KESAH.ID – Berawal dari pengumuman PDIP untuk mencapreskan Ganjar Pranowo, situasi politik kemudian menjadi lebih dinamis. Kini partai dan koalisi partai menari-nari untuk mencari calon wakil presidennya. Situasi politik sekarang ini bisa disebut sebagai politik kejang-kejang.
Eep Saifuloh Fattah, pendiri PolMark, lembaga konsultan pemasaran mengatakan kontestasi elektoral 2024 sebagai politik kejang-kejang.
Istilah politik kejang-kejang dipakai oleh Eep untuk menggambarkan kontestasi elektoral tanpa kehadiran incumbent.
Dibanding dengan kontestasi elektoral saat incumbent ikut sebagai peserta, pemilu setelah incumbent habis periode jabatannya sehingga tak bisa mencalonkan lagi akan lebih dinamis, suhu politik memanas hebat.
Ketika pemilu masih diikuti oleh incumbent, suhu memang memanas namun lebih mirip demam. Panasnya belum sampai membuat kejang.
Di Indonesia, seseorang yang telah dipilih, umumnya akan terpilih kembali. Masyarakat cenderung akan memberi kesempatan kedua andai tidak ada kesalahan yang luar biasa. Maka presiden, gubernur, walikota atau bupati yang prestasinya biasa-biasa saja tidak sulit untuk memenangkan kursi jabatan periode kedua.
Pengalaman dua kali pemilu periode kedua jaman Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, banyak yang mengatakan biar dipasangkan dengan sandal jepit, SBY dan Jokowi tetap akan menang.
Dalam.kontestasi elektoral periode kedua, faktor calon wakil presiden nampak bukan merupakan faktor penting untuk meraup suara.
Berbeda dengan saat hendak merebut kedudukan periode pertama. Baik SBY maupun Jokowi memperoleh sumbangan yang berarti dari Jusuf Kala sebagai wakil presidennya.
SBY dan Jokowi yang kuat di Jawa, diimbangi oleh kekuatan Yusuf Kala di luar Jawa terutama IRAMASUKA – Irian, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.
Dalam pemilu 2024 nanti dimana incumbent tidak bisa mencalonkan lagi maka peran wakil presiden kembali menjadi krusial.
Nampak jelas sekarang ini, partai baik sendiri maupun koalisi tidak terlalu sulit untuk memilih calon presidennya, namun gelagapan ketika ditanya siapa wakil presidennya.
3 nama yang disebut-sebut sebagai calon presiden relatif bisa dipastikan bahwa mereka yang akan maju dalam kontestasi pemilu 2024, yakni Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.
Kekuatan ketiganya relatif seimbang di Jawa. Maka ketiganya perlu mengaet calon wakil presiden yang mampu mendulang suara di luar Jawa.
Persoalan lainnya, posisi ketiga calon yang kekuatannya cukup berimbang akan membuat pemilu kemungkinan besar berlangsung dalam dua putaran.
Dengan skenario dua putaran, pemenang atau calon yang akan menjadi pemenang kemungkinan besar justru Runner Up pada putaran pertama.
Karena pada putaran kedua kemungkinan besar suara pendukung dari pemenang ketiga akan dialihkan pada pemenang kedua.
Agar situasi ini tak terjadi maka ada upaya agar pemilu 2024 nanti diikuti oleh dua pasang calon.
Selain bisa mengurangi biaya, pemilu yang diikuti oleh dua calon menjadi lebih mudah untuk merancang pemenangan. Tidak perlu berganti strategi karena hanya berlangsung satu kali.
Meski ada resiko banyak pemilih yang golput namun itu tak akan mempengaruhi validitas pemilu. Jumlah golput hanya akan menjadi catatan, tapi sama sekali tidak bisa membatalkan hasil pemilu.
BACA JUGA : Resesi Seks
Sampai dengan hari ini ada puluhan nama yang beredar di publik sebagai calon wakil presiden yang potensial.
Beberapa orang diantaranya bahkan secara aktif ditawarkan oleh partai politik kepada partai atau partai koalisi yang telah mendeklarasikan calon presidennya.
Namun nampaknya partai maupun partai koalisi yang telah mengusung capres cukup kesulitan untuk menentukan calon wakil presidennya, kesannya saling tunggu.
Lama berada dalam ketidakpastian, beberapa partai dalam koalisi mulai ‘mengancam’ untuk melakukan evaluasi atas koalisi yang dibangun.
Ancaman evaluasi sebenarnya merupakan tekanan halus agar segera ditentukan siapa capresnya.
Dan bisa jadi jika capresnya dirasa tidak cocok maka bisa jadi koalisi akan ditinggalkan, peta koalisi akan berubah. Atau bisa-bisa ada koalisi yang bubar dan tidak bisa mengusung pasangan di pemilu 2024 karena tidak memenuhi angka minimal Presidential Threshold.
Ada beberapa pertimbangan atau faktor yang membuat penentuan calon presiden menjadi sulit. Selain mampu menutupi kelemahan dukungan para capres di luar Jawa, cawapres nampaknya mesti berasal dari kelompok muda atau yang diterima oleh orang muda.
Selain itu cawapres juga diharapkan mampu mengumpulkan dukungan dari kelompok muslim.
Pilihan strategisnya tentu yang berasal atau diterima oleh kaum Nahdiyin.
Dari antara beberapa nama yang populer, Cawapres yang potensial adalah Muhaimin Iskandar, Khoffifah Indar Parawansa, Yaqut Cholil Qoumas dan Nasaruddin Umar.
Erick Thohir yang juga mulai merapat ke NU meski populer namun secara kultural kurang dekat dengan NU. Pun demikian juga dengan Sandiaga Uno yang mulai merapat ke PPP. Tradisi ke-NU-an Sandi tidak kuat
Belajar dari pengalaman masa kepresidenan Joko Widodo pada periode pertama, memenangkan pemilu presiden juga mesti memenangkan suara di parlemen.
Jika tidak presiden akan sulit menjalankan kekuasaan apabila dukungan dari parlemen tidak besar. Maka memang dan punya dukungan besar di parlemen juga menjadi pertimbangan lain yang cukup menyulitkan untuk menentukan calon wakil presiden.
Berkaca dari kenyataan ini maka dinamika koalisi masih akan terus dinamis. Akan ada banyak ketegangan, tarik ulur, saling bujuk dan seterusnya.
Meski partai-partai selalu menegaskan bahwa keputusan untuk memilih atau menetapkan ada di tangan ketua atau boss namun selalu ada sosok yang tidak bisa menjaga mulut sehingga situasi menjadi memanas.
Permainan juga tidak hanya akan terjadi di partai, melainkan juga dalam kelompok relawan. Kelompok ini juga melakukan manuver sebagai mana ditunjukkan oleh partai. Kasak-kusuk kesana kemari karena merasa dukungannya lebih solid ketimbang partai.
Kelompok relawan bisa lebih menjamin suara anggotanya tegak lurus dengan keputusan kelompok, ketimbang partai yang anggotanya belum tentu memilih pasangan yang diajukan oleh partainya sendiri.
Sejauh ini partai yang anggotanya cukup tegak lurus dengan keputusan partai adalah PDIP dan Gerindra.
BACA JUGA : Harari Takut AI Akan Bikin Kiamat
Dengan pola kontestasi semacam ini maka bisa dipastikan politik identitas dalam arti seluas-luasnya akan menguat.
Pertarungan untuk memenangkan kursi presiden tidak menjadi pertarungan gagasan. Pembicaraan tentang track records dan kompetensi kepemimpinan hanyalah bualan, yang akan dihadapi dengan bualan lainnya.
Dalam pertarungan seperti ini momentum menjadi salah satu faktor kunci untuk kemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Momentum akan menjadi faktor yang membawa keuntungan. Keuntungan yang sulit untuk diterangkan.
Nampaknya momentum atau dalam bahasa tahayul disebut sebagai ‘pulung’ sedang memayungi Prabowo.
Pemilih Indonesia yang mulutnya sulit dikendalikan dan kejam di media sosial bisa saja luluh karena ‘keteguhan hati’.
Prabowo adalah orang yang teguh hatinya. Karena pada pemilu 2024 nanti merupakan kali kelima dirinya mengikuti kontestasi pemilu presiden.
Kalau saja pemilih Indonesia jatuh iba hati pada Prabowo yang terus menerus maju namun kalah namun tak menyerah, hitung-hitungan apapun akan sulit untuk mencegah kemenangannya.
Adalah sah saja pemilih menentukan pilihannya karena rasa simpati, kasihan hingga kemudian memberi kesempatan.
Walau demikian momentum tetap bisa diciptakan. Ganjar dan Anies bisa menciptakan momentumnya sendiri mengingat waktu yang masih cukup.
Salah satu peluang untuk menciptakan momentum adalah siapa calon wakil presidennya.
Dengan pilihan calon wakil presiden yang tepat, elektabilitas calon presiden bisa terdongkrak.
Bukan tidak mungkin, dengan calon wakil presiden yang tepat meski pemilu kemungkinan akan diikuti 3 pasangan bisa berlangsung satu kali putaran.
Masalahnya siapa calon wakil presiden yang tepat itu yang sulit untuk dicari.
Itulah yang akan membuat pertarungan dan suhu politik menuju pemilu 2024 pantas disebut sebagai politik kejang-kejang.
note : sumber gambar – VIVA.CO.ID








