KESAH.ID – Dunia mulai bising semenjak jaman revolusi industri. Suara mesin dan pengeras suara ada di mana-mana. Kitapun teramat gemar berteriak-teriak utamanya di media sosial. Ngomong duluan baru mikir belakangan membuat kebisingan sering bikin pusing.

Albert Einstein, salah satu ilmuwan fisika yang paling berpengaruh terbilang unik, nyentrik dan menarik. Pemikiran atau penemuannya memang bikin sakit kepala para siswa. Namun memandang foto wajahnya yang ikonik pasti bikin senyum akan mengembang di bibir.

Selain wajah yang kocak, sebagai seorang ilmuwan atau sainstis, ternyata pendapatnya tentang situasi politik dan sosial juga kerap  ditunggu oleh para jurnalis. Pernyataan atau kalimat-kalimat Einstein diluar urusan fisika sampai sekarang masih terus dikenang dan dikutip.

Salah satunya, Einstein pernah mengatakan bahwa ada tiga kekuatan yang tak mungkin dibendung di kolong langit. Tiga kekuatan itu menurutnya adalah kebodohan, rasa takut dan keserakahan/ketamakan.

Soal kebodohan, Einstein pernah mengungkapkan dengan kalimat lain. Menurutnya kepintaran ada batasnya, sementara kebodohan tidak.

Apa yang diungkapkan oleh Einstein masih benar adanya hingga sekarang.

Namun andai Einstein masih hidup sekarang dan rajin bermain media sosial, pasti dia akan menambahkan kekuatan lain yang tidak bisa dibendung yakni cari perhatian dan cuan.

Paduan antara kebodohan, rasa takut, ketamakan, cari perhatian dan cuan atau currency membuat dunia menjadi penuh kebisingan.

Ambil contoh soal uang atau kekayaan. Orang Inggris dulu menyakini bahwa uang atau kekayaan itu berbisik, sementara kemiskinan yang berteriak.

Tapi di jaman sosial media ini yang terjadi justru uang atau kekayaan yang berteriak-teriak, ribut disana sini mengajak untuk trading dan investasi, baik di saham, kripto ataupun NFT.

Yang kaya ingin diperhatikan atau menjadi pusat perhatian. Dan media sosial memang merupakan alat ampuh untuk mereka yang suka cari perhatian memamerkan harta atau kekayaannya. Istilahnya adalah flexing.

Mereka yang dikenal kaya oleh netizen kemudian mendapat gelar entah Crazy Rich ataupun Sultan. Walau kemudian banyak yang terbukti ternyata setingan alias bohong-bohongan. Beberapa diantaranya bahkan kriminal.

Attention seeker memang bertebaran di media sosial, semua berlomba-lomba untuk menjadi viral. Tak peduli banyak yang membenci, yang penting para hatters-nya memberi reaksi, plus komentar yang bertubi-tubi hingga terbaca oleh algoritma sebagai postingan dengan impresi yang besar.

Menjadi perbincangan adalah kunci. Semakin riuh akan semakin baik sebab dari situlah akan muncul pengemar dan pengikut, syukur-syukur dengan fanatisme tinggi.

Kata kunci menarik perhatian adalah kontroversial. Seperti fenomena SCBD, menjadi kontroversial karena kawasan dekat stasiun dipakai jadi tempat tongkrongan, yang nongkrong remaja atau pemuda tanggung dengan gaya berpakaian unik atau aneh, zebra cross dipakai untuk lenggak-lenggok ala peragawan/peragawati dan seterusnya.

Dan kontroversi itu kemudian mengundang bukan hanya konten kreator untuk berburu adsense, tapi juga orang yang nggak urusan tapi penasaran. Jadilah kawasan itu ramai bak pasar malam.

Keramaian yang kemudian memancing reaksi dengan keriuhannya masing-masing. Berbagai perdebatan muncul, pro dan kontra dan pemikiran moderasi lainnya. Semua media kemudian dipenuhi dengan konten tentangnya. SCBD terus menjadi trending topik, termasuk sosok-sosoknya yang ikonik.

Jeje muring-muring, Bonge pusing dan Baim Paula yang konon punya niat baikpun juga dibikin pening.

Andy Tumere, salah satu konten kreator awal yang berjasa memviralkan anak nongkrong di Sudirman itu di bio akun instagramnya menuliskan “Balikin suasana Sudirman kesemula gimana?”

BACA JUGA : Cebong Kampret, Sesat Pikir Oposisi Biner

Dulu yang disebut rejeki nomplok itu nemu uang besar di jalan atau mendapat undian. Tapi sekarang ini mungkin agak susah karena orang kemana-mana nggak bawa lagi uang besar, uangnya sudah digital dan disimpan di dompet virtual.

Undianpun sudah memakai algoritma dan sistem point. Undian berhadiah mobil listrik misalnya tak mungkin akan diperoleh oleh mereka yang simpanannya dibawah satu juta. Nasabah yang tipis saldo ini hanya mungkin dapat hadiah langsung, bukan hadiah undian.

Maka untuk mendapat rejeki nomplok mesti berburu dengan cara lain. Media sosiallah yang menyediakan, hadiah itu bernama viral.

Yang viral karena menderita kemudian akan mendapat rejeki nomplok, uang besar dari hasil donasi.

Sedangkan yang viral karena bisa menghentikan hujan kemudian akan mendapat rejeki nomplok proyek mengusir hujan dimana-mana dengan honor gede.

Tukang jamu viral karena cantik kemudian dapat rejeki nomplok jadi bintang televisi, diundang kemana-mana.

Jualan NFT foto diri yang tidak ganteng tapi laku juga dapat rejeki nomplok, bukan hanya uang tapi juga jadi bintang iklan.

Pendek kata yang disebut viralitas selalu bisa dimonetisasi, menghasilkan uang dengan berbagai cara. Terkenal tapi miskin tentu saja menderita.

Jalan menuju viral inilah yang kemudian kerap menimbulkan kebisingan. Karena tidak terkenal-terkenal, seseorang kemudian berisik hingga mengusik orang lain. Terjadilah sahut-sahutan, berisik kemudian bergulung-gulung hingga menimbulkan kebisingan.

Kebisingan juga sering menjadi proyek. Makanya ada profesi yang disebut buzzer, tugasnya terus mengamplikasi paraphrase tertentu. Mereka ini kerap kali disebut juga sebagai pasukan siber, membela yang bayar atau junjungannya dan terus menyerang habis-habisan lawan dengan membabi buta.

Baik serangan maupun pujian dihambur dengan akun-akun anonym atau juga akun robot. Persona yang disamarkan membuat mereka leluasa memuji tanpa logika dan memaki tanpa hati.

Ada kalanya buzzer juga ingin terkenal, maka mereka menunjukkan personanya. Sebuah pilihan yang berisiko, karena mereka bisa menjadi sasaran serangan bukan hanya di jagad maya melainkan juga di dunia nyata.  Beberapa kali telah terbukti kejadian semacam ini, hingga kemudian kebisingannya ganda, di dunia nyata dan dunia maya.

Ujung-ujungnya kebisingan itu bikin pusing, terutama polisi yang kemudian kerap berada di ujung tanduk. Yang menghajar dan dihajar sama-sama lapor.

BACA JUGA : Kenapa Indomaret dan Alfamart Suka Nempel Kayak Perangko?

Dunia kita sudah berlari sedemikian cepat, informasi berkembang dengan teramat pesat. Kita berada dalam jaman dimana data atau informasi sudah berlebih, sehingga kerap kali tak mampu lagi mengolahnya.

Big data begitu kata penyedia sistem elektronik, mereka mengolahnya dengan super komputer yang dilengkapi dengan artificial intellegence dan machine learning. Bekerja dalam algoritma tertentu berbagai aplikasi yang disediakan oleh para penyelenggara sistem elektonik kemudian menyetir dan mengarahkan pola komunikasi serta interaksi kita.

Mereka kemudian mencekoki kita dengan informasi atau sesuatu yang kita suka sebelum kita minta. Algoritma yang mempunyai basis micro targeting membuat kita menjadi sasaran empuk, dikunci untuk tidak mengakses lautan informasi yang maha luas.

Jadilah kita kuda berkaca mata, maju tidak menenggok kiri dan kanan, atas bawah dan juga belakang.

Padahal di tengah bauran informasi yang melimpah ruah, mestinya kita tak boleh terlalu cepat menyimpulkan atau berpendapat. Otak kita tidak cukup punya kemampuan untuk mengolah data, informasi dan memori lainnya dengan segera.

Maka mestinya kita berpikir lebih dahulu sebelum memposting sesuatu. Atau bijaksana ketika berada dalam jaringan. Menjadi bijaksana artinya terlebih dahulu meragukan apa yang hendak kita ungkapkan, bukan hambur duluan lalu pikir kemudian.

Tapi kita lebih suka memakai filter wajah agar muka kita glowing ketika live streaming, ketimbang lebih dahulu memfilter pikiran dan ucapan kita.

Hingga akhirnya kelabakan jika ada yang meminta pertanggungjawaban atas apa yang kita publikasikan.

Bahkan seorang seperti Roy Suryo, yang dikenal sebagai pakar IT dan pernah menduduki jabatan tinggi di pemerintahan RI, ternyata juga tak mampu menghindarkan diri dari keinginan untuk membuat kebisingan. Kebisingan yang membuat dia dilaporkan dengan tuduhan yang tidak main-main, menistakan agama.

Soal apakah benar-benar menista atau sekedar main-main biarlah aparat penegak hukum yang menetapkannya. Namun yang pasti setelah diperiksa kurang lebih 9 jam, Roy Suryo mesti berkursi roda ketika meninggalkan kantor polisi.

Pusing sendiri, bukan!

note : sumber gambar – SUARA.COM

1 KOMENTAR

Comments are closed.