KESAH.ID – Kebiasaan merokok semakin hari semakin dipandang sebagai masalah. Dari sisi kesehatan konon kebiasaan merokok semakin mengerogoti kas negara melalui pembayaran BPJS. Menaikkan harga cukai rokok menjadi pilihan kebijakan Menteri Keuangan dengan asumsi harga rokok yang mahal akan menurunkan kemampuan beli masyarakat sehingga konsums rokok menurun. Faktanya tidak demikian. Naiknya cukai rokok justru memunculkan merek-merek rokok yang harganya murah meriah.
Mbah Tukiran itu kocak, ramah dan suka bergurau dengan anak-anak di lingkungannya. Salah satu kebiasaannya adalah ngeleki dan njembuti. Pura-pura mencabut bulu ketek dan bulu di balik celana untuk membuat anak-anak lari menjauh.
Rumahnya selalu terbuka, tidak takut kemalingan karena memang tak ada barang berharga di dalamnya. Hidup berdua dengan istrinya tanpa putra dan putri.
Sore menjelang malam, Mbah Tukiran suka nonggo, berkunjung ke rumah tetangga untuk ngobrol menghabiskan waktu. Jika tak mampir ke rumah, saya akan tahu setiap kali Mbah Tukiran lewat karena selalu meninggalkan bau klembak menyan dari rokok yang tak henti dihisapnya.
Ya waktu itu rokok yang umum dijual di warung-warung adalah rokok klembak menyan atau biasa disingkat KLM, seperti nama maskapai penerbangan negeri Belanda.
Di Purworejo banyak pabriknya, kebanyakan pabrik rumahan namun ada juga yang besar hingga bisa mempunyai armada bus, kalau tak salah namanya RP atau Rokok Petruk.
Rokok klembak menyan juga biasa disebut sebagai Rokok Siong, konon kabarnya yang pertama membuat dan menjual adalah seorang keturunan Thionghoa dari Kebumen yang memberi merek rokoknya ‘Eng Siong’ yang artinya selalu sukses.
Dan memang sukses karena rokok jenis ini kemudian dikenal di Karesidenan Kedu dan Banyumas, serta ditiru oleh banyak orang hingga lahir bermacam-macam merek.
Salah satu keunggulan rokok ini adalah tidak menarik perhatian anak-anak atau orang muda untuk ikut menghisapnya. Selain bau ‘setan’ rasanya juga nyegrak di mulut dan harus terus dihisap agar tidak mati.
Sampai sekarang pengemarnya masih cukup banyak dan kabarnya di Kabupaten Purworejo masih ada sekitar 32 pengrajin atau pabrik yang membuatnya.
Sosok lain yang saya ingat dekat dengan rokok adalah Om Kuswinarso, biasa kami panggil Om Win, dedengkotnya PDI di Kabupaten Purworejo. Selalu tampil rapi dan mengendarai vespa sprint warna silver yang tak pernah dikunci.
Di keempat saku baju safarinya selalu ada Rokok Sriwedari. Rokok dengan bungkus yang sangat vintage dan warna yang tak biasa. Meski bernama Sriwedari, rokok kretek ini bukan buatan Solo melainkan PT. Gudang Garam Kediri.
Selain vespa yang bisa kami kendarai tanpa ijin, Om Win juga toleran soal rokok. Dia membiarkan kami turut menghabiskan rokok di sakunya.
Sebetulnya Sriwedari tak cukup terkenal yang lebih ternama Sigaret Kretek Tangan Gudang Garam Merah dan Hijau, Minakjinggo, Jamboe Boel, Sukun, Wismilak, Djarum 76 dan Djie Sam Soe serta Sampurna Kretek. Tapi jenis SKT teramat banyak, ada juga Rokok Norojono dan lain-lain yang mereknya tak terlalu terkenal.
Seingat saya tak jauh dari rumah ada juga yang membuat rokok SKT, rokok rumahan yang hanya dibungkus dengan plastik dan secarik kertas untuk menunjukkan mereknya.
Setiap kali mampir kesana, saya bisa merokok sepuasnya kalau mau. Tinggal ambil saja rokok yang ada di tampah sebelum dibungkus oleh tangan-tangan terampil.
Berbeda dengan Rokok Siong, sigaret kretek ini dibuat dari campuran tembakau dan cengkeh kering. Sensasinya menjadi lain agak semriwing dan berbunyi kretek-kretek saat terbakar, dari situlah muncul sebutan Rokok Kretek.
Masih ada jenis rokok lain yakni Rokok Klobot. Isinya bisa tembakau, klembak dan menyan atau tembakau dan cengkeh namun bungkusnya bukan kertas rokok atau papier, melainkan kulit jagung atau klobot.
Yang lainnya disebut Rokok Kawung, karena pembungkusnya adalah Daun Kawung atau Aren.
Untuk saya dan teman-teman yang mulai nyolong-nyolong merokok, semua jenis rokok diatas tak terlalu menarik, selain berat tarikkannya hingga bikin pipi terasa kempot, lama kelamaan bibir juga terasa panas.
BACA JUGA : Piala Dunia Qatar Memang Untuk Messi
Rokok yang kemudian membuat saya dan teman-teman suka klepas-klepus adalah rokok buatan mesin. Ada dua jenis yakni rokok putih dan rokok filter.
Untuk membeli rokok putih biasanya kami urunan karena harus dibeli satu bungkus, tidak ada yang menjual eceran. Seingat saya yang banyak dijual di toko dan murah mereknya Union serta Commodore. Isinya banyak, lebih pendek dan bungkusnya dari kertas tipis serta kelihatan kertas peraknya.
Tapi rokok putih tidak terlalu enak, hanya rasa tembakau hingga sering membuat terbatuk-batuk saat menghisap.
Jadi rokok kretek filter yang lebih sering jadi pilihan, selain lebih beraroma, hisapannya meninggalkan rasa manis-manis di bibir kayak minuman dalam kemasan Le Minerale.
Yang terkenal waktu itu adalah Filtra, kalau tidak salah buatan Djarum Kudus. Bungkusnya berwarna keemasan, rokoknya panjang dan manis sekali di mulut. Ada juga Gudang Garam Filter, pendek dengan dua jenis kertas pembungkus putih dan coklat.
Lalu ada juga Bentoel Biru, rokoknya gemuk, aromanya sangat terasa. Dan kemudian yang paling merajalela adalah Djarum Super yang bungkusnya berwarna merah dengan garis hitam.
Lama kelamaan saya menjadi perokok aktif.
Saat tinggal di Manado, daerah yang tidak mempunyai pabrik rokok, rokok pilihan saya adalah Gudang Garam Surya 16, namun jika uang mulai menipis terkadang saya membeli Rokok Kristal yang harganya lebih murah.
Ketika jaman ribut-ribut Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh di Minahasa ada wacana pendirian pabrik rokok yang bertujuan untuk menyerap hasil panen cengkeh masyarakatnya. Rokoknya pernah beredar, saya lupa persis namanya entah Menara atau Cemara, tapi kemudian lenyap. Banyak yang mengatakan rokok itu diproduksi di Jawa dan kemudian dikemas di Minahasa.
Seiring dengan waktu serangan kepada industri rokok makin keras. Industri rokokpun berbenah, salah satunya mengeluarkan rokok yang rendah tar dan nikotin yang disebut sebagai Rokok Mild. Untuk beberapa waktu sayapun menghisap Rokok Mild, mereknya Star Mild.
Tapi rokok jenis itu terlalu ringan untuk saya, hingga kemudian saya kembali merokok Surya yang oleh teman-teman dari Maluku diejek dengan nama “Samandar Papan’ sejenis ikan yang lebar. Lain kali juga ada yang mengejek sebagai Rokok Dukun.
Maka ketika Gudang Garam mengeluarkan versi Surya Excelusive yang bungkusnya berwarna hitam, sayapun meninggalkan Surya 16.
Secara politik rokok kemudian menjadi gangguan, gerakan anti tembakau menjadi semakin menguat dan muncul banyak pembatasan termasuk desakan untuk menaikkan harga rokok. Logikanya semakin mahal harga rokok akan semakin sedikit orang membeli rokok. Rokok mahal diharapkan akan menurunkan jumlah perokok.
Ketika kebijakan itu mulai diterapkan, harga-harga rokok mainstream menjadi mahal. Yang termurah sekitar 20 ribuan.
Sayapun harus mulai berpikir untuk mencari rokok yang cukup enak namun tak mahal. Pilihan jatuh pada Rokok Pensil yang isinya 20 dengan harga sekitar 16 ribu sebungkus.
Gara-gara saya menghisap Rokok Pensil ada teman yang kasihan. Setiap kali bertemu dia membelikan Rokok Surya. Suatu kali ada juga teman yang menyisipkan dua lembar uang merah sambil mengatakan “Untuk beli rokok,”
Saya tahu maksud sebenarnya yakni jangan merokok itu, beli yang lainnya.
Nampaknya Bu Sri Mulyani yakin betul dengan menaikkan cukai jumlah perokok akan turun sehingga cukai kembali dinaikkan. Rokok Pensil yang tadinya murah akhirnya jadi terasa mahal, harganya sudah lewat 20 ribuan.
Sayapun harus kembali berburu rokok murah meriah yang mungkin saja sebagian diantaranya bersifat illegal.
BACA JUGA : Kopi Terbaik
Para pembenci tembakau mulai sadar kebijakan menaikkan cukai rokok tidak efektif, sebab penerapan cukai tidak sederhana. Kenaikan Cukai Harga Tembakau yang dinaikkan oleh Menteri Keuangan tidak bisa digebyah uyah, tetap saja ada rokok yang tidak mahal karena jumlah produksi tidak melampaui angka tertentu.
Banyak perusahaan rokok besar mengakali kenaikan CHT dengan melakukan downgrading, menurunkan produksi rokok tertentu dan mengeluarkan merek baru dalam kategori tertentu sehingga harganya murah.
Sampoerna misalnya mengeluarkan Malboro Crafted Authentic yang rentang harganya antara 9 – 11 ribu rupiah. Lalu Wismilak mengeluarkan produk baru dengan merek Wismilak Golden Arja.
Mungkin agar tidak terlalu mencolok, pabrikan besar juga mengeluarkan rokok dengan kisaran harga menengah, sekitar 20 ribuan rupiah ke bawah.
Di lini ini Samporena mempunyai Malboro Black, Philip Morris Magnum dan Malboro Advance.
Djarum memproduksi Djarum Super Next, Djarum Wave dan Djarum 76 Madu Hitam.
Selain itu Djarum juga mempunyai produk rokok lainnya yang diproduksi oleh anak perusahaan, contohnya adalah Viper.
Diluar rokok-rokok downgrading dari perusahaan besar, muncul pula rokok-rokok dari perusahaan kecil-kecil, dari daerah-daerah yang selama ini tidak dikenal sebagai produsen rokok.
Merek rokok kemudian menjadi semakin banyak dan variatif, peredarannya meluas dan konsumennya kian banyak.
Pada warung-warung di Kota Samarinda misalnya kita akan menjumpai rokok dengan merek GA, SAGA, DTE, Brand Djati dan Naxan bahkan ada yang bermerek Djanda.
Rokok-rokok ini beredar langsung di warung-warung, tanpa ada yang mengiklankan. Masyarakat mengenal dari mulut ke mulut dan dari media sosial.
Entahlah rokok ini legal atau tidak, namun pada umumnya cukai yang terpasang tidak sesuai dengan jumlah isinya. Cukai untuk rokok 12 batang misalnya dipasang pada bungkus rokok yang berisi 20 batang.
Tapi saya punya dugaan lain soal harganya yang jauh lebih murah dibanding rokok-rokok buatan pabrik besar. Bisa jadi rokok-rokok tersebut menjadi lebih murah karena produksi dan penjualan yang efektif. Tidak ada ongkos promosi, tidak membayar SPG untuk memperkenalkan kepada masyarakat, tidak mensponsori event-event dan lain-lain.
Rokok-rokok ini hanya menyasar daerah-daerah tertentu yang menerima produknya, hanya di jual di daerah-daerah tertentu.
Akibatnya yang sudah terbiasa merokok GA atau Saga di Samarinda lalu pergi ke Yogyakarta, Surabaya, Jakarta atau kota-kota lainnya tidak akan menemukan rokok kesukaannya disana. Di kota-kota itu rokok murah, yang enak di mulut dan tidak membuat tenggorakan gatal lain lagi mereknya.
Saya jika beroleh kesempatan untuk pergi ke kota-kota itu yang saya pikirkan ketika menginjakkan kaki bukan mau piknik ke mana, melainkan kearah mana saya mesti melangkahkan kaki untuk mencari warung yang menjual rokok dengan rentang harga 750 – 1000 rupiah per batang.
Dan rasanya Yogyakarta yang paling bikin pusing karena pilihannya sangat banyak.
Jika dulu terkenal peribahasa lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kini untuk perokok yang berkemampuan menghisap rokok murah akan punya peribahasa baru yakni lain kota lain rokoknya.
note : sumber gambar – MATAKEPRI.COM








