Jurnalisme secara sederhana bisa dipahami sebagai berkisah atau bercerita dalam bentuk berita yang mempunyai suatu tujuan. Dalam cerita itu selalu tersirat sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya kepada para pembaca, pendengar dan pemirsa.

Kisah atau cerita selalu mempunyai tema yang diangkat dari sebuah peristiwa.

Tidak semua hal bisa diangkat menjadi sebuah berita, penilaian atas sebuah peristiwa selalu dilakukan oleh jurnalis untuk menentukan apakah bernilai berita atau tidak.

Dunia jurnalistik mempunyai seperangkat nilai yang disepakati perihal kelayakan berita. Nilai-nilai inilah yang dipakai sebagai patokan oleh penyelenggara media untuk menentukan apakah sebuah kisah atau cerita layak untuk dipublikasikan.

Nilai-nilai tersebut antara lain :

Dampak – sebuah peristiwa diangap punya nilai berita jika mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Aktualitas – peristiwa terkini selalu mempunyai nilai berita yang lebih baik ketimbang yang lalu, ada unsur kebaruan dan kesegaran.

Daya Tarik – hampir mirip seperti dampak, namun lebih meyangkut pada sejumlah nama besar, peristiwa besar, unsur yang mengambarkan seberapa besar pengaruhnya terhadap masyarakat atau publik.

Kedekatan – orang akan tertarik pada sebuah cerita yang terkait dengan dirinya, baik secara fisik atau emosional. Orang akan lebih tertarik membaca berita tentang kejadian di daerahnya, atau tentang kelompok yang dekat dengannya.

Keanehan dan Keganjilan – kejadian, perilaku, kebiasaan yang tidak biasa baik berupa peristiwa alam, kelakuan dan tampilan orang serta mahkluk hidup lainnya selalu menarik perhatian. Apapun yang menyangkut keanehan atau keganjilan selalu asyik untuk dibicarakan.

Konflik – konflik atau peperangan selalu mempunyai nilai berita karena biasanya akan melibatkan emosi, pro dan kontra. Yang disebut konflik tidak selalu punya cakupan besar, antar negara melainkan juga konflik antar individu atau kelompok, sentimen antar group dan lainnya.

Minat Insani – manusia selalu ingin tahu tentang orang lain. Maka kehidupan baik dalam suka maupun duka dengan segala pergulatannya selalu akan menarik perhatian. Minat insani sebenarnya lebih bernilai cerita ketimbang berita. Cerita tentang orang, perjuangannya, ambisi, kesuksesan, jatuh bangun, segala sesuatu yang akan menimbulkan empati, simpati, inspirasi, motivasi dan lain sebagainya.

Terkemuka atau Kemahsyuran – cerita tidak selalu tentang peristiwa namun juga tentang orang. Kisah tentang orang ternama, terkenal atau terkemuka akan selalu menjadi berita. Mereka disebut sebagai pembuat berita. Sosok ini meliputi kaum selebritas, pejabat atau petinggi negara, politisi, pengusaha, anak pengusaha atau penguasa dan lain sebagainya.

Kekinian – hampir mirip seperti aktualitas, namun kekinian lebih menyangkut pada trend, kecenderungan apa yang tengah berlaku dalam masyarakat. Hal ini menyangkut isu atau perilaku  serta perkembangan yang tengah menjadi sorotan dalam masyarakat.

Dengan memakai patokan nilai diatas seorang penulis atau jurnalis kemudian akan menilai bagaimana sebuah peristiwa akan disajikan dalam karyanya dan dengan genre tulisan seperti apa. Menilai sebuah peristiwa dengan nilai berita juga memberi gambaran bagi penulis perihal siapa yang akan menjadi tujuan atau sasaran dari beritanya.

{ Baca Juga : Melihat Wajah News Feed Kita }

Internet dan media sosial serta platform perpesanan lainnya merubah kebiasaan masyarakat dalam pencarian informasi.

Di dunia mayantara ini kita memang bisa menemukan banyak informasi yang berguna, termasuk berita-berita. Namun informasi berlimpah ruah, karena kisah atau cerita tidak hanya diproduksi oleh lembaga publikasi atau pers, melainkan juga oleh para influencer, endorser, pakar, reviewer, buzzer dan pemakai media sosial lainnya.

Informasi di dunia mayantara menjadi tidak terkontrol karena tidak diproduksi dalam sistem sebagaimana para jurnalis bekerja.

Akibatnya banyak cerita atau kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mencampurkan antara fakta, opini dan fiksi. Ada banyak cerita dan kisah yang dimanipulasi. Ada banyak gambar yang diedit atau direkayasa.

Kabar bohong atau yang sengaja berbohong kemudian menyebar karena kebiasaan para pemakai sosial media yang gemar berbagi link berita dan informasi tanpa mengecek terlebih dahulu kebenarannya.

Banyak orang tidak menyadari bahwa media sosial dilengkapi dengan kecerdasan buatan untuk memantau perilaku penggunanya. AI akan memprofilkan pengguna media sosial dan kemudian akan memberi asupan informasi sesuai dengan kesukaan atau kebiasaannya.

Facebook misalnya akan memfilter informasi berdasarkan like dan klik. Jika kita pernah mengklik iklan sepatu misalnya maka di halaman kita kembali akan muncul iklan sepatu dan barang lain yang berhubungan dengannya.

Sementara Instagram akan memprofil penggunanya berdasarkan apa yang sering dicari. Maka begitu mengklik kolom pencarian akan muncul segala sesuatu yang berhubungan dengan apa yang sering kit acari, meski kita belum mengetik kata kunci.

Twitter juga demikian, apa yang sering dicari di kolom pencarian kemudian akan dipakai jadi patokan di dalam notifikasi.

Apa yang sering kita tonton di youtube juga akan dipantau sehingga begitu kita membuka youtube akan muncul video-video rekomandasi yang dipilih oleh youtube berdasarkan bacaan atas tontonan kesukaan kita.

Itulah yang disebut algoritma, sebuah perangkat aturan matematik yang menentukan bagaimana sekelompok data berperilaku.

Media sosial selalu dilengkapi dengan algoritma dan kecerdasan buatan untuk membacanya karena media sosial adalah belantara. Ada gelembung besar informasi disana yang perlu dikelola.  Dengan algoritma sebuah platform media sosial akan memfilter informasi, melakukan validasi dan menempatkan berdasarkan peringkat di sebuah akun media sosial.

Masing-masing platform mempunyai sistem atau algoritmanya sendiri yang tidak selalu dengan mudah dibaca oleh pemakainya. Algoritma juga akan diperbaharui secara berkala berdasarkan pengembangan bisnis dari masing-masing platform media sosial.

Mengetahui secara umum algoritma dari masing-masing platform media sosial penting untuk para pengguna agar tahu asupan konten apa yang akan muncul di akun media sosialnya. Namun pengetahuan tentang algoritma juga penting agar pemakai media sosial bisa membuat konten yang kemudian akan menjangkau banyak orang, menjadi viral atau menduduki trending topic.

Pengetahuan tentang algoritma media sosial teramat penting terutama untuk mereka yang berprofesi sebagai juru kampanye baik sukarela maupun dibayar, aktivis informasi, pemasar digital, influencer dan juga buzzer. Tanpa pengenalan atas algoritma informasi, pesan atau apapun yang disampaikan akan tersesat dalam gelembung besar.

Dengan algoritma sebuah informasi yang di broadcasting kemudian akan mengarah menuju sasaran atau narrowcasting.

{ baca juga : Diet Media Sosial }

Media sosial secara umum bersifat gratis meski ada fitur-fitur yang berbayar. Namun memakai yang sepenuhnya gratis sudah cukup untuk hampir sebagian besar pemakainya. Namun jangan menyangka bahwa para pembuatnya adalah orang-orang baik hati dan tak ingin mendapat untung.

Bagaimanapun pembuat atau penyedia layanan media sosial adalah pelaku bisnis. Membebaskan orang untuk memakainya bukan berarti mereka sedang membakar uang. Ini adalah sebuah strategi untuk mendulang uang. Dengan mengratiskan maka akan banyak orang memakai, jumlah pemakai yang besar inilah yang kemudian di-monetisasi.

Dan disinilah perlunya sebuah algoritma. Maka untuk memahami algoritma menjadi sesuatu yang ‘susah susah sulit ‘ karena algoritma bukanlah sesuatu yang akan diberitahukan oleh penyedia layanan sosial media, algoritma tidak akan dibuka secara transparan, terkecuali sudah tidak dipakai lagi.

Like, share, subscribe dan comment yang kerap diucapkan oleh para content creator di youtube adalah sebuah simpulan atas analisis, bacaan atau prediksi para pengamat youtube atas algoritmanya.

Namun itu hanya rumus umum yang tidak akan selalu ampuh untuk siapapun yang mulai menjadi youtuber. Masih ada syarat-syarat lain agar bisa mendapat jumlah subscriber yang besar, jam tonton yang tinggi sehingga channelnya bisa di-monetize.

Sekali lagi meski yang disebut algoritma media sosial adalah rahasia dapur dari masing-masing platform untuk mencapai tujuan bisnis mereka, namun sebagai pemakai kita bisa menduga-duga. Dan dugaan-dugaan umum itu akan memberi gambaran tentang konten seperti apa yang akan menarik perhatian para pemakai media sosial, konten yang selalu akan muncul di bagian teratas para pemakainya.

Hal yang umumnya dipakai untuk menarik perhatian yang pertama adalah judul. Judul dan foto, gambar, meme atau thumbnail harus menarik. Ya menarik bukan bagus.

Maka sering kali dalam media sosial dikenal istilah clickbait. Judul yang membuat orang tertarik untuk membuka, membagi bahkan tanpa membaca lebih dahulu dengan tuntas.

Cara lain adalah mengikuti prinsip jurnalistik soal aktualitas dan kekinian. Ikuti saja apa yang sedang panas, yang sedang jadi obrolan banyak orang, kalau perlu lebih panas lagi membahasnya untuk menambah peluang baru. Istilahnya Menunggang Angin atau Gelombang. Lahirkan kontroversi agar kemudian ada kesempatan untuk melanjutkan dengan klarifikasi.

Collabs or Collaps, ini berlaku terutama untuk konten media sosial yang berbasis audio dan vidual. Berkolaborasi dengan mereka yang ‘ternama’ akan membuat konten kita lebih punya peluang untuk menjangkau lebih banyak orang. Istilahnya populernya Panjat Sosial.

Call to action, ini penting untuk menaikkan engagement rate yang berujung pada like, comment dan share. Permintaan ini disampaikan secara ekplisit atau dengan cara membuat konten yang sungguh baik dan bermutu. Oh, iya kalau malu melakukan permintaan langsung karena norak dan tak punya kemampuan untuk membuat konten yang secara konsisten bermutu, ya sediakan hadiah atau pancingan, istilahnya adalah Give Away, dengan syarat follow, add, share, like, comment dan subscribe.

Itulah formula umum untuk berselancar dan bertumbuh bersama algoritma. Namun karena sudah umum maka semua orang melakukan hal itu sehingga tidak ada jaminan akan berhasil.

Berhasil atau gagal, itulah algoritma yang memang bisa jadi madu atau racun bagi para pemakai media sosial.

Maka menjadi penting untuk selalu bijaksana ketika online dan berpikir sebelum posting.

note : sumber foto – tirto.id 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here