KESAH.ID – Semoga kesedihan ini cepat berlalu dan bahagia akan bertahan selamanya. Ungkapan yang amat syahdu namun keliru. Sebab bahagia, sedih, senang, marah akan selalu ada, namun semua tak akan pernah ada untuk selamanya. Yang disebut rasa akan selalu bertukar-tukar.
“Mas, saya harus menulis sampeyan ini sebagai apa ya, bingung soalnya,habis sampeyan itu ini dan itu”
Menanggapi keluhan seperti itu biasanya saya buat menjadi lebih bingung lagi dengan menjawab “Saya sendiri juga bingung, saya ini apa?”
Namun persoalan kemudian harus diselesaikan dan biasanya saya menawarkan “Tulis saja penulis”.
Saya lebih memilih penulis karena setiap hari memang saya menulis walau tak bisa dianggap sebagai pekerjaan karena tidak mendapat bayaran.
Hanya saja terkadang label penulis itu tidak memuaskan, maka kemudian sering ditambahkan label aktivis lingkungan, pegiat sungai, pengamat sosial, pengamat budaya, aktivis sosial media hingga filsuf.
Terserah sajalah yang penting saya tak melabeli diri sendiri, sebab pada dasarnya saya ini pensiunan karena sudah cukup lama tidak mempunyai profesi tetap.
Karena tidak punya pekerjaan tetap dan tak banyak yang mempekerjakan makanya saya punya banyak waktu. Itu sebabnya saya bisa mengamati dan mempelajari banyak hal, sehingga kerap disangka sebagai ini dan itu.
Diantara banyak waktu yang saya punya sebagian saya gunakan untuk mengamati akun sosial media yang rajin memposting status. Saya rajin membaca status atau postingan orang-orang tertentu namun amat jarang memberi tanggapan apalagi komentar. Saya lebih mengamati.
Beberapa diantaranya bertujuan untuk belajar, menambah pengetahuan karena statusnya daging semua, yang lainnya untuk melihat apa yang sedang trend karena orang itu jeli melihat perkembangan. Namun ada juga yang saya suka karena dinamika emosinya, statusnya penuh dengan mood swing.
Banyak orang memang menjadikan sosial media sebagai mood meter, tempat menumpahkan perasaan sesaatnya. Maka pagi-pagi statusnya bahagia, siangnya sedih, tapi malamnya kemudian senang kembali. Emosinya berubah-rubah dalam satu hari.
Di kalangan jemaah gosip, status mood swing ini kerap jadi bahan bakar untuk bergibah. Para mood swinger ini kemudian kerap didiagnosis oleh para pengibahnya sebagai tengah mengalami gangguan jiwa, mental illness.
Mulut para pengibah memang kejam, selain dengan cepat sering melakukan penghakiman, mereka merasa kalau dirinya kelewat pintar sehingga bisa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan status sosial media seseorang.
Yang disebut mood swing itu sebenarnya manusiawi saja. Memang begitu manusia, gampang sekali perasaannya berubah-ubah karena pada dasarnya manusia adalah mahkluk emosional.
Maksudnya cara berpikir dan bertindak kita sehari-hari memang lebih didasarkan atas otak emosional ketimbang otak rasional. Makanya jadi lebih ekpresif, sebab kalau segala sesuatu harus didasarkan atas pertimbangan rasional, hidup tidak akan berwarna dan melelahkan. Berpikir rasional itu selalu melelahkan karena menguras energi.
BACA JUGA : Pusing Dengan Kebisingan Yang Kita Ciptakan Sendiri
Lebih dari dua puluh tahun lalu ketika saya nimbrung dengan teman-teman dari Aliansi Layanan Informasi Masyarakat {ALIM} berinteraksi dengan Internal Displacement People atau pengungsi dari dalam negeri, ada beberapa temuan yang membuat saya tergerak untuk mengembangkan inisiasi dukungan untuk anak-anak pengungsi.
Waktu itu Sulawesi Utara menerima banyak pengungsi akibat konflik di Maluku Utara. Mereka tersebar di berbagai wilayah mulai dari Bolang Mongondow hingga Sangihe Talaud.
Ada beberapa kamp pengungsian yang bisa saya jangkau di Kota Manado dan Kota Bitung. Setelah beberapa kali berdialog dengan orang tua dan mengamati anak-anaknya, kemudian saya dan teman-teman berinisiatif mendirikan Sanggar Anak di lokasi pengungsian. Kegiatannya bermain, mengambar, bercerita dan menulis puisi.
Tujuannya untuk mengisi waktu anak-anak dengan kegiatan yang syukur-syukur bisa memulihkan kondisi psikologis mereka akibat trauma konflik di daerah asalnya. Hanya saja literatur saya amat terbatas. Kesadaran soal mental health dan psychosial support waktu itu juga belum terlalu tinggi.
Saya dan teman-teman yang bermodal nekat itu mesti belajar sambil melakukan. Untunglah inisiatif itu didengar dan dilirik beberapa lembaga bantuan dari luar negeri. Saya dan beberapa teman lain diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan dukungan psikososial dan kesehatan mental terkait dengan korban konflik.
Melihat gambar yang dibuat oleh anak-anak pengungsi terlihat benar ada keterpecahan dalam diri mereka. Ketika diminta mengambarkan suasana konflik, muncul simbol-simbol kekerasan yang saya yakin sebagian berdasarkan cerita tapi juga memori dari film. Muncul sosok Rambo misalnya, tapi juga alat-alat perang yang tidak digunakan di konflik komunal yang terjadi di Maluku Utara waktu itu.
Saat mengambar tentang konflik dan kemudian ditanya apa cita-citanya, banyak yang menyebut akan jadi tentara atau polisi. Entahlah apakah cita-cita itu mengambarkan keinginan mereka untuk menjadi aparat penjaga keamanan atau dengan menjadi polisi dan tentara mereka kemudian bisa membalas karena punya senjata.
Namun ketika mereka diminta mengambarkan apa yang diinginkan saat kembali ke kampung halaman, yang muncul adalah gambar suasana desa, dengan masjid dan gereja berdampingan dan juga anak-anak bermain di halaman.
Nampak benar ada kerinduan untuk rukun dan guyub kembali.
Konflik mungkin memang menyakitkan, menimbulkan bekas yang sering membuat mereka tidak tidur nyenyak. Namun di dalam hati kecilnya ada kerinduan untuk tetap bisa bermain dengan teman-teman, kembali hidup dengan rukun di kampung halamannya.
Dalam sebuah pelatihan di Rumah Betang, Pontianak yang diselenggarakan oleh British Council, saya belajar cara sederhana untuk menguji tingkat kepercayaan anak-anak pada yang lainnya. Konflik biasanya melukai kepercayaan pada orang lain.
Permainan itu bernama trust fall.
Ketika kembali ke kamp pengungsian di Manado dan Bitung, permainan itu kemudian saya praktekkan. Sebagian besar ternyata berani menjatuhkan diri karena percaya akan ditangkap atau ditahan oleh teman-temannya. Hanya sedikit yang ragu.
Saya gembira, bahwa memang ada luka di dalam diri mereka namun tak membuat hatinya hancur.
Dan untuk membuktikan damai itu kembali bisa terwujud, lagi-lagi dengan dukungan dari lembaga bantuan luar negeri, saya bisa menyertai beberapa perwakilan pengungsi untuk ‘menenggok’ Maluku Utara, pergi ke Ternate dan bertemu dengan warga disana. Pertemuan yang mengharukan, akrab dan penuh persaudaraan.
BACA JUGA : Cebong Kampret, Sesat Pikir Oposisi Biner
Riset Kesehatan Dasar {Riskesdas 2018} menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk Indonesia berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan emosional dan mental, sedangkan yang mengalami depresi berjumlah lebih dari 12 juta jiwa.
Badan Litbangkes juga menyatakan di tahun 2016, setiap hari terjadi angka bunuh diri sebanyak 5 orang. 50 persen pelakunya adalah anak usia remaja dan produktif.
Masalah kesehatan mental menjadi salah satu yang krusial karena 1 dari 5 orang di Indonesia mempunyai potensi untuk mengalami gangguan jiwa.
Untunglah kesadaran terhadap kesehatan mental mulai cukup meninggi. Di media sosial mental health issue menjadi salah satu topik yang kerap diperbincangkan.
Namun sama seperti halnya masalah kesehatan lainnya, ada kecenderungan besar dari masyarakat untuk melakukan diagnosis dan penilaian sendiri.
Sebuah gangguan pada umumnya akan disertai dengan tanda-tanda umum atau symptom. Daftar gejala itu beredar dalam berbagai macam publikasi. Dengan list gejala ini kemudian masyarakat kerap menilai dirinya sehat atau tidak.
Padahal yang disebut gejala itu adalah gejala klinis sehingga yang berkompeten untuk menilainya adalah seorang ahli kejiwaan.
Hanya saja era internet kerap disebut juga sebagai era kematian pakar. Netizen yang merasa mempunyai pengetahuan yang cukup dari comot sana comot sini mulai merasa dirinya ahli. Viralnya istilah healing yang identik dengan piknik ke Bali di kalangan Anak Jaksel menjadi contoh dari kebiasaan untuk mendiagnosis dan mencari penyembuhan diri secara mandiri.
Yang juga ramai akhir-akhir ini adalah bipolar. Banyak yang merasa dirinya mempunyai kepribadian ganda, hanya karena moody atau moodnya cepat berubah-ubah.
Padahal perubahan perasaan atau emosi merupakan hal yang biasa saja. Pagi senang, siang khawatir dan malamnya sedih bukanlah sebuah gangguan. Itu adalah kenyataan hidup.
Yang disebut gangguan adalah ketika seminggu senang terus, minggu depannya sedih selalu dan kemudian minggu depannya lagi khawatir tanpa henti.
Apapun itu yang disebut dengan perubahan emosi atau perasaan selama tidak menganggu produktifitas, menganggu hubungan dengan orang lain, maka belum bisa disebut gangguan.
Menurut WHO yang disebut dengan kesehatan adalah “Kesejahteraan dimana seseorang menyadari kemampuan dirinya, mengatasi tekanan kehidupan, bekerja secara produktif dan memberikan kontribusi pada lingkungan sekitarnya,”
Jadi yang disebut sebagai sehat bukan hanya tidak sakit, karena tidak sakit belum tentu sehat. Dalam kontek kesehatan mental atau jiwa yang disebut dengan gangguan bukanlah penyakit.
Gangguan mental atau jiwa adalah “Ketika pikiran, perasaan atau perilaku sudah mengakibatkan distress atau disability secara bermakna dalam melakukan aktivitas sehari-hari, berkerja, bersosialisasi dan belajar”
Dulu acap kali gangguan mental diidentikkan dengan stress. Benarkah?.
Tidak, karena kurang stress maupun kebanyakan stress, sama-sama tidak baik. Orang pasti akan mengalami tekanan, namun tekanan yang sama akan menghasilkan akibat yang berbeda untuk tiap-tiap orang. Response terhadap stress berbeda-beda dari setiap orang.
Bahkan untuk orang yang sama, responnya juga berbeda apabila terjadi dalam waktu yang berbeda.
Stress bukanlah faktor dominan untuk menyebabkan gangguan jiwa. Stress, kehidupan, masalah dan lain sebagainya hanya menyumbangkan 10 persen. Kejadian hanya menyumbangkan 10 persen pada gangguan mental.
Faktor terbesarnya justru genetik yakni 50 persen. Apakah kita terlahir untuk bahagia atau tidak, sesungguhnya adalah bawaan. Inilah nasib yang tidak bisa dirubah.
Namun tidak berarti dunia menjadi gelap. Sebab masih ada 40 persen faktor lainnya yang memungkinkan kita untuk bahagia, seimbang secara jiwa dan mental.
40 persen ini yang disebut dengan respons internal.
Sedih bukanlah masalah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita memaknai kesedihan, bagaimana kita memandang kesedihan. Itulah yang disebut dengan respons internal.
Umumnya respon kita terhadap sedih, marah dan perasaan negatif lainnya salah. Pada saat itu kita ingin semua cepat berlalu, mempertanyakan kenapa atau penyebab rasa negatif itu. Rasa itu justru menjadi semakin buruk karena kita menghakimi diri kita sendiri bahkan membawa ke masa depan, hingga kemarahan, kesedihan bahkan menjadi ancaman, bukan hanya saat ini tapi juga nanti. Atau bahkan juga penyesalah atas yang sudah lampau.
Tidak mungkin seseorang mampu menghindari dari rasa sedih, rasa bosan, marah dan perasaan negatif lainnya. Yang terpenting justru merasakannya, mernerima dengan sadar bahwa itu terjadi saat ini. Cara menghilangkan perasaan negatif bukan menjadikannya positif, melainkan menerima tanpa menghakimi.
Sedih, marah dan lainnya akan hilang jika kita mengijinkannya untuk berlalu, berapa lama?. Biarlah sedih, marah, bosan dan lainnya yang akan menentukan kapan akan berlalu.
Semakin kita berpikir bagaimana menghilangkan kesedihan maka kesedihan akan semakin kuat.
Emosi atau perasaan tidak harus disangkal namun juga tak mesti diluapkan begitu saja agar menguap. Ada tanggungjawab untuk mengontrolnya agar terkendali.
Tidak ada emosi yang bertahan selamanya, jadi untuk apa terganggu dengan sesuatu yang tidak bertahan selamanya.
Jangan buat seakan-akan semua akan bertahan selamanya.
Hidup akan baik-baik saja selama kita tidak menghakimi perasaan kita.
note : sumber gambar – RSUDMANGUSADA








