Tak perlu malu jika kita terperdaya sebab sejak semula peradaban manusia memang dibangun dengan cerita tentang hal-hal yang tidak sebenarnya.

Bahkan untuk hal-hal yang jelas merupakan tipuan, kita masih saja terpana seperti saat menonton sulap dan film. Kepercayaan kita tentang hantu misalnya banyak dipengaruhi oleh film. Apa yang kita ceritakan tentang hantu adalah hantu-hantu yang dipopulerkan oleh film.

“Selamat datang di dunia tipu-tipu,” begitu ujar mereka yang sinis pada media sosial.

Memang tipu-tipu di media sosial berbentuk banyak rupa. Ada yang dengan mudah bisa segera diketahui, namun tak sedikit juga yang sulit.

Di media sosial yang sering bikin kesal adalah makin tipisnya perbedaan antara fakta dan fiksi. Misinformasi dan disinformasi bertebaran. Tidak semuanya merupakan informasi atau berita palsu.

Beberapa wajah tipu-tipu itu antara lain :

Satir atau parodi – maunya memang seru-seruan atau lucu-lucuan, tidak mengandung niat jahat namun tetap bisa mengecoh. Dan ketika menyangkut sosok tertentu yang populer, bisa jadi orangnya tidak tersinggung, tapi fans-nya bisa ngamuk.

Konten menyesatkan – informasi dibuat menyesatkan dengan tujuan menjelekkan, memojokkan atau menyerang pokok persoalan atau orang tertentu.

Konten tiruan – ada informasi asli namun kemudian ditiru atau dicatut.

Konten palsu – niatnya memang jahat untuk menipu dengan konten yang isinya informasi palsu.

Koneksi yang salah – judul, foto ilustrasi, thumbnail tidak berhubungan dengan isi. Sering kali disebut sebagai clickbait.

Konteks yang salah – bersumber dari konten asli namun kemudian disajikan dengan narasi dan dalam konteks yang berbeda atau salah.

Konten manipulasi – ketika konten asli, foto dan narasi kemudian diedit atau dimanipulasi.

Untung saja dengan banyaknya tipu-tipu di media sosial muncul banyak polisi, detektif dan mahkluk-mahkluk kepo yang rajin membongkar aksi para penyesat di media sosial.

Meski banyak juga yang terkecoh, tertipu atau ikut arus namun biasanya tak lama kemudian akan muncul berbagai peringatan.

Penyedia layanan juga mulai memasang perangkat dan perangkap untuk meminimalisir konten-konten seperti diatas.

{ baca juga : ‘Pitis’ Yang Bikin Menangis, Bagaimana Otak Bekerja }

Berbagai macam media mulai mengalami senjakala. Namun media tetap saja merupakan sebuah kekuatan yang dahsyat sebagai rujukan informasi masyarakat.

Media massa yang kini bermetamorfosis dan mencoba bertahan dengan format digital, meski banyak yang merasa kecewa dan kesal masih punya pengaruh besar terhadap masyarakat.

Apa yang diberitakan oleh sebuah media biasanya lebih lengkap dan meyakinkan ketimbang yang disiarkan oleh orang per orangan di media sosial.

Namun dengan alasan kecepatan dan eklusifitas untuk mengejar views atau hits berkali-kali media melakukan kecerobohan. Memberitakan sesuatu yang menimbulkan kehebohan di masyarakat namun ternyata omong kosong alias bohong.

Tahun 2017 lalu ramai diberitakan tentang the next Habibie , kisah tentang seorang ilmuwan Indonesia di luar negeri yang punya prestasi besar dalam bidang kedirgantaraan di Eropa.

Namanya Dwi Hartanto, mulai diberitakan setelah mengikuti pertemuan para peneliti diaspora yang mengajar dan meneliti di berbagai negara. Pertemuan bertajuk Visiting World Class Professor diselenggarakan oleh Kemenristek Dikti bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional tanggal 17 -24 Desember 2016.

Dwi mengaku sebagai post-doctoral Asisten Profesor di Technische Universiteit {TU} Delf dalam bidang aerospace. Penelitiannya tentang teknologi satelit dan pengembangan roket.

Untuk lebih menyakinkan klaimnya, Dwi menyertakan berbagai foto termasuk foto template check hadiah yang kemudian diunggahnya ke media sosial.

Dalam wawancara di program Mata Najwa, Dwi sempat menguraikan proyek strategisnya digunakan pada Stasiun Luar Angkasa Internasional {ISS}.

Mengaku pernah bertemu dengan Habibie di Belanda, nyatanya Habibie tidak mengenalnya.

Akhirnya kebohongan Dwi terbongkar. Dia memang sedang mengambil doctoral di TU Delf namun bukan dalam bidang aerospace, melainkan intelligent system khususnya virtual reality.  Beasiswanya bukan dari luar negeri melainkan dari Kominfo.

Nama Dwi terlanjur moncer, memberi harapan pada bangsa Indonesia akan lahirnya penerus Habibie. Ternyata itu harapan palsu, sebab para penulis berita tidak menelusuri lebih jauh, hanya menerima mentah-mentah apa yang dikatakan oleh Dwi.

Penulis berita dan media percaya begitu saja, apalagi Dwi mengikuti sebuah pertemuan bergengsi dan pernah mendapat penghargaan dari Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri.

Ada cacat prosedur dalam penulisan berita karena tidak dilakukan check dan recheck. Penulis berita melakukan kesimpulan yang melompat, tidak dilengkapi dengan fakta-fakta pendukung yang relevan.

Padahal Dwi adalah anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia, pasti teman-temannya di PPI mengetahui siapa dia sebenarnya.

Kisah yang wow namun berujung bodong banyak kali terjadi dalam pemberitaan media kita dan kemudian viral karena disebarluaskan melalui media sosial.  Kisah tentang pelajar yang memenangkan penghargaan dalam sebuah lomba di Korea Selatan, berujung pada pembabatan pohon bajakah di hutan-hutan.

Bajakah diperjual belikan dimana saja, entah bajakah yang mana yang berkhasiat untuk menyembuhkan kanker karena ada banyak jenis tanaman bajakah, bahkan diantaranya ada yang beracun.

{ baca juga : Menunggang Gelombang Algoritma Media Sosial

Drama sumbangan dari keluarga almarhum Akidi Tio sebesar 2 trilyun bukanlah akhir dari kisah panjang berita yang mengembirakan namun memperdaya. Kisah-kisah seperti itu akan terus berulang seperti kisah tentang pengandaan uang dan money game yang tak henti terus terjadi.

Dan para penulis berita meski fasih soal SOP penulisan berita tetap saja tak akan lepas dari kecerobohan dan salah prosedur.

Peristiwa atau kejadian yang punya daya tarik besar memang kerap membutakan prinsip dasar dalam jurnalisme yaitu skeptis. Seorang penulis berita atau pewarta mestinya menyingkirkan semua rasa sungkan, tidak enak dan lain sebagainya untuk tetap bersikap tak percaya begitu saja, sebelum bukti-bukti meyakinkan.

Terkait  dengan sumbangan 2 trilyun sebenarnya sejak awal sudah muncul berbagai kecurigaan. Tidak ada jejak catatan konglomerasi dari keluarga Akidi Tio yang membuat kekayaan maha besarnya bersumber dari aktivitas usaha yang terang benderang.

Kalaupun memang ada, dimana uangnya dan dalam bentuk apa juga tidak terkonfirmasi dengan jelas. Sumber untuk meyakinkan hanya berasal dari sumber sekunder, berupa kesaksian dari pihak yang dikenal dekat dengan keluarga itu.

Terjadi biasa konfirmasi.

Tercatat dua orang yang sangat getol mencari informasi terkait Akidi Tio yaitu Dahlan Iskan dan Ilham Bintang. Dua tokoh pers yang tetap berusaha menulis dengan prinsip-prinsip jurnalistik.

Meski secara subyektif mereka berharap bahwa sumbangan itu nyata, namun mereka berdua mengakui ada banyak ruang gelap di balik peristiwa serah terima uang stereofoam bernilai 2 trilyun dalam upacara yang dihadiri orang-orang terhormat di Sumatera Selatan itu.

Ilham Bintang nampaknya sudah menyerah. Mengajak move on semua pihak untuk tidak lagi berharap. Namun Dahlan Iskan belum karena sudah merasa kepalang basah. Andai saja bukan dalam masa pandemi, Dahlan akan pergi ke Singapura untuk menelusuri jejak dan kiprah serta kekayaan tersembunyi Akidi Tio disana.

Andai itu terjadi mungkin Dahlan Iskan bukan hanya akan melahirkan tulisan berseri-seri di disway tapi juga sebuah novel yang berpotensi untuk menjadi buku best seller.

note : sumber gambar – suara.com 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here