Tidak ada bayi yang dikandung sampai dewasa. Itu berarti segala sesuatu akan berjalan dalam proses. Kedewasaan itu akan diperoleh dengan cara mencicil atau evolutif.
Model perkembangan hidup ini kemudian diterapkan dalam sistem ekonomi. Bentuknya adalah hutang atau pinjaman. Maka dengan mencicil seseorang yang tak membayangkan punya rumah akhirnya bisa punya rumah. Dengan mencicil seseorang yang bermimpi punya mobil akhirnya bisa mengemudikan mobil kesana kemari.
Ya ada banyak orang yang tak akan bisa melakukan ini atau itu, punya ini atau itu jika harus membayar sekaligus. Tidak ada banyak orang yang bisa menyisihkan uang untuk ditabung dalam jangka waktu tertentu guna membeli rumah, mobil, motor dan kebutuhan lainnya.
Maka hutang atau pinjaman yang kemudian dibayar dengan cicilan sungguh menyelamatkan hidupnya. Membuat hidupnya lebih hidup.
Lembaga, institusi atau badan yang memungkinkan orang untuk mencicil adalah lembaga keuangan, ada yang berbentuk bank, koperasi atau bentuk perkumpulan lain seperti credit union.
Lembaga keuangan ini mengumpulkan modal dari publik lewat jasa penyimpanan uang, tabungan, deposito. Atau kalau koperasi dan credit union selain lewat tabungan atau simpanan anggota, juga lewat iuran wajib dan iuran sukarela.
Ada juga institusi lain yang disebut sebagai leasing. Lewat perusahaan ini kita bisa dibantu untuk membeli sesuatu dan kemudian kita membayarnya dengan mencicil. Begitu cicilan lunas maka barang tersebut sepenuhnya menjadi milik kita.
Dibanding dengan bank, koperasi atau credit union, leasing lebih fleksibel, persyaratannya mudah, lebih aktif dan melayani pembelian mulai dari mobil, motor, sofa, mesin cuci, televisi hingga handphone.
Namun untuk urusan pinjam meminjam ini, lembaga keuangan tidak selalu menjadi pilihan.
Ada orang yang rajin meminjam ke.orang lain entah itu teman, tetangga, saudara, kerabat atau bahkan orang yang baru dikenal karena tak mau ribet urusan administrasi, tak mau terikat dengan tertib cicilan atau tengah berada dalam kondisi darurat atau kepepet.
Dalam banyak kasus meminjam uang dari orang lain meski tanpa perjanjian yang rumit dan komitment tertulis berakhir dengan baik. Artinya yang meminjam menepati janji untuk mengembalikan uang seperti yang disepakati.
Tetapi dalam banyak kasus lainnya, pinjam meminjam antar orang ini berakhir dengan buruk. Karena yang meminjam tidak menepati janji, bukan hanya soal waktu tetapi bahkan soal keinginan. Banyak orang yang meminjam seperti tak punya niat baik untuk mengembalikan.
Urusan pinjam meminjam ini memang bisa bikin ruwet, bikin hati tak enak dan kemudian menganggu pertemanan maupun persaudaraan.
Urusan tidak enak hati ini saja sesudah diberi pinjaman lalu tak mengembalikan. Tapi juga ketika niat meminjam diutarakan.
Tak sedikit seseorang yang dipinjami lalu tidak memberi pinjaman justru dibully atau di kata-katai.
Ada banyak drama saat seseorang mengungkapkan keinginan untuk meminjam. Ada banyak topeng dipasang di wajahnya.
Seseorang yang dipinjami lalu tak meluluskan pinjaman bisa didoakan oleh yang ingin meminjam semoga tidak mendapat masalah seperti yang dialaminya sehingga harus pinjam sana-sini.
Atau bisa jadi dituduh sebagai tak punya hati dan empati, serta tak mengerti posisi orang lain yang berkesusahan.
“Saya ini pinjam karena terpaksa, kalau hidup saya enak seperti kamu tak bakal saya pinjam. Kalau saya kaya seperti kamu pasti sayalah yang akan meminjamkan,”
Nah, nggak enak kan dibilang kaya tapi nggak mau meminjamkan uang.
Jika dijawab bahwa ada banyak beban dan urusan harus ditanggung, yang mau meminjam malah menyanggah.
“Urusan apa, orang tuamu kaya, suami (atau istri) kaya, anak-anakmu sudah kerja semua dan kaya. Apalagi yang mau diurus atau ditanggung?”.
Dan akhirnya banyak orang dengan terpaksa meminjamkan uang karena tak tahan dikata-katai.oleh yang meminjam.
Rasa iba dan keyakinan bahwa uang akan dikembalikan pada waktunya selalu menjadi senjata yang dipakai oleh peminjam agar dipinjami uang.
Saat meminjam uang mulutnya akan manis dengan seribu janji. Janji soal tepat waktu dalam mengembalikan.
“Kamu belum bangun aku sudah didepan pintu,”
Begitu ucapnya untuk memberi keyakinan 300%.
Tapi janji tetaplah janji. Dan salah satu hal yang paling tidak ditepati adalah janji.
Ketika hal itu terjadi maka angin akan berubah. Kerap kali yang berada diatas angin justru yang meminjam. Dan yang meminjami justru berubah menjadi pengemis, memohon mohon agar uang yang dipinjamkan dikembalikan.
Yang meminjamkan uang justru harus rendah hati, menjaga kata-kata agar yang dipinjami tak sakit hati dan marah lalu malah tak mengembalikan uang yang dipinjamnya.
Bukanlah hal yang aneh jika yang meminjam justru malah yang rajin marah-marah kalau ditagih. Seolah yang meminjamkan dan menagih pengembalian justru dianggap sebagai gangguan.
Dan hebatnya lain kali uang yang dipinjamkan tak berhasil ditagih namun malah bertambah pinjamannya. Yang ditagih bukannya membayar malah meminjam kembali dengan dalih kalau tak dipinjami lagi maka sulit buatnya untuk mengembalikan pinjaman yang terdahulu.
Syukurlah saya bukan jenis orang yang menjadi sasaran untuk mencari pinjaman karena orang tahu kalau saya tak punya uang. Kalaupun ternyata ada yang nekat meminjam maka saya juga dengan mudah menolak karena memang saya tak punya uang untuk dipinjamkan.
Tapi untuk orang-orang yang punya uang namun tidak cukup berlebih dan tak cukup ruang ikhlasnya untuk merelakan uang pinjaman tak kembali perlulah berlatih untuk menolak meminjamkan uang sekalipun pada teman baik atau saudara jika tak yakin pinjaman itu akan mendatangkan kebaikan.
Jika ada yang meminjam uang pikirkan baik baik. Apakah seseorang itu meminjam karena benar-benar butuh atau sedang mencari cara gampang untuk menyelesaikan persoalan.
Jadi jangan segan bertanya uang yang dipinjam itu akan digunakan untuk apa. Bisa jadi orang tidak jujur soal keperluannya.
Nah jika tidak meyakinkan maka tolaklah. Atau jika memang benar di butuhkan namun kita tak mau memberikan beban tambahan pada orang itu maka berilah saja bantuan yang mungkin jumlahnya lebih kecil dari yang ingin dipinjam. Atau sesuai yang diminta jika kita memang punya uang berlebih.
Jika yang ingin meminjam adalah orang yang kita kenal dan kita tahu kelakuannya soal pinjaman, maka tak perlu ragu untuk menolak. Lebih baik tak enak sekali daripada tak enak seterusnya.
Nah, jika yang meminjam adalah orang yang tak kita kenal, apalagi meminjam lewat pesan di messenger, WA atau apapun tak perlu ragu untuk mengatakan tidak dan segera blokir atau delcon kontaknya.
Tak perlu banyak alasan untuk menolak, cukup bilang tak ada uang, uang ada tapi tidak kita pegang, atau uang ada tapi akan segera dipakai untuk keperluan lain.
Tak perlu juga menasehati orang yang akan meminjam, karena nasehat malah membuka peluang untuk memperpanjang keluhan yang justru bisa menjadi jebakan batman.
Tapi nasehat ini tak berlaku jika anda punya uang dan siap kehilangan uang atau siap direpotkan dengan urusan tagih menagih yang kerap membuat dunia terbalik-balik.
kredit foto : republika.co.id








