Tahun 1975, The Adventure of Tintin karya Herge diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kisah petualangan Tintin yang pertama diterbitkan oleh penerbit Indira berjudul Rahasia Pulau Hitam.

Dalam serial aslinya Rahasia Pulau Hitam bukanlah episode pertama melainkan episode ketujuh.

Setelah itu berbagai judul kisah petualangan Tintin diterjemahkan dan diterbitkan, hingga kemudian muncul karakter Kapten Haddock. Karakter ini segera memikat karena kegemarannya mengumpat atau memaki. 

Adalah Melani Budianta dan Marion Apitule yang punya jasa besar meramu ‘kata kata busuk’ Kapten Haddock menjadi memikat dan mudah diingat.

Untuk para pembaca Tintin puluhan tahun lalu pasti masih ingat rentetan sumpah serapah Kapten Haddock seperti sejuta topan badai, sejuta kutu busuk,kodok kesasar, racun tikus, biang panu, jangkrik, setan laut, babon bulukan sampai jin peot.

Sebagai salah satu pembaca dalam usia kanak-kanak saya merasa makian dari Kapten Haddock yang pemabuk dan berangasan terasa lucu dan indah.

Saling Umpat di Jagat Maya

Kebebasan berbicara mendapat momentum dengan berkembangnya berbagai aplikasi media sosial baik yang berbasis teks maupun audiovisual.

Setiap orang kini bisa berbicara tanpa sekat. Di media sosial siapapun bisa berpendapat tentang apapun, bisa mendebat seorang pakar tanpa harus berhadapan muka.

Berbicara lewat media sosial tentu berbeda dengan berbicara dalam seminar, workshop atau lokakarya. Dalam kegiatan tatap muka berbicara butuh keberanian lebih. 

Demokratisasi dalam berbicara di media sosial di masa-masa awal memang cenderung mengalami demoralisasi. Banyak orang tanpa kemampuan dan kecerdasan bicara dengan bebas menyampaikan serta menumpahkan isi kepalanya.

Menjadi mudah ditemukan dalam kolom komentar, status atau postingan di media sosial yang berisi segala macam umpatan yang bukan hanya sekedar tidak pantas melainkan juga menyakitkan hati bagi yang membaca atau mendengarnya.

Media sosial memang mewadahi kecepatan. Seseorang yang bereaksi atas apapun bisa segera mengungkapkan isi hatinya. 

Gerutuan atau gerundelan yang dulu hanya diucapkan dihari atau hanya didengar sendiri sekarang bisa segera diungkapkan di media sosial yang hasilnya didengar atau dibaca oleh siapapun yang terhubung dengannya.

Dan kemudian jika dibagi, dicapture dan seterusnya maka akan segera menjadi viral.

Sadar apa yang diungkapkan tidak pantas lalu dihapus tidak membuat postingan jadi hilang apabila sudah dicapture oleh orang lain. 

Yang disebut jejak digital mang sulit dihapus karena begitu di-posting apa yang kita sampaikan tidak lagi ada.dalam kekuasaan kita.

Sampai hari ini kita dengan mudah menemukan berita tentang orang yang dilaporkan karena postingan di media sosial. 

Tak sedikit juga yang kemudian dipersekusi hingga kemudian meratap-ratap dan minta maaf.

Namun semua peristiwa itu tak mengurangi jumlah orang yang berperilaku buruk di media sosial dalam mengekspresikan perasaan dan pemikirannya di media sosial.

Kecenderungan yang diawali dari akhir tahun 2018 saat memasuki tahun politik 2019 ternyata masih terus bertahan hingga memasuki tahun 2021 ini.

Public Speaking

Memposting sesuatu di media sosial tak ubahnya dengan bicara pada publik.

Meski media sosial bersifat privat namun yang privat itu kemudian menjadi publik karena media sosial beroperasi dalam platform internet, sebuah keterhubungan yang bersifat global.

Karena bersifat publik maka ada kemestian-kemestian yang harus dijaga. 

Apapun yang di-posting mesti mempunyai nilai atau makna bagi orang lain. Entah itu informatif, edukatif, motivatif,.evaluatif dan lain sebagainya.

Yang disebut sebagai kekecewaan, kegelisahan, kemarahan, kekecewaan dan hal-hal sejenis lainnya tentu tidak diharamkan. Karena semua hal itu bisa jadi punya nilai positif untuk orang lain selama diungkapkan dengan cara yang benar.

Cara yang benar adalah dengan tidak meletakkan semua ungkapan itu dalam nada yang menyakiti, menyalahkan, meminggirkan, menghina atau memfitnah orang atau kelompok lain.

Pun demikian dengan kritisisme. Banyak hal bisa kita kritisi termasuk kebijakan pemerintah. Namun kritisisme itu harus didasari oleh data dan informasi yang valid serta bukan dilandasi oleh ketidaksukaan atau bahkan kebencian pada regim.

Pada akhirnya yang disebut dengan ketrampilan berbicara, kemampuan untuk menyampaikan pendapat atau penilaian tidak hanya perlu dipelajari oleh mereka yang hendak menjadi pembicara publik melainkan juga orang kita-kita yang hendak aktif bermedia sosial. 

Jangan sampai karena tarian jari-jari kita di keyboards akan menjebloskan kita ke balik jeruji besi.

Sumber gambar : nasional.kompas.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here