Teknologi sejak semula diciptakan untuk membantu manusia. Dengan teknologi perubahan menjadi lebih cepat terjadi.

Bermula dari teknologi sederhana berupa alat bantu manual kemudian berkembang menjadi mekanis, robotik hingga kemudian otomatisasi yang terintegrasi lewat jejaring internet. 

Internet of thing, dengan komputasi awan, kecerdasan buatan dan jaringan antar mesin kemudian melahirkan istilah teknologi cerdas.

Hasilnya semua jenis peralatan dan mekanisme otomatisasi yang cerdas. Yang kemudian paling akrab adalah gadget, gear, peralatan rumah tangga, kantor dan lainnya yang serba cerdas. Mulai dari telepon cerdas, televisi cerdas, lampu cerdas, kulkas cerdas, AC cerdas dan lain-lain.

Rumah cerdas dan kantor cerdas bukan lagi menjadi sesuatu yang asing serta mudah diset-up sendiri oleh mereka yang ingin menerapkannya.

Pemerintah dan Kota Cerdas

Istilah dan pencapaian dalam bidang industri kemudian diadopsi oleh pemerintah dalam jargon pemerintah dan kota cerdas.

Semangat untuk mewujudkan perintah dan kota cerdas sebenarnya sejalan dengan amanat reformasi utamanya terkait dengan demokratisasi dan keterbukaan dalam tata kelola pemerintahan serta kota.

Sayangnya implementasi pengembangan pemerintah dan kota cerdas lebih sering bernuansa belanja atau pengadaan. 

Berbeda dengan sektor industri atau bisnis swasta dimana migrasi menuju industri cerdas berjalan lebih mulus. 

Karena watak dari industri adalah bersaing untuk menjadi yang terdepan dalam melayani atau menghasilkan produk dan jasa untuk merebut konsumen.

Sementara tidak demikian dengan pemerintah dan tata kelola kota. Meski pemerintah dan kota lahir untuk melayani warganya namun semangat untuk melayani warga menjadi tidak begitu kentara karena model birokrasi yang berbasis pada kekuasaan dan kewenangan.

Tak heran jika kemudian pemerintah dan kota cerdas lebih mirip sebagai jargon yang enak diucapkan dalam berbagai pidato namun miskin implementasi di lapangan.

Semua terjadi karena ekosistem untuk mewujudkannya tidak dikembangkan. Sebuah pemerintah yang cerdas tidak mungkin hanya bertumpu pada teknologi informasi dan komunikasi serta berbagai model aplikasi. Pemerintah cerdas mesti berlandaskan pada pondasi birokrasi dan aparatur cerdas.

Pun demikian juga dengan kota cerdas, ekosistem untuk mewujudkannya adalah ekonomi, lingkungan, transportasi, infrastruktur dan sektor-sektor lainnya yang juga harus cerdas.

Bagaimanapun yang disebut dengan cerdas berada dalam otak. Dan harus jujur diakui bahwa ‘otak’ pemerintah dan kota belumlah cerdas.

Belum cerdas karena belum bisa menyembuhkan gangguan otak yang akut. Salah satu gangguan otak yang akut adalah miskinnya gagasan dan paradigma pembangunan yang kuat untuk meletakkan pondasi yang akan jadi dasar pembangunan ke depan.

Pemerintah dan kota sampai dengan saat ini masih terjebak dalam model pembangunan tiba masa tiba akal. Segenap proyek pembangunan lebih cenderung untuk menyelesaikan persoalan sesaat atau sementara.

Jika jalanan banjir maka penyelesaiannya adalah dengan menaikkan jalan lewat semenisasi.

Jika parit atau sungai meluap maka penyelesaiannya adalah dengan mengeruk atau meluruskan sungai 

Padahal yang disebut cerdas sejatinya adalah kemauan dan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan pada akarnya.

Tanpa keberanian menyelesaikan akar masalah maka pembangunan ibarat kosmetik. Proyek pembangunan tak lebih dari kelakuan seseorang yang tak elok rupawan yang kemudian memoles wajahnya agar terlihat menawan. Namun begitu kena panas, hujan dan keringat, riasan yang membuatnya menawan akan segera luntur.

Kecantikan dan ketampanan yang plastis serta kosmetis adalah kepura-puraan. 

Dan adalah sebuah kecerdasan pura-pura jika sebuah kota rajin menghiasi pepohonan dengan aneka lampu. Meski indah dan menawan di malam hari namun sama sekali tak produktif.

Jadi apa artinya sebutan atau bahkan plakat penghargaan sebagai pemerintah atau kota cerdas jika ternyata tidak produktif?.

Sumber foto : mcity.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here