KESAH.ID – JCVI atau J Craig Venter Institute berhasil menciptakan Sel Sintetis yang dapat hidup dan berbiak setiap 3 jam hanya dengan 473 gen. Sel yang disebut sebagai Sel Bakteri Minimal ini dalam beberapa dekade ke depan berpotensi untuk melahirkan jenis mahkluk baru di laboratorium. Biologi sintetik akan menjadi ilmu baru yang memungkinkan manusia menjadi pencipta kehidupan.
“Wah tambah makmur saja,”
Dulu ucapan seperti sering terdengar ketika seseorang bertemu dengan orang lainnya yang badannya lebih gemuk dibanding saat pertemuan terakhir.
Ada satu masa dimana badan gemuk, dianggap sebagai tanda kemakmuran. Paling tidak makmur secara pangan.
Namun kini kegemukan atau kelebihan berat badan dianggap sebagai masalah.
Kelebihan berat badan terbukti mempunyai resiko gangguan kesehatan yang lebih tinggi mulai dari stroke, jantung koroner, diabetes dan kanker.
Secara umum, badan yang kegemukan juga membuat badan tidak nyaman. Seperti ketika duduk, perut yang buncit terasa menekan dada. Tubuh yang berat juga membuat kaki cepat lelah atau bahkan nyeri karena menahan beban kelewat berat.
Dalam banyak kasus, mereka yang kelewat gemuk hanya bisa duduk-duduk atau berbaring saja di ranjang karena kali tak mampu menopang untuk berdiri.
Kini orang berlomba-lomba untuk mempunyai berat tubuh yang ideal, berat badan yang seimbang dengan tinggi tubuhnya.
Ukuran berat badan yang ideal dihitung dengan BMI atau boddy mass index. Yang dihitung dengan cara membagi bobot tumbuh dengan kuadrat tinggi badan dalam hitungan meter.
Standar internasional menetapkan BMI antara 18,5 hingga 22,9 tergolong normal atau ideal. Sementara angka diatas 30 dikategorikan sebagai obesitas.
Beberapa tahun terakhir ini populer istilah body goals. Istilah ini mengacu pada bentuk badan yang ideal sehingga menjadi acuan atau panutan orang lain di media sosial.
Langkah yang umum ditempuh oleh seseorang untuk mencapai boddy goals-nya adalah dengan melakukan diet.
Di media sosial banyak orang memamerkan niat dan upayanya untuk diet. Namun kebanyakan tidak berhasil. Kebanyakan berhasil menurunkan berat badan sejenak namun setelah itu malah bobot tubuhnya meledak.
Ingin mempunyai tubuh yang ideal tentu saja merupakan hal setiap orang terutama mereka yang ingin sehat dan hidupnya berkualitas.
Tindakan untuk menurunkan berat badan bisa disebut sebagai biohacking, sebuah kegiatan untuk mengoptimalkan dan meningkatkan pikiran dan tubuh untuk mencapai tujuan tertentu.
Jenis kegiatan biohacking macam-macam, yang paling umum adalah olahraga. Binaraga menjadi salah satu olahraga yang paling merubah tubuh.
Selain olahraga biohacking juga bisa dilakukan lewat meditasi, puasa, food combaining, terapi, mandi sauna dan lain-lain.
BACA JUGA : Tak Ada Jalan Pulang Untuk Demokrasi
Perkembangan ilmu biologi sintetis membawa lompatan dalam biohacking.
Ilmu yang menggabungkan antara biologi, teknologi dan big data ini telah melahirkan berbagai pendekatan yang secara radikal bisa merubah kinerja dan kualitas tubuh secara instan.
Josiah Zayner, lewat akun instagram dan YouTube menjadi terkenal semenjak tahun 2017.
Lewat media sosial dia mendemontrasikan tengah menyuntikkan gen ke dalam tubuhnya untuk memaksimalkan protein yang mengatur pertumbuhan ototnya.
Zayner mengklaim penyuntikan gen tertentu akan memberinya otot yang lebih besar.
Sebelumnya Zayner pernah mentransplantasikan fesesnya sendiri untuk memperbaiki masalah dalam usus. Tindakan itu diklaim olehnya berhasil mengubah susunan bakteri dalam perutnya.
Metode yang dilakukan oleh Josiah Zayner merupakan pendekatan bioteknologi yang dikenal dengan nama CRISPR.
Cluster of Regularly Interspaced Short Palindromic Repeat ini merupakan wilayah khusus DNA yang mengandung nukleotida dan spacer (wilayah DNA yang tak terpetakan dalam gen) yang bisa digunakan untuk mengedit atau merubah DNA sesuai kehendak pelakunya.
Meski secara keilmuan rumit namun jika telah ditemukan dan diproduksi sebagai teknologi setiap orang kemudian bisa melakukan jika mempunyai toolkit-nya
Mirip seperti mie instan. Seseorang tak perlu sekolah di jurusan tata boga untuk pintar memasak mie dengan rasa yang stabil.
Cukup membeli mie instan di warung lalu mengikuti petunjuk cara memasaknya.
Dan jika kreatif bisa menambah dengan ini dan itu sehingga rasa dan penampilan mie instan bisa diperbaharui serta menghasilkan sensasi yang berbeda.
Demikian juga dengan CRISPR, perusahaan teknologi bisa membuat toolkit tertentu untuk mengedit DNA tertentu yang tidak hanya bernilai kesehatan, melainkan juga estetik bahkan prestasi.
Josiah Zayner sendiri juga membuat toolkit CRISPR yang dijual untuk publik meski tidak disarankan untuk disuntikkan ke diri sendiri. Toolkit-nya lebih ditunjukan untuk ekperimen diluar manusia.
Perilakunya lebih ditujukan sebagai kritik terhadap kebijakan yang dirasa olehnya kerap menghambat penerapan kemajuan bioteknologi untuk digunakan pada manusia.
Butuh waktu puluhan tahun bagi sebuah temuan bioteknologi untuk diijinkan pemakaiannya pada manusia, bahkan sebagian lainnya tetap dilarang dengan alasan moral dan etika.
Apa yang diinginkan oleh Zeyner adalah peralatan atau temuan teknologi seperti CRISPR tersedia dan dapat diakses oleh semua orang agar setiap individu bisa melakukan apa yang ingin dilakukannya tanpa dikendalikan oleh ilmuwan dan perusahaan farmasi atau kesehatan.
Zeymer sendiri sejak tahun 2016 mendirikan Odin, peraih gelar PH.d biofisika molekuler di Universitas Chicago ini sebelum pernah bekerja di NASA Ames Space Synthetic Biologi. Josiah terlibat dalam proyek rekayasa bakteri yang dapat membantu planet Mars menjadi planet yang cocok ditinggali manusia.
Tahun 2018 lalu dalam sebuah wawancara, Josiah Zeymer mengatakan tindakannya menyuntik dirinya sendiri untuk melakukan edit DNA adalah provokatif dan meminta orang tidak menirunya.
Meski begitu dia tetap menjual kit CRISPR untuk mendorong setiap orang berkreasi dan mengembangkan biohack-nya sendiri.
BACA JUGA : Akankah Yamaha Log Out Dari Moto GP
Urusan mengedit atau mengunting DNA manusia memang masih menjadi persoalan. Meski secara teknis dan prosedur sudah bisa dilakukan. Ada masalah etis, moral dan filosofis serta hukum yang mesti dipecahkan.
Tehnik rekayasa genetik lebih memungkinkan untuk dikembangkan dalam dunia pertanian dan peternakan.
Petani bisa menanam tumbuhan tertentu yang telah diedit DNA-nya sehingga lebih tahan pada hama, cuaca ekstrim dan lain-lain.
Peneliti atau ilmuwan juga bisa mengembangkan tanaman, ganggang, jamur dan lainnya yang punya kandungan zat sumber bahan minyak. Sehingga nanti minyak tidak dihasilkan dengan cara menambang minyak bumi, melainkan dengan mengektrak tumbuhan, ganggang atau jamur.
Kini peternak bisa menghasilkan daging yang rasanya mirip daging ayam, sapi dan lainnya tanpa harus memelihara ayam, sapi, kambing, babi yang menghasilkan banyak kotoran.
Daging bisa ‘diternakkan’ dalam wadah hingga kemudian dipanen dalam bentuk bongkahan daging hingga tak perlu dicabuti bukunya atau dikuliti.
Jika sebuah teknik bisa diterapkan pada tumbuhan dan binatang maka secara teknis juga bisa diterapkan pada manusia.
Menghasilkan tubuh yang ideal, boddy goals secara instan tidaklah sulit dengan metode biologi sintetik.
Hanya saja selalu akan ada anomali, ada akibat-akibat yang sering tidak bisa diprediksi sebelumnya.
Editing DNA, terapi hormon dan lainnnya akan berpengaruh pada kerja otak dan organ lainnya. Dan jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan, tentu akan membuat penderitaan.
Ekperimen pada tumbuhan atau binatang yang gagal dengan mudah dihancurkan. Tumbuhan atau binatang hasil kerja di laboratorium bisa dimatikan atau dimusnahkan. Namun pada manusia tentu saja akan menjadi sebuah kejahatan.
Sampai sekarang bio hacking yang sudah bisa diterima secara publik, moral dan etika adalah olahraga, meditasi, puasa, kosmetik, sunat, tatto, alat bantu pendengaran, bayi tabung, penglihatan, protesis, steamcell, operasi plastik, vaksin dan lain-lain.
Namun mengotak-atik struktur DNA, Gen dan lainnya untuk menghasilkan manusia super, manusia dengan IQ tinggi, panjang umur, organ yang patah bisa tumbuh sendiri dan lain-lain masih berhadapan dengan masalah bioetik.
Otak atik manusia dari struktur DNA dan Gen dianggap akan menghasilkan manusia yang bukan manusia, bukan human melainkan transhuman.
Ilmu, pengetahuan dan teknologi tak mungkin bisa dihentikan. Namun manusia mesti rendah hati dan legowo untuk menerima bahwa semua temuan dan pengkaryaan itu tak semuanya mesti diwujudkan dalam kenyataan.
Lalu kapan masanya semua itu bisa diterapkan?. Ya suatu saat, masa ketika kita semua manusia telah bersepakat untuk mengakhiri kemanusiaan.
Masa dimana kita Homo Sapiens rela punah atau rela hidup berdampingan dengan spesies transhuman, manusia yang tidak lahir dari pertemuan antara sel sperma bapak dan sel telur ibunya untuk dikandung dalam rahim sang ibu.
note : sumber gambar – MAGAZINE.IMPACTSCHOOL.COM








