Dulu sebelum HP dilengkapi dengan kamera, banyak orang enggan atau merasa malu difoto.

Bisa jadi karena berfoto itu ribet, atau hasilnya hanya ada pada yang punya gadget sehingga perlu ditransfer atau di cetak.

Namun ketika HP dilengkapi dengan kamera, bergaya di depan lensa menjadi biasa untuk sebagian besar orang. Kini kamera HP lebih banyak dipakai untuk memotret dirinya sendiri ketimbang obyek lainnya.

Banyaknya orang yang memposting foto diri (swafoto atau selfie) di Instagram atau media sosial kemudian mempopulerkan kembali kemunculan istilah narsis.

Entah karena tak tahu istilah narsis atau apa, banyak orang tak malu-malu mengatakan atau mengajak “Narsis dulu yok”. Narsis artinya berswafoto untuk diposting di media sosial. Narsis artinya nampang di depan kamera HP (selfie).

Jika dulu orang berfoto untuk menunjukkan penampilan terbaik, ganteng, cantik atau keren. Di jaman ‘narsis’ ini foto diri justru dilakukan dengan ekpresi-ekpresi yang jauh dari kata cantik atau ganteng.

Apakah ini tanda kepercayaan diri yang makin meninggi, orang mau tampil apa adanya atau tanda kecintaan dan kebanggaan pada diri yang berlebihan?.

Narcissus

Narsis merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Istilah ini diambil dari nama salah satu tokoh mitologi Yunani, Narcissus. Dia digambarkan sebagai seseorang yang sangat tampan.

Suatu saat ia melihat bayangannya sendiri yang terpantul dari permukaan danau. Diapun terpesona dan jatuh cinta pada bayangannya itu. Saat berusaha menjangkau bayangan itu, dia terperosok kemudian tenggelam di dalam danau dan mati.

Setelah kematiannya di pinggiran danau tumbuh bunga. Bunga itu dipercaya sebagai penjelmaan Narcissus.

Gejala mencintai diri sendiri secara berlebihan kemudian dinamai sebagai narsis, narsisisme atau narsisme. Pada tingkatan tertentu semua orang menyukai dirinya sendiri. Namun jika berlebihan akan berkembang menjadi gangguan kepribadian.

Kumpulan tanda-tanda yang menunjukkan seorang narcistik antara lain :

– Merasa diri lebih unggul dari orang lain.

– Ingin selalu dianggap berhasil atau sukses meski minim prestasi.

– Mempunyai obsesi yang berlebihan terhadap kecantikan, ketampanan dan kesempurnaan.

– Selalu iri terhadap orang lain.

– Melebih-lebihkan dirinya sendiri

Jika sebagian besar kumpulan gejala itu ada dalam diri seseorang maka itu menjadi pertanda bahwa orang itu adalah narsis.

Kerajingan Foto

Lalu apakah tepat mengajak berfoto dan kemudian mengupload di sosial media dengan ajakan ‘narsis yuk,”.

Berfoto untuk mengabadikan momen di sebuah tempat, peristiwa atau pertemuan tentu saja sesuatu yang wajar.

Meng-upload foto di media sosial juga sesuatu yang wajar karena Instagram memang merupakan media sosial yang ditujukan untuk berbagi foto. Sosial media lainnya juga berkembang menjadi tempat untuk menyimpan foto. Seperti sering dituliskan dalam caption “Simpan disini biar nggak hilang,”.

Bahwa memamerkan diri adalah salah satu gejala narsis, tidak berarti berfoto dan kemudian menguploadnya di sosial media berarti pamer.

Berfoto dan kemudian mengupload di media sosial menjadi masalah apabila didasari karena rasa iri pada orang lain. Misalnya di timeline kita muncul foto seseorang sedang makan di resto atau cafe. Lalu kita iri dan segera melakukan hal yang sama.

Atau jika aktivitas berfoto kita kemudian mulai menganggu orang lain. Misalnya berfoto di gerbang tempat wisata tanpa memperdulikan orang lain yang akan lewat. Gara-gara nafsu berfoto kita maka orang lain menjadi korban, harus menunggu kita ber ha ha hi hi di depan kamera.

Atau kemudian aktivitas berfoto kita menganggu pengunjung lain dan juga pemilik tempat karena kita berfoto seolah-olah tempat itu adalah nilik kita. Demi mengejar sudut dan pemandangan terbaik kita sampai menggeser atau memindah barang, termasuk meminta orang lain untuk pindah.

Demi mengejar status ‘viral’ tak jarang pengemar swafoto mengambil resiko yang terlalu besar. Resiko yang bisa mempertaruhkan nyawanya sendiri. Seperti berfoto di ujung menara, atap gedung bertingkat, rel kereta api saat kereta mau lewat, tebing batu yang dihantam ombak dan lain sebagainya.

Jika sudah keterlaluan seperti ini maka tanda-tanda atau alarm narsisme barangkali perlu diwaspadai.

Bahwa kita perlu dan suka pujian itu wajar. Tapi mengejar pujian apalagi dengan cara-cara yang tak terpuji dan teruji harus diwaspadai sebagai gejala kepribadian yang tak sehat.

Soal itu narsisme atau tidak silahkan berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog.

kredit foto :wartakota.tribunnews.com