qKESAH.ID – Perkembangan teknologi selalu melahirkan kekhawatiran. Karena bisa melakukan tugas yang spesifik, selalu ada potensi untuk mengantikan kerja spesifik yang dilakukan oleh manusia. AI atau kecerdasan buatan sekarang ini menimbulkan kekhawatiran banyak orang karena bayangan fiksional kecerdasan buatan yang sering ditampilkan di film fiksi ilmiah. Sebagian orang mulai berdelusi bahwa kelak AI akan mempunyai kesadaran seperti manusia.
“Nggak baca bukunya Yuval ya?”
Yang ditanya tersipu malu, pertanyaan itu seolah seperti tuduhan terhadap orang beriman yang tak membaca kitab suci agamanya sendiri.
Yuval Noah Harari, sejarawan dari Israel semenjak 2015 seolah menjadi ‘nabi’ abad 21 karena bukunya yang berjudul Sapiens dan Homo Deus. Pintar menceritakan kisah masa lalu, Yuval mulai dianggap sebagai seorang futuristik, bisa meramalkan masa depan.
Karena bukunya Harari kemudian sering diundang sebagai pembicara, bukan hanya di forum-forum ekonomi dunia melainkan juga dihadapan para ahli teknologi yang sehari-hari berkutat di Silicon Valley.
Dalam sebuah wawancara, Harari pernah mengatakan bahwa tugas sejarawan adalah mendeskripsikan realitas bukan menilainya. Harari seolah menempatkan kajian sejarah sebagaimana layaknya cara kerja sains.
Tentu banyak sejarawan protes, sebab sejarah selalu mencari makna atau pembelajaran dari apa yang terjadi di masa lalu. Mengambil yang buruk dan membuang yang buruk.
Dan nyatanya Harari juga melakukan hal yang sama. Opini-opininya tentang perkembangan terbaru kemudian kerap diakhiri dengan pernyataan bagaimana seharusnya. Sebagai seorang pencerita, Harari tidak hanya mengisahkan apa yang terjadi, dia kerap juga memberikan jawaban-jawaban yang menyenangkan untuk para pembacanya.
Dalam hubungannya dengan teknologi, Harari kerap meramalkan bahwa homo sapiens atau manusia di masa depan akan digantikan oleh entitas baru hasil teknologi canggih. Proyeksinya sapiens bisa punah karena hal itu, bukan hanya apa yang dikerjakan namun apa yang dipikirkan oleh manusia akan bisa digantikan oleh entitas teknologi.
Makanya Harari bersama beberapa tokoh termasuk tokoh dalam perusahaan teknologi kemudian membuat sebuah petisi yang berisi agar perkembangan AI dibatasi. Salah satu yang dikhawatirkan oleh Harari jika perkembangan AI tidak dibatasi maka manusia akan kehilangan otonomi pikirannya karena tahkluk pada AI.
Kekhawatiran Harari yang bukan seorang tech indutrialis ini ternyata juga diamini oleh Elon Musk yang dikenal luas sebagai pengembang teknologi, termasuk teknologi kecerdasan buatan.
Harari dan Elon Musk sebenarnya khawatir bahwa teknologi ini akan menjadi bencana jika tidak dikembangkan oleh orang-orang yang tepat. Dan siapa orang-orang yang tepat nan bijaksana itu, tentu saja Elon Musk dan teman-temannya.
Kita tahu Elon tidak setuju atas langkah Open AI, Microsoft, Google dan lainnya yang terlalu cepat menyajikan AI ke ruang publik. Terlalu cepat diperkenalkan pada publik dianggap bisa memicu kiamat AI.
Ternyata kekhawatiran kiamat bukan hanya khas orang Indonesia, yang gemar sekali mengkaitkan tanda-tanda tertentu yang tidak biasa sebagai tanda-tanda kiamat.
Membaca berbagai macam berita tentang ‘kiamat’ amat jelas terlihat bahwa apa yang dinarasikan adalah fiksi, tidak ilmiah sama sekali.
Dan Yuval Noah Harari meski mungkin tak percaya pada ramalan Jayabaya, namun melakukan hal yang sama atas sebuah teknologi. Percaya kalau perkembangan teknologi yang tidak dikendalikan akan berakhir dengan kiamat kemanusiaan.
BACA JUGA : Dunia Makin Multipolar, Soft Power Amerika Mulai Melemah
Entah sadar atau tidak, Yuval sendiri menuliskan manusia mulai meng-hack kondisi atau gaya hidup alamiahnya ketika mulai menguasai api. Itu teknologi pertama yang kemudian membuat manusia mulai hidup keluar dari hukum alam. Revolusi api kemudian melahirkan revolusi-revolusi lainnya, karena keluar dari hukum alam sesungguhnya mulai dari saat itu hidup manusia justru berada dalam ketidakpastian karena tidak sederhana lagi sebagaimana para binatang.
Setiap generasi selalu mempunyai kekhawatirannya sendiri tentang masa depan umat manusia.
Bapak saya, yang lahir sebelum tentara Dai Nippon datang ke Nusantara, menganggap temuan bom atom bisa membuat dunia kiamat. Namun ternyata, Amerika Serikat yang mampu membuat senjata pemusnah massal itu hanya menjatuhkan dua bom, di Hiroshima dan Nagasaki. Setelah itu bom atom dipensiunkan.
Dan kemudian ditemukan teknologi pemusnah massal yang lebih mengerikan lagi. Saya pernah punya kekhawatiran bahwa bom nuklir akan membuat dunia kiamat. Namun hingga hari ini teknologi senjata nuklir yang teramat mahal belum pernah dipakai oleh mereka yang mempunyai untuk menyerang negeri lainnya.
Justru karena temuan bom nuklir dunia malah mulai takut berperang. Hampir tak ada perang massal lagi setelah bom atom dan peluru kendali nuklir ditemukan.
Kekhawatiran bahwa teknologi akan mengantikan peran manusia sebetulnya tak perlu dikhawatirkan lagi karena itu merupakan sebuah konsekwensi. Tanpa teknologi mungkin saja sapiens sudah dulu punah karena tak mampu menghadapi serangan predator. Ingat, sapiens bukanlah mahkluk yang berada di piramida atas rantai makanan.
Namun kemampuan menguasai api, secara perlahan mengantar manusia menjadi puncak penguasa piramida rantai makanan, bersenjata api manusia mulai bisa mengusir binatang-binatang yang berbahaya dan lebih kuat darinya.
Karena api kemudian sapiens berkembang, bisa membuat senjata, perangkap, bahkan racun yang kemudian memusnahkan banyak binatang berbahaya.
Dan pada gilirannya, teknologi kemudian mengancam eksistensi atau keberadaan manusia sendiri. Ketika petani mempersiapkan lahan dengan cangkul atau bajak dengan bantuan kerbau atau sapi, teknologi masih dianggap sebagai alat bantu. Namun temuan traktor membuat pekerjaan banyak petani hilang.
Demikian juga dengan robot yang tak kenal lelah bekerja di pabrik-pabrik. Banyak buruh atau pekerja kehilangan lapangan pekerjaan.
Tapi secanggih-canggihnya traktor atau robot tetap belum menyingkirkan manusia, karena ada pekerjaan yang hilang namun selalu ada pekerjaan baru yang muncul.
Dengan semua perkembangan baik teknologi maupun pengetahuan, saat ini homo sapiens tak mungkin hidup tanpa teknologi. Meski otak sapiens berkembang pesat, jauh meninggalkan binatang sehingga mampu berpikir secara rumit, namun umumnya tak mampu lagi untuk selalu bekerja dengan cepat dan dalam tekanan terus menerus tanpa bantuan teknologi.
Melakukan segala sesuatu sendiri meski mampu jelas akan melelahkan dan menghabiskan banyak waktu. Teknologi dengan cepat bisa membantu sehingga kinerja otak manusia menjadi semakin efektif dan bisa digunakan untuk memikirkan hal-hal yang lebih penting.
Kekhawatiran terhadap Kecerdasan Buatan atau AI, sebenarnya sebuah kekhawatiran yang disebabkan oleh istilah. AI sebenarnya lebih merupakan istilah marketing untuk sebuah perangkat atau tools yang bekerja berdasarkan input tertentu untuk menghasilkan sebuah output.
Yang disebut AI tidak bekerja dengan otonom. Kecerdasan buatan adalah algoritma yang mengumpulkan dan menganalisa banyak data. Data-data yang dipakai untuk meng-input adalah data yang dihasilkan oleh manusia.
Data yang diproses itu akan menghasilkan output. Outputnya bermacam-macam tergantung algoritma dan pelatihan yang diberikan kepada perangkat itu.
BACA JUGA : Solusi Sampah Plastik
AI kemudian terlihat atau dianggap cerdas ketika peradaban telah memasuki abad digital. Kacamata, senter, diesel, mesin pompa air tidak dianggap sebagai kecerdasan buatan walau bisa melakukan tugas yang spesifik. Pun demikian dengan kalkulator, yang bisa melakukan penjumlahan.
Alat-alat yang terbukti telah membantu tumbuhnya peradaban manusia dianggap bukan sebagai kecerdasan buatan karena tidak punya memori. Dengan ditemukannya komputer, maka semua perangkat yang dilengkapi memori dan kemampuan mengakses data kemudian disebut sebagai kecerdasan buatan.
Seiring dengan perkembangan dunia digital, yang disebut dengan kecerdasan buatan tidak lagi berbentuk perangkat keras. Kecerdasan buatan berwujud sistem, kode atau aplikasi yang kemudian bisa ditempelkan dalam berbagai perangkat elektronis.
Dengan teknologi internet memori atau sumber datanya juga bisa semakin meluas, tidak terpusat dan makin mudah diakses. AI bisa menambang data lewat dan dari internet.
Kekhawatiran atau ketakutan kita terhadap AI, sebenarnya bermula dari gambaran tentang kecerdasan buatan yang kita saksikan di film-film fiksi ilmiah.
Dalam film-film itu sering ditampilkan mesin yang mempunyai kecerdasan lalu tak terkendali. Selain cerdas, mesin-mesin itu kemudian mempunyai kesadaran. Dengan mempunyai kesadaran mesin itu kemudian melawan algoritma yang dibuat oleh penciptanya. Mesin itu menjadi sistem kehidupan, sistem terbuka yang mampu mencari asupan energi sendiri sehingga tak bisa dikendalikan oleh manusia penciptanya.
Padahal yang disebut dengan AI, sebenarnya tidak mempunyai kecerdasan apalagi kesadaran. AI adalah mesin yang nampak cerdas, karena bisa melakukan kerja-kerja spesifik yang tidak bisa dilakukan secara cepat oleh kebanyakan manusia.
AI menjadi ‘lebih’ dari kebanyakan kita karena dibaliknya ada sistem kerja yang melibatkan matematika, coding, parameter dan model komunikasi. Kerja sistem yang kemudian kerap menimbulkan anggapan bahwa google, facebook, youtube dan tik tok kemudian paham atau tahu keinginan kita sebelum kita sendiri sadar dengan keinginan itu.
Kita kemudian menganggap media sosial paham pemikiran atau perasaan kita. Padahal yang terjadi adalah sistem atau algoritma dalam media sosial itu mengumpulkan data apa yang kita cari, kita posting, kita sukai, kita komentari dan lain-lain. Dari data itu kemudian algoritmanya akan memprediksi konten apa yang akan kita sukai. Dan itu kemudian akan ditampilkan di timeline, wall atau feed kita, sebagai rekomandasi dari mereka.
Karena sering kali cocok, maka kita kemudian menganggap Google, Facebook, Tiktok, Youtube, Marketplace dan lain-lain seperti paham terhadap diri kita, bahkan lebih paham dari diri kita sendiri.
Maka yang sesungguhnya cerdas adalah pencipta atau pengembang AI itu sendiri. Mereka amat paham dengan kerja otak, sehingga bisa memanipulasi kecerdasan dan kesadaran manusia melalui sebuah sistem digital atau virtual.
Tapi apakah tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari AI?. Tentu saja ada, tapi tak perlu berlebihan bahwa AI akan mengantikan kecerdasan dan kesadaran manusia. Yang perlu dikhawatirkan justru karena AI itu adalah buatan manusia, maka jika AI dikembangkan oleh orang yang brengsek, rasis, sexis dan lainnya maka akan menghasilkan kecerdasan buatan yang bakal menganggu kehidupan bersama, menyebabkan perpecahan, pemusuhan atau saling bully.
Dengan demikian kekhawatiran bahwa AI akan memusnahkan manusia terlalu berlebihan. Namun kekhawatiran Harari, Elon Musk dan lainnya bisa dipahami dalam konteks perlunya peraturan atau kode etik dalam pengembangan AI, agar AI tidak dikembangkan oleh orang ‘jahat’ dan digunakan untuk ‘kejahatan’.
note : sumber gambar – REPUBLIKA.ID








