Sejarah genjer memang kelam. Untuk yang lahir dan hidup di masa orde baru pasti tahu hal itu. Karena lagu genjer-genjer maka genjer distigma sebagai tumbuhan yang lekat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia).

Meski begitu untuk saya yang masa kecilnya akrab dengan ekologi sawah, genjer mempunyai tempat tersendiri di dalam hati. Dalam memori rasa di lidah tersimpan ingatan tentang sayur yang mempunyai rasa agak pahit dan tekstur yang lembut, kenyal serta sedikit renyah itu.

Genjer adalah tumbuhan yang biasa hidup di sawah dan dimanfaatkan sebagai sayuran dengan cara dimasak atau direbus. Genjer bisa ditumis atau sekedar menjadi rebusan untuk lalapan, pecel atau urap.

Selain stigma karena lagu dan peristiwa G30S/PKI, tumbuhan bernama latin Limnocharis flava ini identik dengan orang kecil, wong cilik alias orang miskin karena sayuran ini kebanyakan hanya dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan. Namun sejarah mencatat di masa pendudukan Jepang, sayur ini menjadi penyelamat di saat rakyat kesulitan pangan.

Meski berasa pahit namun genjer tidaklah beracun, bahkan bernilai obat atau berkhasiat untuk menghilangkan gangguan kesehatan tertentu. Dan untuk masyarakat kecil atau wong cilik rasa pahit tidaklah masalah karena mereka memang sudah akrab dengan kepahitan hidup. Selain genjer toh mereka terbiasa juga mengkonsumsi daun papaya dan buah pare yang tak kalah pahit.

Sampai sekarang genjer masih mudah ditemui di persawahan dan rawa-rawa. Namun menikmati sayur genjer seperti sudah menjadi sejarah untuk saya. Puluhan tahun lebih saya tak lagi merasakannya.

Dan baru-baru ini tanpa sengaja, saya menemui wadah berisi sayur genjer disebuah warung prasmanan. Warung itu ada di Waru, Penajam Paser Utara. Meski tak melihat puluhan tahun, mata dan ingatan saya masih terjaga baik. Tentu saya tak melewatkan kesempatan untuk melahap tumis genjer tersebut.

Menyantap tumis genjer dengan nasi hangat ditemani ikan asin disiram saos cabe sungguh terasa nikmat. Memori masa kecil kembali hadir, gambaran ketika kaki menjejak lumpur sawah sembari menghindari agar tak merusak padi yang baru tumbuh nampak nyata. Di pelupuk mata jelas nampak gambaran saat kaki melangkah pulang melewati pematang dengan segepok genjer di tangan.

Makan siang saat itu menjadi salah satu makan siang yang paling menyenangkan karena bukan hanya kenyang di perut melainkan juga kenyang dengan kenangan. Kenangan yang sederhana ternyata menyenangkan.

Oh, iya genjer yang sederhana bahkan cenderung minus itu dalam banyak tulisan di internet ternyata mempunyai banyak khasiat. Ada daftar panjang soal kandungan zat-zat berguna di dalamnya yang bisa mengatasi berbagai masalah kesehatan.

Tapi sekali lagi saya menyantap dengan riang hati tanpa mempertimbangkan hal itu. Toh mereka yang meneliti kandungan istimewa dari tumbuhan di laboratorium juga tak selalu memakai hasil penelitiaannya untuk memilih makanan apa yang menyenangkan untuk disantap.

Jadi tanpa membaca hasil penelitian laboratorium, saya ketika melahap tumis genjer segera bisa tahu manfaatnya sebagai obat atau tombo. Ya sayur tumis genjer di Waru itu telah menjadi ‘tombo ati’ yang mengobati kerinduan saya pada masa-masa kecil dulu. Tumis genjer menjadi obat yang menyenangkan meskipun pahitnya terasa di ujung lidah dan langit-langit mulut.

Kredit foto : nusantaranews.co

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 5 =