KESAH.ID – Overclaim berarti mengklaim sesuatu secara berlebihan. Atau sebagai pernyataan maka itu adalah pernyataan yang dilebih-lebihkan, tidak sesuai dengan fakta. Istilah ini sedang ramai dalam hubungan dengan produk skincare. Artinya banyak produk perawatan kulit melebih-lebihkan fungsi atau keunggulannya. Masalahnya memang banyak orang dengan mudah terpesona oleh overclaim, apalagi yang menawarkan dianggap bisa dipercaya dan memang glowing walau sebenarnya sejak lahir memang sudah begitu kulitnya. Ingin berubah dengan cepat membuat overclaim ampuh untuk menjual sesuatu.
Di X dan Tiktok lagi ramai dibahas soal overclaim. Sebagian menjadi keriuhan, sebagian lainnya berakhir pada pemeriksaan polisi karena produknya ternyata mengandung bahan yang berbahaya.
Anda tahu apa yang diributkan?. Ya skincare.
Skincare ini memang agak-agak, tiba-tiba saja banyak orang jadi crazy rich gegara sukses memproduksi skincare. Padahal kalau dilihat dari track records orangnya sama sekali tak punya latar pengetahuan kimia yang mumpuni.
Padahal membuat peyek sekalipun seseorang tak bisa ujug-ujug langsung kemripik duitnya. Selain pengetahuan soal bahan dan bumbu, cara mengorengnya pun tak sembarangan.
Sebenarnya trend kegilaan pada skincare mengembirakan. Berarti ada perubahan kesadaran di masyarakat Indonesia soal penampilan. Masyarakat sadar bukan hanya perlu tampil cantik atau menawan melainkan juga sehat. Dan untuk sehat bukan berdandan, melainkan perawatan. Itulah skincare, perawatan kulit.
Cantik itu sehat, mungkin begitu logikanya. Namun ternyata seperti judul novel Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka.
Banyak yang ingin cantik namun kemudian malah merana, sudah gagal cantik uangnya hilang pula.
Memang benar banyak yang overclaim dalam urusan berdagang. Dagang apa saja.
Jadi bukan overclaim-nya yang mesti disoal, melainkan watak atau sikap yang mudah percaya begitu saja.
Lihat saja dalam politik pemerintahan. Sebelum Presiden Joko Widodo lengser, tingkat kepuasaan masyarakat begitu tinggi. Program atau kebijakan Joko Widodo dianggap memuaskan rakyat. Dan dengan modal tingkat kepercayaan tinggi pada pemerintahan Jokowi, Prabowo dan Gibran yang dianggap sebagai penerusnya terpilih secara meyakinkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Dan lihat, belum tiga bulan berlalu, apa yang dulu dianggap memuaskan dan akan diteruskan ternyata mulai goyah. Keberhasilan-keberhasilan pemerintahan yang lalu kelihatan overclaim, sehingga tak bisa menjadi pondasi bagi pemerintahan berikutnya.
Capaian-capaian yang dilebih-lebihkan, tapi hutang disembunyikan. Dan kini saatnya membayar hutang-hutang itu, bendahara negara pusing. Dan karena pondasi ekonomi produktif yang digembar-gemborkan ternyata lebay, maka untuk mengisi dompet republik tak ada jalan lain selain menaikkan pajak, apapun di pajak.
Dagangan politik memang penuh dengan overclaim. Makanya janji politik selalu lebih banyak melesetnya.
Sesuatu yang sudah biasa dalam dunia politik akan dianggap wajar jika dilakukan oleh bidang-bidang lainnya. Sebab segala sesuatu yang berurusan dengan hidup bersama sehari-hari adalah politik. Politik ada dimana-mana.
Jadi jangan disangka yang suka overclaim itu hanya pedagang atau produsen saja. Pemuka agama juga sering overclaim. Menganjurkan laku ini dan itu dengan klaim bahwa yang dilakukan akan dibalas oleh Yang Maha Kuasa.
Coba saja teliti anjuran memberi dengan embel-embel siapa yang memberi akan diberi lebih banyak. Benarkah?.
Rasanya lebih banyak orang yang memberi pinjaman, malah tidak kembali.
BACA JUGA: Tumbal Rakyat
Entah barang atau jasa, apapun bidangnya mulai dari yang religi, budaya, konsumsi, teknologi dan lain-lainnya memang dipenuhi overclaim. Bahasa sederhananya lebay, terutama soal manfaatnya.
Hari demi hari yang disebut overclaim selalu berganti-ganti. Pasti ada yang trending dan kemudian mempengaruhi masyarakat luas secara berjamaah.
Mungkin masih ada yang ingat porang. Jenis umbian asli Indonesia yang selama ini terbiarkan liar. Tanaman sekerabat dengan Suweg ini tak ada yang memperhatikan karena umbinya pahit.
Ternyata tepung Porang di Jepang dan China sangat berharga. Di Jepang diolah menjadi beras yang harganya mahal. Nama berasnya Shirataki, di pasar swalayan harganya sekilo bisa mencapai 175.000 rupiah.
Sejak lama ada yang mengolah Porang di Jawa Timur, lama sekali bekerja dalam senyap dan berjuang setengah mati.
Entah siapa yang meletupkan, tiba-tiba terjadi booming Porang. Di media sosial bermunculan kiat-kiat bertanam Porang yang diklaim pasti cuan berlipat-lipat.
Dan bertanam Porang memang mudah, nggak ditanam saja hidup.
Yang lebih mengerikan muncul pakar-pakar Porang. Kelihatan sekali kepakarannya, bukan karena ahli tapi karena kebanyakan orang tak tahu. Tahu sedikit diantara orang yang sama sekali tak tahu memang membuat seseorang mudah dilabeli pakar.
Dan anda tahu apa yang terjadi. Sebagian pengajur budidaya Porang itu adalah penjual bibit. Bibit yang tadinya tak berharga itu bisa menjadi lumbung uang.
Dan semua overclaim itu kemudian hilang ketika harga jual Porang ternyata tak setinggi yang digembar-gemborkan.
Overclaim dalam soal komoditas ini terjadi berulang-ulang. Yang bermain biasanya penjual bibit, trend kegilaan pada tanaman tertentu yang bisa bertahan satu sampai dua tahun sudah cukup untuk menumpuk uang sambil memikirkan hembusan isu baru lainnya.
Coba ingat-ingat apa yang dulu pernah meledak lalu lenyap seperti ditelan bumi. Ingat dulu orang ramai-ramai menanam Jarak Pagar, katanya buah akan dibeli 30.000 ribu rupiah sekilo untuk bahan biofuel.
Lalu Jahe Merah yang katanya produksinya bakal ditampung oleh perusahaan farmasi atau jamu-jamuan. Hasilnya panenan berkarung-karung dijajakan di pinggir jalan.
Ada juga Singkong Gajah. Semua berlomba menanam, setelah panen dijual murah pun tak laku. Lagi-lagi mesti dijual dipinggir jalan.
Di masa yang lebih lalu overclaim bertebaran saat muncul demam batu. Di mana-mana muncul penjual batu baik yang bongkahan maupun yang sudah diasah. Salah satu batuan yang diklaim paling berharga adalah batu Bacan, lalu muncul juga Red Borneo dan lain-lain.
Yang laku dijual bukan hanya batu tetapi juga minyak-minyakan yang membuat batu makin cepat menua atau keluar kelirnya.
Entah apa nasib batu yang dulu harganya juga overprice itu. Di beri saja mungkin orang tak mau.
BACA JUGA : Selamat Natal
Penjual atau marketer memang terbiasa melakukan overclaim. Dalam persaingan keduanya bisa saling tuduh dan masyarakat ikut-ikutan.
Persaingan makin memanas karena di media sosial sering kali ada postingan dengan pertanyaan yang mengandung dua pilihan. “Seru nih, si ini dan si itu lagi berseteru. Kalian jadi tim ini atau tim itu?”
Nah lo. Urusan benar atau baik jadi pilihan, tim ini atau tim itu. Padahal dua-duanya bisa jadi buruk, atau dua-dua bisa jadi baik.
Masalah produk dan dagang memang kerap rumit. Produk skincare seolah lebih bermutu kalau yang mengeluarkan adalah dokter. Padahal apa beda dokter dan penyanyi dangdut dalam urusan skincare?. Keduanya sama-sama tak belajar hal itu.
Maka dalam urusan produk skincare sebenarnya tak relevan menyertakan label dokter sebagai produsennya. Tak ada hubungan kompetensi langsung antara dokter dan skincare.
Tapi ya nggak ada yang bisa melarang, sebab ada aturan soal itu.
Seperti para penjual mobil yang kerap mengiklankan mobil bekas dengan label mobil bekas dokter. Anggapannya kalau mobil bekas dokter maka mobilnya masih lebih bagus, terpelihara dan jarak tempuhnya belum jauh. Padahal ya tidak begitu, mobil bekas pembalap mungkin jauh lebih bagus karena yang pakai lebih mengerti mobil dan mesin.
Mungkin dengan label dokter, maka lebih punya otoritas untuk menerangkan produknya dengan istilah rumit-rumit.
Tapi sekali lagi ini tidak khas dokter. Menerangkan dengan konsep rumit sebenarnya khas seorang marketer. Kaum ini sering kali memakai logical falacy yang disebut complexity bias. Mereka tahu persis masyarakat suka dengan konsep yang kompleks, seolah makin kompleks dianggap makin joss.
Maka dalam ribut-ribut soal skincare banyak bertaburan jenis-jenis zat atau senyawa yang pakai bahasa asing atau istilah yang tidak umum. Seperti misalnya DNA Salmon. Apa urusannya DNA Salmon dengan kulit?. Pasti rumit menjelaskannya.
Belum lagi klaim bebas merkuri. Benarkah yang bebas merkuri selalu lebih aman?. Kan belum tentu juga. Tapi pembeli yang membeli skincare dengan tulisan bebas merkuri merasa skincarenya lebih baik.
Jadi tidak usahlah jadi tim si ini atau si itu. Atau membeli karena melihat BA-nya yang kinyis-kinyis. Percayalah setiap model iklan untuk produk kecantikan memang sudah cantik dari sononya. Yang mengiklankan sabun itu tetap saja cantik walau tak sabunan, atau yang mengiklankan sampo tetap saja rambutnya menawan walau tak keramas.
Pun dengan yang mengiklankan produk skincare, mereka glowing dan kulitnya tetap segar karena bawaan lahir.
Tapi kalau ingin beli dan merasa perlu abaikan semua yang dikatakan oleh produsennya. Cari tahu semua unsur didalam dan kegunaannya di google.
Tapi kalau nggak mau rumit-rumit, agar kulit muka tetap segar maka rajin-rajinlah cuci muka dengan air yang bersih. Dan jangan percaya kalau ada yang mengatakan sumur atau mata air jodoh bikin wajah bersinar cerah.
note : sumber gambar – EKSEPSIONLINE








