Takut ketinggalan menjadi fenomena yang mengiringi kemunculan media sosial di internet. Banyak orang terkena Fear Of Missing Out {FOMO}.

FOMO mengacu pada munculnya kekhawatiran dalam diri seseorang karena merasa tidak mengetahui atau melewatkan sebuah peristiwa, pengalaman hidup atau apapun yang bisa membuat hidup menjadi lebih baik, up to date atau tak ketinggalan jaman.

Dengan melewatkan sesuatu seseorang merasa ketinggalan dengan orang lain, kehilangan kesempatan untuk melakukan sesuatu dan lain sebagainya.

Takut ketinggalan, khawatir kalau nanti perbincangan tidak nyambung, membuat seseorang kemudian terus menerus kepo, tak meluangkan waktu sedikitpun untuk melihat atau melirik news feed media sosialnya nya.

Sebuah survey yang dilakukan oleh perusahaan riset GlobalWebIndex yang bermarkas di London menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan oleh netizen untuk mengakses sosial media secara global meningkat rata-rata 60% selama tujuh tahun terakhir. Di tahun 2019 rata-rata penggunaan media sosial menjadi sekitar 143 menit.

Sebenarnya sulit menghitung berapa persisnya seserang mengakses media sosial. Sebab tidak selamanya seseorang meluangkan waktu secara khusus untuk melihat-lihat atau mengirimkan pesan atau memposting sesuatu di media sosial.

Namun yang pasti, berbeda dengan jaman PC, di masa smartphone ini umumnya akun media sosial seseorang terus menerus hidup, log in dan log out menjadi fungsi yang sangat jarang digunakan. Sehingga setiap waktu seseorang selalu terhubung dengan akun media sosialnya selama smartphone tidak low bat dan tidak sedang fakir kuota.

Smartphone jarang sekali lepas dari pegangan dan genggaman tangan. Hanya terlepas kalau sang empunya tidur. Bahkan saat mandipun banyak yang membawa serta smartphonenya.

Karena selalu lekat maka wajar jika sesedikit jari akan menyentuh untuk mengaktifkannya, melihat notifikasi yang masuk.

Dan spektrum media sosial menjadi luas karena aplikasi perpesanan seperti Whatsapp, Telegram, Line, MiChat, WeChat dan lain sebagainya. Lewat aplikasi perpesanan ini akan dipertukarkan link, capture-an, foto, meme, video dan lain-lain yang beredar di media sosial.

Keramaian di aplikasi perpesanan tidak akan kelihatan. Tapi kehebohannya akan terasa dalam perbincangan sehari-hari.

Sebenarnya ingin selalu tahu itu baik saja. Yang menjadi masalah jika rasa ingin tahu itu berlebihan terutama pada hal-hal yang tidak perlu. Hanya saja memilah mana yang perlu dan mana yang tidak butuh ketrampilan tersendiri.

Sering kali kita merasa sesuatu itu perlu jika banyak orang memperbincangkan, banyak orang membeli atau mengkonsumsi.

Maka takut ketinggalan dan takut tidak kekinian bisa membuat seseorang menjadi sangat konsumtif. Apa saja dikonsumsi tanpa pertimbangan yang dalam apakah diperlukan atau tidak.

{ baca juga : Diet Sosial Media }

Lain FOMO, lain pula Fandom.

Fandom adalah subkultur yang dibangun oleh sekelompok pengemar yang dicirikan oleh empati dan persahabatan dengan orang lain yang mempunyai kesamaan minat.

Kata fan berasal dari bahasa latin fanaticus yang berarti ‘gila tapi terinspirasi secara agung’.

Seseorang dikategorikan sebagai fandom jika memiliki hubungan emosional dengan yang dikagumi, mengidentifikasi diri dengannya dan rela mengeluarkan tenaga juga uang untuk apa atau siapa yang dikaguminya itu.

Dengan demikian seseorang bukan hanya sekedar suka pada seseorang, karya seseorang atau sesuatu yang lainnya, melainkan juga tercipta ikatan batin dengannya.

Pengemar cerita detektif Sherlock Holmes dianggap sebagai contoh fandom pertama di era modern. Saat sosok utama dibunuh oleh penulis pada tahun 1983, para fans menolak kematian Sherlok Holmes dengan turun ke jalan untuk melakukan protes. Dan Athur Conan Doyle penulisnya akhirnya menghidupkan kembali sosok sang detektif itu. Arthur kemudian menulis The Return of Sherlock Holmes.

Para fans garis keras sutradara Jack Schneider dengan hastag #ReleaseThe SnyderCut memaksa perusahaan film Warner Brothers untuk mengeluarkan film Justice League versi asli yang dibuat oleh Jack Schneider di HBO Max.

Dan baru-baru ini di masa pandemi masih merajalela, tiba-tiba kita dikejutkan oleh fans BTS yang disebut Army. Mereka bukan hanya loyal melainkan juga royal, sehingga tak peduli saat menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk menunjukkan kecintaan dengan membeli BTS Meal yang dijual oleh Mc D.

Dalam kajian psikologi, menjadi fandom dimasukkan sebagai kebutuhan dasar manusia terkait dengan validasi, kenikmatan dan kegembiraan. Tak heran jika kemudian fandom banyak diisi oleh remaja atau anak-anak muda. Karena mereka adalah kelompok yang masih mengejar jatidirinya.

Untuk anak-anak muda, fandom bukanlah sesuatu yang negatif karena merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok dapat membantu seseorang untuk menemukan identitas dirinya dan memberikan tujuan hidup.

Dr. Laurel Steinberg, seorang psikoterapis dan professor psikologi di Universitasa Columbia mengatakan “Terhubung dengan orang-orang yang mempunyai minat dan passion yang sama itu bagus untuk kesehatan mental dan emosional karena membantu untuk menciptakan rasa aman seperti persaudaraan atau keluarga,”

Lebih lanjut Steinberg menyatakan bahwa secara umum juga menyenangkan untuk merasa bersemangat tentang sesuatu dengan orang lain, dan memberi mereka topik untuk dibicarakan yang mereka tahu akan selalu diterima dengan baik.

{ baca juga : Akankah Kita Mengibarkan Bendera Putih? }

Ada batas-batas yang tak boleh dilewati soal kamauan, ke-serbaingintahuan dan kegemaran. Kita tidak boleh menjadi sangat konsumtif sehingga berlebihan, atau sangat mengemari sehingga menjadi obsesif.

Sesuatu yang berlebihan atau obsesif berpotensi untuk meleburkan fiksi menjadi kenyataan. Kita kemudian mempercayai dan menyakini yang tidak nyata sebagai sebuah kebenaran.

Dan di media sosial kita melihat ada banyak orang kemudian menjadi ‘sakit’. Orang yang cenderung melakukan kekerasan, menyerang orang lain yang dianggap tidak sepaham dengan dirinya. Membully atau menjelek-jelekkan mereka yang kritis terhadap pujaan hati mereka.

Sebuah watak yang sebenarnya bukan hanya buruk untuk diri mereka melainkan juga orang, brand atau sesuatu yang mereka kagumi atau sukai. Mereka-mereka ini bisa ikut kena getahnya.

Kita sebagai pemakai media sosial tak bisa mencegah berbagai fihak yang memakai fenomena FOMO atau Fandom untuk aneka keperluan.  Fenomena ini terutama banyak dipakai oleh berbagai produsen untuk memasarkan produk mereka lewat berbagai skema.

Tapi tak tertutup juga fenomena ini dipakai untuk kepentingan sosial politik. Dan kita sudah menyaksikan betapa tahun politik 2019, dampaknya masih terasa hingga sekarang.

Jadi perhatikan news feed media sosial kita.  Jangan bermain dengan FOMO dan Fandom karena keduanya ibarat api. Api memang bisa menghangatkan namun jika tidak terkontrol maka akan membakar. Dan api yang membara, terbakar berkobar-kobar akan susah untuk dipadamkan sebelum membakar habis semuanya.

note : sumber gambar – sehatq.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here