Rasanya hanya Hamid Awaludin yang sejak awal secara tegas mengatakan tidak percaya akan sumbangan sebanyak 2 trilyun dari ahli waris Alm. Akidi Tio sebagai bantuan untuk PPKM Darurat di Sumatera Selatan.

Disaat semua orang bertepuk tangan dan terpana terhadap kebaikan hati sebuah keluarga yang merelakan uang simpanan ayahnya, mantan Menkumhan dan Dubes Rusia serta Belarusia itu mengurai bahwa janji sumbangan besar seperti itu tidak masuk akal. Hamid dalam tulisan berjudul ‘Akidi Tio, 2 Trilyun dan Pelecehan Akal Sehat Para Pejabat’, memberi sejumlah rentetan contoh janji serupa di masa lalu yang ternyata tak pernah terbukti.

Memang banyak pertanyaan yang tidak terjawab sesaat setelah ada pemberitaan tentang sumbangan 2 trilyun yang secara simbolis diserahkan dalam sebuah upacara kepada Kapolda Sumatera Selatan.

Pertanyaan tentang siapa Akidi Tio itu. Sosok dengan kekayaan maha besar ini seolah luput dari sorotan. Entah karena rendah hati atau karena pintar menyembunyikan identitas.

Ilham Bintang seorang jurnalis senior yang tentu saja juga turut bersorak dan bertepuk tangan kemudian sadar bahwa penulisan berita tentang sumbangan itu dilakukan dengan cara yang tidak benar. Sebab wartawan hanya menulis dengan sumber pers release. Tidak ada satupun yang hadir dalam upacara serah terima simbolis itu. Gambar yang dimuat juga berasal dari sumber internal di kepolisian Sumatera Selatan.

Dahlan Iskan selama seminggu menulis kurang lebih 4 tulisan perihal sumbangan itu. Nadanya yakin tidak yakin. Dahlan lewat berbagai tulisannya berusaha menggali informasi dengan naluri jurnalistiknya untuk mengurai kisah dari keserbasedikitan informasi tentang Akidi Tio dan keluarganya, terutama putrinya yang tinggal di Palembang dan menyerahkan bantuan kepada Kapolda dengan didampingi oleh dokter keluarga.

Menggunakan seluruh koneksinya, Dahlan Iskan berhasil mendapat sumber-sumber penting yang paling tidak bisa membuat rencana sumbangan 2 Trilyun adalah realitas bukan sekedar janji.

Sama seperti banyak orang lainnya, Dahlan Iskan tentu saja gembira andai sumbangan itu terbukti.

Saya sebagaimana banyak orang lain juga terkagum-kagum ketika mendengar berita tentang sumbangan 2 Trilyun itu. Meski kemudian ada pertanyaan besar di hati soal siapa keluarga ini. Jejak digitalnya keluarga kaya ini tidak ada di internet, sesuatu yang sangat langka.

Di tengah kondisi masyarakat dan pemerintahan yang tengah terpuruk, kabar tentang sumbangan sukarela yang maha besar memang ibarat siraman air dingin ditengah hari panas. Sulit untuk menduga kalau itu hanya mengada-ada. Jumlah itu memang mengagetkan, bahkan bisa bikin gugup yang diberi tanggungjawab untuk menerimanya.

Angka besar itu memberi harapan, bahwa masih ada solidaritas tanpa batas di tengah penderitaan bangsa. Saking besarnya rasa sukacita maka bahkan ketika dalam diri kita muncul kecurigaan maka diri kita sendiri yang mengingatkan untuk berprasangka baik.

Keanehan atau kejanggalan kemudian kita abaikan. Seperti Dahlan Iskan yang mengatakan foto rumah, anak perempuan Akidi Tio memang bagus tapi jelas bukan tipikal rumah orang kaya. Soal kekayaan yang tidak terlihat disini, Dahlan juga berujar bisa saja itu simpanan lama, ketika orang-orang keturunan Tiongkok tidak merasa aman di Indonesia sehingga menyimpan kekayaannya di luar negeri.

{ baca juga : Menunggang Algoritma Media Sosial }

Kita manusia memang selalu menyangka atau menganggap diri sebagai mahkluk rasional. Namun dalam kenyataan untuk menjalani hidup dari hari ke hari sebagian besar yang kita pakai adalah otak emosional kita.

Kita lebih memilih untuk tidak mempersoalkan tentang benar atau tidak benar melainkan soal suka atau tidak suka, menyenangkan atau menyengsarakan. Kebenaran bagi kita bukan kebenaran rasional melainkan kebenaran karena kepercayaan, kebenaran otoritatif.

Pandemi Covid 19 yang sudah satu setengah tahun lebih, semua kehidupan lesu, jumlah kasus naik turun, rumah sakit penuh, banyak pasien ditolak, sirene terus meraung-raung, pengusaha, pedagang baik kecil maupun besar sudah berteriak, mulai terjadi penutupan usaha di sana-sini. Situasi yang bisa diibaratkan antara hidup dan mati.

Dalam kondisi sekarang hampir tak ada orang yang merasa hidupnya tidak dalam ancaman. Dalam kondisi seperti itu maka berita gembira, sesuatu yang memberi harapan selalu dengan mudah akan menjadi pilihan untuk dipercaya. Menjadi kritis atau skeptis akan semakin menyiksa hidup yang sudah tersiksa.

Dan begitulah cara kerja otak manusia yang lebih memilih untuk memakai otak emosionalnya. Ketika sudah suka dan percaya pada sesuatu maka akan mengabaikan informasi lainnya. Emosi memang tak akan memperdulikan logika.

Inilah yang kemudian diingatkan oleh Hamid Awaludin agar kita tak mudah terpana sehingga melakukan kesalahan berpikir atau gagal paham. Maka atas sesuatu yang teramat mulia sekalipun harus dihadapi secara skeptis alias tidak percaya begitu saja sebelum terbukti ada atau benar.

Akidi Tio disebut sebagai pengusaha sukses. Mana buktinya, Dahlan Iskan dan Ilham Bintang sudah bertanya kepada orang-orang yang dianggap punya banyak pengetahuan tentang dunia usaha, tidak beroleh jawaban yang memuaskan perihal jejaknya di dunia usaha.

Bagaimana mungkin orang yang bisa mengumpulkan uang dalam jumlah sangat besar tidak terdeteksi bidang usahanya?.

Pun juga jejak dalam catatan lembaga keuangan atau pajak. Jika Akidi Tio adalah pengusaha sukses dan anak-anaknya juga pengusaha sukses sehingga tak tergiur oleh uang warisan ayahnya itu, harusnya lembaga keuangan atau lembaga perpajakan pasti mempunyai catatan.

Dan Hamid Awaludin menegaskan bahwa yang menjadi persoalan justru para pejabat, pembesar negeri yang kerap terlalu mudah percaya atau menerima mentah-mentah hingga kemudian mengupacarakan penyerahan bantuan yang pada akhirnya adalah bodong.

Masyarakat akan menjadi sekumpulan orang yang tak rasional jika para pemimpin, pembesar dan pejabat-pejabatnya juga tidak rasional.

Kisah 2 trilyun ini bukan yang pertama. Di masyarakat kita kerap ada cerita tentang kerajaan ini dan itu yang mempunyai uang segunung tersimpan di luar negeri. Jumlah uang yang cukup untuk membayar hutang republik ini.

Selain itu kita juga kerap percaya bahwa di satu tempat tertentu tersembunyi bongkahan emas yang maha banyak, yang sengaja disembunyikan oleh pembesar di masa lalu. Harta itu juga cukup untuk membayar hutang dan mensejahterakan rakyat jika dibagi-bagi.

Mengkritisi keyakinan seperti itu akan membuat kita diserang. Dan nanti saat sudah berdebat panjang pada akhirnya yang percaya itu akan mengatakan “Apa ruginya kita yakin, kalau ada kan kita dapat untung, tapi kalau tidak kan nggak rugi juga”

Kebenaran yang bias keyakinan jelas merupakan sebuah kesalahan nalar. Kesimpulan bahwa ada dana revolusi, harta karun, simpanan di luar negeri adalah jumping conclusion, kesimpulan yang ditarik begitu saja atas dasar bukti yang lemah, hanya bermodal cerita atau bahkan mimpi.

{ baca juga : Melihat Wajah News Feed Kita }

‘Ojo gumunan’  sebuah filosofi jawa yang amat dikenal karena memberi nasehat arahan agar tidak mudah punya rasa kagum yang berlebihan atas sesuatu.

Meski begitu, tidak mudah rasanya untuk tidak gumun pada sumbangan sebesar 2 trilyun itu. Walau tahu itu tidak umum namun kesadaran untuk curiga soal apa-apa di balik sumbangan itu menjadi cepat kita tepis.

Apalagi sejak awal bangunan narasinya begitu meyakinkan. Yang berbicara soal sosok Akidi Tio dan keluarganya adalah seorang yang sangat terhormat. Dokter keluarganya, seorang yang sangat dikenal dan terhormat di Palembang. Dokter ini memberi kesaksian bahwa keluarga ini memang merupakan keluarga filantropis, kerap membantu orang yang berkesusahan tanpa melihat latar belakang. Dan mereka selalu tidak mau dikenal saat membantu.

Selain mengenal dan dikenal oleh Kapolda, sosok besar lain yang semakin membuat orang yakin adalah endorse dari ketua DPR RI yang menyatakan Akidi Tio punya perkebunan sawit yang besar dan dulu memulai bisnis dari pabrik kecap.

Menyaksikan bincang-bincang dalam channel you tube Helmy Yahya, tentu saja kebanyakan orang akan menjadi yakin bahwa  sumbangan itu memang ada dan akan segera diserahkan. Uang sudah ada di bank dan akan segera ditransfer untuk mengantikan uang stereofom yang diterima secara simbolis oleh Kapolda Sumatera Selatan.

Nampaknya memang kagum atau kagum sekali adalah sebuah pilihan logis. Sebab tak pantas rasanya nyinyir pada orang yang berencana menyumbangkan kekayaannya. Julid terhadap rencana kebaikan adalah haram.

Jaya Suprana konon sudah menyiapkan penghargaan rekor muri. Begitu uang ditransfer, penghargaan akan diberikan. Pelukis Hardy juga sudah menyiapkan sebuah kenang-kenangan, lukisan dari Akidi Tio, namun kemudian dikoreksi karena yang digambar ternyata wajah dokter Hardi Darmawan.

Senin, 2 Agustus 2021, ‘Pitis’ yang bikin menangis haru ternyata berubah menjadi drama. Yang mau menyumbangkan uang ternyata dijemput polisi. Secara cepat ditetapkan menjadi tersangka dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara karena dianggap melakukan penghinaan pada negara. Namun kemudian status itu dikoreksi.

Apapun statusnya yang jelas drama sumbangan 2 trilyun menjadi berubah. Sebagian menyebut sebagai prank, ada juga yang mengatakan sebagai hoaks dan kebohongan publik.

Andai kemudian nanti terbukti sumbangan itu tidak ada tak perlulah kita sedih apalagi sampai menangis sambil guling-guling. Cukuplah saja meringis untuk menyadari diri bahwa sebagian besar dari kita adalah manusia seperti biasanya. Manusia emosional bukan manusia rasional.

Berpikir rasional seperti yang ditunjukkan oleh Hamid Awaludin tentu tidak gampang, selain tak mudah gumun juga butuh keberanian untuk menentang arus yang berkembang. Di media sosial sebuah kebohongan jika dipercaya oleh banyak orang akan menjadi sebuah kebenaran.

Dan siapa yang berani melawan netizen?

note : sumber gambar – beritagar.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here