Ini hanya gurauan, jangan dimasukkan dalam hati atau jangan ada yang tersinggung sehingga berniat melaporkan saya ke polisi dengan tuduhan penistaan terhadap bangsa sendiri.

Ini cerita teman saya yang diceritakan oleh teman saya yang lainnya. Teman yang diceritakan ini adalah teman yang dikenal paling sukses diantara teman-teman saya lainnya.

Suatu kali teman saya ini dideteksi mengalami masalah dengan otaknya dan harus dioperasi.

Sebagai orang sukses tentu saja dia memilih Singapura sebagai tempat operasi.

Operasi dilakukan namun ditengah operasi ada satu kegentingan yang memaksa teman itu harus segera pulang ke Indonesia.

Tim dokter berusaha menahan. Tapi teman saya itu tetap ngotot harus pulang.

Ketua tim dokter berkata “Otak bapak ini bisa gagal fungsi nalarnya kalau tidak segera ditangani,”

Tak disangka teman saya menjawab “Kalau bisa ditinggal disini, ambil saja untuk diperbaiki, tapi saya harus pulang,”

Tentu saja tidak mungkin. Tapi dokter yang hampir pingsan mendengar jawaban itu penasaran dan bertanya “Lalu selama ini bapak bisa sukses memikirkannya dengan apa?”

Teman saya menjawab “Saya sukses karena nggak pakai pikiran,”.

Dokter ketua tim akhirnya mengijinkan teman saya pulang karena mengoperasi otak teman saya ternyata tidak urgent.

Tentu saja saya terpingkal-pingkal mendengar cerita itu. Tapi juga sedih karena saya tidak mungkin belajar atau bertanya soal kiat menjadi sukses pada teman saya yang ternyata berhasil tanpa memakai pikiran.

Ini cerita lain tentang sebuah kota yang selalu berhasil mengatasi banjir.

Saya bertanya apa rahasianya pada seorang teman. Kebetulan teman saya itu orang yang dekat dengan elit kota itu. Kepadanya saya bertanya apakah pemimpin di kota itu merencanakan pembangunan yang berbasis pada DAS. Pembangunan yang sensitif pada air. Istilahnya ‘One river, one management’.

Jawaban dari teman saya sangat mengejutkan. Menurut dia rahasia dari sukses mengatasi banjir adalah gerak cepat. Genangan air dijaga jangan sampai melewati atau menenggelamkan dengkul kaki. Caranya kerahkan sebanyak mungkin pompa untuk mengalirkan air secepatnya ke laut.

Saya tanya kenapa tidak boleh melewati dengkul kaki.

Teman saya menjawab sambil tertawa.

“Kalau melewati dengkul kaki, otaknya bakal terendam,”.

Tidak usah heran atau kaget kalau tiba-tiba ada dosen bergelar Doktor, sudah mengajar bertahun-tahun dan tentu saja sudah berhasil meluluskan banyak sarjana kemudian terciduk semua syarat administratif dan akademisnya ternyata palsu.

Kejadian yang sama juga ditemui pada seorang dokter praktek yang laris dan terkenal. Ternyata ijazah dokternya hanya dipunggut dari tempat pembuangan sampah. Kasus-kasus ekstrim seperti itu sungguh terjadi dan setiap kali mendengar pasti bikin kita jadi gegar otak. Kejadian itu sungguh di luar nalar.

Pertanyaan yang terpenting adalah kenapa hal itu bisa terjadi?.

Bukankah untuk menjadi seorang sarjana saja tidak gampang. Banyak orang berhenti kuliah karena merasa tak mampu memenuhi tuntutan akademis.

Jadi bagaimana mungkin seseorang yang tidak kuliah bisa dapat nilai, bisa membuat skripsi dan lulus ujian tanpa terdeteksi sebagai plagiat atau penjiplak. Dan lebih ajaib tidak tahu penyakit dan obat tetapi bisa menjadi pengobat dan penyembuh. Bagaimana lisensi bisa diperoleh tanpa ujian kompetensi?.

Kuncinya adalah tidak semua orang yang berotak itu jujur. Dan karena ketidakjujuran ini maka yang namanya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme bisa terjadi.

Dalam semangat KKN maka seseorang yang bodoh bisa mendapat nilai bagus. Entah dengan menyogok dosennya atau petugas administrasi bidang akademis.

Untuk bidang-bidang yang butuh keahlian tidak semua organ sertifikasi juga bersikap jujur. Keahlianpun bisa dibeli karena keahlian hanya diwakili oleh selembar kertas.

Dalam keseharian kita memang kerap menemukan kepalsuan-kepalsuan. Hal-hal yang tidak asli. Bahkan kita menerima itu sebagai kewajaran seperti ditemukan dalam barang berkategori KW. Bahkan kepalsuan itu kita kategorikan mulai dari KW Premium, KW 1, 2 dan seterusnya. Kita menerima istilah aspal, asli tapi palsu.

Adalah bahaya jika sebuah bangsa sudah terbiasa dengan kepalsuan. Karena sudah terbiasa dengan yang palsu maka tidak lagi bisa membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan.

Kalau yang palsu kemudian dianggap sebagai asli mungkin tak terlalu masalah. Namun menjadi persoalan apabila yang asli kemudian dianggap atau disangka palsu.

Namun pada dasarnya kita sudah akrab dengan kepalsuan. Seperti gadis pemandu lagu atau ladies yang gemar memakai bulu mata dan lensa mata serta rambut palsu.

Yang palsu kemudian mempesona. Seperti janji-janji yang diungkapkan oleh calon wakil rakyat, calon pemimpin di berbagai tingkatan.

Di media juga beredar berbagai macam iklan palsu tentang penumbuh rambut, pembesar penis dan payudara, obat yang bisa mengobati segala penyakit.

Ada pula banyak penghargaan yang palsu. Karena setiap peringatan hari besar harus selalu ada yang dihargai. Akibatnya banyak orang yang kemudian membanggakan atau percaya pada prestasi palsu.

Namun di tengah banyaknya kepalsuan masih banyak pula yang kukuh bertahan dalam kejujuran dan keaslian.

Hanya saja mereka terlalu rendah hati untuk menampakkan diri. Sekalipun Facebook sudah menyediakan sarana untuk siaran langsung.

kredit foto : id.depositphotos.com