KESAH.ID – Sneaker meleburkan batasan antara sepatu olahraga dan sepatu harian. Bentuknya yang kasual, dilengkapi dengan sol yang empuk dan nyaman membuat sneaker cocok untuk aktivitas fisik harian. Dirancang untuk sepatu lari atau jalan, sneaker kemudian membantu untuk aktivitas jalan kaki, menaiki tangga dan lain-lain. Dan bentuknya yang inovatif juga membuat sneaker cocok dipadupadankan dengan berbagai jenis outfit, termasuk untuk sosialisasi dan nongkrong-nongkrong. Sepatu ini kemudian makin populer sebagai identitas dan gaya hidup.
Jaman saya sekolah dulu belum ada kewajiban untuk memakai sepatu yang seragam, sepatu hitam dengan kaos putih. Jangankan seragam, waktu di SD saja masih banyak yang nyeker untuk pergi ke sekolah.
Saat SMP, saya pernah lama memakai sepatu Kickers. Bukan sepatu baru tapi lungsuran dari bapak saya. Saking kuatnya sepatu itu sampai saya bosan, hingga kemudian saya membuat sayatan kecil yang kemudian saya dorong-dorong dengan jempol kaki dari dalam lalu robek besar.
Di tahun 80-an itu, Kickers, sepatu buatan Perancis yang banyak diduplikasi di Cibaduyut memang sangat terkenal. Di kota-kota besar Kickers bersaing dengan Docmart. Tapi di Purworejo, kota yang relatif kecil, jarang ada orang yang mengenal Docmart.
Pada kalangan pelajar, sepatu yang paling umum adalah Bata, produk sepatu yang berkembang setelah Perang Dunia I di Zin, sebuah kota di Cekoslowakia. Tapi umumnya masyarakat menganggap Bata adalah sepatu lokal Indonesia.
Selain itu di kalangan pelajar juga terkenal merek lainnya seperti Warrior, sepatu sneaker berbahan kanvas berbodi semi boot.
Sneaker lain berbahan kanvas yang juga terkenal adalah sepatu capung atau Dragonfly dan Kodachi.
Warrior yang sekarang mirip-mirip Converse, dan Dragonfly serta Kodcahi yang sekarang mirip-mirip Onitsuka merupakan sepatu yang waktu itu murah meriah dan awet.
Warrior, Dragonfly dan Kodachi bisa dipakai untuk olahraga, namun sepatu olahraga yang waktu itu terkenal adalah Kasogi, Diadora dan Eagle.
Tapi terus terang pada masa itu saya tak terlalu memperhatikan sepatu. Bahkan ketika nanti kuliah, karena kampus saya adalah kampus berasrama, saya lebih suka memakai sepatu sandal. Yang terkenal pada waktu itu tentu saja Neckermann.
Di tahun-tahun itu industri sepatu Indonesia berkembang pesat. Berdiri pabrik-pabrik sepatu dari luar negeri yang dibuat di Indonesia, terutama untuk menghasilkan sepatu olahraga. Konon dalam rentang waktu antara tahun 1990-an hingga 2000-an, sepatu yang diproduksi di Indonesia menguasai 20 persen pasar dunia.
Yang terkenal tentu saja Nike, bersaing dengan Adidas. Namun ada juga Puma, Diadora dan Reebok.
Sepatu terkenal di Amerika, banyak dibuat di Indonesia.
Ya, Amerika Serikat di masa itu banyak membuat produknya yang menguasai dunia di negara-negara ketiga yang punya sumberdaya manusia dengan upah rendah. Bukan hanya upah rendah saja tetapi juga kerap mempekerjakan anak-anak untuk semakin menekan biaya.
Nike dan Adidas kemudian menjadi rajanya sepatu olahraga. Sepatu yang kemudian menjadi ikon kebudayaan pop karena diversifikasi produknya. Meski masih beraroma sepatu olahraga, Nike dan Adidas kemudian berkembang menjadi sepatu gaya hidup.
Sebagai raja sneaker selama bertahun-tahun, Nike dan Adidas membuat para pesaingnya hanya bisa bermain di luar arena. Nike dan Adidas bukan hanya penguasa pasar melainkan juga trendsetter dalam arena streetwear.
Memakai Nike dan Adidas akan menempatkan seseorang dalam atmosfir global, menjadi warga dunia pop. Gengsi dan harga dirinya langsung naik, mirip para penyuka gadget yang memakai produk-produk Apple, seperti Macbook, Ipad dan Iphone.
BACA JUGA : Pemerintahan Sandiwara
Padahal ada merek-merek lain yang tak kalah ternama dan bergengsi namun gagal menyaingi Nike dan Adidas.
Vans, Converse, Diadora, New Balance, Puma, Reebok, The North Face, Millet, Columbia, Asics dan lain-lain juga terkenal hanya saja tak pernah benar-benar bisa mengoyang dominasi Nike dan Adidas.
Masa pandemi kemudian membawa perubahan. Ketika banyak pekerja yang kemudian melakukan Work From Home, outfit para pekerja kemudian juga berubah. Formalitas ala kantor menurun, banyak pekerja kemudian memakai baju dan sepatu yang menekankan fungsionalitas dan mobilitas.
Sepatu sneaker kemudian menjadi sepatu harian. Pekerja kantoran tidak lagi memakai sepatu kulit dengan model dan bentuk yang membosankan serta tak enak dipakai untuk berjalan kesana-kemari.
Jangankan pekerja di perusahaan swasta, pegawai negeri yang terkenal kaku saja sekarang kebanyakan memakai sneaker dipadu dengan seragam kantornya. Trend yang mirip-mirip dengan memadukan baju batik dengan celana jeans atau celana kasual lainnya.
Pemakai sepatu kasual atau streetwear makin meningkat. Nike dan Adidas masih menjadi benchmark, New Balance pun ikut naik daun.
Namun yang mengejutkan, Nike dengan Air Jordan yang legendaris dan slogan Just Do It-nya itu kini diancam oleh sebuah brand baru yang melejit dengan sangat meyakinkan.
Nike dan Adidas punya penantang yang serius. Ada New Balance, Asics dan Hoka, lalu Anta dan Li-Ning dari China. Tapi yang paling inovatif adalah On.
On menjadi yang terdepan karena sepatu asal Swiss ini mengembangkan teknologi yang disebut cloudtec, sebuah bantalan empuk yang tetap responsif.
On memperoleh momentum besar ketika sepatunya dipakai oleh Frederick Van Lierde yang memenangkan Iron Man pada tahun 2013. Desain yang futuristik dan kenyamanannya membuat On mulai populer di kalangan pengemar streetwear.
Seperti Nike yang melakukan kolaborasi dengan Michael Jordan, On juga melakukan kolaborasi dengan Roger Federer. Federer meninggalkan Nike dan bergabung dengan On serta menjadi pemegang saham. Lahirlah The Roger, sepatu yang mewakili personalitas Federer dan kecanggihan teknologi milik On. Produk ini sukses dan dikenal luas.
Posisi On makin kokoh di dunia olahraga umumnya melalui tenis.
Gaya dan fungsionalitas yang kemudian menjadi ukuran, membuat batas atas sepatu olahraga {lari} dan sepatu gaya hidup menjadi luntur. Peluang ini yang kemudian dilihat oleh On, mereka tak hanya fokus pada pasar olahraga.
Posisi On yang makin kuat membuatnya dilirik oleh para retailer besar. Sepatu On ada dimana-mana.
On mengancam dominasi Nike dan Adidas dengan pendekatan inovatifnya. Reputasi dibangun dengan riset pengembangan yang kuat. Mereka punya laboratorium pengembangan yang melahirkan teknologi bantalan yang unik dan menekankan pada isu keberlanjutan. Kabarnya 30 persen produk dari on bebas dari bahan bakar fosil. Dan On juga merencanakan pada tahun 2026 nanti material yang dipakai 100 persen bisa didaur ulang.
On punya komitmen kuat pada lingkungan, terutama di tengah sorotan pada industri fashion yang banyak menghasilkan sampah yang tidak mudah terurai.
Di tingkat manajemen On juga berbeda. Gaya kepemimpinan yang diterapkan pada perusahaan itu adalah kepemimpinan kolaboratif yang memungkinkan inovasi menjadi tumbuh subur.
BACA JUGA : Siapakah Banjar?
Sedikit lagi kita mungkin akan menyaksikan dominasi On yang makin meluas. On tidak akan dikenal hanya dari sepatunya melainkan juga produk apparelnya.
Sayang untuk kaum mendang-mending, On memang belum cukup ramah karena masih jarang ada di thrifting. Kalaupun ada kemungkinan yang dijual adalah produk KW atau Fake.
Perlawanan On pada Nike dan Adidas yang kemudian mendudukkannya sebagai salah satu pemain global paling berpengaruh bisa menjadi pelajaran penting bagi para produsen sepatu nasional yang mengeliat lima tahun terakhir ini.
Seiring dengan kampanye ekonomi kreatif yang walau mengendur akhir-akhir ini, ada beberapa brand lokal yang punya pertumbuhan yang baik.
Kita punya Compass, Ventela dan Nah Project yang mengembangkan sepatu sneaker kasual. Ada juga Eagle dan Leaque yang eksis dengan sepatu olahraga, serta Spec dan 910 {nineten} yang fokus pada sepatu lari.
Selain itu ada juga Atletica, Kanky, Larocking, Spotec, dan Mills yang juga ikut meramaikan semangat local pride.
Terus naiknya nilai tukar dollar, menjadi momentum untuk menaikkan gairah local pride karena harga-harga sepatu import akan terus melambung. Sementara sepatu lokal justru akan semakin masuk akal harganya.
Berkualitas dan lebih murah menjadi nilai jual tersendiri tanpa harus dimakan gengsi.
On sukses karena diawal pengembangannya membidik pasar khusus dan kemudian perlahan berkembang dengan menawarkan keunikan.
Compass pernah mengebrak dengan model pemasaran khusus. Namun kemudian menjadi kurang menarik karena ketika permintaan meningkat produknya tetap terbatas sehingga harga sepatu yang dijual oleh reseller naik tak terkendali. Masyarakat menilai Compass kelewat overprice dan sering gaib di pasaran.
Diluar itu tentu saja peningkatan daya saing perlu dilakukan terutama dalam pengembangan teknologi sol dan bahan sepatunya. Cirikhas yang kuat akan memudahkan konsumen untuk mengenal dan menjatuhkan pilihan.
ATM, atau Amati, Tiru dan Modifikasi bukan merupakan pilihan yang bagus untuk menjadi pemain global.
Dalam era ekonomi kolaboratif, brand lokal tidak boleh mengandalkan penjualan produknya secara langsung lewat marketplace. Untuk memperoleh kepercayaan publik, brand lokal juga harus tampil di toko-toko eklusif atau toko besar di mall-mall. Dan untuk memperluas jangkauan pasar, brand lokal juga harus mengandeng toko-toko fashion untuk mendistribusikan produknya.
On sukses meluaskan pasarnya setelah mengandeng olahragawan dan kemudian juga mengandeng toko fashion. Sehingga sepatu olahraga itu menjadi sepatu fashion, sepatu gaya hidup.
Orang sering bilang roda akan berputar. Maka tidak ada dominasi yang abadi. Selalu ada peluang untuk mengantikan yang terdepan. Konsumen atau pelanggan akan selalu mencari pengalaman baru, hal-hal yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Hanya mengandalkan sentimen kebanggaan pada produk dalam negeri tidak akan mampu mengalahkan loyalitas masyarakat pada produk-produk import. Produk harus berbicara, lewat kualitas dan pengalaman baik yang dirasakan oleh pemakainya.
note : sumber gambar – KLIKSOLO








