Menaman pohon itu memang mudah, tapi tak murah. Coba hitung saja acara tanam pohon,sebut saja dengan nama Indonesia Riang Gembira Menanam. Apa yang dibutuhkan untuk acara ini?. Tentu saja harus ada panitia yang jumlahnya pasti puluhan, mulai dari pelindung, pengarah, ketua hingga seksi-seksinya. Karena jumlahnya banyak maka perlu rapat. Rapat yang bisa berlarat-larat dan butuh konsumsi mulai dari air kemasan, snack hingga nasi kotakan.

Karena menanam adalah kegiatan terpuji maka harus dihadiri banyak orang-orang mulia pula. Mulai dari pemimpin daerah, pemimpin instansi, para tokoh dan pemuka yang jumlahnya bisa ratusan. Agar kompak maka mereka perlu diberi seragam, paling tidak kaos lengan panjang dan topi.

Menanam pohon juga soal komitmen, maka semua perlu digelorakan lewat sebuah upacara. Oleh karenanya dibutuhkan ruang upacara mulai dari tanah lapang, tarup atau tenda, juga aneka kursi baik untuk peserta maupun para pemuka. Karena acaranya dimulai dari pagi maka perlu disambut dengan hidangan pembuka, akan lebih istimewa jika ada minuman hangat, tapi kalau tidak cukuplah snack kotakan dan air dalam kemasan sebagai tambahan. Hidangan berat nanti akan diberikan setelah acara purna.

Menanam juga butuh perlengkapan lainnya, mulai dari mesin pembangkit energi listrik, tiang penanda penanaman, spanduk, umbul-umbul dan seterusnya. Belum lagi dengan pohon yang ditanam, bisa saja pohonnya tak perlu membeli karena ada yang menyumbang, tapi untuk mengangkut ke lokasi pasti butuh angkutan dan tenaga untuk mengangkatnya.

Nah silahkan hitung sendiri biaya yang diperlukan untuk semua itu. Pasti banyak bukan?.

Dan bagaimana hasilnya?. Di propinsi yang selama 10 tahunan sering dikumandangkan one man five tree ini mungkin sudah jutaan pohon yang ditanam. Berapa yang hidup dan kemudian membesar serta dimana?. Entahlah.

Ada pepatah yang mengatakan ‘Barang siapa menanam maka dia akan menuai’. Artinya apa yang kita lakukan saat ini pasti akan memberikan hasil di masa depan. Apa yang dituai akan tergantung dari apa yang ditanam.

Namun jika dikaitkan dengan pohon, maka yang menanam belum tentu akan menuai. Sebab jika hanya menanam kemudian ditinggal maka kemungkinan pohon itu tidak tumbuh atau mati, atau jika kemudian tumbuh namun tak dijaga maka akan ditebang oleh orang lain dan lain sebagainya.

Maka soal menanam pohon yang benar adalah “Barangsiapa menanam pohon, maka dia harus merawat dan menjaganya”. Sayangnya hal ini kerap tak disadari utamanya pada penanaman pohon yang didahului dengan upacara atau seremoni yang diikuti oleh peserta dengan atribut yang seragam.

Hinggar binggar dan kesadaran bahwa menanam pohon itu penting usai begitu acara selesai. Bahkan terkadang satu ada dua jam setelah acara, tak terlihat lagi jejak kesadaran akan pentingnya menanam pohon.

Adalah biasa menemukan papan atau spanduk yang memberitahukan tentang penanaman pohon di lokasi itu. Namun yang terbentang hanya semak, kalaupun ada beberapa pohon yang hidup terlihat merana.

Jadi untuk apa menanam pohon dengan segala kemeriahan upacara jika setelah itu hanya ditinggal. Perilaku seperti itu mirip dengan kelakuan orang yang mengejar burung, menangkap dan kemudian memasukkan ke dalam kandang serta tak rajin memberi makan. Berlaku demikian menunjukkan kita adalah orang yang kejam.

kredit.org : plantabillion.org