Apapun tindakan manusia selalu didasari oleh pikiran. Proses berpikir yang baik dan benar akan melahirkan tindakan yang baik dan benar, pun sebaliknya.

Hanya saja untuk berpikir secara konsisten baik dan benar tidak selalu mudah dilakukan. Sebab sebuah pemikiran yang melahirkan tindakan tidak selalu didasari oleh keinginan yang baik, motif yang benar. Pikiran dan tindakan kita kerap bias kepentingan tertentu.

Oleh karenanya kemudian dikenal istilah sesat pikir. Yang adalah sebuah proses penalaran atau argumentasi yang sebenarnya tidak logis, salah arah dan bahkan menyesatkan.

Sesat pikir terjadi karena adanya pemaksaan prinsip-prinsip logika yang tak memperhatikan relevansi antar halmyang menjadi dasar untuk membangun argumentasinya.

Ada berbagai macam kesesatan pikir namun bisa dikelompokkan dalam dua bagian besar yaitu kesesatan formal dan kesesatan informal.

Kesesatan formal adalah sebuah kekeliruan cara berpikir karena melanggar aturan-aturan seperti tidak berangkat dari definisi yang benar, silogisme kategoris dan silogisme hipotesis.

Sedangkan kesesatan informal disebabkan oleh ketidaktahuan atas permasalahan yang ada. 

Skandal seks sebagai kambing hitam

Menurut ahli neurologi manusia mempunyai kecenderungan bawaan yang disebut mencintai kehidupan. Kecenderungan ini disebut sebagai kecerdasan asali yang disebut sebagai biofilia. 

Dr. Taufik Pasiak, penulis buku Otak Kota (dan Desa) menyebutnya sebagai null intelegence. Null Intelegence adalah kecerdasan puncak atau ultimate Intelegence. Dan dalam bahasa kaum beragama disebut sebagai karunia atau pemberian dari Tuhan, kecerdasan yang tidak perlu dipelajari. 

Namun kecerdasan ini kemudian terkikis oleh kenyataan bahwa manusia selalu berada dalam ketegangan antara kekhawatiran dan pencarian kesenangan. Anxiety dan pleasure begitu menurut Errich Fromm.

Pencarian kesenangan untuk menutupi kegelisahan atau kekhawatiran membuat manusia melakukan banyak pembunuhan, pengrusakan dan mencintai yang serba mati.

Semua dimatikan agar bisa menjadi santapan baik bagi jiwa maupun badan (batiniah dan badaniah).

Seks atau aktivitas genital baik swadiri, berpasangan atau bahkan beramai-ramai adalah bentuk kegiatan untuk melepaskan diri dari kecemasan dan memperoleh kesenangan.

Kecenderungan ini ada pada semua orang atau bahkan semua mahkluk hidup yang bergerak. 

Namun seks kemudian menjadi salah satu hal yang paling diatur oleh kebudayaan termasuk didalamnya agama. Diatur karena jika dibiarkan begitu saja maka akan menyebabkan kekacauan.

Seks kemudian dispiritualisasi, disucikan sebagai aktifitas mulia untuk meneruskan keturunan. Hanya saja formalisasi seks dalam pondasi pernikahan dengan segala norma dan aturannya tidak membuat manusia lepas dari ikatan dengan seks yang secara naluriah menyenangkan atau bertujuan untuk mencari kenikmatan lepas yang lepas dari tujuan atau nilai prokreasi.

Hal mana menjadi nyata dalam banyaknya aktifitas seks diluar pernikahan, baik karena suka sama suka, membayar (seks komersil) dan bahkan pemaksaan (perkosaan).

Semua nampak baik-baik saja atau dianggap tak ada jika tak terlihat di permukaan. Namun kemudian menjadi skandal jika ada yang kepergok, terkena razia, kehamilan tak dikehendaki dan lain sebagainya.

Sialnya mereka yang melakukan dengan perkembangan teknologi sebagian ada yang suka merekam. Dan rekaman yang bocor atau sengaja dibocorkan ke publik apalagi jika pelakunya adalah publik figur segera akan menjadi pemersatu bangsa.

Ya bangsa ini bisa bersatu karena skandal seksual selebritis. Bersatu dengan ramai-ramai mengecamnya dan bertindak seolah-olah tak punya fantasi atau imajinasi seksual sebagaimana orang yang dikecam itu.

Siapapun yang kemudian terpeleset dalam skandal seks kemudian akan menjadi kambing hitam. Dia akan menanggung semua ‘dosa’, menjadi air pencuci untuk membersihkan insan lain yang berlaku sama namun tak ketahuan.

Pantaskah dikriminalisasi?

Hukum kita sudah jelas soal kriminalisasi seksual. Yang bisa disoal secara hukum adalah seks karena pemaksaan (pelecehan, perkosaan).

Yang lainnya adalah seks yang berorientasi pada perdagangan atau seks komersil seperti penglacuran atau perdagangan manusia (human trafficiking). Termasuk dalam seks komersil adalah produksi dan distribusi kontent atau material pornografi.

Aktifitas seksual lain yang bisa menjadi persoalan hukum adalah yang menimbulkan keberatan dari mereka yang punya hubungan dekat dengan pelaku seperti suami, istri atau anak-anaknya. 

Seks juga bisa menjadi persoalan hukum apabila dilakukan diluar ketentuan hukum menyangkut umur, tempat dan hubungan kekerabatan. 

Diluar hal-hal itu seperti obrolan yang kemudian bocor, rekaman yang kemudian disebar oleh orang lain lalu dipersoalkan oleh polisi dan diproses secara hukum membuktikan bahwa polisi sedang mencari-cari soal. Cari soal sebab masih banyak persoalan lain yang seharusnya diselesaikan dan diurus oleh polisi atau aparat hukum lainnya.

Dan mencari-cari persoalan apapun tujuannya menjadi bukti bahwa yang disebut sesat pikir masih subur di sekitar kita.

Sumber foto : urbanasia.com

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here