuannya dalam menghegemoni negara-negara lainnya. Yang tidak tunduk akan diserang oleh Amerika Serikat, dibuat menderita dengan berbagai macam embargo.
Namun kekuatan senjata dan persekutuan Amerika Serikat kemudian mendapat tantangan. Dunia kemudian mengenal istilah Blok Barat dan Blok Timur. Blok Barat adalah Amerika Serikat beserta sekutunya yang direpresentasikan oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara {NATO} dan Blok Timur dimotori oleh Uni Soviet dengan Pakta Pertahanan Warsawa.
Kekuatan dunia terbelah menjadi dua {bipolar}, masa ini disebut sebagai masa perang dingin. Kedua blok bersaing dalam pengembangan senjata dan pembangunan kekuatan perang, utamanya senjata pemusnah massal seperti rudal jarak jauh dengan hulu ledak nuklir.
Negara-negara di dunia dipaksa untuk memilih kiblatnya. Indonesia dengan politik bebas aktif memilih untuk tidak berkiblat. Dan kemudian mengajak negara-negara lain yang sepaham hingga kemudian lahir Gerakan Non Blok.
Era perang dingin yang dimulai dari pembagian Jerman menjadi dua wilayah yakni Jerman Barat dan Jerman Timur kemudian usai ketika tembok Berlin diruntuhkan serta disusul oleh pembubaran Uni Soviet.
Secara ekonomi masa perang dingin juga merupakan perang antara blok kapitalis dan blok komunis.
Berakhirnya perang dingin membuat Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya. Kiblat dunia mengarah ke Amerika. Kekuatan dunia yang bipolar kemudian kembali menjadi unipolar.
Masih menjadi penentu namun kekuatan senjata bukan lagi menjadi yang utama. Kekuatan Amerika ada pada US Dollar dan komoditas untuk menghegemoni dunia yang kerap digambarkan sebagai McWorld.
BACA JUGA : Solusi Sampah Plastik
Berakhirnya era perang dingin secara sederhana bisa dipahami sebagai perjalanan kemenangan liberalisme atas fasisme dan komunisme. Dunia kemudian berfokus pada pengembangan ekonomi, politik yang paling menonjol adalah politik ekonomi.
Selain bersaing, dalam konteks ekonomi disadari bahwa antar negara mempunyai saling ketergantungan, baik dalam konteks global maupun regional. Aliansi yang tadinya bercorak militer kemudian bertumbuh menjadi aliansi ekonomi.
Secara perlahan dunia kemudian menjadi multipolar dengan munculnya negara-negara dengan ekonomi kuat dan teknologi maju. Kekuatan makin terbagi bukan hanya di Eropa dan Amerika melainkan juga di Asia dan Afrika.
Dari Asia muncul Jepang, India, Singapura, Korea dan kemudian China.
Sisa-sisa perang dingin masih belum sepenuhnya sirna.
Terhadap Jepang dan Korea misalnya, Amerika Serikat bersikap ramah, namun tidak terhadap China.
China yang getol meliberalisasi ekonominya tak peduli dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Amerika Serikat dan organisasi-organisasi atau aliansi yang ada dalam pengaruhnya. Bermodal jumlah penduduk yang besar dan sistem pemerintahan atau politik yang stabil, China berhasil menjadi raksasa kekuatan ekonomi baru yang tak takut pada hegemoni Amerika Serikat.
Sama seperti Amerika Serikat, China pun kemudian agresif mengembangkan pengaruh ekonominya ke negara-negara lain di dunia. Campuran antara sistem politik yang tersentral dengan ekonomi yang liberal membuat Amerika Serikat gagu menghadapi China.
Meski mempunyai segalanya, Amerika Serikat bisa diibaratkan sebagai ibu yang galak. China mengambil sikap yang lain, tampil sebagai ibu yang ramah yang tidak cerewet dengan berbagai macam aturan yang bisa ditetapkan tiba-tiba.
Sebagai bangsa pedagang, China bersikap layaknya pedagang. Yang penting dagangannya laku dan tak menilai pembeli lewat penampilan serta latar belakang lainnya. Tidak seperti Amerika Serikat yang sering memilih-milih siapa yang boleh membeli produknya.
Tak membawa-bawa politik dalam hubungan dagang atau ekonomi membuat China menjadi fleksibel dalam hubungannya dengan negara lain.
Pada 16 Juni 2009 di Rusia diselenggarakan konperensi yang dihadiri oleh kepala negara Brasil, Rusia, India dan China. Lahirlah BRIC, sebuah aliansi ekonomi antar negara-negara berkembang yang besar. Aliansi ini bertujuan untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan serta kerjasama politik yang menguntungkan antar negara anggota.
Afrika Selatan kemudian ikut bergabung sehingga BRIC menjadi BRICS.
Bergabungnya negara-negara ini kemudian menjadi kekuatan ekonomi baru dunia. Menyebut dirinya sebagai juru bicara negara-negara berkembang, BRICS akan terus membesar dan mengkoreksi kebijakan politik ekonomi dunia yang selama ini amat ditentukan oleh Amerika Serikat lewat IMF, Bank Dunia dan institusi-institusi global lainnya.
Peta kekuatan ekonomi dunia kemudian berubah, karena BRICS kemudian memicu langkah untuk meninggalkan dollar dalam transaksi ekonominya {dedolarisasi}. Negara yang bergabung didalamnya melakukan perjanjian antar negara sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan transaksi dagang dengan uangnya masing-masing.
Tren penggunaan mata uang lokal untuk perdagangan dengan negara lain semakin meningkat paska perang antara Rusia dan Ukraina. Amerika Serikat yang gemar melakukan sanksi ekonomi kemudian memaksa banyak negara untuk mencari alternatif pembayaran di luar dollar untuk transaksi dagangnya dengan negara lain.
Kepercayaan diri dan komitmen antar negara ini kemudian membuat perdagangan global saat ini tidak lagi dimonopoli oleh penggunaan dollar, sebagai mata uang internasional.
BACA JUGA : Biohacking
Indonesia sebagai Presiden Asean tahun ini menyelenggarakan Konperensi Tingkat Tinggi, Asean Plus di Pulau Komodo. Pulau yang dikembangkan oleh Presiden Joko Widodo menjadi lokasi wisata premium.
Salah satu agenda penting dalam KTT ini adalah kesepakatan sistem pembayaran baru antar negara Asean, plus Tiongkok, Jepang dan Korsel yang ikut diundang. Kalau kesepakatan itu ditandatangani maka dedolarisasi akan terjadi dalam transaksi dagang antar negara Asean Plus.
Dengan demikian ketika Indonesia mengimport mobil dari Jepang akan dibayar dengan Yen, begitu sebaliknya jika Jepang membeli gas alam cair dari Indonesia maka akan dibayar dengan rupiah.
Juga ketika Indonesia mendatangkan durian Musang King dari Malaysia akan dibeli dengan ringgit, sedangkan Malaysia jika ingin menikmati jengkol dari Indonesia harus menebusnya dengan rupiah.
KTT telah berakhir dan menyepakati 3 hal yakni Perdagangan Manusia, Penyelesaian konflik Myanmar dan Ekosistem kendaraan listik.
Sedangkan inovasi pembayaran lintas batas dan penggunaan mata uang lokal untuk transaksi regional masih perlu dipersiapkan lebih lanjut.
Ternyata tidak gampang ‘melawan’ Amerika Serikat atau dedolarisasi. Bahkan tanpa kehadiran Amerika Serikat sekalipun, ASEAN Plus tidak segera menjadi kekuatan yang garang.
Dari negara-negara yang hadir, sekurangnya ada 4 yang begitu dengan dengan Amerika Serikat, terikat secara kultural, sejarah maupun perjanjian lainnya. Ada Jepang, Korea, Singapura dan juga Philipina.
Fakta lain, Jepang dan Korsel yang dekat dengan Amerika Serikat juga mempunyai hubungan yang panas-panas tahi ayam dengan Tiongkok. Ada dendam yang dalam dalam diri masing-masing.
Hasil KTT Asean Plus di Pulau Komodo menunjukkan Amerika Serikat masih punya cukup kekuatan untuk menekan, walau mulai melemah.
Tiongkok mungkin kecewa, namun tetap mempunyai harapan bahwa Yuan akan menguat sebagai alat pembayaran internasional. Sekurangnya pintu sudah terbuka, terutama melalui mobil listrik. Mobil listrik dari Tiongkok jelas lebih murah ketimbang yang diproduksi oleh Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Korea.
Tidak ada hasil yang istimewa dari KTT Asean Plus yang diselenggarakan di tempat istimewa ini. Sama halnya dengan Asean Games yang juga tidak istimewa. Jauh akan lebih mengembirakan jika KTT Asean Plus di Pulau Komodo juga menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan ajang pertandingan olahraga Asean Games yang selalu dimenangkan oleh tuan rumah. Menang dengan cara tipu-tipu itu.
Jika ajang olahraganya saja sudah gagal menumbuhkan badan sehat dan jiwa kuat, maka dipastikan kerjasama politik ekonominya juga tidak akan solid.
Mungkin Indonesia secara perlahan mampu menepis kekuatan soft power Amerika Serikat yang memang makin melemah, namun tak mampu menangkis kekuatan soft power Korea Selatan.
Kini setelah Jepang, Korea Selatan tumbuh menjadi kekuatan baru di dunia dan pengaruh hegemoni kebudayaan pop-nya mulai mencengkeram kuat masyarakat Indonesia. Kalau nggak percaya, senggol aja Blink, fans-nya Blackpink.
Jadi akankah Pax Americana diganti menjadi Pax Tiongkokana, Pax Koreana atau Pax Japanicana?. Entahlah, yang pasti jangan dulu bermimpi tentang Pax Indonesiana.
note : sumber gambar – MEDCOM.ID








