Semasa kuliah dulu, saya pernah diajar oleh beberapa dosen yang adalah misionaris dari Belanda.
Salah satunya dalam jadwal kuliah mempunyai kode nama JVP. Kepanjangannya adalah Jan Van Passen.
Ketika mengganti kewarganegaraannya, JVP tidak merubah nama, tetap memakai nama Belanda. Tidak seperti Pastor yang dikenal sebagai ahli radiotesis, Hendricus Loogman yang ketika beralih kewarganegaraan namanya dikoreksi menjadi Handoyo Lukman.
Van Passen demikian kami memanggilnya adalah dosen yang unik. Celotehan-celotehannya lucu walau tanpa bermaksud melucu.
Jika mengajarnya pagi, dia akan memulai pelajaran dengan kutipan bacaan Injil pada misa harian hari itu. Bukan karena dia sok religius, alasan dia membacakan kutipan karena pagi-pagi memang cocok atau tepat untuk berbicara hal-hal rohani.
Dan semakin waktu bertambah maka pembicaraan akan bergeser. Siang hari menurutnya orang akan cenderung bicara tentang orang lain atau lingkungannya. Sementara sore hari dan seterusnya orang akan cenderung bicara politik, hal hal mistik dan seks.
Rasanya apa yang dikatakan oleh Van Passen yang telah meninggal pada Desember 2016, itu benar adanya.
Pagi-pagi orang memang cenderung bicara yang rohaniah. Nasehat dan kata-kata yang baik.
Fenomena itu bisa dilihat di postingan pada linimasa media sosial. Pada pagi hari akan bertabur kata-kata dan doa yang indah. Ada banyak kutipan baik dari kitab suci, buku doa atau ucapan tokoh tokoh yang saleh dibagikan. Dan yang membaca biasanya akan memberi respon dengan tanda jempol atau love karena suka.
Maka jika pagi pagi ada yang sudah nyerocos dengan sumpah serapah orang akan keheranan. Dan yang usil akan komentar ‘Lupa minum obat ya!” Atau menduga “Pasti belum tidur dari semalam,”.
Tapi memang ada orang yang suka atau rajin memposting kutipan, entah pagi siang ataupun malam. Linimassa media sosialnya dipenuhi dengan kutipan entah yang dia posting sendiri atau membagikan punya orang.
Mungkin orang itu merasa kutipan-kutipan itu cocok untuk dirinya. Atau dengan kutipan-kutipan dia akan diakui atau dikenali oleh orang sebagai seseorang yang merupakan cerminan dari postingannya. Kalau kutipannya bernada filsafati itu karena dia ingin disebut sebagai filsuf, kalau kutipannya kebanyakan adalah hal-hal religius itu karena dia ingin dikenal sebagai orang saleh. Aku adalah kutipan-kutipanku, mungkin begitu ringkasnya.
Saya punya seorang teman yang rajin membaca. Dan karena bacaannya itu maka setiap kali bertanya dia akan mencomot banyak contoh atau kutipan dari buku-buku yang dia baca.
Suatu kali ketika bertanya dengan menyebut beberapa tokoh dan ucapan atau pemikirannya. Yang diberi pertanyaan menjawab ” Itu pertanyaan dari kamu atau dari tokoh-tokoh yang kamu sebut tadi,” .
Kebanyakan membaca buku dan menghafal argumen, pendapat atau pemikiran orang utamanya orang terkenal memang bisa membuat kita kehilangan pendapat sendiri.
Dan ini memang menjadi kebiasaan kita. Kerap kali banyak mengutip pendapat orang lain, memakai istilah-istilah asing agar pendapat kita kelihatan berbobot dan layak mendapat gelar akademisi, ilmuwan atau scientis.
Saya sendiri biasanya segera berhenti membaca tulisan jika didalamnya terlalu banyak kutipan. Sehingga tidak terlihat pendapat atau gagasan penulisnya sendiri.
Bahwa kita bisa saja mengutip pendapat yang sahih dari satu atau dua orang terkemuka untuk memperkuat pendapat kita, tapi kalau lebih dari itu bisa jadi pendapat atau pemikiran kita menjadi tidak jelas karena disusun dengan menyambung-nyambung pendapat atau pernyataan orang lain.
Namun bisa jadi seseorang mencantumkan kutipan dari banyak orang terkenal untuk menunjukkan dirinya banyak membaca buku. Bacaannya luas dan dengan demikian otomatis pemikiran dan wawasannya juga lebar.
Atau barangkali ada yang berpendapat bahwa tulisan akan keren jika rumit atau banyak memakai istilah-istilah ilmiah akademis, sehingga tulisannya akan bertabur istilah dari bahasa Inggris, Jerman, Perancis dan juga Latin.
Sebetulnya kutipan bagus tidak selalu harus diambil dari kata-kata orang terkenal, buku yang ditulis oleh penulis ternama atau kitab-kitab suci berbagai agama.
Terkadang di jalanan juga ada kutipan-kutipan yang menarik dan lebih menggambarkan realita serta kegelisahan masyarakat luas.
Namun karena mereka bukan sumber berita, mereka bukan penulis atau memang tak bisa menulis panjang maka tulisannya hanya dicoretkan di tembok pinggir jalan atau dinding pembatas jembatan.
Salah satu kutipan itu berbunyi “Televisi tak ada berita lagi karena layarnya dikuasai selebriti,”.
Kutipan yang tidak puitis memang, tapi jelas mewakili keresahan atau kegelisahan banyak orang tentang televisi yang acaranya tak lagi informatif. Semua model acara dikemas dalam gaya selebritas. Yang dikedepankan adalah sensasi bukan esensi.
Tetapi ini kutipan yang paling keren karya manusia pinggir jalan.
“Bakar selinting dihakimi, bakar sehutan dilindungi,”
Kutipan bernada perbandingan ini menggugat perlakuan yang tidak adil terhadap pelaku pembakaran. Yang membakar untuk dirinya sendiri (bakar ganja untuk dihisap) dihukum lebih berat daripada yang membakar hutan beribu hektar.
Keren kan kutipan-kutipannya. Lebih jujur dan asli mewakili keresahan warga biasa.
Dan kutipan-kutipan dari warga biasa, orang-orang yang bukan sumber berita sejatinya lebih mewakili apa yang mesti disuarakan.
Mengutip kata atau ucapan mereka berarti menyuarakan suara yang tidak tersuarakan.
Itu akan jauh bermakna ketimbang mengutip ucapan atau kalimat-kalimat dari orang terkenal yang sudah diulang-ulang ribuan kali.
kredit foto : catatanmel.com








