KESAH.ID – Secara kebetulan angin dan atmosfer Piala Dunia Qatar berhembus untuk Messi. Semesta nampaknya mendukung stadion megah yang dibangun oleh Qatar untuk mementaskan tarian sang maestro untuk menutup perjalanan karirnya di lapangan hijau dengan agung.
Tepat sebelas hari sebelum Kick Off Piala Dunia Qatar 2022, Netflix meluncurkan dokumenter berjudul FIFA Undercover.
Film ini mengisahkan perjalanan organisasi paling berpengaruh dalam sepakbola dunia mulai dari era Joao Havelange, Lennart Johansson, hingga Sepp Blatter dan Michael Platini.
Di mulai saat FIFA dipimpin oleh Joao Havelange terjadi perubahan dari organisasi para pecinta bola {amatir} menjadi organisasi ‘bisnis’ sepakbola. Joao Havelange yang kemudian dibantu oleh Sepp Blatter berhasil menjadikan sepakbola berhubungan dengan dunia bisnis.
Coca Cola adalah perusahaan pertama yang berhasil digaet untuk mendukung pengembangan sepakbola dan kemudian disusul oleh perusahaan-perusahaan lainnya. Sepakbola berlimpah sponsor.
FIFA kemudian berurusan dengan uang besar hingga digambarkan sebagai ‘organisasi kriminal’ yang erat dengan skandal pencucian uang, korupsi dan penyuapan.
Perilisan film FIFA Undecover yang bertepatan dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi momen yang pas untuk para pengkritik menggugat validitas Qatar sebagai penyelenggara salah satu event olahraga terbesar di dunia.
Mereka yang sinis dengan mudah menyimpulkan bahwa Qatar dipilih sebagai tuan rumah bukan karena tradisi bola atau pengembangan sepakbola melainkan karena uang, uang untuk menyelenggarakan dan uang yang dihamburkan pada mereka yang punya wewenang untuk memutuskan.
Ada yang menyebutkan Piala Dunia Qatar penuh dengan kepalsuan. Kepalsuan karena uang yang berlimpah. Sebut saja stadion palsu, tempat pertandingan yang dibangun megah namun sebenarnya tak diperlukan oleh Qatar sehingga setelah usai perhelatan akan dibongkar.
Nda usah ngegas, urusan membangun yang tak perlu itu bukan hanya khas Qatar. Masyarakat Kalimantan Timur juga tahu ada monumen besar kesia-siaan, stadion yang mangkrak setelah perhelatan Pekan Olah Raga Nasional.
Bukan hanya Stadion Utama Palaran melainkan juga venue dayung yang ada di kawasan Bendungan Lempake {Waduk Benanga}.
Andai saja Stadion Utama Palaran dibongkar setelah pelaksanaan PON tahun 2008, mungkin kita tak perlu nelangsa setiap kali melewatinya kala mau masuk pintu tol Balikpapan-Samarinda.
Kalimantan Timur kala itu memang kaya, namun jika dibandingkan dengan Qatar tidak ada apa-apanya. Dengan uangnya Qatar bukan hanya membangun Stadion palsu tapi juga kota palsu yang ditanami pohon dan rerumputan, kolam atau danau serta akuarium yang membuat orang akan merasakan gemericik air dan keragaman hayati di tengah gurun pasir.
Dalam urusan sosial, Qatar mempunyai Yayasan Sosial Kemanusiaan dengan anggaran yang mungkin paling besar sedunia. Yayasan ini mengkampayekan hak asasi manusia, kesetaraan pendidikan dan kesetaraan sosial.
Namun tenggara dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional ada banyak hal yang tak beres saat menyiapkan infrastruktur untuk pelaksanaan Piala Dunia, tenaga kerja yang merupakan buruh migran diperlakukan secara tidak manusiawi. Pembangunan stadion megah dan infrastruktur lainnya banyak menelan korban jiwa.
Sebagai penyelenggara Qatar juga mengeluarkan berbagai larangan yang akan membuat Piala Dunia tanun 2022 ini tidak seperti piala dunia sebelumnya. Berbagai larangan yang salah satunya soal penggunaan ban kapten berwarna pelangi sampai membuat Inggris, Denmark dan Jerman mengancam keluar dari FIFA.
Masih disertai dengan anggapan bahwa keputusan memilih Qatar sebagai tuan rumah piala dunia 2022 sebagai keputusan palsu dari FIFA, toh pada akhirnya Qatar bisa menyuguhkan sebuah acara pembukaan yang maha megah.
BACA JUGA : Kopi Terbaik
Portugal, Inggris, Perancis, Brasil dan Argentina berada dalam posisi atas sebagai tim yang diprediksi akan meraih gelar juara. Tentu saja ada tim lain yang juga kuat seperti Belanda dan Jerman.
Kejutan mulai lahir, Argentina dikalahkan oleh Arab Saudi dalam pertandingan pertamanya. Dan kemudian Jerman tak lolos dari babak group. Singa Asia yakni Jepang dan Korea memberi harapan serta kebanggaan dari benua yang belum pernah meraih Trofi Piala Dunia.
Tapi kejutan yang paling besar muncul dari Maroko. Tim dari benua Afrika yang menonjol penampilannya. Maroko tampil menjadi kuda hitam yang siap menganjal tim-tim besar dan mapan maju ke babak selanjutnya. Tak sedikit yang mulai bertaruh bahwa Maroko akan muncul sebagai salah satu finalis.
Tentu ada sebuah kerinduan besar dari pengemar sepakbola bahwa Piala Dunia Qatar akan memunculkan juara baru, bukan Inggris, Uruguay, Jerman, Perancis, Italia, Brasil dan Argentina. Maroko memberi harapan itu.
Selepas makin melemahnya kabar miring tentang Qatar sebagai penyelenggara, pertandingan mulai melewati babak group menuju babak knock out. Ada perkembangan baru, Messi yang mampu bangkit memimpin teman-temannya hingga menjadi juara group mendapat angin.
Para konspirator mulai mengeluarkan opini-opini baru yang pada intinya menyorot Tim Argentina sebagai tim yang dikehendaki untuk menjadi juara dunia. Piala Dunia Qatar dilaksanakan untuk Messi dan Argentina.
Teori konspirasi ini memang klop dengan gembar-gembor yang menyebutkan bahwa Piala Dunia Qatar akan menjadi piala dunia terakhir untuk Messi. Dan sebagai pemain terbesar dalam dua puluh tahun terakhir ini Messi yang bertabur penghargaan belum sekalipun memenangi Piala Dunia. Qatar menjadi kesempatan terakhirnya.
Opini dunia kemudian mengikuti fakta ini dan melupakan fakta bahwa ada seseorang yang sama dengan Messi, yakni Ronaldo, saingannya selama ini. Sama-sama bertabur bintang dan penghargaan, Ronaldo juga belum pernah mengangkat Trofi Piala Dunia. Piala Dunia Qatar juga akan menjadi yang terakhir untuk Ronaldo karena usianya sudah 37 tahun. Portugal yang dibelanya juga merupakan salah satu tim kuat dalam piala dunia kali ini.
Tapi Ronaldo kurang disorot sebagai saingan Messi, bisa jadi karena Ronaldo mengawali perjalanannya dalam Piala Dunia Qatar dengan kurang meyakinkan. Ronaldo berseteru dengan klub-nya sehingga menjadi pemain yang berlaga di piala dunia sebagai pesepakbola tanpa klub.
Dan memang Ronaldo tampil kurang meyakinkan, tak tampil sebagai pesepakbola besar. Dirinya lebih tampil sebagai sosok yang merasa diri besar sehingga minta dihargai lebih ketimbang yang lainnya. Menjadikan Ronaldo sebagai bahan untuk mengunjing opini konspiratif menjadi kurang meyakinkan.
Messi, Messi, Messi yang meneriakkan itu bukan hanya supporter dari Argentina melainkan juga supporter lawan. Dunia mungkin kasihan pada Messi, sebagai bintang yang dikagumi ada ganjalan besar yang membuatnya belum absolute diakui sebagai GOAT, yakni Trofi Piala Dunia.
Untuk para pemikir konspirasi, ini menjadi bahan besar guna menyusun narasi.
Narasinya adalah dunia ingin memberikan trofi juara untuk Messi agar eksistensinya sebagai pemain yang maha agung, pemain yang kerap menyajikan tontontan pergerakan membawa bola dan menjebol gawang secara tak masuk akal menjadi sempurna.
Dari rangkaian perjalanan Messi di Piala Dunia Qatar para konspirator tak sulit menemukan hal-hal yang memudahkan Messi untuk membawa Argentina terus menang.
Memang tak sulit untuk mencari-cari perlakuan istimewa pada Messi dalam piala dunia kali ini baik dari wasit, pemain lawan dan mungkin juga dari pemilik perhelatan.
Tapi bukanlah hal yang istimewa jika orang-orang istimewa memang kerap mendapat perlakuan yang istimewa pula. Wasit dan pemain lawan toh bisa jadi adalah orang-orang yang mengagumi Messi dan respek padanya.
BACA JUGA : Nulla Tenaci Invia Est Via, Argentina Yang Sempurna
Lepas dari tuduhan para konspirator, Messi dan Argentina pada akhirnya masuk ke babak final. Final kedua kalinya untuk Messi dan Angel De Maria serta beberapa lainnya. Andai tidak bermasalah dengan jantungnya, mestinya ada juga nama Sergio Aquero.
Argentina berhasil masuk babak final bukan semata karena kedalaman squadnya. Banyak tim lain yang lebih meyakinkan karena kekuatan yang berimbang di semua lininya. Sepakbola memang bukan sekedar kombinasi kemampuan pemain serta adu teknik dan strategi yang dimainkan oleh pelatih di lapangan.
Ada banyak juga keberuntungan di dalamnya yang bisa menentukan apakah sebuah tim menang atau tidak. Dalam skema yang buruk sepakbola juga dekat dengan macth fixing, pengaturan pertandingan. Faktor lain yang kerap menentukan adalah pemain pembeda, saat timnya mengalami kebuntuan.
Dan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan tim adalah pemain pembeda. Dan Argentina menjadi lebih dibanding dengan tim lainnya karena mempunyai Messi. Faktor Messi ini yang kerap memberi effect yang menguntungkan untuk Argentina.
Harus diakui Messi memang menjadi faktor pembeda. Dalam piala dunia kali ini Messi amat produktif, walau banyak yang mengatakan beberapa gol diantara lahir karena kebaikan wasit, Messi banyak mendapat anugerah pinalti.
Yang lebih nyinyir mengatakan pertunjukan Messi meliuk-liuk dilapangan terjadi karena pemain lawan sangat respek pada Messi, tidak menghentikan Messi sejak awal, hanya ditempel ketat agar goal Messi jadi dramatis.
Sulit untuk mengatakan bahwa final melawan Perancis diatur. Messi memang membuat gol dari pinalti, tapi Mbappe yang kemudian meraih penghargaan sebagai Top Skor juga mencetak gol dari pinalti, bahkan dua kali.
Data menunjukkan Argentina secara angka layak untuk menang. Jumlah tendangan ke gawang dan mengarah ke gawang jauh lebih banyak, operan yang tepat juga diatas Perancis. Goal yang diciptakan Angel De Maria juga meyakinkan, hasil operan langsung dari 5 pemain berurutan yang artinya tidak untung-untungan.
Perancis yang berada dalam posisi mengejar memang menjadi keuntungan untuk Argentina. Kendali ada di tangan mereka. Cerita menjadi lain andai saja Perancis mampu memimpin. Argentina diuntungkan karena pertandingan berakhir dengan adu pinalti.
Selain Kroasia, tim yang paling siap untuk mengakhiri pertandingan dengan adu pinalti adalah Argentina karena kipernya dikenal piawai dalam menebak tendangan dan membloknya.
Bicara soal Argentina tentu saja bukan hanya Lionel Messi, ada L lainnya yakni Lionel Scaloni. Pelatih termuda di Piala Dunia Qatar ini terbukti meyakinkan. Taktik dan strateginya begitu dihormati oleh pemain di lapangan. Argentina menang karena mempunyai Dobel L.
Final di Piala Dunia Qatar adalah final ke enam Argentina di piala dunia. Enam kali masuk final, Argentina berhasil meraih bintang 3 dengan penuh perjuangan, tidak seperti bintang 3 yang berada di pundak Deddy Corbuzier, bintang 3 anugerah tituler.
Dan Argentina berhasil mengangkat trofi piala dunia karena pemain dengan nama yang diawali oleh huruf M. Piala pertama diangkat oleh Mario Kempes, kedua diangkat oleh Maradona dan yang ketiga oleh Messi. Bukan oleh Gabriel Batistuta yang melegenda sebelum Messi. M memberi keuntungan untuk Argentina, 3 M.
Tapi Messi meraihnya setelah perjalanan panjang, perjalanan yang membuat dirinya mencatat berbagai macam rekor yang sulit dipecahkan dalam piala dunia, namun beberapa diantaranya mungkin akan bisa dipecahkan oleh Kyllian Mbappe, rekan bermainnya di PSG, sekaligus lawan terakhirnya di Piala Dunia Qatar.
Pada akhirnya memang benar, sepertinya Piala Dunia Qatar menjadi kesempatan untuk saya dan anda semua penonton sepakbola untuk memberi penghormatan pada Lionel Messi.
Walau pada mulanya saya tak terlalu yakin Lionel Messi akan mengangkat Trofi Juara, namun saya berusaha menyaksikan setiap pertandingan yang dilalui olehnya sebagai pertunjukan agung sang maestro untuk terakhir kalinya.
Jika pada akhirnya Messi menjadi juara dan sekaligus meraih penghargaan sebagai pemain terbaik untuk kedua kalinya. Kapten yang paling banyak berlaga dalam piala dunia ini di penghujung usia produktifnya memberi bonus kegembiraan untuk seluruh pengemar sepakbola di dunia. Rasanya tidak ada gelar juara dunia yang disyukuri oleh pengemar sepakbola melebihi gelar juara dunia yang diraih oleh Lionel Messi dan tim Argentina kali ini.
Saking gembiranya, Lionel Scaloni seusai pertandingan final langsung mengatakan ketidakrelaannya melepas Lionel Messi pensiun. Andai masih diberi kesempatan untuk menukangi tim nasional Argentina, Scaloni memastikan tetap ada nama Messi di Piala Dunia 2026.
Terima kasih Messi, selamat jalan Ronaldo dan sukses selalu Kyllian Mbappe.
note : sumber foto – 442.PERFIL.COM








