Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa paling beragama. Pentingnya agama bahkan ditegaskan dalam konstitusi. Semua orang Indonesia mesti beragama dan dilarang menganut paham-paham yang bertentangan dengan agama dan anti Tuhan.
Oleh karenanya wajar jika kemudian agama mewarnai baik ruang privat maupun ruang publik. Agama hadir dimana saja dan kapan saja.
Meski demikian selalu ada ketegangan dan bias karena kehadiran agama dalam ruang privat dan ruang publik. Ketegangan yang timbul karena adanya kepentingan tertentu.
Salah satu ketegangan yang kemudian memunculkan kekecewaan adalah kenyataan tingginya angka korupsi.
Banyak orang kecewa melihat sosok-sosok yang dianggap sebagai panutan, saleh dan tekun dalam beragama namun ternyata terperosok dalam tindakan atau perilaku korupsi.
Orang kecewa karena dalam sosok tersebut tidak melihat kenyataan bagaimana kesalehan beragama tidak berdampak pada kesalehan sosial.
Gambaran orang yang taat beragama sebagai orang yang taat aturan, hormat pada orang lain, adil, menjaga martabat dan seterusnya adalah gambaran ideal.
Dalam kenyataan yang disebut ketaatan beragama kerap kali merupakan ketaatan formal, ritual atau sakramental. Orang hanya taat pada ketentuan dan ritus-ritus peribadatan. Namun ajaran yang diimani tidak mempengaruhi secara mendalam perilaku dan pemikirannya sehari-hari.
Dualitas bukan dualisme
Kita dikarunia kemampuan berpikir, bersikap kritis, punya kepedulian atau kegelisahan terhadap segala sesuatu yang berjalan tidak semestinya.
Hanya saja kita kemudian kerap kali ditundukkan oleh rasa malas berpikir, memilih cara yang gampang hingga kemudian membiarkan segala sesuatu yang tidak benar menjadi ‘kebiasaan’ atau ‘kewajaran’.
Sikap itu ditunjukkan dalam Ikhwal memandang sesuatu sebagai “hanya ini atau hanya itu”.
Dualisme, memandang sesuatu sebagai hitam dan putih saja, memandang sesama sebagai kawan atau lawan saja.
Dalam politik elektoral tercermin pada pembelahan ‘koalisi’ dan ‘oposisi’. Pada pemilu 2019 termanifestasi dalam ‘cebong’ dan ‘kampret’.
Dengan berpikir hanya ini dan hanya itu maka seseorang atau sekelompok orang dengan mudah mencerca, menghina, membusukkan yang lainnnya tanpa merasa bersalah. Orang atau kelompok orang menjadi terbiasa bersuara untuk saling meniadakan.
Adalah lebih gampang memilih melabeli baik-buruk, benar-salah,suci-berdosa, patuh-melawan, cantik-jelek dan seterusnya ketimbang menyelami dalam ruang dan waktu yang sama keduanya bisa hadir atau mengada bersama. Dua hal yang berlawanan ada atau hadir bersamaan adalah dualitas.
Menerima dualitas membuat kita akan berada dalam ketegangan. Ketegangan untuk mewujudkan yang ideal dengan memakaikan nilai-nilai kebaikan dan meminimalkan dorongan-dorongan keburukan.
Dengan menerima dualitas maka seorang yang beragama akan menyadari bahwa sepanjang hidupnya adalah perjalan formasi iman. Saya yang adalah orang katolik, disebut katolik di KTP sesungguhnya adalah seseorang yang sedang belajar menjadi katolik.
Iman saya tengah diuji sepanjang hidup dan belum lulus. Boleh jadi nampak baik baik saja karena apa yang tidak baik tidak kelihatan atau masih berhasil disembunyikan.
Citra yang mendangkalkan
Kecenderungan dunia sekarang beroperasi dalam wilayah citra, citra visual.
Segala sesuatu berlomba pada sisi penampakan. Apa yang ditangkap indah otomatis dipandang indah walau didalamnya penuh racun.
Politik elektoral memberi sumbangan besar pada arus pengutamaan citra ini.
Dalam kampanye-kampanye wajah sosok calon diubah dengan berbagai metode termasuk lontaran-lontaran janji.
Tapi nyatanya tak mudah untuk mewujudkan janji saat terpilih nanti. Sebab politik di negeri kita ini selalu berlandas atau berpondasi kepentingan. Dikampanyekan sebagai kepentingan umum namun dibaliknya tersembunyi kepentingan kelompok tertentu.
Politik meski dimotori oleh berbagai organ politik, partai yang plural namun yang banyak itu bisa jadi satu karena tak mempunyai ideologi, tak punya gagasan yang kuat.
Langkah-langkah politik kalaupun dilakukan untuk menyelesaikan masalah bersifat penyelesaian sementara. Sehingga pembangunan pondasi untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang kuat menjadi terabaikan.
Padahal kita mempunyai semua modal.yang diperlukan untuk menjadi bangsa yang kuat. Namun semua menjadi berantakan karena mereka yang menjadi abdi negara ini, yang sudah hidup berkecukupan ternyata masih tega ‘menilep’ uang rakyat, uang yang seharusnya untuk membantu hidup mereka yang menderita dan berkekurangan.
sumber gambar : internet








