KESAH.ID – Natal diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember. Peringatan ini dimaknai sebagai kehadiran Sang Juru Selamat dalam kesederhanaan. Dia lahir di sebuah kandang hanya ditemani oleh para gembala dan orang-orang Majus yang datang dari timur dengan dibimbing oleh bintang. Natal kemudian berkembang dengan semua tradisinya termasuk tradisi baru yang kemudian menjadi lebih sekular. Semua bisa merayakan Natal karena Natal adalah liburan dan gebyar belanja yang penuh dengan diskon-diskonan.
Di mana Natal yang paling menyenangkan?. Saya harus jujur mengakui kalau kenangan Natal yang paling menyenangkan adalah di Minahasa dan Manado.
Dua belasan tahun saya menikmati suasana Natal disana. Bau-bau Natal sudah mulai terasa sejak bulan November. Selain bau kue Natal, lagu-lagu Natal juga mulai berkumandang karena umat Kristen Protestan mulai merayakan Acara Pohon Terang.
Dan yang terseru adalah Festival Sinterklas. Kelompok anak-anak muda mulai mengadakan acara Sinterklas. Mereka menerima pendaftaran dari orang tua yang ingin rumahnya dikunjungi untuk memberi hadiah pada anak-anaknya.
Harusnya anak-anak gembira karena kunjungan Sinterklas. Tapi justru banyak anak ketakutan karena Sinterklas datang dengan disertai oleh Piet Hitam yang beringas. Piet Hitam datang membawa karung dan menakuti-nakuti anak-anak yang dianggap nakal. Anak-anak sering dikejar seolah ingin ditangkap lalu dimasukkan dalam karung.
Beberapa anak yang belum mengerti bahwa Sinterklas dan Piet Hitam adalah peran jadi-jadian jadi takut beneran. Banyak anak sembunyi di kolong tempat tidur saat dikunjungi oleh Sinterklas dan rombongannya.
Rombongan Sinterklas ini ada banyak, di jalan mereka bisa bertemu dengan rombongan lainnya. Kadang muncul kelakuan random sehingga antar rombongan Sinterklas timbul keributan.
Anda tahulah, walau bernuansa keagamaan tak semua yang terlibat dalam keramaian acara Sinterklas ini adalah anak-anak muda yang beriman. Maka mereka tak enggan meneguk minuman keras biar aktingnya semakin meyakinkan.
Yang lebih seru adalah malam Natal. Umumnya keluarga di Minahasa dan Manado akan masak-masak di malam Natal. Mereka umumnya memasak makanan tradisional yang dimasak dengan bambu. Masak buluh kata mereka.
Tentu tradisi memasak dalam bambu bukan khas Minahasa atau Manado, banyak daerah lain juga punya kebiasaan serupa. Namun saya yakin Minahasa dan Manado yang paling melestarikannya.
Di daerah lain, umumnya bambu atau buluh hanya dimanfaatkan untuk memasak lemang atau nasi jaha.
Namun di Minahasa dan Manado, buluh dipakai untuk memasak berbagai jenis makanan baik daging atau sayuran.
Masakan daun kluwak atau pangi yang diiris tipis-tipis lalu dimasak dalam bambu disebut Pangi, ketika masak warnanya akan hitam seperti tembakau susur.
Sedangkan batang pisang yang diiris tipis-tipis lalu dimasak dalam bambu disebut Saut atau Sayur Kotey. Masih ada daun lain yang biasa dimasak dalam bambu bersama daging babi, yakni daun Leilem.
Sedangkan daging yang biasa dimasak dengan bambu atau buluh adalah daging babi. Masakannya disebut Tinorangsak. Kalau yang dimasak daging ayam, biasa disebut dengan Ayam Buluh.
Biasanya masak dengan buluh dilakukan mulai sore hingga dini hari sehingga esok daging atau sayuran dalam buluh bisa langsung dihidangkan. Jika ingin disajikan hangat bisa dipanaskan lagi.
Memasak buluh dilakukan ramai-ramai, entah di depan atau di belakang rumah. Suasananya meriah, terang dan hangat, apalagi ditambah dengan air kata-kata agar mata terjaga.
Karena sibuk memasak di malam Natal, maka Perayaan Misa Malam Natal biasanya tak terlalu ramai.
Tapi kata teman saya yang kurang ajar bukan itu alasannya. Orang Minahasa atau Manado tak suka ke Perayaan Misa Malam Natal karena kalau malam tak bisa pamer baju baru.
BACA JUGA : RRI Lama
Sebetulnya perayaan Natal disaat saya masih kecil hingga remaja sebelum merantau ke tanah seberang juga menyenangkan. Pestanya memang tak semeriah di Minahasa atau Manado tetapi tetap saja syahdu.
Karena merayakan Natal maka setahun saya punya dua baju baru. Satunya lagi di saat Idul Fitri. Di hari Idul Fitri kalau tak dibelikan baju baru oleh bapak dan ibu,kakek atau nenek yang akan membelikannya.
Sejak kecil saya memang merayakan dua perayaan hari besar itu. Yang satu sebagai perayaan iman, dan yang satunya sebagai perayaan kekeluargaan dan kebudayaan.
Idul Fitri bahkan lebih menyenangkan, persiapannya juga lebih panjang.
Menjelang hari lebaran, jika berlibur di rumah kakek atau nenek maka yang pertama dilakukan adalah bersih-bersih rumah. Malam terakhir menjelang lebaran, biasanya saya membantu mengaduk jenang. Ketika jenangnya mulai kental dan berat untuk diaduk baru gantian dengan saudara lain yang lebih besar.
Saya bersama dengan saudara-saudari lainnya kemudian berkumpul untuk menghafal kalimat yang akan diucapkan saat acara sungkem kepada nenek.
Malu rasanya kalau saat sungkem ucapannya salah-salah.
Dan setelah sungkem, memohon maaf pada nenek baru saya dan saudara-saudari lainnya keluar rumah berkunjung ke rumah sanak keluarga lainnya.
Dulu keliling-keliling berkunjung ke rumah handai taulan bisa sampai satu mingguan.
Sedangkan kesibukan Natal biasanya di rumah. Tetapi kadang-kadang juga ikut latihan, jika diminta untuk ikut bermain drama Natal. Biasanya bersama dengan tetangga yang sama-sama Katolik kami akan mengadakan perayaan Natal bersama dan disana ditampilkan drama Natal.
Nanti setelah agak besar, saya biasanya juga membantu membuat Gua Natal. Dinding gua dibuat dari kertas semen yang diremas-remas lalu dibentuk mengikuti rangka.
Menjadi misdinar atau pelayan altar di misa malam Natal juga menyenangkan. Walau terkadang agak membosankan dan ngantuk kalau misanya memakai gending Jawa. Lagu-lagu misa diiringi dengan gamelan.
Pada hari Natal juga akan diselenggarakan misa khusus untuk anak-anak. Sehabis misa ada perayaan bersama. Saya senang sekali jika ada perayaan Natal eukumene, apalagi kalau tempatnya di Gereja Kristen Indonesia. Perayaan Natal bersamanya ada banyak hadiah.
Oh, iya dulu setelah misa Natal malam, muda-mudi Gereja Katolik Santa Maria akan berkeliling kota, mengarak pohon Natal.
Pohon Natal yang diarak keliling kota tengah malam adalah pohon cemara atau pinus beneran, yang dipotong lalu ditaruh dengan hiasan di depan gereja. Rasanya kebiasaan itu sudah lama hilang.
Yang ditaruh di depan gereja kebanyakan juga pohon beneran, tapi bermacam kreasi dari aneka bahan yang kemudian dianggap sebagai pohon Natal.
BACA JUGA : Tumbal Rakyat
Jaman berlalu, masa lewat. Saya kembali berpindah dari Manado ke Samarinda.
Natal awal-awal seperti lebaran kecil. Tetangga kanan kiri bertandang ke rumah. Sayapun mengundang teman-teman untuk acara open housan.
Tapi setelah si kecil lahir, Natal berubah. Natal adalah liburan atau mudik.
Libur Natal menjadi liburan yang ditunggu, bukan untuk keramaian di rumah tetapi pergi ke kampung halaman.
Tidak sepenuhnya mudik melainkan juga liburan. Maka rute mudik tak akan langsung dari Samarinda ke kampung halaman, melainkan mampir dulu ke kota-kota lainnya. Sekali waktu bahkan mampirnya jauh sampai ke Bali.
Pun kalau Natal tak mudik ya tetap liburan, liburan ke kota tetangga. Umumnya ke Balikpapan, tapi pernah sekali waktu juga ke Kutai Barat, ke Barong Tongkok bertepatan dengan saudara yang beracara disana.
Lho kok cerita Natalnya nggak ada religi-religi sama sekali?
Ah, biarlah para agamawan profesional yang mengisahkan makna dan spiritual Natal, saya hanya menikmati.
Toh makin lama perayaan Natal dan perayaan-perayaan keagamaan lainnya juga makin sekular. Semakin sekular semakin banyak yang merayakan.
Persoalan apakah perayaan itu dihayati sebagai bagian dari iman adalah wilayah personal. Yang terpenting justru jika dirayakan secara publik, kegembiraan akan meluas dan Natal membawa berkah serta kebahagiaan bagi banyak orang.
Bahagia karena libur, senang karena ada diskonan dan gembira karena banyak yang berbagi hadiah.
Sama seperti Sinterklas, walau kerap dikaitkan dengan sosok Santo Nikolas namun Sinterklas telah berkembang menjadi karakter yang non religius. Di mana-mana menjelang Desember ada banyak yang memakai topi Sinterklas, bukan untuk merayakan Natal. Tapi untuk merayakan musim belanja akhir tahun yang telah tiba.
Selamat merayakan Natal untuk semua. Selamat liburan dan bayarlah pajak dengan ikhlas karena pemerintah kita tak kreatif mencari cara untuk mengisi kas negara.
note : sumber gambar – TRIBUNNEWS








