KESAH.IDBanjar, dikenal sebagai nama suku, nama daerah setingkat Kabupaten/Kota dan juga sebutan untuk satu wilayah hunian terkecil dalam sebuah wilayah administratif. Sebutan atau nama banjar dikenal di berbagai wilayah di Indonesia, di Kalimantan, Jawa dan Bali. Dari manakah asal usul kata ini?. Wahyu Musyifa, melakukan penelusuran kata banjar dalam lintasan sejarah. Kemungkinan kata ini berasal dari India, dibawa oleh mereka ke Nusantara bersamaan dengan agama Hindu. Dalam bahasa aslinya, banjar bermakna tempat, tanah lapang, wilayah potensial, tetapi juga sering diartikan sebagai bazaar atau pasar, dan bajaran atau pengembaraan.

Bagi masyarakat Kalimantan, kata banjar pasti merujuk kepada suatu kelompok suku yang mendiami Provinsi Kalimantan Selatan. Sebutan orang banjar, merujuk pada identitas nama besar orang-orang yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Nama banjar juga semakin besar karena kesuksesan Kesultanan Banjar yang menjadi salah satu pusat peradaban yang berbentuk Kesultanan Islam di Kalimantan yang didirikan pada tahun 1526 dan berdiri hingga pembubarannya pada 1860 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda hingga runtuh pada tahun 1905.

Sebelum menjadi Kesultanan Banjar, kerajaan ini dulu merupakan Kerajaan Hindu bernama Daha. Kerajaan ini runtuh karena perang saudara dan kemudian menjadi kesultanan yang berlandaskan kepercayaan Islam.

Dari sejarah yang panjang di nusantara ini muncul sebuah pertanyaan kecil yang hingga kini menganggu pikiran. lantas apa arti banjar itu? Dan siapa yang banjar? Karena jika kita keluar dari lintasan sejarah Kalimantan, ada banyak kelompok masyarakat atau wilayah yang mengunakan kata banjar untuk menunjukkan identitas komunal maupun kulturalnya. Dan antara yang satu sama yang lain memiliki kisah atau cerita sejarah yang berbeda untuk mendeskripsikan kata banjar.

Kelompok banjar bisa kita temukan di Pulau Jawa dan Bali, bahkan kata banjar menjadi kata yang sah untuk menamai sebuah wilayah. Seperti; Kota Banjar di Jawa Barat;  Banjarnegara di Jawa Tengah, dan Kecamatan Banjar di Buleleng, Bali.

Jika kita mencari tau arti kata banjar dimesin pencarian internet dan beberapa buku sejarah, mungkin kita akan dialihkan keberbagai macam makna kontekstual sesuai dengan daerah asal kata banjar tersebut. Dan tidak dijelas kan secara tekstual apa arti kata banjar yang sebenarnya. Padahal jika di liat dari bahasa Jawi, dan bahasa Sansekerta tidak ada perubahan pola tulisan kalimat banjar. yang artinya kata banjar sendiri adalah satu-kesatuan dari satu bahasa yang baku, yang pastinya merujuk kepada satu arti yang jelas.

Kata banjar disetiap pengunaan kalimat, pasti merujuk pada objek untuk memperjelas sebuah kalimat. Mungkin terdengar tidak masuk akal dan asumsi-asumsi belaka, namun kita musti tarik dan riset lebih jauh lagi dalam berbagai literasi nusantara. Kita bisa ambil contoh sejarah dari Banjarnegara yang menyebutkan jika Banjarnegara JawaTtengah diambil dari kata banjar yang artinya lahan (sawah) dan negara artinya negeri.

Sedangkan Kota Banjar Jawa Barat juga memiliki artinya tersendiri.  Kisah sejarahnya diambil dari cerita Kerajaan Kertabumi pada tahun 1625 dengan raja pertamanya Singaperbaya. Pada awalnya Kota Banjar bernama Banjar Pataruman, yang memiliki arti banjar adalah wilayah (petak) dan pataruman adalah hutan tarum.

Dilihat dari arti atau pemaknaan sebutan banjar di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Bali terlihat bahwa ada kesamaan makna atau arti, banjar berarti tempat, wilayah atau lahan.

Pemandangan pasar apung di jaman bahari

BACA JUGA : Brebet Pertamax

Lalu apakah kata banjar yang ada di Kalimantan Selatan juga memiliki arti yang sama? Penamaan banjar untuk Banjarmasin memiliki sejarah yang cukup kompleks dan panjang. Muasal nama Banjarmasin tidak lepas dari berbagai konflik dan perpindahan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Kalimantan Selatan yang diakhiri dengan perebutan kekuasaan oleh Pangeran Samudra dari arah muara.

Pangeran Samudra kemudian juga mendirikan rumah bagi para patih yang berada di muara. Pangeran samudra menyebut wilayah pembuatan rumah itu dengan sebutan bandar/banjar yang memiliki arti rumah (lahan). kemudian kata masin berasal dari pemimpin para patih yang bernama Masih. Dengan demikian kata banjarmasin berarti tanah yang diberikan untuk para patih yang dipimpin oleh Masih. Versi lain menyebutkan jika Banjarmasin memiliki arti Taman Masin.

Dari penggalan sejarah yang kita ketahui bersama kata banjar memiliki arti yang beragam namun mempunyai benang merah atau kemiripan. Banjar berarti wilayah, lahan, hutan, tanah, kelompok masyarakat, dan rumah. Hal ini merujuk pada satu arti yang sama walau pemaknaan spesifiknya, subsansi dari kata banjar secara umum dipakai untuk menyebut sebuah tempat atau wilayah.

Lalu dari mana kata banjar ini berasal? Kebudayaan Nusantara tidak lepas dari hilir mudiknya pendatang atau migran dari berbagai belahan dunia. Wilayah Nusantara sudah dikenal sejak lama sebagai wilayah yang subur dan menjadi jalur perdagangan rempah yang sangat strategis. Dari berbagai suku bangsa yang hadir di bumi Nusantara,  bangsa India lebih lama menetap dan berbaur dengan masyarakat. Mereka juga datang dengan membawa keyakinan Hindu ke Nusantara.

Fakta ini bisa dipakai sebagai alasan untuk memperkuat jika kata banjar sangat dekat dengan linguistik India. Karena hanya Bahasa India yang memiliki beberapa kosakata banjar. Di India juga ada wilayah yang bernama Banjar (बंजार) sebuah kota di Kullu,  District Himachal Pradesh, India.

Kata banjar dalam kamus Bahasa India memiliki arti lahan tandus dan lahan lapang. Kata Banjar juga memiliki arti yang lain seperti baazaar berarti pasar, atau bajaran yang berarti pengembara.

Penguatan kata banjar sebagai bentuk objek kalimat membuktikan jika banjar bisa kita maknai sebagai penamaan wilayah yang memiliki potensi besar sebagai daerah perantauan strategis untuk bisnis dan perkembangan peradaban yang maju. Pengunaan kata banjar mungkin sudah tidak digunakan lagi sejak masuknya kolonialisme yang digantikan dengan kata distrik, namun tempat berkumpulnya masyarakat indonesai untuk berdagang masih disebut sebagi banjar, baazaar atau pasar.

BACA JUGA : Pemerintahan Sandiwara

Penulis : Wahyu Musyifa

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Sumber Gambar : Wahyu Musyifa