Ada penyakit yang bekembang di wilayah tertentu saja bahkan kemudian menjadi karakteristik wilayah tersebut. Seperti Malaria atau Demam Berdarah, yang kemudian di sebut sebagai penyakit endemik di beberapa wilayah Indonesia.

Namun ada juga penyakit yang dengan cepat menyebar atau menular di wilayah tertentu namun kemudian meluas ke wilayah lainnya dalam sebuah negara, hingga kemudian mempengaruhi populasi penduduknya. Atau menyerang beberapa negara namun dalam sebuah kawasan tertentu saja. Penyakit seperti ini disebut dengan epidemi, contohnya adalah ebola yang menyerang sejumlah negara di Afrika Barat.

lalu ada wabah lain yang serangannya lebih luas, menyebar ke seluruh penjuru dunia tanpa kecuali. Abah penyakit seperti ini disebut dengan pandemi.

Dunia sudah berkali-kali mengalami wabah global, mulai dari Flu Spanyol atau Influenza 1918. Wabah ini menjadi salah satu yang terparah di era modern. Disebabkan oleh virus H1H1 yang berasal dari gen burung. Sepertiga dari jumlah populasi di dunia terinfeksi dan menelan korban kurang lebih 50 juta jiwa dalam kurun waktu 1918 – 1919. Wabah ini muncul pertama di Kansas Amerika Serikat kemudian disusun di Madrid, Eropa. Sehingga dikenal sebagai Flu Spanyol.

Karena belum ada vaksin, obat dan kebijakan pengendalian bersama secara global, maka isolasi, karantina, penggunaan disinfektan dan pembatasan sosial menjadi andalan untuk menghadapinya.

Pada 10 Agustus 2010, WHO menghapus status global pandemi influenza H1N1 ini. Namun virus ini masih berkembang menjadi virus musiman dan variannya masih menyebabkan kematian di berbagai penjuru dunia.

Kemudian dari Asia muncul wabah Influenza A, yang disebabkan oleh virus H2N2 yang berasal dari unggas. Pertama dilaporkan muncul di Singapura pada Februari 1957, lalu disusul Hongkong hingga kota-kota di pesisir Amerika Serikat. Lalu ditemukan juga di Inggris. Tercatat kurang lebih 14.000 orang meninggal dunia.

Dalam serangan gelombang kedua pada awal 1958, kemudian menyerang seluruh penjuru dunia dengan total kematian sekitar 1,1 juta orang.

Wabah berikutnya masih influenza, menyerang pada tahun 1968 dengan jenis virus H3N2. Angka kematian dari seluruh dunia mencapai 1 juta jiwa. Sebagian kasus kematian terjadi pada mereka yang berusia 65 tahun keatas.

Virus ini menyebabkan gangguan atau gejala pada pernafasan bagian atas khas influenza. Gejala utamanya adalah mengigil, demam dan nyeri otot yang bertahan antara 4 – 6 hari. Ketika pandemi memuncak di berbagai negara berhasil dikembangkan vaksin untuk mengatasi pandemi ini.

Awal tahun 80-an, tepatnya tahun 1981 muncul wabah Human Immunodeficiency Virus atau HIV. Infeksi yang menyebabkan kumpulan penyakit yang disebut AIDS. Virus ini menginfeksi kurang lebih 65 juta orang dengan jumlah kematian kurang lebih 25 juta jiwa.

Jutaan orang masih hidup dengan virus ini sampai sekarang, infeksi baru juga masih terjadi namun tidak sebesar sebelum tahun 2000-an. Hampir 40 tahun dikenali namun belum ditemukan vaksinnya hingga sekarang. Mereka yang terpapar harus rutin meminum obat Anti Retroviral Virus atau ARV untuk membuat virusnya tidak berkembang.

Kewaspadaan tingkat dini atau pre caution universal dalam donor dan transfusi darah serta perilaku seks yang aman, serta tidak memakai narkoba dengan suntikan atau intravena drug user menjadi cara paling tepat untuk memutus penularan dan penyebaran HIV.

Pada tahun 2009, di Amerika Serikat terdeteksi flu babi atau H1N1 pdm09. Virus ini menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Ada sekitar 60,8 juta kasus yang tercatat dengan perkiraan kematian sekitar 574,000 jiwa. Pada 29 April 2009, WHO meningkatkan level peringatan pandemi flu babi menjadi level 4.

Akhir tahun 2019, Tiongkok secara resmi melaporkan kepada WHO tentang adanya Covid 19. Dan tiga bulan kemudian tepatnya pada tanggal 11 Maret 2020, WHO kemudian menetapkan wabah Covid 19 menjadi pandemi global.

Pandemi ini kemudian berkembang bukan hanya menjadi masalah kesehatan semata melainkan juga ekonomi dan politik. Pandemi Covid 19 menjadi pandemi terumit karena kemajuan teknologi komunikasi membuat informasi tentangnya menjadi tidak terkendali.

Sebagian yang lain berjuang keras untuk mengatasi permasalahan, namun sebagian lainnya juga berjuang tak kalah keras untuk menyangkal keberadaannya.

baca juga : PPKM Level 4, Ada Level 5 Nggak?

Sama seperti HIV, ketika muncul untuk pertama kali, wabah ini lebih ditanggapi secara moral. Mereka yang terinfeksi HIV dianggap sebagai orang terkutuk karena perilaku menyimpang. Memang benar pada awalnya infeksi ini berkembang di kelompok gay.

Karena mematikan dan belum ada obatnya, perkembangan penyakit ini juga dianggap sebagai kesengajaan. Dan muncul berita-berita yang menyebutkan ada orang-orang yang berkeliaran menusuk orang lain dengan jarum yang mengandung virus.

Cukup lama pengidap HIV terdiskriminasi, disingkirkan karena orang takut tertular. Padahal penularan HIV sebenarnya sangat terbatas. Virus Corona jauh lebih ganas dan mudah menular ketimbang virus HIV.

Butuh puluhan tahun dan program pendidikan penyadaran yang memakan ongkos hingga kemudian HIV dan AIDS dianggap sebagai penyakit sebagaimana penyakit lainnya.

Maka adalah biasa ketika Covid 19 muncul kemudian merebak dugaan-dugaan yang bernuansa konspiratif. Sebab sejak awal memang tak bisa disangkal ada banyak pihak yang kemudian menangguk untuk dari wabah ini.

Kekhawatiran atas penyebaran penyakit ini menimbulkan panic buying. Bukan hanya kebutuhan pokok melainkan juga masker, disinfektan, tissue dan lain sebagainya. Dan sesuai hukum ekonomi, ketika permintaan naik, maka harga akan naik. Disinilah muncul spekulan dan para penimbun, yang menahan barang atau memborong lebih dahulu untuk memperoleh keuntungan kemudian.

Tapi fakta ini tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa Covid 19 tidak ada, atau merupakan endorse-an untuk kepentingan tertentu. Dugaan-dugaan seperti perang biologi, perang obat, atau kepentingan elit global lainnya adalah premis. Sehingga tidak bisa langsung dipakai untuk menarik kesimpulan soal rekayasa atas Covid 19. Cepat-cepat menarik kesimpulan hanya akan melahirkan sesat pikir yang kemudian membuat persoalan menjadi lebih ruwet.

Entah berapa banyak biaya, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk saling sangkal. Sementara Covid 19 terus berkembang dan korban terus berjatuhan.

Para ahli lepas dari cari untung apa tidak terus bekerja siang malam hingga segera ditemukan vaksinnya. Namun karena pandemi ini begitu luas dan vaksin dipandang sebagai cara paling masuk akan untuk menurunkan angka penularan, maka tidak semua kebutuhan bisa dipenuhi.

Perkembangan virusnya sendiri juga mengkhawatirkan karena dalam waktu yang tidak lama telah muncul berbagai varian, virusnya cepat bermutasi. Dan secara medis hal ini semakin menyulitkan untuk pengembangan obat atau prosedur penanganan dan terapi.

Dampak dari infeksi virus Covid 19 pada setiap orang berbeda, tergantung dari daya tahan tubuh atau imunitas masing-masing. Infeksi Covid 19 memicu komorbiditas, kehadiran bersama kondisi penyakit. Atau secara sederhana bisa disebut sebagai komplikasi, sebuah kondisi dimana dua penyakit atau lebih hadir bersama-sama.

Akan muncul penyakit penyerta atau gejala penyakit yang diperparah dengan kehadiran virus Covid 19 dalam tubuh. Dalam banyak kasus penyakit penyerta inilah yang kemudian memicu kematian.

Dalam banyak kasus mereka yang positif Covid 19 bisa sembuh dengan sendirinya. Tapi hal ini tidak berlaku umum hingga tak bisa dipakai untuk menarik kesimpulan bahwa infeksi Covid 19 tidak berbahaya.

Dibandingkan dengan banyak penyakit lain, tingkat kematian akibat Covid 19 juga rendah. Namun sekali lagi hal ini juga tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk mengatakan bahwa langkah atau kebijakan atasnya berlebihan.

Harus diingat bahwa ini adalah pandemi artinya menyerang secara serempak di berbagai tempat. Dampaknya dengan  jumlah orang yang terkena secara bersamaan banyak maka fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan lain-lainnya menjadi tidak mencukupi untuk menangani dengan maksimal.

Terjebak dalam angka bisa berbahaya, date rate Covid 19 di Indonesia sekitar 2,5 persen. Angka yang kecil, tapi jika dilihat dari jumlah yang terinfeksi maka senyatanya yang meninggal jumlahnya besar.

Kondisi seseorang yang terkena Covid 19 bisa berubah dengan cepat. Tanpa pengawasan yang kompeten atas tanda-tanda vital, seseorang kemudian menjadi terlambat untuk memperoleh pertolongan.

Dititik inilah isolasi mandiri yang tidak terpusat dengan dilengkapi oleh pengawas yang disertai alat-alat dasar untuk memantau suhu, saturasi oksigen dan lainnya menjadi sebuah pertaruhan risiko.

baca juga : Konspirasi, Teori atau Bukan?

Imunitas atau daya tahan tubuh salah satunya dipengaruhi oleh tingkat stress. Bagi banyak orang pandemi telah menimbulkan tekanan, bukan hanya dari sisi kesehatan melainkan juga ekonomi, masa depan dan politik.

Orang tua yang mempunyai anak usia sekolah misalnya tertekan melihat aktivitas pelajaran dalam jaringan yang sudah setahun lebih dilakukan oleh anaknya. Pun anak-anak yang melakukan pembelajaran daring juga mulai tertekan. Karena bosan, tidak bertemu dengan kawan, tidak keluar rumah, tidak banyak bergerak, segala sesuatu yang membuat mereka bahagia.

Stress memang tak mungkin dihindari namun perlu dikendalikan.

Menjaga asupan informasi menjadi penting untuk mengendalikan stress. Sebab banyak informasi yang beredar terutama di internet dan media sosial serta berbagai platform perpesanan justru semakin menambah stress.

Salah satu informasi yang sering dipakai untuk meramaikan media sosial adalah soal perkembangan pengetahuan tentang virus ini dan juga sifat virus ini sendiri. Sesuatu yang kemudian dari waktu ke waktu merubah pendekatan atas virus ini.

Misalnya dulu disebut bahwa penularannya lewat droplet, namun kemudian menular lewat airbone. Dulu dianggap masker tidak mencegah penularan sekarang malah diminta memakai dua masker. Dulu dipercaya lingkungan  umum harus disemprot disinfektan namun kini tidak lagi dianjurkan.

Pun juga kebijakan baik global, nasional atau regional yang sering kali berubah-ubah terhadap kondisi pandemi ini. Apa yang berhasil di satu tempat belum tentu manjur di tempat lain.

Sinisme atas perubahan-perubahan ini kerap memunculkan tanya “Ini pandemi apa skripsi, kok sering direvisi?”

Dan ada banyak yang tak mampu menahan diri untuk tidak mengomentari perubahan-perubahan seperti itu tapia da juga yang sengaja menggunakan sebagai amunisi untuk menyerang kesana kemari, apapun tujuannya.

Karena internet, media sosial dan messenger semua itu menjadi tidak terkontrol. Siapa saja bebas mengatakan apa saja meski bersifat opini. Dan sayangnya opini kerap dianggap sebagai kebenaran atau fakta. Dan jika dipercaya kerap kali akan membuat orang menjadi stress. Stress karena isi opini itu atau stress karena melihat orang lain percaya pada opini tersebut.

Apapun yang kemudian berkembang, ada perbaikan baik langkah maupun pengetahuan dari waktu ke waktu justru menandakan keberadaannya yang nyata. Jadi ketika sesuatu tidak sejak awal diketahui secara presisi itu adalah tanda bahwa virus ini bukan ciptaan yang disengaja. Jadi tak ada yang tahu persis perihal mahkluk setengah hidup setengah mati ini.

Jadi jangan jumawa melainkan harus tetap waspada.

Lupakan dulu perdebatan oleh umum soal  asal usul virus ini, siapa yang pertama terkena, atau apapun tanda yang mengarah virus ini kepada sebuah konspirasi. Selidiki itu nanti kalau ada yang mau menyelidiki ketika badai pandemi Covid 19 sudah berlalu.

note : sumber gambar – kompas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here