KESAH.ID – Messi berhasil menutup ‘karir’ sepakbolanya dengan manis, jauh lebih manis dari seteru abadinya Christiano Ronaldo. Sebutan sebagai GOAT kini sah disandang oleh Messi, secara absolut tak terbantahkan lagi.
Karena nonton bareng akhirnya saya menyaksikan detik demi detik pertandingan hidup mati antara Argentina melawan Perancis di final Piala Dunia Qatar 2022.
Andaikan menonton sendiri mungkin saya akan tinggal tidur ketika Kylian Mbappe berhasil menyamakan kedudukan 2 – 2.
Bisa jadi ini merupakan final terbaik, final paling seru dimana dua pemain yang paling produktif bersaing untuk memasukkan gol ke gawang lawan menjadi tumpuan untuk memenangkan laga.
Mbappe hebat dan jalannya masih panjang hingga apa yang tidak bisa dicapai oleh Messi masih mungkin diraih olehnya. Nasib Mbappe tidak akan seburuk Ronaldo, Neymar, Benzema dan Antoine Griezman yang gagal menyaingi Messi.
Apapun kehebatan Messi, jelas Piala Dunia Qatar akan menjadi piala dunia terakhirnya, sementara Mbappe masih akan punya kesempatan berkali-kali untuk memperbaiki catatan dan capaiannya.
Dan Messi lewat pertandingan yang membuat perut terasa mual akhirnya mengenapkan mimpinya untuk membawa Trofi Piala Dunia yang dulunya bernama Piala Jules Rimet untuk Argentina.
Jalan Messi memang panjang bahkan sempat buntu tatkala dia memutuskan untuk tak lagi memperkuat Tim Nasional Argentina usai kalah dari Cile pada final Copa America tahun 2016.
Kecewa karena belum menyumbangkan piala untuk Argentina di pentas internasional saat menjadi pemain senior, Messi yang bertabur prestasi di klub yang dibelanya menjadi merana.
Beban Messi memang berat karena selalu dibanding-bandingkan dengan Maradona, Sang Dewa Sepakbola Argentina. Maradona pun sempat mengktitik Messi.
Saking kerasnya kritikan terhadap Messi, sampai ada yang berandai-andai. Andaikan saja Messi memilih Spanyol sebagai Tim Nasional yang dibelanya, Messi sudah pasti lebih dahulu mengangkat Trofi Piala Dunia.
Tapi Messi tak melakukannya, dia tetap memilih Argentina tempat dia dilahirkan sebagai pilihan kewarganegaraannya.
Meski jalan terjal harus dilaluinya toh pada akhirnya Messi membenarkan pepatah Latin yang berbunyi nulla tenaci invia est via, bagi orang yang mau terus berjuang, tidak ada jalan yang tidak bisa dilewati.
Piala Dunia Qatar menjadi bukti tidak ada jalan yang tidak bisa dilewati oleh Messi.
Pada piala dunia kali ini Messi tampil beda dengan piala dunia sebelumnya, perjuangannya sangat terlihat. Messi tampil sebagai sosok yang berbeda, lebih berani, lebih beringas dan tentu saja juga lebih produktif. Perolehan gol-nya menjadi bukti,
Pada Piala Dunia Qatar kali ini Messi telah mengemas 7 goal, jumlah yang lebih banyak dari gol yang diciptakan dalam empat kali keikutsertaan dalam piala dunia sebelumnya.
Mungkin ada yang mencibir bahwa sebagian golnya adalah karena hadiah pinalti. Tapi apapun itu, gol dari pinalti sama nilainya dengan gol bukan pinalti. Dan menjadi penendang pinalti bukanlah tugas yang mudah, Messi sering kali juga gagal saat melakukan eksekusi pinalti.
BACA JUGA : Yogya Isinya Bakpia Kukus
Melalui drama adu pinalti akhirnya Argentina berhasil mengalahkan Perancis yang berhasil merintangi kemenangan Argentina hingga menit terakhir perpanjangan waktu.
Emilio Martinez kembali menjadi penyelamat bagi Argentina. Martinez bukan hanya piawai menjaga gawang dalam permainan, melainkan juga teruji dalam memblok tendangan pinalti saat babak tos-tosan.
Sama seperti ketika Argentina menahklukkan Belanda, saat terpaksa harus mengakhiri pertandingan dengan adu pinalti, Martinez juga sukses memblok dua kali tendangan pinalti pemain Perancis.
Yakin dengan kemampuan Emilio Martinez, ketika babak perpanjangan waktu berakhir dengan skor 3 -3, sayapun yakin Messi akan mengangkat Trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya sekaligus akan meraih gelar sebagai Pemain Terbaik.
Dan benar, akhirnya harapan itu terwujud dan Tim Nasional Argentina juga beroleh bonus dengan penghargaan sebagai kiper terbaik yang diraih oleh Emilio Martinez serta pemain muda terbaik yang diraih oleh Enzo Jeremia Fernandez.
Menjelang final beredar rumor yang diciptakan oleh para penggila teori konspirasi yang menyebut Piala Dunia Qatar ditujukan untuk Messi. Argentina disetting untuk masuk ke final dan merebut trofi pemenang.
Melihat pertandingan yang telah dilalui Argentina dari babak group hingga final para ahli teori konspirasi mencatat 9 kecurangan Messi dan Argentina yang dibiarkan oleh para pengadil lapangan dan FIFA.
Kenyataan itu membuat mereka yakin ada sebuah kekuatan yang mengatur piala dunia kali ini agar Messi dan Argentina keluar sebagai juaranya.
Tapi fakta membuktikan bahwa pertandingan final jelas bukan pertandingan yang diatur. Perancis sebagai lawan Argentina telah membuktikan diri sebagai salah satu tim terbaik sepanjang turnamen di Qatar.
Kalau mau diatur-atur seharusnya Argentina berhadapan dengan Portugal, sebab Messi lebih sering disbanding bersaing dengan Ronaldo. Dan Ronaldo juga belum pernah mengangkat trofi piala dunia, selain itu sama seperti Messi, Piala Dunia Qatar 2022 juga akan menjadi yang terakhir untuk Ronaldo.
Alangkah lucu jika ada yang menganggap kekalahan pertama Argentina dari Arab Saudi disengaja. Agar Argentina dianggap lemah oleh lawan-lawan berikutnya. Padahal tak mungkin ada tim sepakbola dari negara manapun yang akan menganggap Argentina lemah selama masih ada Messi disana.
Andai saja Messi tak mampu memimpin kawan-kawannya untuk bangkit dari kekalahan atas Arab Saudi, ceritanya pasti akan menjadi lain. Justru kekalahan dari Arab Saudilah yang membuat Messi dan teman-temannya bangkit bahwa jalan mereka masih terjal, sehingga harus berjuang habis-habisan. Dan itu dibuktikan oleh Messi yang terus bermain secara penuh dalam semua pertandingan.
Perjuangannya terbayar di babak adu pinalti. Dua pemain Perancis gagal menyarangkan tendangan hingga tak mungkin lagi mengejar perolehan gol Argentina.
BACA JUGA : Messi Akhirnya Bermain Untuk Dan Sebagai Orang Argentina
Pepe benar ketika mengatakan “Serahkan saja pialanya pada Argentina,”
Mungkin dia tahu kalau Messi tampil berbeda dengan yang selama ini dilihatnya saat memperkuat Barcelona.
Bersama Sergio Ramos, Pepe menjadi orang yang paling tahu betapa berbahayanya seorang Messi jika sedang on fire, selalu saja ada yang tak mungkin menjadi mungkin.
Dan yang dikatakan Pepe terbukti, Argentina menjadi juara meski tak semudah yang diomelkan olehnya.
Berhasil membawa Argentina menjadi juara dunia, semua perdebatan tentang Messi nampaknya akan berhenti. Messi kini layak secara absolut menyandang The Greatest Of All Time, tak bisa digugat lagi.
Tidak ada alasan lagi untuk memperdebatkan semua yang telah dicapai oleh Messi, apa yang selama ini dianggap sebagai kekurangan Messi dibanding dengan Pele, Maradona dan lainnya sudah berhasil dihapus olehnya.
Dalam Piala Dunia Qatar, setiap kali bertanding Messi selalu mencatatkan rekor baru, rekor yang mungkin sulit untuk dilampaui oleh pemain lainnya bahkan hingga seratus tahun ke depan.
Apa saja rekor yang ditorehkan oleh Messi saat mengakhiri perhelatan Piala Dunia Qatar pasti akan segera kita ketahui setelah para analis dan mengumpulkan data melakukan kompilasi.
Mengangkat Trofi Juara Piala Dunia sekaligus meraih penghargaan sebagai Pemain Terbaik menjadi validasi terakhir untuk Messi. Dengan semua jalan yang telah dilalui, Messi kini membuka pintu untuk munculnya tunas-tunas baru, bintang-bintang hebat yang tak perlu dipersaingkan dengan Messi, karena Messi telah berada di langit yang berbeda.
Akhirnya kala menyaksikan Messi menerima Trofi sebagai Pemenang Piala Dunia 2022 dalam hati kecil saya terucap rasa syukur bahwa saya telah menyaksikan sebuah pertandingan yang maha agung untuk mengantar sang maestro sepakbola mengakhiri kariernya dengan mulia.
note : sumber gambar – VOI.ID








