Dunia memang tanpa batas karena sudah diterabas oleh komunikasi dan transportasi. Kemajuan dalam bidang komunikasi dan transportasi membuat semakin tinggi pertukaran, terutama pertukaran (saling kunjung manusia), barang dan jasa termasuk binatang (perdagangan binatang liar baik legal maupun illegal).
Pertukaran ini membuka pintu berkembangnya zoonosis atau penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia dan kemudian berkembang menjadi penularan antar manusia. Kematian di dunia sebagian dikaitkan dengan penyakit menular. Dan separuh dari penyakit menular itu merupakan jenis penyakit yang ditularkan oleh hewan kepada manusia.
Zoonosis dapat ditularkan dalam berbagai cara, termasuk gigitan binatang dan serangga, mengelus atau menangani hewan yang sakit, mengonsumsi daging kurang matang, susu yang tidak dipasteurisasi, serta dari air yang terkontaminasi. Dengan cara itu pathogen ditularkan dari hewan ke manusia, yang meliputi bakteri, virus, parasite dan jamur. Beberapa jenis zoonosis tidaklah berbahaya namun sebagian yang lainnya mematikan. Salah satunya adalah covid 19.
Penyakit zoonosis lain yang terkenal adalah ebola atau kerap disebut sebagai Zaire ebolavirus. Penyakit ini diduga berasal dari kelelawar yang kemudian menularkan pada simpanse, gorilla dan hewan ternak seperti babi. Virus ditularkan lewat kontak dengan binatang atau memakan daging mereka.
Domestifikasi
Secara sengaja lewat proses domestifikasi kita hidup berdampingan dengan hewan, baik untuk keperluan konsumsi maupun kesenangan (peliharaan). Yang tidak sengaja kita dekatkan juga mendekat seperti tikus, kutu dan kecoak di rumah.
Binatang peliharaan seperti kucing bisa menularkan penyakit seperti toxoplasmosis, pasteurella dan kurap. Sementara anjing bisa menularkan rabies, norovirus, pasteurella, kurap, salmonella dan cacng tambang.
Pun demikian dengan hewan ternak seperti unggas, babi, sapi, onta dan lain sebagainya. Ada flu unggas, flu babi, antrax dan mers.
Hewan liar pun banyak yang kemudian didomestifikasi untuk hiburan, entah dipelihara di rumah atau di kebun binatang serta dipertunjukan lewat sirkus. Kita sengaja mendekatkan diri pada hewan liar.
Meski bahan makanan atau nutrisi sudah berlimpah, kita juga masih saja belum bisa lepas dari kebiasaan makan daging binatang liar, selain membuat binatang liar menjadi langka atau bahkan punah, hal itu juga bisa berisiko menularkan penyakit. Penangkapan binatang liar tidak hanya untuk konsumsi melainkan juga untuk bahan obat serta penjualan bagian tubuh tertentu seperti cula badak, taring gajah, kulit harimau dan lain-lain.
Sebenarnya cara untuk menghindari kontak dengan zoonosis tidaklah terlalu sulit cukup cuci tangan dengan sabun, tidak usah rebutan hand sanitizer. Sanitasi dilakukan setelah melakukan kontak dengan hewan. Dan jauhkan wajah dari hewan, pakailah pakaian dan oleskan cairan pencegah gigitan nyamuk, caplak atau kutu. Sebisa mungkin hindari gigitan dan goresan dari hewan.
Di kebun binatang atau tempat-tempat lain yang memelihara binatang liar harus diwaspadai juga. Jaga jarak yang memungkinkan kontak langsung dengan binatang. Tak usah foto-foto sambil menyentuh binatang apalagi sambil mencium atau memonyong-monyongkan bibir dekat dengan wajah binatang.
Dengan disahkannya UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan seharusnya segera dibentuk Otoritas Veteriner di Indonesia. Namun sampai sekarang PP baru dibahas, padahal sudah 11 tahun berlaku.
Ada kurang lebih 200 jenis penyakit zoonosis di Indonesia dan 25 penyakit menular hewan yang strategis berpotensi punya dampak pada masyarakat luas. Namun informasi terkait hal ini sangat sedikit kepada masyarakat. Jalur dan alur penyampaian informasi kepada masyarakat sangat birokratis. Informasi kerap tidak sampai karena alasan politis, berhenti pada kepala daerah atau pemerintahan.
Bahwa dengan berkembangnya pandemic covid 19 muncul himbauan untuk melakukan pertobatan ekologis, mengerem keserakahan dan kecongkakan pada alam adalah baik. Tapi zoonosis tidak semata karena hewan kehilangan habitat atau rumahnya. Zoonosis tidak selalu bersumber pada ketiadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Bahkan ketika hewan berada di tempatnya, berdiam pada rumahnya, kita manusia lah yang kemudian mendekat dan berasyik mahsyuk dengan hewan-hewan itu.








