KESAH.ID – Segala sesuatu akan berakhir dan akhir dari segala akhir adalah kiamat. Dalam kenyataannya akhir dari segalanya belum terjadi secara bersamaan. Kiamat besar entah kapan, namun kiamat-kiamat kecil terus terjadi.
Eskatologi dari agama-agama dominan baik Abrahamis maupun Non Abrahamis menjelaskan bahwa jaman dan dunia akan berakhir. Akhir jaman dan dunia itu dinamakan sebagai kiamat.
Masing-masing ajaran mempunyai gambaran dan keyakinan sendiri tentang apa itu kiamat serta prosesnya. Kiamat umumnya akan diawali dengan kejadian luar biasa, terjadi kehancuran dan kematian dimana-mana.
Dunia berputar, matahari berhenti bersinar, bulan dan bintang tak lagi kemilau, gunung meletus, laut bergejolak, angin membabi buta dan seterusnya.
Pada saat itu manusia akan mengalami penghakiman akhir. Yang baik akan dimuliakan dan yang buruk akan dimasukkan dalam siksa api neraka abadi.
Jaman akhir juga sering diyakini sebagai jaman kebangkitan. Semua yang mati akan dibangkitkan kembali, yang baik akan bangkit dengan sempurna sedangkan yang buruk akan bangkit dengan kecacatan.
Bersamaan dengan itu bumi yang hancur lebur akan kembali dipulihkan dalam kebaharuan.
Jaman akhir juga kerap diyakini sebagai kedatangan kembali Mesias. Sang penyelamat dan penebus dunia akan datang untuk mengenapi tugasnya.
Ramalan tentang masa depan dunia dan akhir dari jaman ini tidak pernah ditentukan kapan akan terjadi. Namun sepanjang peradaban ada beberapa tokoh dan aliran yang kemudian menentukan kapan waktunya akan tiba.
Hanya saja sampai sekarang belum pernah terbukti.
Bencana besar, wabah penyakit dan perang kerap kali ditafsirkan sebagai tanda dari akhir jaman, kiamat akan segera tiba. Hanya saja meski ada letusan gunung atau tsunami yang mengubur dan menyapu habis manusia di sebuah tempat, namun di tempat lainnya sebagian besar masih sehat wal afiat.
Pun demikian ketika penyakit menjadi wabah sedunia, banyak merenggut nyawa, selalu saja masih lebih banyak yang selamat bahkan tak tertular oleh penyakitnya.
Dan dunia berkali-kali mengalami perang, yang melibatkan hampir seluruh wilayah. Namun perang tak pernah abadi, selalu ada batas hingga kemudian berhenti.
Para ahli ilmu pengetahuan berpendapat bahwa kiamat sebenarnya telah berkali-kali terjadi di muka bumi. Perubahan ekstrim yang mengubah wajah bumi dan isinya, yang ditandai oleh kepunahan-kepunahan tertentu. Seperti kepunahan dinosaurus, mammoth dan lain-lain.
Memasuki jaman modern, kepunahan dan perubahan ektrim lebih sering terjadi. Namun sebagian besar terjadi bukan karena dinamika alam melainkan karena ulah manusia. Perubahan-perubahan ini kerap menghasilkan dampak berupa bencana, yang memakan kerugian dan korban dalam jumlah yang besar. Namun dunia, bumi dan jaman terus bergerak.
BACA JUGA : Pertolongan Pertama Pada Perasaan
Banyak yang beranggapan bahwa kiamat adalah pertanda bahwa bumi semakin tua. Faktanya bahkan jauh sebelum ada manusia, satu-satunya mahkluk yang sadar kiamat, bumi sudah teramat tua, tua sekali.
Homo sapiens, atau moyang kita juga bukan satu-satunya jenis manusia yang pernah menghuni bumi. Kerabat terdekatnya seperti homo heidelbergensis, homo rhodesiensis, homo neaderthal, homo habilis dan homo erectus pernah ada, namun punah.
Jika kiamat adalah kepunahan, maka dalam proses evolusi dan revolusi yang terjadi pada bumi dan seisinya, kiamat-kiamat kecil masih terus terjadi.
Homo sapiens hingga menjadi manusia sampai jaman ini telah mengalami beberapa revolusi. Mulai dari revolusi kognitif, revolusi pertanian hingga revolusi sains.
Revolusi kognitif membuat manusia modern menjadi lebih cerdas dari mahkluk lainnya, mempunyai kemampuan belajar dari pengalaman, bukan hanya pengalaman dirinya sendiri tapi juga pengalaman orang lain serta dari pengamatan berbagai fenomena diluar dirinya.
Manusia kemudian mempunyai kemampuan berbahasa dan berkomunikasi yang jauh diatas mahkluk lainnya, hingga mampu mengembangkan berbagai macam hal yang sifatnya spekulatif dan imajinatif. Manusia menjadi mahkluk dengan kesadaran diri paling tinggi.
Revolusi pertanian membuat kelompok manusia mengakhiri peradaban hidup berpindah-pindah. Budidaya atau domestifikasi tanaman pangan dan ternak membuat manusia menetap. Menetap bersama dalam waktu yang lama menumbuhkan pola hidup bersama yang dinamai masyarakat. Mulai terjadi diversifikasi peran yang lebih jelas untuk mengatur kehidupan bersama.
Ketika kebutuhan pangan mulai tercukupi, hidup bersama menjadi lebih stabil kemudian muncul revolusi sains. Manusia menemukan sistem pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mendorong manusia untuk melahirkan teknologi. Manusia kemudian memasuki babak baru meninggalkan jaman pertanian menuju jaman industri.
Dalam jaman industri terjadi revolusi berkali-kali, mulai dari penemuan mesin, energi buatan, mesin otomatis atau robot hingga kemudian mesin dengan kecerdasan buatan dan mampu belajar sendiri.
Semua revolusi ini membuat manusia melampaui cara hidup alamiah sekaligus menjadi mahkluk yang paling ekploitatif terhadap sumber daya alam. Otoritatif dan ekploitatif menjadi manusia seolah punya kuasa, apa yang penting dan tidak penting untuknya.
Watak ini kemudian menimbulkan banyak kepunahan, terutama pada flora dan fauna. Entah karena diburu habis-habisan atau karena habitatnya dikonversi oleh manusia untuk tujuan yang berbeda.
Binatang pada umumnya hanya mempunyai kebutuhan makan dan tempat tinggal serta kawin mawin. Semuanya bersifat alami. Manusia melampaui itu karena menjadi satu-satunya mahkluk ekonomi.
Ekploitasi atau pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan papan serta meneruskan keturunan. Kebutuhan manusia tidak hanya primer, melainkan sekunder dan tertier. Menjadi kaya, menjadi terhormat, sukses, pintar, terkenal, trendy, sehat, sejahtera, berkuasa dan seterusnya.
Kebutuhan di luar kebutuhan alamiah ini menjadikan manusia terus mencari, menggali, memproduksi berbagai macam hal. Dan kesemuanya semakin merubah wajah bumi, hutan dibabat, gunung diratakan, tanah digali, laut diuruk, rawa ditimbun dan masih banyak lagi.
Dan manusia kemudian memproduksi banyak sampah serta limbah yang tidak bersifat organik. Buangan manusia tidak mudah terurai hingga menjadi polutan yang berbahaya. Dan limpahan limbah atau sampah buangan kemudian mempengaruhi iklim. Sebuah perubahan yang bersifat global dan menimbulkan ancaman kepunahan-kepunahan.
Perilaku manusia menjadi biang kiamat untuk mahkluk atau penghuni bumi lainnya.
BACA JUGA : Pusing Pada Kebisingan Yang Kita Buat Sendiri
Secara teknis dunia akan kiamat itu pasti, namun kapan?. Menurut perhitungan para ahli masih lama, lama sekali. Walau begitu sudah banyak yang mengantisipasi, termasuk beberapa perusahaan teknologi yang dipunyai oleh mereka yang uangnya berlebih kelewatan.
Elon Musk dan Jeff Bezos salah satu yang paling getol. Selain mengembangkan kendaraan pengangkut luar angkasa, mereka juga bermaksud untuk mencari koloni lain selain bumi.
Orang-orang berlatar teknologi memang terbiasa dengan kiamat. Sebab dalam teknologi sebuah temuan baru, entah sistem entah perangkat akan mematikan yang sebelumnya.
Internet dengan segala teknologi ikutannya membuat kiamat bagi banyak teknologi informasi dan komunikasi generasi sebelumnya. Telegram kemudian menjadi nama aplikasi, pesan cepat berbasis kode yang kemudian diterjemahkan dalam teks, lenyap diganti dengan teks atau chat messenger.
Surat dalam lembaran kertas yang kerap disertai pewangi agar amboi, hilang berganti menjadi email. Surat tak lagi identik dengan Pak Pos.
Kios percetakan dan tukang foto hilang, orang-orang lebih menyukai foto selfie dengan smartphone.
Telepon kawat yang kemudian berganti kabel tak musim lagi, berganti menjadi serat fiber serta sebagian lain non kabel alias wifi.
Namun salah satu yang paling mengesankan adalah uang. Uang semakin absorbs, bukan hanya karena crypto currency dan NFT, uang yang kita pakai sehari-hari sebagai alat tukar juga semakin terdigitasi.
Nggak jamannya lagi tebal-tebalan dompet sebab uang tak lagi berbentuk, kebanyakan sudah tersimpan dalam dompet digital, ada di aplikasi.
Bank dengan gedung besar dan banyak malah jadi beban, mulai diganti dengan Bank Digital yang kantornya tak jelas dimana, tapi customer service dan layanannya siap siaga 24 jam.
ATM pun makin sepi. Ada banyak ATM centre kosong, kalaupun ada sisa mesin ATM-nya nampak kusam. Setor dan tarik uang makin berkurang, kartu ATM yang terdigitasi bisa menstranfer dan mendebit lewat aplikasi. Tinggal pindai QR Code, transaksi terjadi.
Pertumbuhan transaksi cashless terus meninggi, sedangkan setor dan tarik tunai cenderung menurun. Jarang terlihat antrian seperti hendak bersemedi di depan bilik ATM.
Jadi jangan terlalu khawatir dengan kiamat bumi sebab waktunya tak pasti. Untuk apa membuang energi mengkhawatirkan yang tak pasti-pasti.
Jauh lebih baik bersiap dengan mulai bergabung dengan cashless society, mulai lengkapi diri dengan akun uang virtual dan digital, biar nanti kalau ATM dimatikan tidak kalang kabut saat ditagih untuk melakukan pembayaran.
note : sumber gambar – DEPOKNETWORK.COM









Barakallah
Comments are closed.