KESAH.IDMadah pujian pada laut terus bergema, semangat untuk mencintainya terus dipompa. Tapi laut tetaplah ruang yang dibaiarkan abu-abu, walau kemilaunya hijau kebiruan. Di laut ada banyak kepentingan yang disembunyikan, karena pandangan atau perhatian kebanyakan orang hanya sampai pada pantai atau pesisir. Narasi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia pun perlahan tenggelam karena pemerintah {presiden}, habis-habisan untuk membuktikan bisa memindahkan Ibu Kota Negara di akhir periode kekuasaannya.

Nenek moyangku seorang pelaut

Gemar mengarung samudera luas

Menerjang ombak, tiada takut

Menempuh badai, sudah biasa

Lagu yang diciptakan oleh Ibu Sud pada tahun 1940 ini barangkali menjadi salah satu dari sedikit materi ajar tentang dunia maritim untuk anak-anak Indonesia. Lewat lagu ciptaannya Ibu Sud ingin mengambarkan betapa dunia laut sudah melekat dalam budaya masyarakat Indonesia sejak lama.

Pengajaran tentang laut memang terbilang jarang, walau kelak wisata laut {pantai} menjadi salah satu yang favorit di Indonesia. Kini banyak beach club di berbagai kota atau daerah pesisir.

Secara kebudayaan, kisah, cerita, legenda atau mitologi tradisional jarang berisikan tentang laut. Seperti digambarkan oleh gunungan dalam wayang, latar kisah-kisah tentang dunia di nusantara lebih berisi tentang gunung, lembah, sungai, hutan dan segala isinya.

Dalam telaah Gunawan Muhammad, negara atau bangsa yang diimajinasikan dalam wayang kulit memarjinalkan laut. Menurut Gunawan hal ini dipengaruhi oleh latar belakang kemunculan cerita yang secara geografis berada di pegunungan atau pedalaman India.

Kisah tentang laut dalam pewayangan hanya ditemukan pada sosok Bhima, pangeran kedua Pandawa. Dia ingin berguru pada dewa kecil berambut panjang yang diam di samudera. Dewa Rutji namanya.

Kisah yang berasal dari Serat Dewa Ruci itu bahkan tak memberi banyak deskripsi tentang laut sebagaimana digambarkan oleh Ibu Sud dalam lagunya. Yang ada dalam kisah itu hanyalah Naga, mahkluk mitologis yang digambarkan sebagai tantangan atau hambatan.

Pada masyarakat Jawa bagian selatan ada legenda tentang Nyi Roro Kidul. Kisah sebenarnya berlatar kehidupan kerajaan. Seorang permaisuri dan putrinya yang sama-sama jelita terusir dari istana. Kemudian mengembara ke wilayah pesisir selatan.

Sepeninggalan ibunya, sang putri hidup sendiri dan termahsyur kecantikannya. Banyak yang terpesona dan ingin mempersuntingnya.

Kepada yang ingin melamarnya, sang putri mengajukan syarat yakni mampu mengalahkan kesaktiannya, termasuk menahklukkan gelombang pantai selatan. Yang kalah harus menjadi pengiringnya.

Sang putri yang bisa menguasai gelombang laut pantai selatan kemudian digelari Nyi Roro Kidul atau Ratu Penguasa Pantai Selatan.

Di masyarakat Jawa bagian selatan kemudian muncul kepercayaan, siapapun yang hilang di laut maka orang tersebut ‘diambil’ oleh Nyi Roro Kidul untuk dijadikan pengiring atau pengikutnya.

Muncul larangan kepada siapapun yang berkunjung ke pantai selatan untuk memakai baju hijau. Karena warna hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Siapa yang memakainya bisa bertimpa kesialan.

Laut selatan kemudian menjadi laut yang angker. Siapapun yang datang kesana dan ingat legenda Nyi Roro Kidul tidak akan berani macam-macam.

Konon secara logika larangan memakai baju hijau di pantai selatan memang masuk akal. Warna laut pantai selatan karena dalam cenderung kehijauan. Jadi siapapun yang memakai baju hijau dan kemudiaan naas terseret ombak menjadi tersamar, kurang kelihatan sehingga sulit ditemukan oleh yang akan menolongnya.

BACA JUGA : Jorge Mumet

Presiden Joko Widodo saat mengumumkan kemenangannya pada pemilu 2014 memilih Pelabuhan Sunda Kelapa untuk menyampaikan pidato pertamanya.

Pilihan ini merujuk pada satu visi yang diusungnya yakni menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Sebelum terpilih sebagai presiden, Joko Widodo memang sudah menyiapkan dokumen untuk arah baru pembangunan Indonesia. Joko Widodo dalam pemerintahannya akan menekankan pembangunan sektor kelautan di berbagai aspek.

Joko Widodo ingin mengulang peran penting laut di jaman kerajaan besar Nusantara, Sriwijaya dan Majapahit yang punya pengaruh bukan hanya di Asia Tenggara melainkan hingga jazirah Afrika.

Kejayaan negeri maritim Nusantara surut seiring kedatangan kolonial Eropa. Akses kelaut tak lagi dalam tangan masyarakat Nusantara. Di jaman Presiden Sukarno kejayaan di laut kembali dibangkitkan lewat Deklarasi Juanda pada tahun 1957.

Hanya saja Sukarno belum sempat mengimplementasikan kebijakan maritim ini sampai dengan dilengserkan oleh Orde Baru.

Pada masa pemerintahan Suharto, selama 3 dasawarsa lebih sektor maritim tidak mendapat perhatian. Sesuai dengan latar belakangnya yang berasal dari Komando Strategi Darat atau Kostrad, Suharto lebih memperkuat angkatan darat.

Keterpurukan dalam sektor maritim nampak dari kondisi pulau-pulau terpencil dan kehidupan pesisir yang kondisinya terkebelakang.

Padahal di jaman Orde Baru ini lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut begitu terkenal.

Lengsernya Suharto dari tampuk kekuasaan membawa transisi dalam pemerintahan sipil di Indonesia. Perhatian ke sektor maritim mulai bergeser kearah yang lebih seimbang.

Habibie mengangkat Panglima TNI dari angkatan laut, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Gus Dur atau Abdurahman Wahid kemudian juga membentuk kementerian tersendiri untuk mengurusi laut. Sarwono Kusumatmaja menjadi menteri pertama urusan kelautan yang digabungkan dengan perikanan.

Megawati yang meneruskan kepemimpinan Gus Dur kembali kepada Deklarasi Juanda yang didengungkan pada masa kepresidenan Sukarno, bapaknya. Mega menjadikan Angkatan Laut Republik Indonesia menjadi kekuatan besar. Marinir dikembangkan.

Ketika pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, peran angkatan darat kembali menguat. SBY lebih memperkuat peran territorial yang bersumbu pada kekuatan TNI AD. Endriartono Sutarto, Panglima TNI yang berlatar TNI AD diperpanjang masa jabatannya.

Terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden kemudian mengembalikan sektor kelautan sebagai penentu keberhasilan pembangunan. Joko Widodo kemudian mengkampanyekan Poros Maritim Dunia untuk menempatkan posisi dan daya saing Indonesia di sektor kelautan sebagai salah satu tujuan pembangunan nasional.

Salah satu implementasi dari poros maritim adalah program tol laut. Joko Widodo membangun infrastruktur pelabuhan, agar akses transportasi dan distribusi kemudian merata serta cepat.

Hidup dari dan dengan laut dibayangkan oleh Joko Widodo bakal menjadi pendulum untuk mengerakkan kemajuan Indonesia.

BACA JUGA : Ronaldo Messi

Untuk mendukung cita-cita Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia ternyata ada sekelompok anak-anak muda yang membangun gerakan bernama Maritim Muda Nusantara.

Indonesia Maritime Youth ini mempunyai fokus untuk mengembangkan sumberdaya manusia di bidang kemaritiman yang profesional dan nasionalis, selain itu juga berniat untuk mengembangkan teknologi kemaritiman dan budaya maritim.

Dari websitenya, Maritim Muda Nusantara ini sudah ada di seluruh Indonesia. Bahkan konon sekretariat nasionalnya ada di Ibukota Negara Nusantara.

Saya tak sengaja tahu tentang Maritim Muda Nusantara ini. Mulanya sebuah link berita masuk di inbox aplikasi perpesanan. Isinya tentang demonstrasi yang dilakukan oleh Maritim Muda Kaltim di Kantor Pelindo Samarinda.

Mereka mengeruduk Pelindo Regional 4 Samarinda untuk mempertanyakan transparansi soal pandu tunda.

Saya tak paham soal ini, tapi nampaknya sektor maritim di Kalimantan Timur memang lebih dekat dengan urusan angkutan batubara. Ada jutaan ton batubara yang diangkut keluar melalui sungai dan laut Kaltim setiap tahunnya dari beberapa pintu keluar.

Ada bisnis besar disini.

Hingga tak banyak yang tahu kalau Samarinda mempunyai industri kapal yang cukup besar.

Laut atau pesisir Kalimantan Timur sebenarnya juga melahirkan cerita tentang saudagar. Kisah orang-orang kaya karena udang di Delta Mahakam.

Sayangnya pesisir memang sering tak dianggap. Perhatian kepada laut dan pesisir yang lebih kuat hanya dalam narasi pariwisata.

Geliat dan gemerlap wisata pantai serta pulau-pulau kecil membuat laut tetap jadi misteri, ruang gelap yang dipakai untuk ‘menggelapkan’ sebagian kekayaan Kalimantan Timur.

Mereka yang berada di pusat-pusat kekuasaan sekalipun sulit untuk mengendalikannya. Atau bahkan sengaja membiarkannya karena turut memperoleh ‘laba’ dari kondisi itu.

Membangun Poros Maritim Dunia ternyata tak mudah, laut masih tetap gelap. Makanya banyak penggelapan.

note : sumber gambar – TRIBUNNEWS