KESAH.IDDulu masyarakat atau kaum punya kemampuan, ketrampilan dan keahlian yang hampir sama. Semua orang hampir sama-sama bisa ini dan itu, itulah yang disebut sebagai masyarakat egaliter. Namun dalam perkembangannya ada kelompok masyarakat yang secara eklusif menguasi ketrampilan atau kemampuan tertentu, mereka punya usaha yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Karena eklusif, jasa atau layanan mereka menjadi lebih bernilai hingga kemudian ekonomi mereka jauh lebih baik dari masyarakat kebanyakan. Dan kemudian menimbulkan kecemburuan sosial, namun masyarakat yang sirik atau cemburu tak mampu menyaingi sehingga mereka mengembangkan narasi stigmatis untuk merendahkan kelompok yang ekonomi atau kehidupannya lebih baik dari mereka itu.

Banyak cerita tentang hal-hal yang aneh, sebagian murni cerita saja namun kemudian dipercaya hingga menjadi mitos dan sisanya bertahan sebagai desas-desus.

Setiap jaman ada desas-desusnya sendiri, namun ada sebagian desas-desus yang bertahan hingga sampai sekarang dan berkembang menjadi sebuah stigma.

Pada tahun 1800 – an, di Kalimantan yang waktu itu mempunyai banyak kerajaan ada desas-desus tentang manusia berekor.

Oleh yang bersaksi disebut sebagai Manusia Boentoet. Manusia berekor ini digambarkan tinggal berkelompok. Lantai rumahnya diberi lubang agar ketika duduk buntutnya tidak terlipat sehingga terasa nyaman.

Cerita ini menarik perhatian Residen Hindia Belanda yang ada di Banjarmasin. Dia ingin mendapat bukti tentang keberadaan manusia berekor itu. Adalah Gubernur Jenderal Johan Van Lansberge yang kemudian mengutus Carl Alfred Bock untuk melakukan penelusuran. Bock memang sering melaporkan peradaban masyarakat asli Borneo terutama specimen sejarah alamnya untuk museum Belanda.

Carl Alfred Bock adalah seorang naturalis dan pengelana kelahiran Denmark namun berkewarganegaraan Norwegia mengikuti orang tuanya.

Setelah menjelajahi pedalaman Sumatera pada tahun 1878, setahun kemudian Carl Bock melakukan perjalanan untuk menjelajahi Kalimantan terutama di Kalimamantan Selatan dan Kalimantan Timur untuk mencari kebenaran tentang manusia berekor.

Di Kutai, Carl Alfred Bock bertemu seorang abdi kerajaan yang mempunyai informasi tentang keberadaan ras manusia berekor. Menurutnya mereka ada di Paser dan Muara Teweh.  Sultan Kutai kemudian mengirimkan surat kepada Sultan Paser yang berisi permintaan membawa sepasang Orang Boentoet ke Kesultanan Kutai.

Konon kabarnya Sultan Paser tersinggung dan membalas dengan meminta Sultan Kutai untuk datang dan mengambil sendiri.

Bock juga menjanjikan uang sebesar 500 Gulden kepada abdi kerajaan jika berhasil membawa manusia berekor itu.

Namun ternyata yang ditunggu tidak pernah datang, Bock tak pernah punya bukti tentang keberadaan manusia berekor ketika berada di Kalimantan Timur. Dia kemudian melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Selatan.

Di Banjarmasin, Residen HIndia Belanda mengirim surat yang sama kepada Sultan Paser sebagaimana dikirimkan oleh Sultan Kutai.

Sebulan kemudian datang surat balasan dari Sultan Paser yang berisi penjelasan tentang kesalahpahaman soal ras manusia berekor. Sultan Paser dalam suratnya menjelaskan bahwa Orang Boentoet yang dikira sebagai manusia berekor itu sebenarnya merupakan sebutan untuk pengawal pribadi Sultan Paser.

Jawaban dari Sultan Paser itu membuat Carl Alfred Bock tak tertarik lagi untuk mengulik lebih dalam lagi desas-desus tentang keberadaan manusia berekor di tanah Kalimantan.

Namun hingga sekarang kabar angin tentang adanya manusia berekor masih sering lamat-lamat terdengar di dalam kisah-kisah tentang orang pedalaman tanah Kalimantan.

BACA JUGA : Satu Trilyun

Desas-desus soal ras manusia berekor tidak hanya berkembang di tanah Kalimantan. Di Jawa cerita tentang manusia berekor juga ada. Wang Kalang atau orang Kalang sering digambarkan sebagai kelompok atau komunitas manusia yang mempunyai ekor.

Istilah Kalang sendiri kerap muncul dalam berbagai prasasti yang ditemukan di beberapa wilayah pulau Jawa. Tidak ada deskripsi yang panjang tentang Wang Kalang ini.

Namun dalam beberapa catatan mereka digambarkan sebagai komunitas yang berdiam di dekat hutan, tidak berada di permukiman utama. Mereka hidup dalam Wanua dengan pimpinan yang sering disebut sebagai Tuha Kalang atau Pande Kalang.

Kalang kemungkinan berasal dari kata ‘Kalangan’ yang artinya arena untuk melakukan sabung ayam. Istilah ini merujuk pada sebuah kelompok masyarakat di Jawa yang tidak terpengaruh oleh budaya Hindu atau Budha. Maka orang Kalang adalah komunitas dengan sub kultur yang berbeda dengan kultur utama.

Dan pada waktu itu mereka diterima baik oleh penguasa maupun masyarakat lainnya karena ketrampilan atau kebudayaan mereka yang khas sehingga pekerjaan atau profesinya tidak sama dengan masyarakat kebanyakan lainnya.

Selain dianggap jago dalam urusan kayu, Wang Kalang juga punya ketrampilan dalam pergerobakan atau transportasi.

Ada beberapa catatan tentang raja atau pembesar yang berkunjung dari satu daerah ke daerah lain dengan menaiki gerobak, entah buatan atau milik orang Kalang yang disewakan.

Dalam beberapa prasasti, terutama yang menandai pembukaan Sima atau tanah perdikan kerap tercatat kehadiran kaum Kalang. Itu berarti oleh pemerintah dan masyarakat, kaum Kalang dihargai keberadaannya sehingga diundang untuk hadir dalam peresmian atau pembukaan tanah perdikan.

Di masa Jawa modern atau Mataram Islam dan kolonial Belanda, kaum Kalang mendapat kedudukan istimewa. Mengambil profesi yang berlainan dengan masyarakat pada umumnya yang bertani, Wang Kalang menjadi sebuah kaum yang eklusif.

Mereka dengan keahliannya dalam perkayuan di masa Mataram direkrut untuk dijadikan pembuat istana atau bangunan. Bisa dibilang orang Kalang pada waktu itu merupakan arsitek atau ahli teknik bangunan termasuk juga dalam ukiran kayu.

Istana dan bangunan megah kerajaan umumnya dibuat oleh orang Kalang. Dengan profesi itu tak sedikit dari orang Kalang yang kemudian menjadi orang berada. Dengan kekayaannya mereka kemudian memelihara budaya dan mencintai seni.

Pengetahuan tentang hutan dan kayu juga dimanfaatkan oleh kolonial Belanda yang waktu itu rajin membangun jembatan, rel kereta, pelabuhan, galangan kapal dan lain-lain. Selain menjadi pembuat, orang Kalang juga merupakan pemasok kayu. Mereka piawai memilih kayu bagus dan menebangnya.

Karena berprofesi sebagai tenaga ahli, penyedia bahan bangunan dan lainnya, ekonomi orang Kalang menjadi lebih baik dari masyarakat pada umumnya. Rumah mereka besar-besar dan kerap mengadakan pertunjukan di lingkungan rumah tinggalnya.

Dalam masyarakat yang egaliter atau masyarakat yang profesi dan kelas ekonominya setara karena keahlian yang dikuasai hampir sama, keberadaan sekelompok orang yang punya ketrampilan berbeda dan kemudian mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar sering menimbulkan kecemburuan.

Dulu orang China kerap distigma sebagai orang pelit, makanya kaya. Padahal sebagai pendatang mereka bekerja lebih keras dan mengambil profesi yang berbeda dengan masyarakat lokal. Mereka lebih memilih menjadi wirausahawan. Dan ketika usahanya berhasil lalu menjadi lebih kaya dari masyarakat lokal, orang China kemudian direndahkan sebagai orang pelit.

BACA JUGA : Menang Sepang

Pun demikian dengan orang Kalang. Karena keahlian mereka dalam perkayuan, bangunan dan wirausaha yang terkait dengannya, ekonomi mereka cenderung lebih baik dari masyarakat kebanyakan.

Kondisi ini menimbulkan kecemburuan sosial. Dan taktik dari masyarakat kebanyakan atau masyarakat umum untuk mengungkapkan kecemburuan adalah dengan merendahkan kelompok lainnya yang lebih unggul dalam hal tertentu itu.

Orang Kalang kemudian direndahkan dengan didesas-desuskan sebagai ras manusia berekor. Desas-desus itu disebarkan lewat cerita dari mulut ke mulut tentang manusia yang merupakan keturunan dari hewan.

Dan orang Kalang dalam cerita mulut ke mulut digambarkan sebagai bernenek seekor anjing dan beribu seekor babi.

Dalam masyarakat Jawa Modern atau masa Mataram Islam, anjing dan babi adalah representasi binatang kelas rendah. Anjing dianggap najis dan babi dianggap haram.

Pada dasarnya nenek moyang manusia modern serta kera seperti simpanse dan bonobo telah membuang ekornya secara keseluruhan. Kisah tentang ekor adalah cerita nenek moyangnya jutaan tahun lalu.

Memang dalam struktur tulang masih tersisa yang disebut sebagai tulang ekor sisa dari ekor di masa nenek moyang jauhnya. Tulang ekor tidak tumbuh menjadi ekor karena ekor tak lagi diperlukan oleh manusia untuk kehidupannya.

Jadi cerita manusia berekor hanya ditemukan dalam kisah mitologi, legenda dan stigma sebagai taktik dari satu kelompok manusia untuk merendahkan kaumnya sendiri dari kelompok atau gerombolan lainnya.

Namun berbekal informasi tentang ketrampilan dalam soal kayu termasuk salah satunya dalam ukiran. Ada juga yang mencoba menarasikan Wang Kalang sebagai kaum yang membangun candi-candi di Jawa. Candi digambarkan sebagai buatan orang Kalang yang pintar mengukir karena mempunyai banyak relief atau ukiran-ukiran ornamental.

Di jaman internet ini memang banyak orang yang kemudian menyambung-nyambungkan informasi yang sebetulnya tak berhubungan namun karena masuk akal kemudian dipercaya sebagai benar. Padahal tidak benar kalau candi dibuat oleh kaum Kalang. Sebab keahlian arsitektur orang Kalang bukan pada bangunan candi, melainkan bangunan rumah atau infrastruktur yang berbasis kayu.

Siapa pembuat candi sudah jelas yakni kaum yang disebut Silpin. Mereka bisa disebut sebagai ahli bangunan, kerajinan atau arca yang belajar Silpasastra yang didasarkan pada ajaran Hidhu atau Weda. Dalam silpasastra itu salah satunya ada panduan bangunan yang disebut sebagai manasara.

Kaum silpin ini kemungkinan besar adalah orang-orang yang datang dan belajar di India, atau belajar dari orang India yang didatangkan kesini.

Ghibah sejarah memang merajalela di internet, terutama di media sosial tempat orang bisa gotak-gatuk yang penting masuk akal. Padahal masuk akal atau logis itu belum tentu benar.

note : sumber gambar – PORTALSULUT