KESAH.ID – Aksi Kamisan Kaltim dimulai ketika Aksi Kamisan Jakarta {Depan Istana Negara} telah melewati angka 500 kali. Dan kini Aksi Kamisan Kaltim telah berumur 5 tahun, terselenggara kurang lebih 255 kali. Panjang umur #melawandarimahakam.
Sebagai warga Kota Samarinda, saya mesti memohon maaf karena baru hari Sabtu, 06 Agustus 2022 lalu menikmati dengan benar berada di Taman Samarendah yang mulai dibangun sejak 2014 itu dan telah selesai serta dibuka beberapa tahun lalu.
Suasananya memang asri, jalan setapak yang berkelok-kelok terasa teduh karena pepohonan di sekitarnya sudah meninggi dan rindang. Taman utamanya memang tak terlalu besar, sehingga benar apabila tak disediakan tempat duduk. Taman ini cocok untuk berjalan-jalan, berkeliling , jogging atau lari-lari kecil.
Sebagian pohonnya adalah tanaman baru, sebagian lainnya yang batangnya terlihat lebih besar dan daunnya lebih rindang adalah sisa pohon lama yang dulu berada di pinggiran Lapangan Pemuda.
Oh, iya hari itu saya sebenarnya saya datang bukan untuk menikmati taman, melainkan ingin ikut obrolan untuk merefleksikan 5 Tahun Aksi Kamisan Kaltim.
Saya datang dari arah Jalan Bhayangkara, dan memarkir motor di sisi kedatangan dari jalan itu. Ada tukang parkir, duduk di beton pinggiran taman sambil asyik memegang handphonenya. Saat ada ibu yang baru datang dan mencoba berkomunikasi dengannya dengan gaya sok akrab, tukang parkir itu ogah-ogahan menanggapinya.
Dalam hati saya berkata “Tukang parkir jenis seperti ini nanti ramah kalau diberi uang parkir lebih,”
Ada beberapa motor yang sudah terparkir lebih dahulu. Tidak ada helm yang ditinggal. Lagi-lagi saya membatin “Banyak pencuri helm disini,”
Tapi dengan percaya diri saya letakkan helm saya di salah satu kaca spion motor. Saya tak takut kehilangan helm karena helm yang saya pakai sehari-hari sudah tidak layak curi. Jadi kalaupun nanti hilang, saya rela saja sebab yang mengambil pasti mereka yang benar-benar membutuhkan.
Dari kejauhan, nampak beberapa teman sudah berkumpul di belakang Patung Kuda. Duduk diatas kursi lipat yang dibawa sendiri. Tak perlu saya perkenalkan disini karena sebagian dari mereka adalah orang-orang yang cukup dikenal oleh warga Kota Samarinda.
Tapi saya harus memperkenalkan seseorang, namanya Samuel Gading. Gading belum lama lulus dari Universitas Mulawarman. Dan skripsinya berjudul Di Bawah Payung Hitam, Studi Komunikasi Partisipatif Aksi Kamisan telah dibukukan.
Buku itu yang akan sekilas diceritakan olehnya dalam refleksi 5 tahun Aksi Kamisan Kaltim.
Sesampai di kumpulan itu, saya disambut dengan pemberian buku oleh Gading.
Ketika memulai paparan untuk memantik perbincangan, Gading mengawali dengan pernyataan bahwa dirinya bukan apa-apa. “Saya ini ratik wara,” ujarnya.
Dia menyebutkan dirinya kini bukan apa-apa, bukan mahasiswa, bukan jurnalis lagi karena belum lama ini dia sudah resign dari salah satu media online ternama di Kota Samarinda.
Mungkin Gading gugup, takut kalau isi bukunya dibantai. Padahal bagaimana mau membantai, wong bukunya saja baru diberikan.
Dan bincang-bincang di Taman Samarendah memang tak bertujuan untuk membahas isi bukunya. Gading diundang dan diminta menjadi pemantik diskusi agar bisa memberikan masukan, bagaimana Aksi Kamisan bisa lebih baik lagi, bisa lebih bermakna, kalau boleh sampai lima tahun berikutnya dan lima tahun berikut lagi, dan lagi.
BACA JUGA : Kiamat ATM Sudah Dekat
Sepanjang ingatan saya sebagai warga sipil Kota Samarinda sejak tahun 2002, ada beberapa gerakan yang cukup punya nafas panjang sebagai payung dari berbagai elemen warga sipil untuk bersuara.
Yang pertama sebut saja Forum Pelangi. Forum ini tumbuh merespon iklim sektarian yang menguat tak lama setelah reformasi. Sebagai organ yang cair, Forum Pelangi sempat mempunyai gerakan taktis, advokatif dalam mendampingi Jemaah Ahmadiyah yang mendapat serangan dari banyak pihak serta tak dilindungi oleh pemerintah.
Kemudian lahir Taman Bercerita. Sebuah pertemuan berkala di taman pojokan depan bawah Balai Kota. Taman yang kini berisi banyak alat fitness dari besi.
Di Taman Bercerita banyak kelompok bisa menceritakan dan mengkisahkan seluk beluk komunitasnya. Beberapa yang sempat menceritakan diri adalah Komunitas Reptil, Komunitas Drummer Samarinda dan Perwasa atau Persatuan Waria Samarinda.
Kelak Taman Bercerita kemudian melahirkan sebuah aksi panjang yang dikenal dengan sebutan Gerakan Samarinda Menggugat. Kurang lebih 3 tahun GSM bertarung di pengadilan melakukan gugatan citizens law suit melawan pemerintah kota, provinsi dan nasional, wakil rakyat kota Samarinda dan Provinsi Kaltim dan Kementerian Lingkungan Hidup serta Energi Sumber Daya Mineral.
Dan setelah vakum cukup lama, kemudian muncul Aksi Kamisan Kaltim, sebuah aksi yang dilakukan tiap hari Kamis di tepian Mahakam seberang depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur.
Oleh Isran Noor, Gubernur Kalimantan Timur saat ini, Aksi Kamisan Kaltim disebutnya sebagai kaset rusak.
Meski disebut sebagai kaset rusak, Aksi Kamisan Kaltim terbukti menjadi sebuah aksi warga sipil yang paling punya nafas panjang. Secara konsisten aksi ini mampu dilakukan lebih dari 255 kali.
Benar bahwa Aksi Kamisan Kaltim bukan asli lahir dari Samarinda, aksi ini merupakan replikasi dari Aksi Kamisan Jakarta di depan Istana Negara. Aksi Kamisan Kaltim dimulai ketika Aksi Kamisan Jakarta sudah melewati angka 500 kali,
Tapi Aksi Kamisan Kaltim tidak plek ketiplek dengan Aksi Kamisan Jakarta. Sama-sama menggunakan payung hitam dan banyak pesertanya memakai outfit hitam-hitam, aksi dengan slogan merawat ingatan menolak lupa ini temanya lebih luas dari Aksi Kamisan Jakarta.
Karena dilakukan di tepian Sungai Mahakam, Aksi Kamisan Kaltim mempunyai hastag tersendiri yakni #melawandarimahakam.
Sepanjang 5 tahun kehadirannya, Aksi Kamisan Kaltim membukukan Kumpulan Puisi dan Kumpulan Orasi. Beberapa artikel di jurnal dan tulisan skripsi. Dari antara itu skripsi yang kemudian di-paraphrasing jadi buku adalah skripsi Gading.
Rasanya kalau buku-buku diberikan kepada Gubernur Isran Noor, barangkali anggapannya bahwa Aksi Kamisan Kaltim adalah kaset rusak akan dikoreksi.
Capaian lain dari Aksi Kamisan Kaltim dibanding aksi serupa di banyak tempat dan daerah lain adalah ketahanan dan konsistensinya. Jarang sekali hari Kamis di depan Kantor Gubernur tak diselenggarakan Aksi Kamisan.
Banyak Aksi Kamisan di daerah lain digerebek dan dihajar polisi, tapi Aksi Kamisan Kaltim tak pernah dihentikan, kalau teror atau ancaman sih biasa saja, yang penting tetap terlaksana.
Hanya saja setahun terakhir ini mulai kencang serangan terhadap aksi kamisan. Terutama oleh mereka yang gemar dengan teori konspirasi.
Mampu bertahan lebih dari 3 tahun memang selalu akan mencurigakan, terutama untuk mereka-mereka yang nurani dan hatinya rusak.
Berhembus kabar soal cukong di belakang Aksi Kamisan Kaltim. Kalau temanya dipandang menyerang pihak tertentu maka dituduh sebagai dibiayai oleh pihak lainnya. Atau kalau jarang mengangkat isu tertentu maka dianggap yang punya kepentingan pada isu itu agar tak terangkat memberi sedekah pada Aksi Kamisan Kaltim.
Pertanyaan siapa yang membiayai Aksi Kamisan Kaltim menjadi pertanyaan banyak orang. Dan tidak sedikit yang kemudian mengarang jawaban sendiri. Jawaban yang cenderung bertujuan untuk mengembosi Aksi Kamisan Kaltim.
Dan tidak sedikit yang termakan oleh jawaban itu sehingga berfatwa “Tak akan datang lagi ke Aksi Kamisan,”
BACA JUGA : Pertolongan Pertama Pada Perasaan
Saya hanyalah pengembira dalam Aksi Kamisan Kaltim, tahu seluk beluknya tapi tak bisa selalu ikut andil dan hadir di dalamnya. Keikutsertaan saya mungkin belum melebihi jumlah jari kaki dan tangan jika dihitung.
Tapi sehari-hari saya bergaul dengan sebagian dari lingkaran kecil yang mengerakkannya. Pergaulan biasa untuk ngopi-ngopi dan olahraga biar badan tetap fit karena usia mulai menua.
Dan saya tak cukup berani untuk ikut mengambil tanggungjawab turut menjaga langkah Aksi Kamisan Kaltim, pasalnya saya merasa tak cukup kuat untuk menahan stres setiap hari.
Ya, lingkaran kecil orang-orang yang menjalankan Aksi Kamisan Kaltim adalah manusia-manusia yang merelakan hari-harinya dipenuhi dengan stres.
Begini ceritanya.
Aksi Kamisan adalah aksi tematis. Jadi yang pertama mesti ditentukan tema dan narasi latar belakangnya.
Tema ini mesti diposting di group Aksi Kamisan Kaltim setiap hari Senin untuk mengundang siapa yang akan mengisi orasi, puisi atau performance lainnya. Pekerjaan belum selesai, karena harus ada flyer dan spanduk.
Flyer harus didesain menarik sebagai undangan agar orang datang, sedangkan spanduk harus berisi kalimat yang punya daya hentak dan berhubungan dengan tema.
Begitu kedua hal ini selesai, bukan berarti kekhawatiran datang. Karena Aksi Kamisan butuh persiapan, mengangkut perlengkapan dan kemudian menatanya di tepian Sungai Mahakam.
Dilaksanakan di ruang terbuka maka hujan menjadi musuh yang paling utama. Ketika sore mendung dan berangin, hati dan pikiran para Gerilyawan Kamisan pun gundah gulana.
Ketika Aksi Kamisan terlaksana, mungkin hati lega. Sejenak bisa tenang, ngobrol bebas sambil nongkrong di warung angkringan.
Tapi esok hari, selain memikirkan mau Jum’atan dimana, mulai muncul pertanyaan ‘Apa tema Aksi Kamisan untuk minggu depan?”
Jika malam Sabtu, tema aksi belum muncul di WAG, maka raja teror akan segera bertanya “Hoy, apa tema untuk minggu depan?.”
Dan anda-anda mesti tahu, yang meneror itu tidak berada di Kalimantan Timur melainkan jauh disana, di Kalimantan Utara.
Itu baru isi, tema dan tetek bengeknya yang sudah membuat 6 hari dalam seminggu dipenuhi stres. Belum lagi bicara soal uang. Sebab mesti ada uang yang dikeluarkan untuk melaksanakan aksi. Uang untuk membayar sound system, uang listrik dan percetakan spanduk.
Darimana uang itu datang sampai ada yang tega mengatakan dapat uang dari cukong?
Sekali lagi anda mesti tahu, bahwa ada orang-orang baik yang tak punya kepentingan apapun dengan Aksi Kamisan yang rela menyumbang setiap bulannya. Mulai dari 100, 200 hingga 500 ribuan. Dan tentu saja juga sumbangan lainnya seperti biaya sewa sound yang tak normal tarifnya dan juga mobil untuk mengangkut peralatan.
Pada dasarnya Aksi Kamisan Kaltim ngos-ngosan. Laporan keuangannya pada akhir bulan bisa kerap minus. Untuk menutupinya terkadang mesti todong sana todong sini biar seimbang, bukan berlebih.
Namun yang paling penting tak ada item dalam laporan keuangan berisi narasi untuk membayar jasa seseorang selain yang menyediakan sound system, listrik dan cetakan.
Karena tahu seperti itu maka setiap kali ada pertanyaan soal bagaimana agar Aksi Kamisan Kaltim bisa lebih baik ke depan, bisa lebih punya dampak untuk masyarakat, saya tak berani mengatakan banyak.
Tentu saja sebagai warga sipil saya punya banyak harapan, namun rasanya tak adil untuk menambah beban pada pundak mereka yang sudah jumpalitan menjaga Aksi Kamisan Kaltim hingga melampaui usia 5 tahun.
Maka saya hanya bisa berjanji diam-diam untuk hadir dalam diskusi proyeksi yang rencananya akan diselenggarakan setiap hari Sabtu pada minggu terakhir dalam bulan di Taman Samarendah. Semoga diskusi proyeksi ini akan semakin meringankan beban para Gerilyawan Kamisan karena punya patokan tentang tema untuk Aksi Kamisan sebulan ke depan.
Akhirnya apa rahasia sehingga Aksi Kamisan Kaltim bisa melampaui usia balita?.
Tentu bukan karena ada cukong atau bandarnya, melainkan mereka yang mengerakkan terlahir dengan DNA sebagai mahkluk bahagia. Jadi stres sepanjang minggu terus menerus tidak membuat mereka putus asa, menderita berkepanjangan.
Makanya mereka tetap bisa berlawan dengan gembira.
note : sumber gambar – FATIH








