Minggu lalu saya sempat singgah ke Lekpon yang sepintas kalau diucapkan terdengar sebagai Lepon. Tempat itu bukan di Perancis, melainkan di Waru Tua, Penajam Pasir Utara. Lekpon adalah cara warga setempat mengucapkan logpond. Dinamai Lekpon karena di tempat itu dahulu merupakan tempat penimbunan atau penyimpanan kayu hasil tebangan dari hutan.

Logpond adalah sebuah sebutan untuk lokasi penimbunan kayu hasil panen di hutan sebelum diangkut ke daerah tujuan. Disebut dengan logpond karena kayu di timbun di air (sungai). Sementara kayu yang ditimbun atau disimpan sementara didarat akan disebut logyard.

Sejarah kejayaan kayu hutan alam itu kini hanya tersisa dalam nama. Tak lagi nampak ada bekas gelondongan kayu-kayu raksasa. Di Lepon, yang kini ditandai dengan sebuah dermaga lebih dekat dengan kehidupan masyarakat bahari, masyarakat nelayan.

Rencananya esok pagi kami hendak berangkat dari Lepon untuk menyusuri Sungai Tunan kearah hilir. Mesti pergi pagi-pagi agar punya kesempatan melihat Bekantan yang biasanya berada di pucuk-pucuk pohon untuk menyantap daun muda di pagi hari.

Sayang keesokan harinya hujan terus menerus turun hingga siang sehingga hampir tengah hari kami baru memulai susur sungai. Dipayungi mendung perjalanan susur sungai dengan memakai perahu yang biasa dipakai melaut terasa nyaman meski perahu tak bisa bermanuver secara lincah karena ukurannya yang cukup besar.

Setelah meninggalkan dermaga, Sungai Tunan menyajikan pemandangan riparian yang masih menghijau dengan tumbuhan dominan Nipah dan keluarga bakau-bakauan seperti perepat, api-api dan rambai padi/rambai laut.

Di belakang rimbunan tumbuhan alam nampak juga ladang yang ditanami aneka tanaman pangan, buah, kelapa dan bahkan sawit. Dalam perjalanan susur sungai itu kami sempat bertemu dengan perahu ketinting yang dipenuhi oleh hasil panen kelapa sawit.

Sengaja saya duduk di bagian belakang perahu agar bisa mengarahkan pandangan ke kanan dan kekiri dengan leluasa. Separuh perjalanan belum terlihat adanya Bekantan, yang terlihat adalah berbagai jenis burung yang bertengger dan beterbangan serta beberapa ekor monyet.

Dan tak lama berselang mulai terlihat seekor Bekantan di atas pohon, sendirian. Dua kali saya melihat keberadaan Bekantan yang soliter. Muncul harapan dalam hati bahwa pasti tak lama lagi akan melihat Bekantan dalam rombongan, karena monyet bule ini adalah jenis binatang yang hidup dalam kelompok.

Perahu kemudian memasuki area dimana pepohonannya terlihat merangas karena hanya sedikit daun yang tersisa. Itu merupakan pertanda bahwa pohon-pohon tersebut telah menjadi tempat Bekantan bersantap. Dan benar tak berapa lama kemudian, ketika deru mesin perahu membahana, pucuk-pucuk pohon bergoyang bukan karena diterpa angin melainkan karena gerakan Bekantan yang berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Segerombolan Bekantan terlihat, ada yang berada di pohon ada yang berada di semak-semak bawah pepohonan.  Dan sepanjang perjalanan ada 3 group Bekantan terlihat dengan jumlah keseluruhan lebih dari 30 individu dewasa dan beberapa yang masih anakan.

Sayang pemandangan itu tak bisa diabadikan dengan sempurna karena ketiadaan kamera dengan lensa yang bisa menjangkau titik bidik yang agak jauh itu.  Tapi tak apalah, karena tidak semua pemandangan yang indah mesti difoto. Dan ini adalah momen pertama bertemu dengan Bekantan di Sungai Tunan maka akan lebih indah jika disimpan dalam memori kepala dan kenangan di hati.

Adalah Rahman, seorang pemuda yang aktif bergerak dalam kegiatan kemasyarakatan dan budaya yang secara tak sengaja memulai kegiatan susur sungai Tunan. Berawal dari kegiatan perkemahan di Lepon, yang kemudian salah satunya diisi dengan menyusuri sungai yang dipinjam dari para nelayan. Dan ternyata banyak yang suka.

Rahman yang kini juga aktif di Kelompok Sadar Wisata Kelurahan Waru tak berhenti sampai disitu. Potensi dari Kampung Waru Tua terus digali dan salah satunya dipromosikan dengan sebutan Tiga Bintang.

Tiga bintang adalah sebutan untuk paket wisata menyaksikan kunang-kunang di malam hari, pendar plankton di muara dan bintang di langit dengan berkemah di gusung, pantai atau diatas bagan. Seperti apa serunya wisata tiga bintang itu saya hanya bisa membayangkan karena tak sempat lagi sebab sore hari mesti kembali ke Samarinda.

Susur sungai dan menemui Bekantan di pinggir kanan atau kiri sungai memang bukan khas sungai Tunan. Pemandangan serupa bisa disaksikan di beberapa sungai termasuk di Sungai Mahakam selepas Sungai Mariam. Namun tetap bisa menjadi unggulan karena keberadaan Bekantan saat ini terus terancam akibat habitatnya yang berubah. Area kanan dan kiri sungai banyak dirambah dan dialihfungsikan untuk berbagai kepentingan.

Yang istimewa adalah narasi Tiga Bintang, buat saya ini merupakan intepretasi wisata alam yang cerdas, kontektual dan tidak mengada-ada. Sebab akhir-akhir ini karena ingin berbeda banyak pengembang wsata yang kemudian menghadirkan sesuatu yang diada-adakan untuk menghadirkan sensasi dan imajinasi yang tidak berdasar pada kondisi serta situasi lingkungan ekologi, sosial dan budaya masyarakat tempatan.