Otoritas kepolisian Malaysia dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa ada 468 kasus bunuh diri antara Januani hingga Mei 2021 berjumlah 468 kasus atau rata-rata terjadi 3 kasus bunuh diri dalam sehari selama diberlakukan Malaysian Movemen Control Order 3.0 {MCO}.

Kejadian bunuh diri selama lockdown total ini mendorong munculnya inisiatif dari sekelompok pemuda di Kuantan yang tentu kehilangan teman akibat bunuh diri karena kesulita keuangan yang parah.

Mereka kemudian melakukan gerakan dengan memakai poster di Facebook. Gerakan kemudian viral, poster mereka diadaptasi oleh yang lain. Gerakan ini mendorong warga untuk membantu masyarakat lain yang kesulitan. Caranya, mereka yang berkesulitan diminta untuk mengibarkan bendera putih.

Sampai dengan bulan Juli ini, bendera putih banyak bermunculan di lingkungan permukiman kelas menengah ke bawah dan pinggiran kota. Tetangga dan LSM kemudian sigap merespon untuk membantu.

Tak terkecuali dunia usaha, seperti swalayan yang kemudian menawarkan bantuan untuk mengirim makanan gratis kepada siapa saja yang membutuhkan. Ada banyak tawaran paket makanan untuk mereka yang ingin membeli dan akan diantarkan.

Muncul bank makanan dan tawaran gratis di berbagai tempat. Di pinggir jalan ada banyak meja berisi makanan atau bahan makanan kering yang diletakkan di depan toko atau pompa bensin untuk siapa saja yang membutuhkan.

Yang lain juga mengulurkan tangan untuk mengisi kembali meja atau rak yang telah kosong.

Mengibarkan bendera putih menjadi ikon tentang bagaimana masyarakat Malaysia memobilisasi langkah untuk saling membantu dalam menghadapi Covid 19, pada saat manajemen penanganan pemerintah dianggap tidak konsisten dan tidak logis.

Di negeri kita, inisiatif saling bantu juga muncul dalam berbagai tagar di media sosial. Gerakan bank makanan bahkan sempat muncul di masa awal pandemi Covid 19. Dan baru-baru ini viralitas muncul dengan sosok-sosok yang memborong makanan di warung atau kedai pedagang kecil yang tak laku untuk dibagikan.

Ada juga inisiatif dapur umum, untuk menyiapkan makanan siap saji kepada mereka yang menjalankan isolasi mandiri.

Selalu ada bukaan pintu altruisme, memberi tanpa pamrih, saling bantu di masa-masa sulit. Mereka yang hanya punya tenaga juga banyak membantu dengan menjadi relawan yang bekerja tidak kenal waktu.

Di tengah warta dan kabar yang mengusik nalar, tindakan yang menunjukkan kelebaran pintu nurani selalu menyejukkan. Menyiramkan air dan angin pengharapan bahwa bangsa ini masih seiring sejalan dalam menghadapi kesulitan.

baca juga : Mungkin Kita Berlebihan Hingga Kelebihan Penyakit

Mereka yang berlebih juga tak kurang cekatan. Ada sosok-sosok yang memberi bantuan tanpa diketahui atau menjadi viral. Menyumbangkan ini itu yang nilainya besar jika diuangkan.

Yang paling menghebohkan adalah prosesi penyerahan sumbangan atau hibah dari keluarga Almarhum Akidi Tio kepada Kapolda Sumatera Selatan untuk penanggulangan Covid 19. Jumlah hibah yang diserahkan dua ribu milyard atau 2 Trilyun.

Almarhum Akidi Tio adalah pengusaha asal Aceh yang sejak lama memang dikenal banyak membantu kegiatan sosial. Akidi Tio sendiri sudah meninggal karena serangan jantung pada tahun 2009 pada usia 89 tahun. Istrinya sudah meninggal terlebih dahulu pada tahun 2005.

Uang sebesar 2 trilyun itu merupakan tabungan pribadinya.

Akidi Tio mempunyai 7 orang anak, hanya satu putrinya yang tinggal di Palembang, anak-anak lainnya tinggal di Jakarta.

Bantuan diserahkan kepada Injen Polisi Eko Indra Heri, Kapolda Sumsel karena Pak Tio sudah lama bersahabat dengannya.

Akidi Tio tidak banyak yang mengenalnya. Dan kemudian kemurahan hati serta kerendahan hatinya yang harum tercium banyak orang disaat dia sudah meninggal.

Luar biasa, sebuah jumlah yang mungkin akan dicatat sebagai sumbangan warga untuk warga yang terbesar dan akan bertahan lama.

Rasanya semua video tentang sumbangan dari para selebritas yang diberi embel-embel ter dan dibuat konten harus di take down dari channel-channel youtube ternama di negeri ini. Sebab jumlahnya tak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang disumbangkan oleh keluarga Almarhum Akidi Tio.

Jumlah sebesar itu jika dibelikan vaksin mungkin akan membuat provinsi Sumatera Selatan atau sekurangnya Kota Pelembang, menjadi kota pertama di Indonesia yang bebas Covid 19.

Ada sebuah laporan penelitian di Brasil, sebuah kota bisa berhasil menurunkan angka kematian sebesar 95 persen setelah hampir semua orang dewasa divaksinasi.

Penelitian dilakukan di kota Serrana yang berpenduduk kurang lebih 45.000 jiwa. 75 persen warganya telah menerima vaksin dosis lengkap {dua kali} dengan Sinovac. Brasil adalah salah satu negara yang kepayahan menghadapi kasus Covid 19, kematian hampir mencapai setengah juta jiwa.

Vaksinasi massal dilakukan di Serrana sejak Februari hingga April oleh Institut Butantan. Kota dibagi menjadi empat wilayah untuk menentukan ambang batas guna menahan penyebaran virus. Dan setelah tiga silayah divaksin lengkap, atau sekitar 75% populasi diatas 18 tahun divaksin, peneliti menunjukkan hasil angka kematian turun 95 persen, rawat inap turun 86 persen dan kasus simptomatik turun 80 persen.

Efektifitas vaksin untuk mengendalikan pandemi bisa dicapai pada angka kunci 75 persen. Pandemi bisa dikendalikan tanpa harus menvaksinasi seluruh jumlah penduduk. Dengan demikian sekolah bisa dibuka kembali tanpa harus menvaksinasi anak-anak sekolah.

baca juga : Virus Apa Skripsi Kok Sering Direvisi?

Bendera putih yang dikibarkan di Malaysia menandakan warga butuh bantuan. Sementara di Indonesia, bendera putih tidak berkibat secara nyata. Namun tanda-tanda menyerah sudah kelihatan.

Adanya warga yang meninggal di depan pintu atau halaman rumah sakit karena tidak bisa diterima masuk adalah salah satunya. Banyak kisah lain tentang mereka yang tak tertolong karena tabung oksigen tengah dicari namun belum bisa ditemukan menjadi salah dua, tiga, empat dan seterusnya.

Pemberlakuan PPKM Mikro Diperketat, PPKM Darurat dan PPKM Level 4 belum menunjukkan signifikansi penurunan kasus dan kematian. Kebijakan moderatif yang mencoba mensinkronkan antara kesehatan dan ekonomi serta politik sepertinya bukan pilihan terbaik.

Negeri ini harus mengambil resiko, menjadikan kesehatan sebagai panglima.

Pilihannya kerahkan segala daya, tenaga dan uang yang kita punya untuk segera mencapai tingkat vaksinasi secara penuh sekurangnya pada 40 persen warga negeri ini. Kita hari ini menjadi salah satu yang paling rendah sedunia karena baru sekitar 6 persen yang menerima vaksinasi penuh.

Selain karena vaksinnya harus diimport, metode vaksinasi juga tidak jelas. Apakah berdasarkan wilayah atau kelompok umur. Setiap hari ada berbagai tawaran untuk vaksinasi yang diselenggarakan oleh ini dan itu, mereka yang sama sekali nggak ada urusan dengan kesehatan.

Bahwa data saat ini mudah disinkronisasi karena teknologi big data. Tapi kita mesti sadar bahwa singkronisasi di negeri ini selalu tidak mudah. Jadi sesuatu yang gampang selama berhubungan data selalu menjadi susah.

Keledai saja tidak jatuh dalam lubang yang sama, namun kita sebagai bangsa masih saja terjerumus dalam kesalahan yang sama saat menangani krisis. Kemajuan teknologi informasi, pengetahuan dan tata kelola kesehatan hanya menjadi lipstik. Polah dan perangai kita masih saja sama, bekerja tanpa koordinasi yang jelas, masih suka mengobral selebrasi disana-sini untuk menunjukkan kalau kita bekerja.

Yakinlah kita mempunyai banyak orang yang mampu untuk membantu. Mereka hanya butuh orang-orang yang dipercaya untuk menggunakan bantuan secara efektif untuk mengatasi pandemi.

Jack Ma pernah mengatakan bahwa mereka yang uangnya sudah melewati ribuan milyard pasti akan merasa bahwa uang itu bukan lagi milik mereka. Mereka pasti akan berpikir bahwa uang itu adalah milik masyarakat. Jadi mereka pasti rela menyerahkan uang itu untuk mendatangkan kebaikan bersama.

Yang diperlukan oleh mereka hanyalah orang-orang terpercaya untuk menyalurkan bantuan. Mewujudkan uang itu menjadi sesuatu yang menolong banyak orang, merubah kehidupan banyak orang.

Sayangnya hal itu sulit untuk ditemukan di negeri ini. Mereka yang menjadi harapan atau mau menjadi yang diharapkan malah lebih sibuk memasak wajah di baliho besar. Pamer wajah dan wejangan, yang tidak berhubungan dengan pandemi. Kita panen pemimpin yang tak malu memamerkan kualitas kepemimpinan yang rendah dan sense of crisis yang payah.

Kita kaya dengan pemimpin yang suka bertindak sebagai pemadam kebakaran, agar kelihatan bekerja, meningkat popularitas, citra dan tingkat keterpilihan. Motivasi tindakannya agar kelak terpilih lagi atau bisa menjadi wakil rakyat, bupati, walikota, gubernur atau presiden.

Jadi ayo kibarkan bendera putih. Jangan lagi malu berteriak untuk minta tolong. Jauh lebih baik untuk jujur ketimbang pura-pura kuat yang nanti malah bikin jadi kualat.

Di media sosial sudah mulai beredar tagar kepanjangan PPKM #petugaspartaikapanmundur.

Itu artinya netizen yang terhormat mulai bertanya “Kapan bendera putih akan dikibarkan?”

note : sumber gambar – Tempo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here