Dunia berkembang karena perang. Maka perjuangan yang paling abadi adalah perjuangan para penegak kedamaian.

Oleh karenanya sebagai penghargaan pada para pendamai, Nobel Perdamaian menjadi penghargaan yang paling bergengsi karena penerimanya akan dikenal dan dihormati secara luas.

Tapi bagaimanapun perang masih terus terjadi. Bahkan ada pepatah yang terkenal untuk mengabadikan perang. Untuk menciptakan perdamaian kita harus siap perang.

Model atau jenis perang dari waktu ke waktu berubah. Dari perang berhadap-hadapan hingga kemudian perang cerdas yang dikendalikan dari jarak jauh, bahkan kini perang tak lagi harus dilakukan dengan senjata api, bom atau mesin pembunuh lainnya.

Perang model baru atau neokolonialisme adalah perang asimetris. Perang ini spektrumnya lebih luas dari perang konvensional yang bertumpu pada kekuatan militer, pasukan maupun persenjataan.

Perang asimetris bahkan mungkin tidak disadari oleh negara yang tengah diserang. Yang diserang bisa jadi malah berterima kasih karena diberi bantuan. Padahal bantuan itu diberikan agar yang menerima menjadi tergantung. Sehingga kelak bila tak ada bantuan maka tidak ada pembangunan.

Ketika COVID 19 merebak di Wuhan, Tiongkok. Segera muncul dugaan bahwa virus yang menyebar dan menular bukanlah virus alamiah. Virus itu ditenggarai sebagai virus yang dibiakkan di laboratorium dan dilepaskan sebagai senjata perang biologi.

Kita pasti lebih menyukai tenggara ini ketimbang telaah lain yang menyebutkan bahwa itu adalah ‘serangan pasukan Tuhan’ atas Tiongkok yang kebijakan politiknya terhadap sekelompok orang tertentu amat dzolim.

Dan dengan amat mudah Amerika Serikat dianggap sebagai dalang karena kebetulan sedang berseteru dengan Tiongkok terkait ekonomi dan perdagangan.

Gagal melunakkan atau mengalahkan Tiongkok kemudian Amerika Serikat melepaskan virus untuk melumpuhkan ekonomi Tiongkok.

Dan Tiongkok memang lumpuh atau sekurangnya melemah. Tapi ternyata yang kemudian lumpuh dan melemah bukan hanya Tiongkok saja melainkan juga negara-negara lainnya. Yang terkena dampaknya bukan hanya Tiongkok dan negara tetangganya melainkan hingga menyeberang jauh.

Selain pengaruh langsung pada ekonomi dan perdagangan. Banyak kegiatan besar dan akbar dibatalkan. Hal itu berlaku di banyak benua. Sepakbola di Eropa kalau tidak ditunda, diselenggarakan tanpa penonton. Perhelatan moto GP tidak digelar utuh pada seri pertama. Seri berikutnya di Thailand ditunda, dan selanjutnya di Austin, Amerika Serikat juga ditunda.

Jika Amerika Serikat memang benar yang melepas virus, maka virus itu menjadi senjata makan tuan. Sebab dengan anjloknya bursa-bursa saham dunia, salah satu yang paling dirugikan adalah orang-orang terkaya di Amerika Serikat.

Dengan anjloknya harga saham, kekayaan orang-orang terkaya itu bisa terkoreksi trilyunan rupiah setiap harinya.

Dan bayangkan andai saja virus ini sengaja dilepas dan yang melepaskan ketahuan. Jika itu adalah negara maka akan dituntut oleh semua orang di pelbagai penjuru dunia dan pasti akan bangkrut pada saat itu juga.

Sesungguhnya yang disebut perang itu selalu ada. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa nafsu atau dorongan agresi masih bersemayam dalam gen manusia.

Namun perang tidak selalu ditujukan untuk menahklukkan atau menguasai wilayah orang lain. Bahkan hal semacam ini cenderung dihindari karena mobilisasi kekuatan militer ke negara lain akan menguras kas negara.

Perang di masa ini adalah perang halus yang bertujuan menguasai ekonomi. Menjadikan orang atau negara lain sebagai pasar. Pasar yang loyal terhadap apa saja yang dihasilkan oleh negara produsen.

Yang dijual tidak selalu material melainkan juga kebudayaan dan gaya hidup. Seperti Amerika Serikat dengan McWold-nya yang dimotori oleh MTV, Hollywood, Dunkin’s Donat, Apple Inc, Starbuck, dll.

Jepang dengan Anime dan Harajuku, Korea Selatan dengan K-Pop.

Sementara Tiongkok dengan berbagai produk mulai mainan sampai handphone yang trendy dan murah.

Pemenang dari perang ini adalah negara-negara yang berhasil menjadi produsen dan yang kalah adalah yang merelakan diri menjadi konsumen.

Perang sekarang memang aneh. Seperti pencabutan status Indonesia sebagai negara berkembang oleh Amerika Serikat.

Pencabutan status ini bukan pengakuan karena kalau dilihat dari pendapatan per kapita maka penetapan status itu belum memenuhi syarat. Pendapatan per kapita Indonesia baru sepertiga dari yang diisyaratkan

Peningkatan status dari negara berkembang menjadi negara maju adalah bagian dari strategi perang Amerika Serikat terhadap Tiongkok. Yang diserang oleh Amerika Serikat bukan hanya Tiongkok melainkan juga proxynya. Negara yang selama ini menjadi tujuan investasi Tiongkok.

Indonesia adalah salah satu negara yang oleh Amerika Serikat dianggap mesra dengan Tiongkok. Menjadi lokasi investasi industri dari Tiongkok yang memproduksi barang berorientasi eksport.

Salah satu tujuan eksport utama Indonesia adalah Amerika Serikat. Dan dengan dinaikkan statusnya maka berbagai macam subsidi yang dinikmati oleh negara berkembang akan dihapuskan. Dengan demikian keuntungan dari eksport ke Amerika Serikat akan mengecil. Namun jika menaikkan harga maka juga tidak akan kompetitif.

Amerika memang selalu mempunyai akal untuk mempertahankan statusnya sebagai negara super power.

Dan akal-akalannya memang super canggih, yaitu pujian yang membunuh.

kredit foto : google.com