Lahir semasa Indonesia masih dirundung stress akibat komunisme, saya mengalami masa dimana masyarakat hidup dalam keadaan yang bakal disebut serba kekurangan di masa sekarang.

Saya di waktu itu biasa menemui keluarga-keluarga yang rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu dan beratap getepe, daun kelapa kering yang dirangkai dengan bilah bambu untuk menjadi atap.

Atap ditopang oleh usuk dan reng yang juga terbuat dari bambu. Di ujung lubang bambu penyangga atap itu saya dan teman-teman suka menangkap lawa yang bersembunyi. Dengan bantuan cahaya yang dipantulkan dari pecahan cermin lubang gelap ruas bambu itu kami terangi untuk melihat ada lawa yang sembunyi didalamnya atau tidak.

Pada keluarga-keluarga seperti itu amatlah biasa mereka hanya makan nasi dengan sayur yang dipetik dari pekarangan, parutan kelapa, minyak bekas gorengan ikan asin. Makan beramai-ramai, dijatah dalam piring masing-masing.

Makan lalu menyisakan nasi dalam piring akan dimarahi. Membuang-buang makanan menjadi perbuatan yang tercela.

Andai nanti ada sisa nasi maka akan dibuat kerupuk gendar atau dijemur jadi nasi aking.

Makan dengan lauk telur apalagi daging adalah istimewa. Makanan seperti itu hanya ada di hari-hari besar, hari istimewa.

Kadang hari istimewa itu datang tak sengaja, seperti ketika ada peliharan entah kambing atau sapi yang keracunan lalu terpaksa disembelih. Atau ketika ada yang butuh uang dan hanya punya binatang peliharaan, sebelum disembelih akan ditawarkan kepada tetangga untuk membeli secara patungan, istilahnya nempil.

Yang pasti makan pada waktu itu hanya saat lapar, makan untuk hidup.

Jajan?. Mana ada anak-anak yang diberi uang jajan harian oleh orang tuanya. Apa yang bisa dibuat di rumah akan dibuat bukan dibeli. Demikian juga dengan mainan, jarang sekali anak-anak membeli mainan. Makanya selalu ada musim mainan, trend yang tercipta karena apa yang dibuat oleh seseorang ditiru oleh yang lainnya.

Apapun jadi mainan, bahkan sisa-sisa tebangan pohon. Andai ada yang menebang pohon kelapa, maka akan diambil janurnya, untuk menjadi kitiran, wayang-wayangan bahkan bola kasti.

Kalau ada yang harus dibeli seperti bola plastik maka akan dipakai sampai hancur. Bola yang robek akan diisi dengan daun pisang kering atau klaras, lalu dijahit dengan tali plastik.

Dalam kondisi masyarakat seperti itu maka gendut menjadi istimewa. Berlemak menjadi tanda kemakmuran. Hanya orang-orang kaya saja yang badannya gemuk.

baca juga : Virus Apa Skripsi Kok Sering Direvisi?

Gencarnya pembangunan di masa pemerintahan Presiden Suharto yang dibiayai dari estraksi sumber daya alam, plus hutang kepada lembaga-lembaga pemberi hutang internasional menghasilkan banyak kemajuan secara visual dan faktual.

Dulu rumah gedong atau batu {semen dan batubata} adalah rumah orang kaya dan kini menjadi rumah biasa saja. Masyarakat secara konsumsi sudah berkelebihan, bahkan sebagian diantara berlebihan.

Dulu orang berusaha gemuk kini merasa kegemukan sehingga perlu diet.

Tubuh dengan semua kelebihan menjadi tempat yang ideal untuk tumbuhnya berbagai penyakit. Penyakit orang-orang makmur akibat kelebihan kalori, gula, lemak dan seterusnya.

Dulu bisa makan saja sudah bersyukur, kini makan bisa lebih dari 3 kali sehari, icip-icip, nyemil, snak, apapun namanya tetaplah makan.

Hormon lapar bukan karena dipicu oleh perut melainkan oleh mata yang melihat iklan dan hidung yang mencium bau dari berbagai resto, kedai atau gerobak yang bertebar di pinggir jalan. Tawaran diskon dari berbagai gerai franchise bisa membuat perut menjadi lapar.

Dalam arti yang lebih luas kelebihan atau berlebihan bukan hanya menyangkut konsumsi dan metabolisme tubuh, melainkan juga hal-hal yang lain. Kita berlebihan pakaian, sepatu, perabot rumah tangga yang mengakibatkan masyarakat di jaman kita menjadi produsen sampah terbesar. Melahirkan kerajaan baru yang disebut kerajaan sampah terutama plastik.

Dunia menjaga keseimbangannya dengan sikulus. Ada sebuah lingkaran yang disebut musim. Ada musim panas, musim dingin, musim gugur dan musim semi. Ada musim buah, ada musim bunga dan seterusnya.

Manusia dengan kemampuan, pengetahuan dan teknologi kemudian acapkali merubah siklus ini, menahklukkan sehingga musim panas tak kepanasan, musim dingin tak kedinginan. Buah-buahan berbuah sepanjang tahun, padi bisa ditanam sepanjang musim.

Sistem hidup dan penghidupan manusia kemudian tak lagi tergantung kepada siklus alam.

Pikiran dan ketrampilan manusia sudah melewati batas tubuh alamiahnya. Tapi tubuh tetaplah bagian dari tubuh biokimia alam. Ada kemestian-kemestian yang harus diikuti, ada gaya hidup yang harus dijalani. Melewati batas akan melahirkan resiko yang mengakibatkan gagal fungsi dan gagal kerja organ. Sinergi antar organ dalam tubuh bisa bermasalah.

Teknologi pengobatan medis memang mampu menurunkan kadar lemak berlebihan dalam tubuh, tekanan darah yang tinggi, kolesterol yang berlebih, asam lambung yang melimpah dan seterusnya.

Namun kemampuan ini akan selalu diuji oleh datangnya penyakit alam yang menjadi wabah, mulai dari endemik, epidemi hingga pandemi. Penyakit yang kemudian sangat berbahaya karena akan memicu munculnya penyakit penyerta. Dan terbukti komorbiditas selalu menjadi momok dalam setiap wabah alamiah.

baca juga : PPKM Level 4 Ada Level 5 Nggak?

Di luar masalah epidemiologi, kesehatan masyarakat dan kebijakan sosial ekonomi politik, ada makna atau pesan antropologis dibalik sebuah wabah.

Bagaimanapun juga wabah selalu membongkar kemapanan peradaban manusia, wabah selalu berhasil membongkar aib yang tersembunyi di balik kelompok manusia, pemerintah dan juga negara.

Pandemi Covid 19 membuktikan hampir tak ada negara yang siap untuk menghadapi dengan gagah berani. Sistem pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan, fasilitas kesehatan dan kebijakan atau perundangan yang khusus bicara soal kesehatan ternyata gagu dan kedodoran.

Ada banyak negara tak mampu dan tak berani melakukan lockdown. Hingga kemudian memodifikasi berbagai pendekatan agar tak terlalu mempertaruhkan aspek keamanan sosial, politik dan ekonomi.

Sayangnya pendekatan yang moderat terhadap pandemi ini hanya memunculkan pola seperti rool coaster, jumlah yang terpapar naik dan turun, kebijakan menjadi ketat lalu longgar, kembali lagi ketat lalu longgar kembali. Pertanyaan kapan pandemi berakhir menjadi susah untuk dijawab.

Meski ada keuntungan tersendiri, kejadian wabah di jaman internet dimana komunikasi dan informasi dengan mudah dilakukan dan tersedia menimbulkan tantangan sendiri. Gelembung informasi yang berhubungan dengan pandemi ini kerap menimbulkan kesangsian atas keberadaan virus dan status pandemi serta efektifitas pendekatan diantaranya keampuhan vaksin.

Keyakinan konyol, kecurigaan tanpa alasan masih saja mewarnai perjalanan pandemi Covid 19 ini. Banyak pihak sudah lelah, khwatir, frustasi dan kecewa. Sebuah kombinasi yang akan memancing perilaku dan cara tindak yang emosional. Setiap hari kita mendengar atau bahkan melihat kabar tentang tindakan-tindakan yang berlebihan, oleh banyak pihak.

Menjadi sulit untuk membedakan antara kelebihan dan berlebihan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here