Kali pertama ke Penajam Paser Utara, saya bertemu dengan ibu-ibu yang tergabung dalam KUBE (Kelompok Usaha Bersama). Sembari berdiskusi mereka menunjukkan berbagai produk hasil olahan kelompoknya. Produk yang terbesar adalah hasil olahan dari pohon kelapa yang meliputi minyak goreng, sapu lidi, piring anyam dari lidi, gula merah dan gula semut.  Karena waktu yang terbatas saya tak sempat berkunjung ke lokasi dimana pohon kelapa itu tumbuh.

Ketika punya kesempatan kembali berkunjung ke PPU, akhirnya saya bisa menemukan wilayah dimana pohon kelapa banyak tumbuh. Temuan ini bukan disengaja karena awalnya saya hanya ingin melihat wilayah pesisir PPU yang mempunyai banyak pantai. Dan ternyata disepanjang pesisir itu tersaji pemandangan hamparan pohon kelapa yang berada diantara jalan dan pantai. Melihat pemandangan itu saya jadi ingat pemandangan serupa yang dengan mudah ditemui di Sulawesi Utara.

Sulawesi Utara memang identik dengan kelapa sehingga menjuluki diri sebagai Bumi Nyiur Melambai. Sepanjang mata memandang terhampar liukan pohon kelapa diterpa angin. Karena kaya dengan kelapa yang diolah menjadi kopra, maka di Bitung berdiri pabrik pengolahan minyak kelapa, PT. Bimoli. Bimoli adalah singkatan dari Bitung Oil Limited.

Pemandangan yang nyaris serupa ternyata ada juga di Penajam Paser Utara utamanya di daerah pesisir. Dimana-mana nampak pohon kelapa dan tumpukan sabut kelapa yang dibiarkan begitu saja.

Sayangnya jika ditelisik lebih jauh, diantara pohon kelapa mulai ditanam pohon sawit. Nampaknya bebeapa orang mulai ingin menganti tanaman kelapa dengan sawit. Entahlah, apakah sawit lebih menguntungkan dibanding dengan kelapa?.

Sejauh pengetahuan yang saya punya, pohon kelapa jauh mempunyai banyak manfaat secara ekonomi. Dari satu pohon ada banyak hasil yang bisa didapatkan mulai dari buah hingga daun dan lidinya.

Daun kelapa muda misalnya bisa dibuat menjadi pembungkus ketupat, sementara yang tua bisa dianyam menjadi bahan atap pondok dan lidinya bisa dipakai sebagai sapu atau dianyam untuk menjadi piring atau wadah lainnya.

Buah kepala yang masih muda disajikan sebagai minuman segar, sementara yang tua bisa diolah menjadi minyak kelapa dan VCO, sedangkan airnya dipakai sebagai bahan untuk membuat nata de coco.

Sedangkan sabutnya bisa diolah menjadi kerajinan, bahan tali, media tanam (cocoblock dan cocopeat) dan cocofiber. Sementara batok atau tempurung kelapa bisa diolah menjadi bahan kerajinan atau arang (karbon aktif).

Petani yang tak ingin memanen buah bisa menyadap nira kelapa yang bisa dijual sebagai minuman segar atau diolah menjadi gula merah atau gula semut. Dan nanti batang pohon yang tua bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan maupun furniture.

Sementara sawit, petani hanya bisa memanen tandan buah segar (TBS) untuk dijual kepada pengepul atau pabrik pengolahan CPO. Selain itu perawatan pohon sawit juga lebih rumit dibandingkan dengan pohon kelapa.

Entah mengapa kemudian sawit lebih menarik bagi petani ketimbang kelapa?. Apakah karena kebijakan pemerintah yang cenderung lebih memilih ekonomi sawit yang mengabdi kepada industri ketimbang kelapa yang mestinya bisa lebih mengairahkan tumbuhnya industry yang berbasis rakyat atau rumahan?.

Semoga saja Penajam Paser Utara yang masih dihiasi oleh nyiur melambai akan tetap mempertahankan liukan pohon kelapa saat diterpa angin dengan tidak membiarkan daerahnya berubah menjadi bumi sawit.

sumber foto : jajalindonesia.blogspot.com